REDIVIDER

REDIVIDER
Atas Jurang Keraguan!


__ADS_3

Mentari telah tersenyum memelukku dalam dekapan hangatnya. Angin bahkan telah mengetuk jendela seakan mengajakku ikut bermain bersama.


Lavender telah bergoyah mengikuti irama menyebarkan bau semerbak nya. Ikan Nemo juga begerak kesanah kemari seakan tak mau kalah dengan yang lain. Aku binggung kenapa mereka membangunkanku.


Aku membuka kedua kelopak mata yang berat ini. Kepalaku menoleh pada jam yang berada di atas naskah. Sontak aku melocat kaget, “Wah Gawat, udah jam seginih”. Buru-buru aku merapihkan kasurku kemudian lari kecil pergi menuju kamar mandi.


Setelah aku rasa siap, aku bergegas menuju ruang makan menemui paman yang sudah menugguku sejak tadi untuk makan bersama.


“Pagi paman, maaf aku telat bangun”. Suaraku yang terbata-bata terlihat gugup di tambah sedikit khawatir.


“iya gapapa, yaudah makan gih, Paman hari ini mungkin tidak akan pulang cepat, kerjaan paman sangat banyak soalnya. Ingat hari ini kamu harus pergi ke MIU. Jangan pulang terlalu malam.” Paman dengan tegas berkata padaku tanpa adanya bantahan.


Sedangkan aku hanya bisa mengangguk. Jika aku membantah perkataannya sekalipun juga paman akan tetap memaksa.


Setelah menghabiskan sarapan pagiku. Aku melesat pergi menuju pinggiran Shield seperti biasa sebelum menuju MIU.


Disinilah tempatku. Aku menghirup penuh sampai ke paru-paru udara segar yang berlarian memaksa daun-daun untuk menari. Pinggiran kota yang jarang terjamah oleh kaum hedonis pencinta lembaran kertas yang berwarna.


Aku tak habis fikir. Mereka orang Altair yang mengaku memiliki segalanya. Tapi aku memiliki jawaban untuk menyanggah stigma mereka itu. Kasih sayang dan kepercayaan tidak ada dalam diri mereka. mereka hidup seakan jiwa hilang terbang telepas dari raga.


Hidup dalam ketidakpercayaan untuk bertahan. Menduduki tingkat teratas. Seperti lintah yang terus menghisap darah sesama lintah. Tak ada yang untung, hanya kesakitan yang di terima.


Padahal kepercayaan seseorang itu sangat mahal harganya.

__ADS_1


Anggaplah kepercayaan itu sehitam tinta. Semakin banyak kamu torehkan kesalahan dalam kertas putih hidup mereka. tinta akan semakin habis meresap dalam kertas itu merubahnya menjadi hitam tak percaya lagi. Menganggap kebahagiaan hanya sekedar bergelimpangan materi?


“Karena pada dasarnya manusia memiliki sifat yang selalu inggin lebih dari sebelumnya. Setelah mengetahui bahwa memiliki materi tersebut adalah sebuah kenikmatan.


Mereka terus menggali hingga menjadi sebuah tumpukan. Mereka makan semua itu hingga perutnya meledak mengeluarkan isinya.


” Senyum jahil melengkapi wajah Laura yang kini mengambil inisiatif duduk di sampingku.


“Awalnya kamu benar, Akhirnya kamu ngaco.” Aku berkata ogah-ogahan kepadanya.


Sudah terlalu lelah menghadapi sikap aneh Gadis itu. “Bisa tolong geser sedikit,Aku butuh Ruang untuk bernafas nih.” Sahutku dengan wajah datar.


“Uhhhk Dingin sekali sikap kamu” Dia hanya tertawa kecil melihat reaksi yang aku berikan. Lihat saja saat ini, Disamping dia terus menerus menggodaku.


kami sudah seperti bayi kembar siam yang menempel erat. Untung saja kepalaku tidak satu kepala dengan dia. Jika iya pasti otakku sudah sama erorrnya.


Haduh buyar sudah konsentrasiku ,ide-ideku pun mulai semrawut hilang dari pikiran, suasana tenang dan damai tadi ,hilang seketika saat dia datang.


Aku menghela nafas dan berkata “Haah.. sebenarnya apa yang kamu ingginkan dariku laura?” sambil menutup buku dan menyerah untuk mengabaikannya.


“Aku hanya bosan di rumah, dan tidak ada teman seumuranku yang bisa di ajak bermain keluar. Karena mereka takut akan teror mahluk buas yang sekarang sering di beritakan, lalu aku bertemu denganmu yotta.


“Awalnya kamu terlihat sangat pendiam dan dingin. Tapi setelah kita bertemu dan berbicara, ternyata kamu orangnya sangat menarik dan menyenangkan..Telebih Untuk ku godain hehehe ”. Sahutnya dengan tertawa kecil.

__ADS_1


“Duh kamu ini laura, mengganguku hanya untuk rasa bosan mu itu, kejam sekali”


lihat tulisanku tak kunjung selesai karenamu.


“Iya deh iyah maafin aku yah.” Sahut laura.


“Oh iyah, kemarin kamu kemana kok gak kelihatan batang hidungnya.” Laura bertanya padaku.


Karena kejadian kemarin yang cukup membuatku shyok berat, menggingat apa yang telah terjadi padaku. Pertanyaan itu membuatku terdiam melamun membayangkan peristiwa kemarin.


“Hello yotta...., yotta?!... Aku sedang bertanya padamu, kenapa malah melamun, Apa kamu sakit?” yang membuatku terkejut dan kembali dari lamunanku .


“Oh tidak, kemarin aku ada urusan di pusat kota, jadi tidak sempat kesinih” begitulah alasan yang ku buat, karna tidak ingin menceritakan kejadian mengerikan itu pada laura.


“Oh begitu, aku kira kamu sakit yotta, soalnya kamu terlihat pucat sekali” laura menempelkan dahinya pada dahi’ku sambil menutup matanya untuk mengukur temperatur tubuh. Mataku terbelalak dan Wajahku lagi-lagi memerah, karna kaget akan kelakuannya itu. “De,,de..dekat sekali.. wajahnya terlalu dekat di hadapanku” dalam batinkun berkata. Bibir mungil merona’nya itu hampir menyentuh bibirku. “Gawat Bisa-bisa aku hilang kedali olehnya.”


Kesadaranku pun mulai kembali, lalu kedua tanganku buru-buru sedikit mendorong kecil tubuhnya untuk memberi sedikit jarak diantara kita.


“Apa yang kamu lakukan laura?” sahutku.


“Ehhh bukannya memang seperti itu memeriksa orang yang sedang tekena demam ?!” ia berkata dengan santainya di tambah wajah polos.


“Tentu saja bukan begitu caranya, dasar Kamu ini, memeriksa suhu tubuh seseorang yang demam itu menggunakan alat termometer kecil” kataku.

__ADS_1


“Tapi kan aku tidak bawa, jadi kugunakan cara Manual saja. Hehehe.” Lagi-lagi ia tertawa kecil dengan polosnya.


#Tobe Continue:


__ADS_2