
“Mmmaaaff pak, rata-rata peserta bisa mengangkat beban hingga berapa kilogram yah pak?” Aku sedikit terbata-bata, iya, inilah salah satu kekuranganku yang lain, aku selalu kesulitan untuk berbicara dengan orang lain dan itu juga membuatku tidak percaya diri untuk berbicara banyak ke teman-teman di MIU dulu.
“Hmm... Rata-rata dari mereka bisa mengangkat 3 ton, dan malah ada yang mampu mengangkat hingga 5 ton.” Ucap sang panitia,
pria itu menjawab sambil melihatku sebentar, kemudian kembali sibuk dengan pekerjaanya.
“Boom!” perkataan itu seperti bom nuklir yang jatuh ke atas rasa percaya diriku, seluruh rasa percaya diri itu runtuh hanya dalam sesaat.
Kekuatan fisiku ternyata dibawah rata-rata dengan para peserta yang lain. Dengan pikiran yang agak sedih dan kesal aku berjalan ke tempat test selanjutnya.
Test selanjutnya adalah test kecepatan, yang tentunya diuji dengan lari lurus dan zigzag, selain itu juga dilakukan uji ketangkasan, uji ketangkasan dilakukan dengan menembakan pluru karet kearah peserta ujian yang sedang berlalri lurus dan zigzag.
Untuk para survivor peluru karet bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan, karena tidak akan menyakiti mereka, namun aku mempunyai firasat ini akan menjadi ujian yang penuh rasa sakit.
“Mulai tetsnya!” panitia ujian berbicara singkat sambil mulai menjalankan pencatat waktu.
“Swish” Aku berlari secepat yang aku bisa, saat kakiku menginjakan zona tempat berlari banyak titik bidik terarah padaku, jumlahnya cukup banyak dan tanpa menunggu aku mempersiapkan diri mulai menembakkan peluru karet kearahku.
“Bang...Bang...Bang” Puluhan peluru karet berterbangan kearahku, sangat sulit untuk menghindar dan memepertahankan kecepatanku disaat yang bersamaan.
Rasa sakit mulai menjalar di permukaan kulitku serasa beberapa darinya mengenai tubuhku, beruntung mataku dapat melihat dengan jelas seluruh proyeksi peluru, namun sial tubuhku tidak mampu mengikuti gerak mata dan otak-ku.
10 dari 20 peluru yang ditembakan mengenai tubuhku, dan meninggalkan bercak merah pada kulitku, awalnya tidak seberapa sakit, namun mendapatkan tembakan secara terus menerus mulai menyiksaku.
“Hoohh..huahhh.hooh..” Setelah test selesai, seluruh tubuhku dipenuhi bercak merah dan energiku benar-benar terkuras.
Kulihat papan LED besar diatas tempat ujian menunjukan waktu lari garis lurusku membutuhkan waktu 15 detik untuk 100meter,dedangkan test lari zigzag aku berhasil selesaikan dalam waktu 20detik, dan jumlah peluru yang mengenai tubuhku lebih dari 135 peluru dari 220 peluru yang di tembakan.
Perasaanku mengatakan hasilku sangat buruk, sehingga aku tidak menanyakannya pada panitia yang bertugas saat itu.
...
__ADS_1
Test terakhir yang harus aku lakukan adalah tes IQ, test yang tidak membutuhkan kekuatan fisik sekalipun. Kulihat dalam ruang test ternyata aku tidak sendirian melaikan bersama dengan 10 orang yang telah melakukan test sebelum aku.
“Berarti gadis itu masuk saat aku berkelahi dengan si botak keparat itu” Teringat akan gadis yang kutemui di pintu masuk, kugelengkan kepalaku untuk kembali fokus pada test yang kuambil.
“Hey kau! Duduk disini!” Panitia wanita berambut pendek dengan tubuh tinggi semampai dan memiliki otot yang membuatnya terlihat seksi, memanggilku.
“Baik!” Aku menjawab singkat sambil berjalan kearah meja dan kursi ujian.
“Isi semua test ini dalam waktu 60 menit!” Wanita itu menjelaskan tata cara dan waktu test secara mendetail. Ku buka lembaran soal dan membalikannya sampai halaman terakhir, kutemukan ujian ini terdiri dari 400 soal yang harus di selesaikan dalam waktu 60 menit.
(Mengangguk) aku mengangguk tanpa membalikan pandanganku.
“Apa!? 60 menit, bagaimana mungkin!” pikirku dalam hati, sambil mulai mengerjakan soal-soal itu. Namun diluar dugaan, soal-soal itu sangatlah mudah bagiku.
...
“Anak ini! Dia mampu menyelesaikannya seolah-olah ini hanya menulis cerita anak-anak” Wanita cantik itu tersentak dan membatin, sambil melihat jari-jari Yotta mengerjakan soal-soal test IQ yang sedang ia kerjakan.
Aku tentunya tidak mengetahui apa yang wanita itu pikirkan, dengan bersemangat ku kerjakan semua soal yang ada dan aku merasa sangat yakin bahwa tidak ada satu pun soal yang tidak mampu aku jawab.
Ku layangkan pandanganku ke peserta lain yang masih mengerjakan soal, diluar duguaan akulah yang pertama menyelesaikan test tersebut.
“Ternyata begini rasanya menjadi orang yang pintar”Ucap dalam hati, sedikit tersenyum bangga.
Aku keluar dan melihat peserta lain yang telah mengikuti test kembali keposisi semula dalam barisan.
Aku kembali ke tempat aku berbaris sebelumnya, belum sempat aku sampai pada barisanku, aku merasakan ada mata yang memandangiku dari kejauhan ketika kulihat ternyata itu adalah si botak keparat! Andre dan kawan-kawannya sepertinya merencanakan hal yang buruk terhadapku.
“Sial!, Mereka sepertinya Merencanakan sesuatu yang buruk terhadapku, bagaimana mungkin aku dapat mengalakan mereka, apa lagi mereka bertiga.” Aku berfikir keras bagaimana cara untuk menyelamatkan diri, kenangan waktu di MIU dulu terulang kembali, sewaktu aku di culik bersama Clara oleh Gruls, akan kah ini terulang kembali dan mungkin jika ia, kemungkinan selamatku kecil...
Setelah menunggu setengah jam Jendral Ben naik keatas Podium, sepertinya hendak mengumumkan sesuatu.
__ADS_1
“Perhatian! Pengumuman hasil test akan di bagikan di layar yang ada di belakangku, nilai masing-masing test akan terpampang disanah.
Akumulasi nilai dari semua test kalian akan menentukan level kalian. Tanpa banyak menunda silahkan liat nama kalian masing-masing.”
Mendengar hal itu aku menjadi sedikit pesimis karena aku tau hasil testku tidaklah memuaskan, dari keempat test yang aku jalani hanya satu test yang membuatku percaya diri melakukannya.
Para peserta sontak berjalan mendekati layar besar yang menempel pada bangunan test, sedangkan aku justru mundur kebawah pohon besar dibelakangku. Meskipun aku berada jauh dari layar pengumuman aku dapat melihat dengan Jelas hasil dan nama-nama yang tercantum disanah, dan aku tau peserta yang lain tidak memiliki mata yang sama sepertiku.
Kupandangi layar besar didekat bangunan itu, dari barisan teratas kutelusuri untuk mencari namaku.
“Dimas sanjaya Survivor Lv D : [test 1 \= 2000kg], [test 2 \= 11,1detik], [test 3 \= 80], [test 4 \=120]”
“Fani Denalia Survivor Lv D,: [test 1 \= 2000kg], [test 2 \= 11,2detik], [test 3 \= 90], [test 4 \=125]”
“Rona Marta Survivor Lv D, : [test 1 \= 3000kg], [test 2 \= 12,1detik], [test 3 \= 95], [test 4 \=118]”
“Celion Devato Survivor Lv C : [test 1 \= 3000kg], [test 2 \= 9,4detik], [test 3 \= 50], [test 4 \=140]”
“Apa!? Celion? Lelaki lugu itu? Dia kuat sekali” Melihat hasil yang ditunjukan oleh Celion aku terkejut, sungguh terkejut. Celion memiliki kekuatan setara dengan para Survivor senior yang telah masuk sebelum peserta lain.
Aku menghela nafas panjang mencoba menenangkan diri, setelah aku lebih tenang, kulanjutkan membaca hasil yang di umumkan.
“Samuel bayu Survivor Lv C, : [test 1 \= 2000kg], [test 2 \= 6,01detik], [test 3 \= 30], [test 4 \=138]”
“Dinda Evelyn Survivor Lv C, : [test 1 \= 5000kg], [test 2 \= 5,1detik], [test 3 \= 20], [test 4 \=150]”
Melihat nama Dinda, aku teringat gadis yang kutemui dipintu masuk bangunan pelatiha tadi, kaki lemas, mataku serasa kabur. Gadis itu memiliki kekuatan yang amat besar di tambah lagi hasil test keduanya membuatku tercengang,
“Lari 100 meter hanya dalam 5,1 detik? Hanya terkena 20 peluru? IQ 150? Oh tuhan dia ini manusia atau monster” Sungguh dunia tidak bisa ditebak pikirku.
Belum habis rasa terkejutku, tampilan pada layar membuat jantungku seperti mau berhenti, aku merasakan hari itu adalah hari terburuk yang pernah aku alami seumur hidupku.
__ADS_1
“Yotta Slyvana Survivor Lv E : [test 1 \= 1000kg], [test 2 \= 15,0detik], [test 3 \= 135], [test 4 \=400]”!!!!!
#Tobe Continue: