REDIVIDER

REDIVIDER
Dimana Aku?!


__ADS_3

Kepalaku terasa pusing menyakitkan. Rasanya dunia seperti berputar. Aku buka kedua mataku yang berat ini. Remang-remang penglihatanku mulai jelas kembali.


Perlahan aku bangkit dari tidurku dan mulai meneliti apa yang terjadi saat aku terlelap.


Setelah berusaha mengingat kembali kejadian yang lalu. Aku tau bahwa aku bukanlah tidur melaikan pingsan. Aku juga tau bahwa tadi aku telah bertemu dengan mahluk paling ganas di planet ini.


Aku sangat yakin Creaturs itu berhasil menerkamku. Seketika aku meraba seluruh tubuhku takut akan infeksinya namun tidak terdapat luka sedikitpun. Sebenarnya Apa yang terjadi denganku?


Aku berjalan mengitari ruangan ini. Ruangannya terasa asing. Warna putih dan hitam mendominasi. Satu kasur yang cukup besar dengan sofa di sampingnya. Tak lupa lemari loker besi berjejer di sudut kamar. Tidak ada jendela di ruangan ini. Hanya ada lubang ventilasi yang berada di langit-langit ruangan.


Setelah puas memperhatikan seluk beluk ruangan ini. Terdengan suara pintu otomatis terbuka menampilkan dua orang laki-laki dan perempuan yang melangkah masuk dengan satainya. Tak ada yang aneh dengan mereka. tampilan fisiknya seperti manusia biasa pada umumnya.


“wah kamu sudah bangun rupanya, Aku kira kamu akan tidur untuk selamanya!” Sahut laki-laki berambut merah dengan nada menyindir yang membuatku sedikit kesal. Baru saja kesadaranku mendarat di tubuh ini tapi langsung di suguhkan dengan kata-kata pedas yang terlontar dari mulutnya.


“Bagaimana keadaanmu saat ini ?” giliran perempuan berambut hitam panjang dengan wajah cantik seperti keturuan orang korea itu. Yang bertanya kepadaku.


“ Aku dimana?”. Pertanyaan itu yang otomatis keluar pertama dari mulutku.


“Kamu berada di salah satu markas Hunter tingkat Lv 2 Cabang Orion, tepatnya di kamar Clara.


Tadi dia yang membawamu kesinih.” Jawab laki-laki yang jika di tebak memiliki umur jauh lebih muda daripada aku terlihat dari tinggi bandan yang terpendek di antara semuanya. Laki-laki itu menggengam kaleng soft drink dan terus meneguknya.


Dahiku mengkerut kebingungan. Siapa Clara ini? Dan kenapa dia bisa menyelamatkanku? Aku menepuk dahiku seakan melupakan sesuatu “harusnya aku berterimakasih kepadanya”. Batinku berbicara.


“Aku mengucapkan terimakasi kepada Bu Clara. Mungkin jika tidak ada dia, aku sudah tiada dan berubah menjadi mahluk mengerikan bernama Creaturs itu”. Aku menerawang nasibku jika tidak di selamatkan Perempuan itu.


“Ya sama-sama. Lain kali jika bertemu mahluk seperti itu kamu harus berlari menyelamatkan diri bukanya diam berteriak pasrah menyerahkan Jiwa dan Ragamu. Dan bisakah kamu stop memanggilku dengan kata “Ibu” di depan namaku. Apa kamu kira aku setua itu?


“Ufffpss” aku menghela nafas, dan dia berkata “Kita sepertinya seumuran.” Protes perempuan itu dengan nada jengkel. Aku mencari arah datangnya suara. Mata kami bertuburuk tak sengaja dan aku bisa melihat jernihnya biru samudra yang terlihat di mata perempuan yang bernama Clara itu.

__ADS_1


“Oke Maaf kalo gitu, tapi terimakasih tadi udah nyelamatin aku”. Aku tersenyum ke arah orang itu sambil mengusap rambut kepalaku. sedangkan dia hanya menatapku datar dengan tatapan tajamnya.” Wuahhh lagi-lagi aku membuat wanita kesal karena salah menyebutkan perbedaan umur” sahut diriku di dalam hati.


Lalu aku mengalihkan Perhatianku ke arah lain dan mulai berkata “Adek kecil ini Berapa umurnya?” Aku mencoba ramah kepada anak laki-laki yang sedari tadi memegang kaleng soft drink.


“HAHhhh!!!! Apa katamu Tadi....?!!” Dengan berteriak marah kepadaku. Lalu seorang perempuan di sebelahnya berkata


”hahaha, walaupun terlihat pendek dan seperti anak kecil ini, dia juga seumuran dengan kita tahu” ia tertawa sambil menahan aksi tubuh anak laki-laki yang sedang marah kepadaku itu.


Aku hanya menelan ludah ku sendiri. Sudah berapa kali aku salah dalam memperkirakan umur seseorang sehingga mereka tidak menerima saat aku memberikan gelar ‘Tante’ atau ‘ibu’ sekarang aku salah lagi memanggil dia dengan sebutan “Adek kecil”.


Maaf aku salah lagi.” Aku tertawa basi sambil menggaruk tengkuk kepalaku yang sejujurnya tidak gatal.


“Daripada salah memanggil sebutan seseorang lagi, lebih baik kamu tau nama orang itu.” Laki-laki itu terus melanjutkan meminum soft drink-nya.


Setelah berfikir kenapa soft drink itu tak kunjung habis?


“Oh iya perkenalkan namaku Yotta Sylvana. Kalian bisa memanggilku yotta.” Aku tersenyum ramah kepada semuanya.


“ini Ben adkinson. Panggil saja Ben.” Cindy memeperkenalkan laki-laki jutek berambut biru itu.


“ Ini Dave Guinivere. Biasanya sih kami memangilnya Dave.” Cindy menujuk Dave si laki-laki betubuh mungil dengan mengelus rambut kepalanya.


“Nah yang terakhir kamu sudah mengenalnya tadi. Nama lengkapnya Clara frostfire.” Cindy mengenalkan teman-temanya dengan bersemangat.


Lalu Clara membawa aku serta tiga orang temanya yang baru aku kenal tadi menuju sebuat lift untuk keluar dari markas Hunter. Lift kemudian bergerak. Tidak ada suara yang terdengar, nampaknya semua diam tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Setelah beberapa saat, lift terbuka menampilkan ruangan yang sangat megah dengan hiasan lampu yang menggantung dan lukisan yang menempel di setiap dinding ruangan. Disana nampak seperti hotel, apartemen atau universitas yang pernah aku lihat dalam sebuat buku yang aku baca. Aku tidak tau secara pasti mengenai hal itu.


Ruangan yang berada di utara terlihat dari kejauhan juga nampak seperti laboratorium riset pengembangan. Aku mengetahuinya karena dulu ketika kecil aku pernah diajak pamanku untuk pergi kesana.

__ADS_1


Banyak orang yang berlalu lalang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


Tempat ini memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Aku baru menyadari sesuatu tentang markas Hunter ini. Yang pertama, ruang bawah tanah ternyata hanya sebagai tempat pertemuan, latihan Survivor dan asrama bagi mereka sebagai tempat peristirahatan.


Sedangkan tempat ini yang aku pikirkan berada di permukaan tersebar beberapa ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda. Ada kelas sebagai tempat belajar mengajar, perpustakaan lengkap, ruang makan, ruang Gym, lapangan indoor olahraga, dan masih banyak yang lainnya.


Aku bisa pastikan tempat ini di pergunakan untuk kegiatan yang manusia biasa lakukan agar survivor juga bisa merasakannya.


Yang kedua, aku tidak pernah tau tentang keberadaan tempat ini di daerah kota Laurent ,Varost. Aku telah hijrah dari kawasan Gold menuju kawasan Silver tetapi tidak pernah kutemukan tempat seperti ini sebelumnya.


Mungkin tempat seperti ini pernah ada, namun semua itu hanya berada dalam imajinasi liarku saja. Pendapat terkuatku kini adalah tempat ini mempunyai invisible mode sehingga mereka di luar sana tidak bisa melihat. Aku hanya terperangah melihat patung “The Golden Knight Clara” karya Dave Guinivere yang dibuat sekitar 4 tahun lalu, berdiri dengan indah dan gagahnya. Patung itu dilapisi emas dan dikelilingi oleh air mancur yang membuatnya sebagai pusat dari tempat ini.


Aku tidak percaya dengan keberadaan patung di depanku. Bayangkan saja Semua bahannya terbuat dari emas patung itu sangat indah dan kokoh berdiri. Aku mendekat untuk memastikan keaslian patung itu.


“Hey, yang kamu lihat itu Cuma segelintir mahakarya dari Dave. Dia memang berbakat dalam bidang seni. Salah satunya patung itu. Patung diriku.” Clara menjelaskan dengan santai kepadaku.


“Wahhhh Hebatt... Eh.. Tu..tunggu... Patung Dirimu? Clara?” Ekspresi yotta Kagum sekaligus kaget.


“Tentu saja, Lihat.. Mirip Bukan!” Clara berdiri Berpose menirukan patung itu.


Jujur aku kagum dengan kemampuannya. Umurnya yang masih muda namun dapat membuat karya yang begitu hebat. Harusnya aku tau dari rambutnya yang merah menandakan bahwa dia memang memiliki jiwa seniman. Selain itu, tampilanya juga selalu nyentrik.


“Tadinya dia ingin membuat replika patung Goddess Nike of Samothrace. Namun karena bagian patung dalam mitologi yunani sebagai dewi kemenangan. Jadi kalo Dave membuatnya pasti akan bagus.” Penjelasan Clara yang di hadiahi anggukan kecil olehku.


Setelah itu aku bergegas menysusul Ben,Dave, dan cindy yang telah meninggalkanku disini bersama clara. Jujur aku lupa akan waktu jika seudah bertemu sesuatu yang menarik. Mereka sepertinya sudah cukup jauh.


“Hey.. Yotta Cepat Kemari, maaf karena tidak bisa berlama-lama di sinih karena kamu adalah warga sipil, Dan kami pun harus pergi karena ada Misi, Nah silahakan naik, Kendaraan ini akan mengantarmu Pulang ke kawasan Silver”, setelah keluar dari markas Hunter, bangunan itu sudah tidak tampak lagi. Sepertinya anggapan Yotta selama ini benar.


Nampak para teman survivor-nya sedang menjalankan misi penting sehingga terburu-buru langsung meninggalkan yotta tanpa salam perpisahan...

__ADS_1



#Yobe continue:


__ADS_2