Reinkarnasi Gadis Pelakor

Reinkarnasi Gadis Pelakor
BAB 1. Proses reinkarnasi


__ADS_3

Devina Stefani Germanotta, wanita yang tengah hamil tua berusia 25 tahun berjalan masuk ke dalam rumah setelah memeriksa kandungannya ke rumah sakit Sejahtera Harapan Bunda.


Wanita itu menyeret dirinya ke rumah sakit, karena suaminya tidak punya waktu untuk mengantar dirinya dengan alasan sibuk mengurus perusahan yang sedang berkembang pesat.


Devina berjalan menuju kamar, karena tubuhnya terasa pegal sekali. Dan ia ingin segera mandi, agar tubuh pegalnya bisa kembali segar.


Baru separuh pintu di buka, Devina malah mendengar suara des*h*n seorang wanita tepat di dalam kamarnya. Ketika ia menghidupkan lampu kamarnya, sontak saja pandangan matanya menangkap dua orang berlawanan jenis, sedang bergumul di atas tempat tidur yang biasa ia gunakan untuk berhubungan badan dengan suaminya.


Namun sayang, kini suaminya menggunakan tempat tidur itu untuk bergumul dengan wanita yang tidak lain adalah sahabat istrinya sendiri, yaitu Vindy Bernadette Claudia.


"Ya... Tuhan Mas, Vindy. Apa yang kalian lakukan!!" teriak Devina dengan mata melotot sambil kedua tangannya menutupi mulutnya.


Bahkan suara menggema Devina, langsung mengejutkan mereka.


"De---Devina, ka---kau sudah kembali" dan segera menghentikan aktivitasnya.


"Hebat, jadi ini yang selalu Mas lakukan di belakang ku? Alasan... sibuk kerja, ternyata selingkuh dengan sahabat ku sendiri!" ucap Devina dengan air mata sudah lolos membasahi kedua pipinya.


"Tu---tunggu Dev, aku bisa jelaskan" ucap Jonathan melangkah menghampiri dan mencoba untuk menjelaskan.


"Stop! Gak ada yang perlu di jelaskan?" ucap Devina menghentikan langkah suaminya.


PLAK!


"Aku tidak menyangka, kau tega berselingkuh dengan suami ku! Apa kau tidak malu, bercinta dengan suami sahabatmu sendiri?" tanya Devina menatap tajam wajah sahabatnya, setelah melayangkan satu tamparan ke wajah wanita yang merupakan selingkuhan suaminya.


"Kenapa harus malu? Justru aku sangat senang dan bangga, karena aku dapat memuaskan suamimu? 00kh s*y*ng ayo t3ru555kan @@@khh!! Pria tampan seperti suamimu, siapa yang bisa membiarkannya kesepian?" ucap Vindy tanpa malu, bahkan di depan wajah sahabatnya Vindy malah m3nd3s4h dan mengajak suami sahabatnya untuk melanjutkan aksinya.


"Dasar wanita murahan!" ucap Devina penuh amarah dan berniat melayangkan satu tamparan ke wajah sahabatnya.


"Hentikan!!"


PLAK!


Namun suaminya menangkap tangannya dan malah tega menampar istrinya sendiri? Bahkan ia menghempas tangan istrinya kebelakang dengan cukup keras, demi membela wanita selingkuhannya.


"Oh, ternyata kalian berdua sama saja? Sama-sama, gak punya malu!" bentak Devina sambil melotot dengan wajah memerah dan hati yang hancur berkeping-keping.


"Sejak hamil, kau tak enak lagi di pandang? Apa aku salah mencari wanita lain untuk memuaskan hasratku, dan perlu kau tahu aku tidak pernah mencintaimu" ucap Jonathan tanpa dosa, justru ucapannya itu membuat istrinya semakin sedih dan hancur.


"Lalu anak dalam kandungan ku, kau anggap apa Mas?" tanya Devina dengan air mata berlinang di kedua pipi mulusnya.


"Itu hanya kesalahan?"


Deg.


Lagi-lagi ucapan Jonathan sukses membuat hati Devina, hancur. Nafasnya tersengal, dan jantungnya seketika berhenti berdetak. Meski tak berdarah, namun hatinya benar-benar terluka saat ini.


"Iyya... Mas, kau memang tak pernah salah? Mungkin... aku yang terlalu bodoh, hingga tak menyadari kau selingkuh dengan sahabatku sendiri" ucap Devina sambil menyeka air matanya.


"Lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan, dan aku akan pergi?" sambung Devina sambil berlalu pergi meninggalkan kamar yang selalu ia tempati bersama dengan suaminya.


"Dengar! Setelah kau melahirkan, kita akan segera bercerai?" teriak Jonathan, setelah menghancurkan hati istrinya? Bahkan dengan enteng ia tega mengucapkan kata cerai, di saat istrinya tengah hamil tua.


Meskipun wanita itu telah pergi meninggalkan kamar, namun teriakan suaminya masih terdengar jelas di telinganya. Dengan hati yang terluka dan hancur, Devina pergi membawa mobil dalam kecepatan tinggi. Tanpa sadar mobil yang di gunakannya, hampir menabrak seorang nenek tua. Untuk menghindari Devina mencoba mengurangi kecepatan, namun rem mobilnya tiba-tiba tak berfungsi. Hingga membuat mobil Devina kehilangan keseimbangan dan terjadilah kecelakaan.


Nenek tua yang menyaksikan langsung berteriak meminta tolong pada orang sekitar agar bisa menolong orang yang hampir menabrak dirinya.


Mendengar teriakan, seketika orang-orang di sekitar sana langsung datang bergerumul. Sebagian datang untuk menolong, dan ada pula yang datang hanya sekedar membuat video konten untuk keuntungan pribadi agar viral dan populer di medsos nya.


Dalam kecelakaan, keadaan Devina cukup mengkhawatirkan? Sebab posisi mobilnya dalam keadaan terbalik, band mobil berada diatas sedangkan badan mobil berada di bawah.


Tak butuh waktu lama, sebuah ambulance pun datang. Para petugas bergegas keluar mobil sambil mengeluarkan brankar untuk membantu mereka dalam menangani korbannya. Dalam posisi terjepit dan hamil tua, proses pertolongan pun cukup menguras waktu dan tenaga. Untungnya, para petugas cukup lihai dalam pekerjaannya sehingga tak banyak waktu yang di habiskan untuk menolong pasiennya.


Setelah tubuh Devina berhasil di keluarkan, bergegas mereka segera membawa pasiennya ke rumah sakit untuk di beri pertolongan pertama.


"Sus... cari apapun yang ada di dalam tasnya, dan segera hubungi keluargannya?" sarkas seorang dokter dengan jubah putih kebesarannya, berjalan masuk ke ruang tindakan saat Devina tiba di rumah sakit.


"Baik, dok?" pungkas suster sambil membuka tas bawaan Devina untuk mencari sesuatu. Setelah menemukan sebuah telepon genggam. Suster itu segera mencari kontak seseorang untuk di kabarkan, dan untungnya ponsel milik Devina tak memiliki kata sandi hingga suster itu mudah menghubungi seseorang.


Trrrrsss.... Trrrrsss.📱 [Suara ponsel bergetar].


"Hallo Dev sayang, ada apa kamu menghubungi Ibu?" suara lembut dari seberang telepon, bertanda bawah telepon pun telah tersambung.


"Hallo, ini dengan keluarga pasien bernama Devina?" tanya suster dari seberang telepon.


"Iyya... saya Ibunya, dan kalau boleh tahu ini dengan siapa ya kok bukan anak saya----"


"Maaf... Ibu, kami dari petugas rumah sakit Sejahtera Harapan ingin mengabarkan bawah anak Ibu bernama Devina Stefani Germanotta telah mengalami kecelakaan dan sekarang anak Ibu sedang diruang tindakan untuk diberi penanganan lebih lanjut,"


Deg.


Ucap suster, yang mengabarkan dari sebuah ID KTP milik Devina. Dan Seketika jantung wanita bersuara lembut di seberang sana bagai berhenti berdetak, mendengar penjelasan suster itu. Apalagi mengetahui bahwa Devina sedang hamil tua, wanita itu semakin mencemaskan keadaan anaknya saat ini.


"Baiklah sus, saya akan segera ke sana"


Tuutt... Tuutt.


Ucap sang Ibu penuh kecemasan, dengan memutuskan sambungan telepon dan berlalu pergi ke rumah sakit untuk memastikan kondisi anaknya sambil meraih tas bawaannya.


"Tiara" panggilannya sebelum pergi.


"Iyya Bu" jawab gadis bernama Tiara memenuhi panggilan.


"Jaga anak-anak, Ibu mau pergi dulu" sambung wanita bersuara lembut itu, sambil menaiki taksi.


"Kemana Bu?" tanya gadis itu. Namun wanita bersuara lembut itu tak menghiraukan, karena mobil yang ditumpanginya langsung meninggalkan tempat.


"Ibu mau kemana sih, kelihatannya cemas sekali" gumam gadis itu lagi, saat wanita bersuara lembut tak menghiraukan ucapannya.


Saat di perjalanan, wanita itu mencoba menghubungi suami anaknya. Namun suami anaknya tak kunjung menjawab telepon darinya. Meski wanita itu sudah berkali-kali menghubungi, namun Jonathan tetap enggan menjawab telepon ibu dari istrinya.

__ADS_1


Trrrrsss... Trrrrsss.📱 [Suara ponsel bergetar].


"Iyya Bu Khadijah, ada apa ya Ibu menghubungi saya," tanya seseorang dari seberang telepon.


"Maaf Tuan Bagas, nak Jonathan kemana ya? Saya telepon dari tadi kok, tidak di jawab? Apa... dia sibuk, atau bagaimana?" ucap wanita bernama Ibu Khadijah malah balik bertanya.


"Oh, gak Bu Khadijah? Jonathan gak sibuk. Tapi kalau boleh saya tahu, kenapa Ibu mencari anak saya?" ucap pria itu, kemudian malah balik bertanya pula.


"Devina kecelakaan Tuan, sekarang dia di rumah sakit Sejahtera Harapan?" jawab Bu Khadijah memberitahu dengan suara terdengar sangat sedih karena menangis.


"Apa!" sontak Tuan Bagas sangat terkejut mendengar ucapan Ibu Khadijah.


"Iyya Tuan? saya berusaha menelepon nak Jonathan, Tapi nak Jonathan tidak mau menjawab telepon dari saya?" sambung Bu Khadijah dengan suara seraknya, karena terus-terusan menangis.


"Hmm... anak itu benar-benar keterlaluan, tak pernah berubah? Awas kalau ketemu, tak akan ku beri ampun!" umpat Tuan Bagaskara, karena merasa geram dengan kelakuan anaknya.


"Ya sudah Bu? saya tutup dulu teleponnya, dan saya ke sana sekarang juga?"


"Baik Tuan"


Ucap Tuan Bagas, dan Ibu Khadijah perlahan menutup sambungan teleponnya. Dalam kecemasannya, wanita itu kembali memasukkan ponselnya kedalam tas. Wanita itu kelihatan benar-benar tak pandai menyimpan rahasia, sebab terlihat dari raut wajahnya sekarang, bahwa ia benar-benar sangat khawatir dengan keadaan anak dan bayi dalam kandungan.


***


Tak menunggu waktu lama. Bu Khadijah dan Tuan Bagas tiba di rumah sakit. Mereka terlihat sangat cemas, dengan kondisi wanita yang tengah hamil tua di dalam sana. Kecemasan mereka benar-benar tak ada duanya, kecemasannya benar-benar atas kecemasan.


Bu Khadijah duduk di kursi tunggu di rumah sakit itu, dengan air mata berlinang di kedua pipinya.


Tak kalah dengan pria berusia 40an itu, ia terlihat sangat mencemaskan menantu dan calon cucunya di dalam sana. Uring-uringan mondar-mandir kesana-kemari, menunggu sang dokter keluar dari ruangan tersebut.


Sangking cemasnya, pria itu akhirnya mencomot ponselnya untuk menelepon anaknya. Dan orang yang diteleponnya pun akhirnya menjawab telepon tersebut.


Trrrrsss... Trrrrsss.📱 [Suara ponsel bergetar].


"Iyya Pa, ada apa?" Dengan nafas memburu serta keringat masih bercucuran, Jonathan pun akhirnya menjawab telepon orangtuanya. Lalu dengan santai, Jonathan malah bertanya di dalam hatinya tak samasekali menyimpan perasaan bersalah, karena telah mengkhianati istrinya. Bahkan ia ternyata baru selesai dari pergumalannya dengan wanita selingkuhannya, yang tidak lain adalah sahabat istrinya sendiri.


"Ada apa ada apa? Bu Khadijah dari tadi menghubungimu, apa kau tidak mendengarnya? Kau berpendidikan tinggi, tapi kau samasekali tak memiliki sopan santun?" tegas Tuan Bagas dari seberang telepon, ia menegur anaknya karena merasa kecewa.


"Aduh Papa jangan marah-marah terus, nanti jantung Papa kambuh lagi gimana? Lagian ada urusan apa, Ibu Khadijah menghubungi aku. Aku lagi ada meeting diluar, ya jelaslah aku tidak menjawabnya?" ucap Jonathan tanpa dosa, bukannya merasa bersalah pria itu justru sangat cuek, wajahnya memelas tak perduli dengan apa yang diucapkan oleh orangtuanya.


Entah karena keangkuhan, ataukah perasaan pria itu benar-benar sudah mati untuk istrinya. Sekelipun istrinya telah mengandung darah dagingnya, Jonathan tetap saja tak perduli dengan istrinya. Bahkan selalu menghiraukan setiap ucapan Papanya untuk dirinya.


"Kau tahu Nathan, Devina istrimu sekarang di rumah sakit" ucap Tuan Bagas memberitahu dari seberang telepon.


"A---apa! De---Devina di rumah sakit, emangnya apa yang terjadi?" ucap Jonathan pura-pura kaget.


"Nah, kau bertanya kan sekarang? kau tidak tahukan apa penyebabnya? makanya kalau ada orang telepon, angkat? Sepenting apapun pekerjaanmu itu, kalau ada orang telepon angkat saja, bukan malah kau abaikan?"


Dengan rahan mengeras. sekali lagi Tuan Bagas kembali menasehati anaknya itu agar menyadari kesalahannya.


"Aduh Pa, jangan ngomel-ngomel mulu? kasih tahu saja Nathan, Devina itu kenapa?" tanya Jonathan masih pura-pura cemas.


"Iyya Pa, oke Pa Nathan ke rumah sakit sekarang" jawab Jonathan dengan wajah memelas.


Tuutt... Tuutt.


"Aaarrgghh! benar-benar wanita sial, selalu merepotkan!" gerutunya sambil menggenggam erat telepon genggamnya dengan rahan mengeras karena merasa sangat kesal sekali.


"Ada apa sih Baby? baru saja loh kita bersenang-senang, kok marah-marah lagi?" ujar Vindy dengan tubuh polos sambil melangkah mendekati pria yang baru saja bercinta dengannya beberapa saat yang lalu.


"Devina kecelakaan dan aku harus ke rumah sakit sekarang?" ucap Jonathan memberitahu dengan muka kesalnya.


"Baguslah dan mudah-mudahan Devina dan anaknya, tidak selamat dari kecelakaannya!" umpat Vindy dalam hati, yang menyumpahi sahabatnya sendiri agar tidak selamat dalam kecelakaan.


"Sabar dong Baby? pergilah sekarang?" ucap wanita yang bernama Vindy, ia dengan centilnya mengelus-elus dada bidang suami sahabatnya.


"Bab, kau mengusir ku?" tanya Jonathan merasa heran karena wanita itu seperti mengusir dirinya.


"Hmm, jangan salah paham gitu dong Baby? aku hanya tidak ingin kau terkena masalah, karena wanita sialan itu? Bahkan dalam kondisi tak sadar sekalipun, wanita itu bisa melakukan apapun, termasuk membahayakan posisimu di depan orangtuamu sendiri" tutur Vindy yang dengan sengaja berbicara buruk tentang sahabatnya, untuk membuat pria itu membenci istrinya sendiri.


"Benar-benar wanita sialan, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi?" gumam pria itu, dan rahanya terlihat semakin mengeras. Kali ini bukan saja kekesalan melekat dalam hatinya, tetapi kemarahan dan kebencian pun kini merajai hati dan pikirannya. Hingga ia benar-benar tidak bisa membedakan antara benar dan yang salah.


"Jaga dirimu baik-baik, dan aku pergi dulu!" sambungannya melangkah pergi keluar, sambil memakai pakaiannya kembali satu persatu.


***


Tak kurang dari 30 menit, Jonathan akhirnya tiba di rumah sakit. Dengan malasnya, Jonathan terpaksa menyeret kakinya masuk. Andai bukan karena perkataan Papanya, Jonathan sebenarnya sangat malas untuk datang ke rumah sakit. Tak perduli istri dan anaknya sekarat ataupun selamat, sebab hati dan pikiran pria saat ini diselimuti perasaan marah dan benci untuk istrinya.


Beberapa saat kemudian, dokter yang menangani Devina pun keluar. Ibu Khadijah dan Tuan Bagas yang melihat pintu perlahan terbuka, seketika berjalan menghampiri untuk bertanya.


"Bagaimana keadaan Ibu dan bayinya dok, apa anak saya baik-baik saja?"


"Apakah mereka selamat dan baik-baik saja, dok?"


Tanya Bu Khadijah dan Tuan Bagas secara bergantian, mereka benar-benar terlihat khawatir kepada Devina dan juga anaknya. Tapi lain dengan pria yang menyandang status sebagai suami wanita itu, wajahnya tak menunjukkan kekhawatiran sama sekali.


Terdengar helaan nafas dari dokter yang menangani wanita itu. Kondisi hatinya benar-benar buruk saat ini. Bahkan ekspresi wajahnya, benar-benar tak enak di pandang.


"Sayang sekali... Pak, Bu? mereka tak dapat kami selamatkan, ternyata pasien bernama Devina telah meninggal dunia sebelum sampai di rumah sakit" tutur sang dokter dengan suasana hati kurang enak, untuk menyampaikan apa yang seharusnya di katakannya.


"Apa meninggal! Tidak, anak saya tidak mungkin meninggal. Dokter pasti salah, anak dan cucu saya tidak mungkin meninggal dunia!!" tutur Ibu Khadijah tak percaya, dia belum bisa merelakan, sertai air mata yang tak pernah berhenti mengalir.


"Dok coba periksa satu kali lagi, siapa tahu dokter salah. menantu dan cucu saya, tidak mungkin meninggal?" sambung Tuan Bagas meminta sang dokter untuk memeriksa cucu dan menantunya satu kali lagi.


"Kami sudah berusaha menolong, tapi Tuhan lebih sayang mereka kedua? dan maaf, mereka tidak bisa kami selamatkan?" sarkas sang dokter, memperjelas ucapannya.


PLAK!


PLAK!


"Ini... semua gara-gara kau, Nathan!" ucap Tuan Bagas, sambil melayangkan dua tamparan ke wajah anaknya.

__ADS_1


"Pa! Kok malah nampar aku sih, Pa! Devina dan anaknya meninggal itu ke hendak Tuhan, kok malah nyalahin aku sih?" kesal Jonathan, karena Tuan Bagas menyalahkan dirinya atas meninggalnya istri dan anaknya.


"Iyya... ini memang kesalahanmu, kau sangat keras kepala?" sambung Tuan Bagas dengan wajah penuh amarah, menatap tajam wajah anaknya.


"Keras kepala gimana sih, maksud Papa?" jawab Jonathan, tanpa rasa bersalah.


"Sejak... hamil, Papa sudah mengajakmu dan istrimu untuk tinggal di rumah? Dan... kalau sudah seperti ini, apa yang bisa kita lakukan hmm!! Di rumah, banyak pembantu yang bisa mengurus dan membantunya? Tapi... di rumahmu, siapa yang bisa membantu ketika kau sibuk kerja? Gara-gara... keras kepalamu, Devina harus pulang pergi rumah sakit dengan menyatir sendiri?" tegas Tuan Bagas berbicara panjang lebar. Pria itu benar-benar marah dan kecewa, andai Jonathan mendengar ucapannya? Mungkin menantu dan calon cucunya, tak meninggal dunia karena kecelakaan.


"Kasus... ini benar-benar langkah Pa, Bu? Nyawa... Ibunya mungkin tak bisa kami selamatkan. Tapi untungnya nyawa anak dalam kandungan masih bisa kami selamatkan? Meski, membutuhkan waktu? Tapi syukurlah bayinya, dapat kami selamatkan?" tutur sang dokter melanjutkan penjelasannya.


"Lalu cucu saya di mana dok, apa bisa kami menemuinya sekarang?" ucap Tuan Bagas kembali bertanya.


"Sabar dulu Pak, cucu bapak masih di bersihkan oleh suster?" jawab sang dokter memberitahu.


"Ya... Tuhan, kau selamatkan anaknya. tapi kau pisahkan anak dari Ibunya? Anak itu baru lahir, Tuhan? Tapi anak itu kenapa harus kehilangan Ibu, secepat ini?" batin Ibu Khadijah, merasa kasihan kepada anak yang baru di lahirkan Devina.


Devina anak asuh yang telah ia besarkan selama 25 tahun, dan kini wanita itu harus menyaksikan anak asuhnya meninggal dengan cara seperti ini.


BRUK!


"Pergi dari sini!"


Tiba-tiba Ibu Khadijah mendorong keras kedua pria itu, agar mereka tak menemui Devina dan anaknya.


"Bu ada apa ini, Bu? kok tiba-tiba melarang kami masuk? Bu... Devina itu masih menantu saya, dan anaknya adalah cucu saya?" ucap Tuan Bagas mencoba mengingatkan.


"Ya... memang benar, anak itu adalah cucu anda. Tapi... melihat perilaku anak Tuan hari ini. saya yakin? Devina pasti meninggal karena sesuatu? Dan jika benar, saya tidak akan mengampuni kalian berdua!"


Dengan perasaan sedih, Ibu Khadijah melangkah masuk dan meninggalkan kedua pria itu di luar ruangan.


"Hai Bu, jangan asal nuduh ya? pada dasarnya, Devina adalah wanita yang sangat lemah? meninggal dalam kecelakaan, itu wajar-wajar saja Bu? Untung saja bayinya, tak selemah Ibunya? Jika tidak, pasti bayi itu sudah mati ikut Ibu----"


PLAK!


"Astaga Pa! ada apa lagi sih! sakit tahu Pa, ditampar seperti itu" ucap Jonathan sedikit membentak.


"Jaga ucapan mu Nathan! kenapa kau sangat kurang ajar bicara seperti itu, pada Bu Khadijah" sambung Tuan Bagas dengan tegas.


"Apa yang salah dengan ucapan ku, Pa! Devina itu memang wanita lemah, sejak jadi istriku dia hanya bisa merepotkan ku!" ucap Jonathan semakin kelewatan. ucapannya seperti bukan orang yang berpendidikan.


"Nathan!!" teriak Tuan Bagas penuh amanah dan mencoba melayangkan satu tamparan ke wajah anaknya, namun.


"Pak, kalau begitu saya permisi dulu?" sela sang dokter, berpamitan sebelum meninggalkan tempat. Membuat Tuan Bagas menghentikan niatnya itu.


"Silahkan?" ucap Tuan Bagas, menurunkan tangannya kembali, namun.


"Mau ke mana Jonathan?" tanya Tuan Bagas saat melihat anaknya, melangkah pergi meninggalkan tempat.


"Untuk apa kita masih di sini, Papa gak dengar tadi Ibu Khadijah bilang apa? Ibu asuh Devina itu, udah mengusir kita Pa!" jawab Jonathan menghentikan langkahnya sejenak sambil balikkan badan, setelah itu melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan rumah sakit.


"Nathan! Kau benar-benar keterlaluan ya! bisa-bisanya kau ingin meninggalkan tempat? apa kau tak merasa jerah dengan tamparan Papa barusan!!" sentak Tuan Bagas yang tak habis pikir dengan tingkah laku anaknya.


"Aku sama sekali tidak bersalah, dan kenapa aku harus takut! Jika masih ada di sini, aku seperti orang yang tidak tahu malu? Di usir, tetap saja tidak mau pergi?" ucap Jonathan, dengan santai tanpa dosa.


"Lagian, Bu Khadijah nuduh aku sembarangan? udah jelas Devina meninggal keran ulahnya sendiri, malah nyalain orang" ucap Jonathan dengan angkuhnya.


"Yang nyetir siapa, kok orang lain yang di salahkan" sambung Jonathan sambil menyandarkan tubuhnya di dinding serta memasukkan kedua tangannya di saku celananya.


"Ucapan... Ibu Khadijah tidak, salah? dia hanya kesal dengan sikapmu itu, tapi jika benar ini semua kesalahahmu? angkat kakimu dari perusahaan" tegas Tuan Bagas memberi peringatan keras kepada anaknya, agar berpikir dua kali sebelum bertindak.


"Ya Tuhan, gak ada gitu ancaman Papa yang lain selain mengeluarkan aku dari perusahaan! kalau hanya itu, Nathan sama sekali tidak takut?" ucap Jonathan dengan muka malas, mendengar ucapan Papanya yang terus-terusan mengancam dirinya dengan mengeluarkan dirinya dari perusahaan.


"Papa tidak pernah main-main! Jika benar ini adalah perbuatanmu? Bukan hanya di perusahaan, tapi di ahli waris Papa akan coret nama kau!!" ucap Tuan Bagas tegas, sambil melangkah menuju meja resepsionis untuk melakukan pembayaran atas nama menantu dan juga cucunya.


Setelah melakukan pembayaran Tuan Bagas pun memilih menunggu di lobi rumah sakit, untuk menghindari keributan sambil menunggu pemulangan jenazah Devina menantunya.


Meskipun tak di izinkan, Tuan Bagas tetap menunggu di lobi rumah sakit. Karena Tuan Bagas sudah menganggap Devina, sebagai putri kandungannya sendiri. Tapi lain dengan Jonathan, di hatinya tak sedikitpun memiliki rasa penyesalan. Meskipun istrinya telah meninggal dunia, pria itu tetap tidak perduli.


Ia berulang kali melirik jam tangannya, namun bukan karena bosan menunggu jenazah istrinya. Melainkan karena Jonathan ingin segera meninggalkan rumah sakit, sebab ia ingin segera kembali bekerja dan bertemu dengan selingkuhannya.


Namun tanpa orang lain sadari dan mereka sadari, Devina Stefani Germanotta. Ternyata bereinkarnasi ke dalam jasad anaknya sendiri.


Itulah kenapa dokter membutuhkan waktu untuk menyelamatkan anak dalam kendungan setelah berhasil di keluarkan. Karena Devina telah reinkarnasi ke dalam jasad anaknya sendiri, dan proses itu membutuhkan waktu sangat banyak.


Dan sebagai kenyataan, bukan Devina yang meninggal dunia melainkan anak dalam kandungannya. Namun karena suatu hal, roh Devina terlahir kembali? Meskipun sangat di sayangkan, jasad anaknya lah yang menjadi penerima roh ibunya sendiri.


Bersambung


¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿


Okey... guys, cukup sekian dari cerita novel dari author?


Awal baca nih?


Di halaman ini, Bijak-bijaklah dalam membaca ya guys? Yang masih di bawa umur, tidak di perkenankan untuk membaca cerita di bagian ini.


Maaf ya guys, jika dalam cerita ku banyak mengandung hal-hal yang berbau ya gimana gitu.


Hehehehe, biasa lah guys? Cerita tak akan seru, jika dalam cerita tak ada yang sedikit menarik. Yaaa contohnya ya itu?


Hehehehe, maafkan author ya guys. Dan silahkan di lanjut bacanya, terima kasih 🙏🙏🙏


Vote👈


Like♥️


Komentar 💌


And Favoritkan😍


See you again thanks for watching 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2