
“Ahk sial!! Siapa yang memukulku?!” seseorang memukulku dari belakang, saat aku melihatnya amarahku memuncak.
Pria yang memukulku adalah Survivor berkepala botak yang sebelumnya merendahkanku di rumah sakit.
“Apa?! Kau tidak dengar apa kata Jendral?! Tidak boleh bergerak saat menunggu, aku hanya melakukan bagianku. Jadi diam dan berdiri dengan benar” Pria botak itu berkata dengan nada suara yang kasar, mulutnya menunjukkan senyuman jahat yang biasanya kita temui di film-film drama.
“Kamu Ikut Denganku!” pria botak itu menyeretku ke belakang lapang bersama ketiga temannya meninggalkan kerumunan peserta test.
“Wosh....”
Pria botak itu menghujamkan pukulannya kearah Ku, Pukulannya Sungguh cepat namun aku mampu menghindarinya dengan meloncat ke belakang. Lalu ketiga temannya yang melihat aku menghindar langsung berlari menerjangku sambil memegangi kedua tanganku..
Pria botak itu menghujamkan kembali pukulannya ke arah perutku,”Bang!!” sampai aku terpental kebelakang menhujam tembok hingga tembok itu retak meninggalkan bekas hingga mengalir darah segar keluar dari mulutku.
Pria botak dan ketiga teman-temannya itu adalah Survivor Level D, pukulan seorang survivor level D bisa menghancurkan tembok rumah dan mematahkan besi dengan mudah, Karena amarahku sudah sangat memuncak, aku bangkit dan berlari ke arah tiga orang tersebut, ku ayunkan tanganku sekuat tenagaku ke arah pria botak terkutuk itu! Belakangan aku mengetahui namanya adalah andre.
“Keparat Kau Sialan!!” Aku berteriak, dan berharap setidaknya dapat menjatuhkan dia, tapi apa yang terjadi sungguh di luar dugaanku. Pukulanku dengan mudah dihentikan hanya dengan satu tangan oleh pria botak itu.
“Smack!!” Tanpa menunggu lamunan kebinggunganku, dia membalas pukulanku.
“Bang!!” aku berguling lebih dari 10meter sebelum menabrak kaki Jendral Ben yang sedang berjalan ke arah kami.
“CUKUP! DASAR KALIAN BODOH”
jendral ben berteriak, entah kepada siapa.
“KALIAN ADALAH SENIOR, TAPI MEM-BULLY JUNIORMU! PERGI JANGAN BIARKAN AKU MELIHAT MUKA KALIAN LAGI!” ketiga orang itu bergegas melangkah pergi sambil melihat kearahku dengan tatapan jahat, mulutnya terlihat tersenyum.
Entah mengapa mereka melakukan itu padaku, meskipun aku tidak pernah melakukan apapun yang menyakiti mereka.
__ADS_1
“DAN KAU! BERDIRI!, KEMBALI KE BARISAN!” jendral ben terlihat sangat kesal dengan kejadian yang terjadi dihadapannya. Terasa beberapa tulangku patah oleh pukulan tadi, dengan susah payah aku berdiri untuk kembali kebarisan.
Jendral ben berdiri memandang kearahku, dia terdiam beberapa saat lalu berujar. “Tangkap! Dan minumlah itu, Kamu masih harus menjalani test! Itu adalah serum pill yang terbuat dari beberapa tanaman obat serta daging Creaturs level C, itu akan menyembuhkan seluruh luka-lukamu” Jendral Ben melemparkan Pill ke arahku ,dan berbalik kembali ke arah bangunan dimna tes dilakukan.
Tidak menunggu waktu lama, aku langsung menelan Pill itu, setelah menelannya dan masuk kedalam tenggorokanku, obat itu lalu mencair dan menjadi bentuk cair, seketika tubuhku seperti dialiri tenaga yang menyebar keseluruh tubuhku, bahkan bagian tubuhku yang terdalam yaitu organ dan tulangku.
Aku bergegas untuk kembali ke barisan, pakaianku menjadi lusuh dan penuh dengan debu dan tanah, luka-luka dan tulangku sudah sembuh berkat pill yang kumakan tadi. Hal itu tentunya mengejutkan aku, pill itu merupakan obat yang mahal dan sulit di dapatkan.
.....
Sudah 2 jam test berlangsung dan aku masih berdiri dibawah terik matahari yang menyingsing siang itu, sekarang jam menunjukan pukul 1 siang. Perang nuklir bukan hanya menimbulkan Virus bermutasi namun juga mengakibatkan pemanasan global.
“Yotta Slyvana!” setelah menunggu cukup lama akhirnya namaku pun di panggil, tanda kini giliranku menjalankan test.
“Tap..tap..tap”
“Duh ngebayangin apa aku tadi....Inget,... inget... Aku sudah bertekat memilih Laura.. Bisa-bisa aku hampir melanggar konsistensi yang sudah ku buat sendiri” sahut yotta dalam batin.
“Yotta Slyvana!!”
“Eh!” Tersentak kaget aku bergegas, tanpa sadar gadis itu juga melihat kearah kemana aku pergi.
“Tes pertama adalah tes kekuatan fisik”
“Angkat beban ini mulai dari yang teringan hingga yang terberat.” Panitia tes itu menjelaskan.
“Baik!” Aku menjawab singkat. Dihadapanku terdapat beberapa beban, bentuknya seperti barbel untuk latihan fisik, namun berat masing-masingnya mengejutkan, yang paling ringan adalah 100kg sedangkan yang paling berat mencapai 10 ton.
“Oh Tuhan 10 ton!!” Ujarku dalam hati.
__ADS_1
“Yossht... Baiklah kita mulai dari yang teringan terlebih dahulu” ujar dalam hati sambil mengangkat barbel dengan Label 100kg.
“Grip-Grip”
“Wosh”
“Oh!?” Aku terkejut beban ini ternyata tidak berat, rasanya hanya seperti mengangkat galon air. Kepercayaan diriku mulai muncul, aku beranjak dan mengangkat beban yang ber’Label 500kg.
“Woshh”
Keringat mengalir dari dahiku, setidaknya aku sampai harus mengeluarkan 60% kekuatanku untuk mengangkatnya.
“Hmmm... ini mulai menjadi sulit, kira-kira peserta yang lain mampu mengangkat hingga berapa kilogram ya?” Aku berfikir sesaat sebelum mencoba mengangkat beban yang ber Label 1 ton.
“Gripp..Gripp”
Aku berusaha mengangkatnya sesaat setelah kedua tanganku menempel pada Barbel itu. Dan hasilnya mengejutkanku.
“Eh?!..Lah.. Lah.. Tidak terangkat?!” kucoba kerahkan seluruh kemampuanku, hingga wajahku memerah.
“Ayolah terangkat!” Ucapku penuh harap, beberapa saat kemudian barbelnya terangkat dan aku harus mempertahankannya selama 5 detik sebelum menurunkannya lagi, mataku melotot karena beban tersebut melebihi kemampuanku.
“Bang..!!” setelah lima menit menjalani tes itu dan berhasil kulewati, kulemparkan barbel berat itu ketanah, seluruh otot tanganku keram, karena kupaksakan untuk mengangkat beban diluar kemampuanku.
“Fiuuhh..Feww.. Setidaknya aku berhasil mengangkat beban satu ton, dengan ini pasti hasilku akan baik” Ucapku pelan, agar tak terdengar orang lain.
Aku merasa cukup puas dengan hasil yang aku raih, karena ku pikir aku telah mencetak prestasi yang baik, dengan percaya diri aku bertanya kepada panitia latihan.
#Tobe Continue:
__ADS_1