
Resah memupuk dalam penantian
Mengkhayal bayang akan genggaman
Keraguan mengusik dikala jauh tak terpandang
Risau mulai menyanggul kekhawatiran
Mempertanyakan rasa diujung jalan
Apakah kau akan melupakan?
Segala bujukan dan rayuan sayang
Jika mata tak dapat melihat terhalang jarak
Hanya ucapan lembut dunia maya
Bila kah sebuah kejujuran?
Siang dan malam menjadi kawan
Teman sepi saat rindu tak mampu teratasi
Membingkai keras menyudut diri
Ingin menyatakan hati tak dapat sendiri
Namun kalut menjadi duri
Mimpi datang silih berganti
Penawar raga akan haus kasih sayang
Terpisah ruang dan waktu menguat ambisi
Aku menginginkanmu cinta...
Kembalilah cinta...
Hadirmu menjadi pelipur lara
Menghapus siksaan merindu
Menunggu untuk berjumpa
Biarlah hati memaksa
Meneduh luka hilang tak terasa
Tak ingin ketika merusak bahagia
Mengganti nama yang terukir di sanubari
Ikatkan satu dalam jari manis
Pemilik jiwa ter miliki oleh cinta...
Luapkan segala gundah
Pertemuan mendamba penuh kasih
Berteriak memanggil keluhan nadi
Rindu tak dapat terobati
Hadirnya mengusik diri
Mengikis senyum indah terpatri
Sejenak terpaku menilai diri
__ADS_1
Haruskah luka bergeming?
Disaat lara tancapkan duri
Atau diam membisu menekan hati?
Lelap hinggap mengurung dalam mimpi
Membuai insan merajut misteri
Hunuskan belati merobek jati diri
Sakit saat derai tangis membanjiri pipi
Ingatan masih terkais indah
Meratap dalam hening akan rasa
Penantian membawa duka
Berdiri sendiri menepi janji
Mengolah kalimat tiada arti
Lamunan hadir melekat di sisi
Cumbuan hasrat penuh dilema
Nyata tak lagi peduli
Kecewa...
Mengapa tikaman menuai kegilaan
Merambah lembut menyulut penuh liku
Timangan angan akan sosoknya
Leburkan segala derita menjerit asa
Sela tawa menjadikan imajinasi
Atas gersang secuil hati
Langkah pun memekik tertahan
Tak mampu berlari melawan
Asahan relung sukma merusak raga
Membunuh tunas cinta tak terkendali
Tentangan waktu mengorek benci
Harusnya tak lagi kembali
Hanyut dalam kembang api
Pupuk aroma sedih
Memecah masa mengulas amarah
Lenyap tiada guna
Sendiri yang salah
Bodoh mencabut genangan teratai putih
Melempar ganas menyulam karma
Tetap saja salah
__ADS_1
Larangan mengeram sadis
Tebarkan nyali padamkan suci
Ragu menyiksa sunyi
Menutup mata sebagai akhir
Lambaian tangan sebagai tanda
Biarlah menderita
Setidaknya kau bahagia
Walau dendam menerpa
Angin telah hembuskan nafas
Menyerah mengingkari kata
Terkulai tak bertulang
Hanya tersisa noktah merah luka
Sepi di ujung jalan menanti dia yang sudah jauh
Ingin mengulang cerita indah penuh cinta
Akankah terwujud suatu saat nanti?
Berharap mengukir indah hari tanpa sepi
Aku masih rindu kata mesra mu
Aku terlalu cinta hingga sulit melukiskan rasaku
Benci ku tak seberapa di banding cintaku
Dua rasa bergejolak dalam jiwa menjadi racun di tubuh tua ini
Sayang...
Seuntai harap untukmu yang jauh di sana
Bisakah kita ulang kisah cinta?
Sungguh aku menjerit di tengah malam yang dingin
Hadirmu ku nanti selalu
Bibir bungkam seribu bahasa, mata menghunus tajam pandangan
Raga beku menahan amarah
Hati menjerit dalam kesedihan
Tak rela kau pergi begitu saja
Egoku terlalu tinggi untuk bilang, jangan pergi cinta
Kini sesal tiada guna
Waktu berlalu dan yang pergi tak akan kembali
Sayang...
Aku sungguh rindu
Hanya bisa berucap kepada angin malam
Kata rindu dan cinta tak lagi di dengar pemilik hati
__ADS_1
Akankah bisa merajut kembali kisah
Dan sampai kini masih berharap.