Reinkarnasi Gadis Pelakor

Reinkarnasi Gadis Pelakor
BAB 14. Ada apa dengan dirimu Jonathan


__ADS_3

"Berhentiii!" pekik pak Nurdin secara tiba-tiba, membuat David langsung menghentikan laju mobilnya.


"Astaga... bapak sadar gak sih, barusan perbuatan bapak itu hampir mencelakai kita semua loh?" kesal mbok Sari dengan kelakuan suaminya.


"Lagian... ada apa sih, kok tiba-tiba nyuruh Tuan David berhenti?" sambung mbok Sari bertanya.


"Lihat... mbok, i---itu kan Vi---Vindy anak kita?" tutur pak Nurdin begitu sangat bahagia, sambil menunjuk keluar mobil. Dan tanpa terkecuali, semuanya pun langsung mengikuti arah di mana tangan pak Nurdin menunjuk.


"Ya... Tuhan, Vindy!!!"


Setelah memastikan, sontak saja mbok Sari keluar dari mobil untuk segera menemui anaknya itu? Di susul oleh suaminya yang juga ikut keluar dari mobil, dengan perasaan begitu sangat bahagia.


Di saat mobil yang di gunakan Verlyn menuju kantor, di tengah jalan? Pak Nurdin malah tidak sengaja melihat sosok anaknya, berjalan bersama dengan seorang pria dari sebuah Coffee shop. Yang mana Verlyn sendiri, sangat mengenali sosok pria yang sedang berjalan bersama dengan mantan sahabatnya? Siapa lagi kalau bukan, Jonathan Bima Evander.


Sungguh brengsek pria itu, di saat istrinya masih menghilang? Bisa-bisanya ia tetap meluangkan waktu, untuk berjalan bersama dengan Vindy selingkuhannya.


Melihat itu, Verlyn atau Devina seketika di sulut emosi. Ia berniat keluar mobil untuk melambrak dua manusia, yang sama-sama tidak punya rasa malu. Namun sayang David sang asisten, tiba-tiba menghentikan niat atasannya itu.


"Maaf... nona bukan saya lancang, tapi ini bukan saatnya anda keluar?" ucap David memberitahu


"Kalau... bukan sekarang, lalu kapan? Ingin... rasanya aku, mencakar kedua wajah penghianat itu?" gumam Verlyn atau Devina, dengan tatapan sangat marah ke arah mereka.


"Jika... nona keluar sekarang, semua rencana yang sudah kita susun pasti akan gagal?" sambung David mengingatkan.


"Lalu... apa yang harus kita lakukan, sedangkan aku sudah sangat marah melihat mereka berdua?" tanya Verlyn atau Devina, dengan tatapan marah sambil rahangnya terlihat sangat mengeras? Karena sudah tidak tahan, melihat perselingkuhan Jonathan dengan mantan sahabatnya Vindy.


"Biarkan... mereka bertemu dulu nona, agar kita bisa tahu? Apakah... kedua orangtua itu benar-benar terlibat atau tidak, yang pastinya kita pantau saja mereka dari sini?" sambung David menjelaskan dengan mata tetap memantau pergerakan dari luar.


Sedangkan Verlyn atau Devina, perlahan kembali mengatur emosinya? Karena sekarang ini, ia sudah sangat marah. Verlyn menyandarkan kepalanya di kursi penumpang mobil, sambil membuang nafasnya dengan kasar. Dan sesekali menepuk-nepuk manja anaknya, karena Ezra barusan menangis akibat perbuatan pak Nurdin yang menyuruh David untuk berhenti secara tiba-tiba.


"Vindy!!"


"Nduk...!!"


Sedangkan mbok Sari dan pak Nurdin, terus melanjutkan langkahnya menghampiri anak perempuannya? Mereka terus berteriak, sambil memanggil nama anaknya. Di mana wajah keduanya nampak sangat bahagia, setelah sekian lama menanti? Akhirnya mereka dapat melihat, wajah anak perempuannya kembali.


Vindy yang mendengar sebuah teriakan memanggil namanya, secara perlahan mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalanan yang tampak sedikit ramai.


"OMG, jangan sampai bapak sama mbok mengacaukan semua rencana ku? Lagian... ngapain sih mereka ada di sini, malu-maluin saja teriak-teriak kek orang gila!!" gerutu Vindy setelah melihat kedua orangtuanya, berjalan menghampiri dirinya.


"Bab, mereka siapa?" tanya Jonathan yang menatap heran kedua orangtua itu, di mana kedua orangtua itu sedang berjalan menghampiri nya.


"A u Eekhmm, bu--- bukan siapa-siapa Bab?" ucap Vindy berbohong.


"Kalau... bukan siapa-siapa, lalu kenapa mereka bisa mengenal mu?" tanya Jonathan yang merasa tidak percaya, dengan apa yang di ucapkan wanita di sampingnya.


"O--- orang gila pasti, Bab? U---udahlah, gak usah di urusin orang kek seperti mere---"


"Vindy... nduk, mbok sangat merindukan mu?" ucap mbok Sari langsung memeluk anaknya, setelah sampai.


"Aish... orangtua ini, pasti mau bikin aku malu di depan Jonathan?" umpat Vindy dalam hati, Ia justru tidak membalas pelukan hangat dari orangtuanya. Melainkan hanya menatap malu ke arah Jonathan, yang juga menatap dirinya dengan tatapan bingung.


"Nduk... kamu ke mana saja, cemas bapak dan mbok men---"

__ADS_1


BRUK!


"Jangan... sentuh aku, dasar orang-orang gila! Ayo... Bab, kita pergi dari sini?"


Bukannya mengakui orangtuanya, tapi justru malah sebaliknya? Vindy begitu sangat kasar, memperlakukan kedua orangtuanya. Agar rahasianya tak terbongkar, Vindy malah dengan tega mendorong kedua orangtuanya sampai orangtuanya jatuh tersungkur di jalanan.


"Nduk... mana mungkin kami bisa tahan, bila kami tidak menyentuhmu? Sedangkan... kamu sendiri tahu bahwa, kamu adalah permata hati kami?" tutur pak Nurdin memperjelas ucapannya, dan berusaha bangkit sekaligus juga membantu istrinya berdiri.


"Bab... kau tidak lagi membohongi ku, kan? Dan... apa benar, mereka adalah orangtuamu?" tegas Jonathan kembali bertanya, sambil menatap tajam wajah selingkuhannya.


"Bu---bukan, Bab? Lagian kau kenapa sih Bab, kok malah percaya omongan orang ini daripada aku?" pekik Vindy dengan muka sengaja di buat sedih, untuk menarik perhatian pria itu kembali.


"Hay... kau---"


BRUK.


"Pergi... kalian dari sini, dan jangan pernah lagi mengganggu kehidupan kami?"


Lagi-lagi Vindy memperlakukan kedua orangtuanya begitu sangat kasar. Vindy dengan teganya, kembali mendorong keras bapaknya sampai tersungkur kembali ke jalanan.


"David, jaga Ezra sebentar!" ucap Verlyn atau Devina secara tiba-tiba, sambil membuka pintu mobil.


"No---nona, anda mau kemana?" pungkas David langsung bertanya, karena atasannya tiba-tiba ingin keluar mobil.


"Apa... kau tega, melihat orangtua di perlakukan seperti itu?" sambung Verlyn atau Devina, setelah keluar dari mobil.


"Tapi, no---" ucap David sedikit berteriak, namun sayang? Atasannya itu, keburu melangkah menjauh dari mobil agar bisa segera membantu kedua orangtua itu. Yang mana pak Nurdin dan mbok Sari, sedang di perlakukan kasar oleh anak perempuannya sendiri.


Karena sudah tidak tahan, akhirnya Verlyn atau Devina memutuskan keluar mobil untuk membantu kedua orangtua itu.


"Hentikan!" teriak Verlyn secara tiba-tiba, sambil melangkah mendekati.


"De---Devina!!!"


Membuat mata mereka berdua, seketika terbelalak sempurna setelah melihat wajah wanita yang tengah berjalan menghampiri.


"Mbok... Pak, ayo kita pergi dari sini?" tegas Verlyn langsung mengajak orangtua itu segera pergi meninggalkan tempat, kemudian perlahan membantu pak Nurdin segera berdiri.


"Kurang... ajar, ternyata bapak dan mbok tidak membunuh wanita ini? Sekarang... justru sudah kembali, dengan keadaan sangat berbeda?" umpat Vindy dalam hati, menatap penuh ke bencian ke arah mantan sahabatnya.


Vindy merada terkhianati, karena kedua orangtuanya tenyata tidak mengikuti semua permintaannya. Sedangkan upaya dalam menyingkirkan wanita di hadapannya, lima bulan yang lalu? Sudah, tersusun dengan rapi. Tapi justru malah sebaliknya, pak Nurdin dan mbok Sari menolong wanita itu, dan merawatnya dengan baik.


"Devina, pe---perutmu sudah rata?" tanya Jonathan, sambil memperhatikan perut rata istrinya.


"Iish... kok malah nanyain perutnya sih, Bab?" kesal Vindy.


"Kenapa... kau marah, aku kan tidak ada hubungan dengan kekasihmu?" tutur Verlyn menatap sinis, kedua wajah penghianat di depannya.


"Diam... kau, dan sebaiknya cepat bawa saja mereka pergi dari sini?" ketus Vindy begitu teganya, memperlakukan kedua orangtua seperti itu.


Dan.


PLAK!

__ADS_1


"Mbok... tidak menyangka, ternyata begini kelakuan mu selama ini? Siapa... pria ini, dia bukan suami mu kan? Nak... Daniel sibuk merawat anakmu di rumah, tapi kamu justru sibuk berdua-duaan dengan pria lain!" ucap mbok Sari dengan marahnya, setelah melayangkan tamparan ke wajah anak perempuannya itu sendiri.


"Bab, ayo cepat kita pergi dari sini?" kesal Vindy tak perduli, kemudian malah langsung mengajak Jonathan segera pergi meninggalkan tempat.


"Tunggu!" tolak Jonathan secara tiba-tiba, membuat langkah Vindy menjadi berhenti.


"Apalagi.. sih, Bab?" ketus Vindy bertanya, sambil terus bergelayutan manja di lengan pria yang sama sekali bukan suaminya.


"Devina... kenapa kau diam saja, apa kau tidak mengenal ku? Kau... sudah melahirkan, lalu anakmu di mana?"


"Ada... apa dengan pria ini, kenapa tiba-tiba bertanya begitu banyaknya?" batin Verlyn atau Devina menatap bingung wajah pria di hadapannya.


Hahahaha.


Ada apa dengan dirimu Jonathan, Apakah hati dan pikiranmu sudah mulai tak stabil. Ketika istrimu tidak lagi menginginkanmu, kamu justru malah sebaliknya?


Dan kamu Verlyn atau Devina, sudahlah jangan perdulikan lagi kata-kata suamimu. Apa kamu tidak mengingatnya, selama ini Jonathan hanya bisa memberimu penderitaan. kamu sangat tersakiti di kalah itu, di mana Jonathan justru dengan teganya malah berselingkuh dengan sahabatmu sendiri. Dan author sarankan, jangan pernah sekalipun membiarkan Jonathan, melihat atau menyentuh anakmu.


Apa kamu sudah lupa Devina, dulu Jonathan sangat menolak keras anak yang kamu kandung dan beraninya ia berkata? Kalau itu hanya sebuah kesalahan. Bukannya memperlakukan dirimu seperti layaknya seorang istri, namun Jonathan justru menganggap mu seperti wanita penghibur? Yang suka menjual diri, kepada semua pria kaya. Bahkan dulu Jonathan, tak segan-segan memaksa mu untuk menggugurkan anak yang masih ada di dalam kandunganmu.


"Maaf... aku bukan Devina, seperti apa yang kau maksud? Ayo... pak mbok, kita segera pergi dari tempat ini?" ucap Verlyn atau Devina, kemudian perlahan mengajak kedua orangtua itu segera pergi meninggalkan tempat.


"Tapi, De---?"


"Maaf... kita tidak saling mengenal, jadi jangan pernah lagi kau bertanya seperti itu pada ku?" ucap Verlyn atau Devina, melirik tajam wajah pria yang masih berstatus sebagai suaminya.


Tanpa berlama-lama, Verlyn atau Devina segera mengajak pak Nurdin dan juga mbok Sari, untuk segera pergi meninggalkan tempat.


"Kalau... bukan Devina lalu siapa, wajahnya begitu sangat mirip, tapi kok dia bilang bukan Devina?" batin Jonathan bergelayut dengan pikirannya sendiri.


"Huuufh... syukurlah, ternyata Devina lupa ingatan? Dan... mudah-mudahan saja, ingatannya tak pernah kembali lagi?" umpat Vindy dalam hati.


"Bab... yuk, kita segera pergi dari sini?"


Vindy segera menarik tangan Jonathan, untuk pergi. Vindy tak memberi kesempatan kepada Jonathan, untuk menatap kembali tubuh istrinya. Bagi Vindy, dirinya lah yang paling berhak mendapat tetapan penuh cinta oleh Jonathan.


Namun pandangan Jonathan, masih tertuju kepada wanita yang masih berstatus sebagai istrinya.


"Devina... atau bukan Devina, aku tetap akan mencari tahu? Dan... akan ku pastikan, wanita itu akan jatuh ke pelukan ku?" umpat Jonathan dalam hati, yang sudah kembali ke sifat awalnya. Suka memburu kaum wanita, meskipun dirinya telah memiliki pasangan.


Bersambung.


¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿


Nah... loh, penasaran kan dengan ceritanya. Oke, sebelum author lanjut jangan lupa tinggalkan jejak dulu dong.


Vote👈


Like♥️


Komentar 💌


And Favoritkan😍

__ADS_1


See you And terima kasih 🤗🤗🤗.


__ADS_2