REDIVIDER

REDIVIDER
Kemampuan yang Unik!


__ADS_3

“Jendral!?” Yotta dikejutkan oleh sosok Ben adkinson yang berdiri di sisi gelap ruangan itu, yang paling mengejutkan adalah aura pembunuh yang dipancarkan oleh sang Jendral yang membuat Yotta merinding ketakutan.


Yotta memandang sang Jendral yang berjalan perlahan kearahnya, mulutnya kelu, tekanan yang di berikan oleh aura itu membuat dia tidak mampu berkata-kata.


“Apakah dia akan membunuhku?” aku bertanya dalam hati.


“Tapi mengapa?”lanjutku. Jendral ben kini telah berada satu meter dari kasur dimana aku berbaring, aku berusaha untuk dukuk dengan bersandar pada besi penyangga tempat tidur.


“B-Ben, Mengapa kau ingin membunuhku?” Aku bertanya ketakutan, Wajah ben saat itu seperti biasanya, dingin dan penuh mistery, tangan kanannya terangkat dan aura pembunuhnya menyeruak semakin menjadi-jadi, aku semakin ketakutan.


Mataku mengikuti gerakan tangannya yang terlihat bergerak kearah ku, ketakutan pundak-ku meninggi dan aku memejamkan mataku. Ben mungkin benar-benar ingin membunuhku, namun hal yang terjadi mengejutkanku.


“Tap” Tangannya menepuk kepalaku pelan, dan kemudian tertawa keras.


“Hahahhaha! Membunuhmu? Dasar Bodoh! Mengapa kau bisa berfikir seperti itu?!” Jendral Ben tertawa terbahak-bahak mendengar perkataanku.


“Eh?!” aku tidak pernah berfikir Jendral yang sangat dingin, bisa tertawa seperti itu.


“Mana mungkin aku membunuh Sahabatku sendiri! Bisa-bisa aku di bunuh si Ratu Sadis Clara duluan..! Oh, Mengenai aura pembunuhku sebelumnya? Itu untuk menunjukkan kelemahan terbesarmu!”


“Kelemahanmu yang sebenarnya bukan pada fisikmu tapi disini!” Ben berkata sambil menunjuk kepalaku.


“Kelemahanmu adalah dirimu akan merasa lemah bila melihat seorang yang kuat, dan akan menyerah bahkan sebelum bertanding! Untuk menjadikan fisikmu kuat, kau hanya perlu berlatih! Namun bagaimana dengan mental?” Wajahnya terlihat menjadi serius kembali, serti tawa dan senyum beberapa detik lalu, hanya asap yang hilang dihembuskan angin.


“Clara telah memutuskan bahwa kamu akan berada dibawah pengawasanku! Aku sendiri yang akan melatihmu! Jadi Bersiaplah! Tidak ada kata mengeluh dan malas! Keringat darah itu diperlukan untuk menjadi kuat! Baiklah kembali ke barak! Besok jam 05.00 pagi, jangan Terlambat!!” Ben adkinson berucap sambil berjalan keluar, kedua tangannya berada dibelakang, membuat dia terlihat seperti sosok ayah bagi-ku hanya saja dia lebih muda dan hampir seumuran denganku, hanya beberapa tahun diatasku.


“Kau harus berjuang, berjuang untuk bangsa kita” Ucapnya pelan seraya membuka pintu keluar. Jendral ben memelankan suaranya hingga yotta tidak mampu mendengarnya.


....


Yotta kembali ke barak, saat dia keluar ruangan dan kembali dari kota bawah tanah sebelumnya, dilihatnya sebagian besar mereka yang tinggal didalamnya adalah orang asing(berbeda ras). Dan pintu masuknya dijaga ketat oleh Survivor yang berbadan besar serta memancarkan Aura membunuh seperti yang dimiliki Jendral Ben.


Timbul pertanyaan dalam hatinya :


“Hmmm.. Mengapa sebagian besar dari mereka adalah orang asing? Mengapa penduduk asli kota ini justru mengungsi ke ibu kota?”

__ADS_1


Yotta tentu merasa keanehan, namun untuk saat ini dia hanya menyimpan hal tersebut dalam hatinya. Baginya terlalu banyak hal yang masih abu-abu dan membingungkannya.


“Mungkin Perlahan-lahan tapi pasti! Aku tidak bisa terburu-buru, cepat atau lambat aku pasti mengetahui segalanya!”


[Dibarak]


Paman, Aku pulang?!...”Eh?! mana laura?”tanyaku pada paman lim, (ia sering mengunjungiku ke rumah).


“Selamat datang yotta, Oh laura, dia sudah pulang ke ibukota Varost!.”


“Oh,begitukah” Padahal aku ingin banyak bercerita padanya.


karena Aku merasa begitu lelah hari ini, terlalu banyak hal yang mengejutkan, terutama kekuatan baruku.


Aku memandangi awan penuh bintang dari dalam barak, para Survivor pemula yang lain telah tidur, beberapa saat kemudian semua menjadi gelap, dan aku pun tertidur..


.... [05.50 subuh]


“Duar!!!” Suara tembakan membangunkanku, terjadi keriuhan di barak, dan seluruh prajurit mengenakan pakaiannya dengan terburu-buru dan berlari kearah lapang pelatihan.


“Mati aku!” bergegas aku berlari, aku berlari secepat yang aku bisa, seakan-akan ada monster besar yang mengejarku.


“Tempat latihanku berbeda dengan yang lain, Jendral memerintahkanku datang ke lapangan latihan yang biasanya digunakan untuk latihan sepak bola, dan ukurannya jauh lebih besar dari lapangan latihan yang digunakan prajurit lain.


Tidak lama berselang terlihat Jendral Ben sedang duduk dibangku besi didepan kantornya. Tiga orang berperawakan tinggi besar berkulit gelap berdiri dibelakangnya.


....


“Maaf Jendral!” Hanya Ucapan singkat itu yang mampu ku ucapkan, karena pikirku semua alasanku akan percuma dihadapannya.


“____” Jendral Ben hanya terdiam dan tidak menjawab apapun, hal ini justru membuat perasaanku menjadi bertambah buruk.


“Ricco!,Jax! Dion! Kalian tau apa yang harus kalian lakukan!” Jendral Ben berujar datar seraya masuk kekantornya seolah tidak perduli padaku. Ketiga orang itu berjalan kearahku tanpa mengurangi sedikitpun dari aura membunuh mereka.


Ketiga orang itu berjalan kearahku, dan salah satu diantaranya tiba-tiba meloncat dan sudah berada di belakangku.

__ADS_1


“Bang!!” Pria tersebut memukulku sangat keras, terasa tangan kanan dan tulang rusuk-ku patah, menghasilkan suara yang membuat telinga ngilu.


“Dag..Dag... Gresss..” Aku terpental hingga 20meter dari posisiku berdiri sebelumnya, darah mulai mengalir dari hidungku dan mulutku. Ketiga orang tersebut merupakan Survivor Elite tingkat C yang hanya setengah jalan dari Survivor tinggkat B, tentu saja pukulannya dapat mengalahkanku dengan mudah.


Sang pria tersenyum mengejekku, dua orang lainnya masih terdiam menonton sambil menikmati melihatku di serang.


“Whipss~” aku menghapus darah dari mulut dan hidungku, berusaha berdiri dengan bersusah payah.


“Crakle..Crakkk!” tulang rusukku berbunyi saat aku memaksakan berdiri, aku sangat bingung mengapa Jendral membiarkan kami. Lalu kedua orang yang tadi hanya menonton mulai berlari kearahku, kali ini dia mengincar kaki kiriku, dia berlalri lurus tanpa strategi apapun.


“Swoshh..Swohss!” kecepatan berlarinya sungguh diluar kemampuanku untuk mengimbanginya terlebih lagi aku dalam keadaan terluka parah, rasa sakit mulai menjalar disekitar perut dan dadaku, tulang yang patah mulai mengenai bagian dalam organ tubuhku.


“Bang!!” kaki kanan Jax menyapu kaki kiriku dengan keras, aku berputar diudara kerena begitu keras tendangannya.


“Sial!! Aku benar benar lemah!” ucapku dalam hati sambil melihat tanah merah yang semakin lama semakin mendekat ke arah wajahku.


Tendangan itu begitu kuat hingga aku harus mendarat mengunakan kepalaku.


“Ahhkk..Sial!” Aku membantin sambil menutup mataku, aku menyerah, perbedaan kekuatannya begitu jauh. Otak-ku berputar lebih cepat dari sebelumnya, terlintas ingatan dari ruang bawah tahan saat pengujian kekuatan telekenesis pertamaku.


“Itu Dia!” Dengan cepat seluruh sel dalam otak-ku, aku memusatkan pikiranku membayangkan bahwa aku melayang diatas tanah. Terasa seluruh energi mulai mengalir kearah otak-ku, hal itu terjadi sangat cepat dan kemudian.


“Woshhh!” Benturan tangan yang dilanyangkan Jax tidak terjadi, malahan sebuah kejadian menakjubkan terjadi dihadapannya. Aku melayang-layang 2 meter diatas tanah Dengan mata sayu menatap kearahnya.


Yang terlintas saat itu dipikiranku adalah bertahan hidup, amarah, kekecewaan dan seluruh hal buruk dalam hidupku menjadi motivasi untuk terus bertahan. Pernah aku miliki sebelumnya, keinginan untuk membunuh!


Jax terkejut melihat perubahan yang terjadi, tanpa sadar ia mengambil langkah mundur hingga beberapa meter! Mataku berwarna merah pekat penuh amarah, seluruh hal buruk yang terjadi padaku membuatku kehilangan kendali atas diriku.


“Swoshh...!” Sangat cepat aku terbang kearahnya, hanya satu hal yang terlintas dipikiranku saat itu : “BUNUH DIA!!!”


Aku mulai menbagi pikirannku untuk menyerang dan mempertahankan kemampuan terbangku. Aku melancarkan serangan otak kearah Jax, yang tentunya tidak menyadari kedatangan seranganku itu.


{Otak dapat menangkap rangsangan gelombang elektromagnetik dan bila manusia dapat mengatifkan kemampuan otaknya, mereka dapat memanfaatkannya sebagai saran telepati dan mengirim gelombang pikiran ke orang lain}


“Whenggg!” Gelombang elektromagnetik yang aku kirimkan lebih besar dari kemampuan otaknya yang hanya memilik IQ sekitar 120-145...

__ADS_1


#Tobe Continue:


__ADS_2