
Aku meminta paman lim mengantarkanku ke camp pelatihan Hunter yang terletak di timur negera varost hampir mendekati perbatasan zona garis depan pertahanan, setelah berhasil melakukan evolusi aku merasakan tubuhku menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Pendengaran, penglihatan, penciuman seluruh indera ditubuhku menjadi berfungsi lebih baik dari sebelumnya. Namun hal yang paling mengejutkan adalah perubahan pada otak-ku, aku dapat mengingat segala hal yang pernah ku dengar, kubaca, dan kulihat, bahkan mataku mampu melihat semut yang berada beberapa meter dari mobileworker yang ku tumpangi.
Perjalanan berlangsung sangat lancar, jalan-jalan kosong bagaikan kota tak berpenghuni, toko-toko ditinggalkan orang, semua warga mengungsi ke kota lain untuk menyelamatkan diri, gedung-gedung disisi jalan menjulang tinggi, koran-koran berserakan dijalan dan menggulung di roda mobileworker yang kami kendarai.
“Berhenti!” penjaga pintu masuk pangkalan camp Hunter menghentikan kami, dan meminta tanda bahwa aku merupakan salah seorang peserta camp, dan juga bukti untuk melakukan claim rumah untuk tinggal dalam pangkalan.
Aku menemani paman, dan laura sampai ke kediaman kami dipangkalan hunter, tertera kode diatas pintu tempat tinggal kami. “D4051” ucap ku sambil melihat nomor rumah kami yang tertera diatas pintu masuk, rumah itu cukup nyaman meski tidak terlalu luas, didalam juga telah tersedia beberapa perabotan penting seperti kompor,kulkas,televisi serta telepone.
“Beep”
Jam ditangan kiriku berbunyi, jam itu adalah alat komunikasi yang diberikan pangkalan Hunter kepada para pasukan baru. Jam tersebut berfungsi seperti handphone pada masa lalu, jam tersebut dapat menampilkan hologram orang yang menghubungi kita.
“Selamat Siang! Saya Clara Frostfire Komandan tertinggi Pasukan Hunters, bagi para tentara baru harap segera berkumpul di lapangan utama district 13. Tim Elite Survivor akan melakukan uji kemampuan kalian, terimakasih.” Hologram dengan tampilan wanita cantik yang ku kenal itu muncul dari jam tersebut, setelah menyampaikan pesan yang harus di sampaikan hologram itu pun hilang.
“Beep” jam tangan tersebut berbunyi lagi saat panggilan telepone diakhiri.
Mendengar pemberitahuan itu tentunya akupun bergegas untuk berkumpul di lapangan pelatihan, karena aku sedikit banyak tau bahwa dalam militer kedisiplinannya sangat keras dan dilaksanakan dengan ketat.
.....
__ADS_1
Seluruh peserta pelatihan yang merupakan survivor lv Awal, yang berhasil melalui Operasi dan ber’evolusi berkumpul dengan rapih di sebuah lapang militer yang sangat luas, terlihat wajah-wajah yang cukup familiar, beberapa merupakan sahabat baik’ku sewaktu di MIU, itu Dimas dan fani dan juga beberapa merupakan teman satu jurusanku.
Namun aku tidak mengenal mereka karena aku sangat pendiam dulu, kecuali dengan sahabat-sahabatku sedari kecil itu.
“DENGARKAN!!!”
Saat aku sedang memandangi kerumunan peserta pelatihan, aku dikagetkan oleh teriakan kepala pelatihan, Badannya sangat besar dan menakutkan.
Pria itu bertinggi kira-kira 2,5 meter, berbadan kekar, yang mengerikan dari pria tersebut bukanlah ukuran tubuhnya, namun adalah aura dingin yang ia pancarkan, jika aku lihat-lihat dengan cermat, bukannya itu ben adkinson : Jendral AirForceArmy(pasukan udara) salah satu sahabat Clara dan seorang yang telah menjadi temanku.
Tapi dia selalu cuek denganku dari awal bertemu..
“Gila, auranya saja membuat aku merinding! Dia pasti telah membunuh sangat banyak monster dan juga manusia!” pikirku, tidak semua orang bisa memancarkan aura seperti ini, aura ini memang tidak dapat digunakan untuk membunuh namun merasakannya membuat hatiku bergetar.
“Saya adalah Jendral Air Force Army(pasukan udara) yang di tugaskan menjadi kepala pelatih disinih, namaku Ben Adkinson, Survivor Level-B.”
“Kalian akan berada dibawah perintahku! Disini peritah adalah kehidupan, berlaku diluar itu kalian sama saja sudah mati!!”
Mendengar hal itu semua peserta pelatihan menelan ludahnya, tentu saja aku juga menelan ludahku, karena hal ini merupakan hal yang benar-benar baru bagiku.
“Kalian akan terlebih dulu menjalani serangkaian Test, test untuk mengetahui tingkat kekuatan kalian. Nilai test kalian juga yang akan menentukan Level kalian sebagai seorang Survivor,
__ADS_1
Survivor dibagi menjadi beberapa Level, yang paling Rendah adalah “F” mereka tidak ada bedanya dengan tentara biasa. Kemudian level E, mereka yang mampu membunuh Mahluk Creaturs lv D, dan biasanya mereka yang baru bergabung dengan kemiliteran Hunter.” Pria itu menjelaskan sesingkat mungkin dan menggunakan bahasa yang cukup sederhana, namun ekspresi wajah dinginnya tidak berubah.
(jadi teringat aku dulu sama seperti dia, saat meladeni ocehan Laura waktu itu) aku tertawa kecil dalam hati.
“Para Survivor yang mencapai level D dan seterusnya akan mendapatkan pangkat yang berbeda dengan yang berpangkat dibawahnya! Namun persyaratan untuk semua level tetap sama, mereka yang inggin menaikan levelnya harus berhasil membunuh mahluk Creaturs dengan tingkat sesuai yang mereka ingin capai, bila ingin meraih level C seorang Survivor level D harus mampu membunuh mahluk Creaturs dengan level C.”
“Survivor adalah manusia yang berhasil melakukan Evolusi, dan kalian semua yang telah hadir saat ini adalah survivor baru, namun kalian masih membutuhkan pelatihan agar kalian mampu mengendalikan kekuatan kalian.” Jendral Ben menjelaskan.
“Baiklah kita akan Mulai tesnya” Jendral Ben berujar sambil berjalan ke arah bangunan besar dibelakangnya.
“Kalian akan di panggil berdasarkan nama kalian, test akan dilakukan satu persatu, dan selama menunggu kalian harus tetap di posisi kalian, jangan bergerak ataupun berbicara, Mengerti?!” Jendral Ben berucap dengan nada suara yang tinggi.
“Siap! Mengerti Pak!” Seluruh peserta camp menjawab dengan lantang tidak terkecuali aku, test sudah dimulai dan kami sebagai peserta menunggu nama kami disebut dan bergantian untuk masuk ruangan test.
“Celion!” seorang dengan wajah lugu dan kulit putih serta rambut yang terlihat sedikit culun berjalan kearah tempat test, meski parasnya cukup lugu tapi badanya tegap besar dan terlihat cukup gagah.
Sambil melihat pria itu berjalan kearah tempat test, aku mengalihkan pandangan ke beberapa sudut dan ada sesuatu yang menarik pandanganku, aku baru tersadar bahwa bukan hanya pria yang menjadi peserta test, tidak sedikit pula wanita yang menjadi peserta test.
Sedang asik memandang ke kanan dan kekiri, tiba-tiba kurasakan sakit di belakang leherku...
#Tobe continue:
__ADS_1