
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, malam hari akhirnya menjelang pagi. Terlihat wanita cantik telah terbangun dari tidur nyenyaknya, dan ia pun sudah selesai membersihkan badan. Ia keluar dari kamar mandi, dan segera berpakaian dan bersiap-siap.
Selesai bersiap-siap, wanita itu pun melangkah keluar dari kamar dengan pakaian sangat rapi sambil menuruni anak tangga satu persatu.
Visual atau gambar👇👇
Ceklit.
Sementara pria tampan dan gagah, terlihat melangkah masuk ke dalam rumah dengan dua bodyguard mengikutinya dari belakang. Siapa lagi kalau bukan David Guetta Titanium dan kedua anak buahnya Sandi dan juga Nando.
David memasuki rumah sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan mencari seseorang.
"Bi... Mur, apa kau melihat nona Verlyn?"
Lalu bertanya pada Murni, tentang keberadaan nona besarnya.
"Di kamarnya mungkin Tuan Dav---"
"Aku di sini?"
Jawab Murni, namun ucapannya tidak bisa ia lanjutkan karena Verlyn langsung menyelah ucapannya sambil menuruni anak tangga dengan pakaian serba rapihnya.
Bahkan mata David tak berkedip melihat ke cantikan wanita yang sedang berjalan anggun di depannya.
"Untuk apa bodyguard-bodyguard itu?" tanya Verlyn saat melihat kedua bodyguard sedang berdiri tepat di belakang asistennya.
"Untuk mengawal kita saat di pemakaman nanti, nona?" jawab David memberitahu sambil membungkukkan badan untuk memberi hormat.
"Ya sudah? Murni... Linda, aku tidak sarapan di rumah? Makanan yang sudah kalian masak, tolong antarkan saja ke kamar mbok Sari dan pak Nurdin suaminya?" ucap Verlyn memberitahu.
"Baik nona?" jawab mereka secara bersamaan sambil mengangguk tanda mengerti.
"Ingat? Layani mereka dengan baik, jangan sampai aku mendengar hal-hal kalau kalian tidak memperlakukan mereka dengan baik? Kalian tahu kan siapa aku, sekali membuat kesalahan maka berakhirlah pekerjaan kalian di tangan ku?" sambung Verlyn memberi peringatan keras kepada kedua pembantunya agar memperlakukan mbok Sari dan pak Nurdin layaknya mereka melayani majikannya sendiri.
"Me---mengerti, nona?" jawab mereka secara bersamaan sambil tertunduk takut mendengar ucapan wanita di hadapannya itu. Bagaimana tidak takut, secara wanita itu menatapnya dengan tatapan tajam.
"Jika mereka bertanya aku pergi ke mana, bilang saja kalau aku pergi melayat?" sambung Verlyn sambil melangkah keluar, di mana David dan kedua anak buahnya mengikuti dari belakang.
"Mur, ini ceritanya gimana sih? Aku benar-benar bingung jadinya?" bisik Linda bertanya sambil melangkah masuk menuju dapur.
"Bingung kenapa?" ucap Murni balik bertanya.
"Nona... Verlyn, apa benar-benar sudah mati atau belum sih? Masa... orang yang jelas-jelas sudah di kuburkan, hidup lagi? Kalau... masih hidup, kok wajahnya beda? Atau mungkin dia bukan nona Verlyn dan jangan-jangan wanita itu cuma ingin menipu kita?" tanya Linda berbicara panjang lebar, sambil mengerjakan pekerjaan rumahnya.
"Huuss! Jaga bicara mu, kalau ada yang dengar habis kita?" sambung Murni menegur temannya, sambil jari telunjuk di tempelkan di depan mulutnya.
"Lagian... sikap nona Verlyn kebangetan, sih? Wajahnya saja beda, tapi sifatnya masih saja seperti dulu? Bertindak sesuka hati!" ucap Linda sedikit kesal dengan sikap majikannya.
"Orang kaya seperti nona Verlyn, apa sih yang engga bagi dia? Waktu kecelakaan, wajahnya kan tidak jelas? Mungkin saja itu jasad orang lain, dan kebetulan barang-barang nona Verlyn tertinggal padanya? Dan... wajahnya berbeda saat ini, mungkin oplas?" jelas Murni berbicara panjang lebar untuk memberitahu.
"Oh... gitu ya, Mur?" timpal Linda sambil mengangguk-angguk tanda mengerti.
__ADS_1
"Sudah, jangan omongin orang lagi? Nanti ada yang dengar, bisa habis kita? Sekarang... antarkan makanan ini ke kamar mbok Sari, sekalian bawakan susu bayi nona Verlyn juga ke kamarnya?" sambung Murni memberitahu sambil meminta Linda untuk membawakan mbok Sari dan pak Nurdin makanan dan juga susu Ezra ke kamarnya.
"Oke?" jawab Linda kemudian segera membawakan makanan dan susu tersebut ke kamar atas untuk mbok Sari dan pak Nurdin.
Tok.
Tok.
Tok.
"Mbok... Pak, ini Linda boleh saya masuk?" panggil Linda dari balik pintu sambil mengetuk pintu sebelum masuk.
Ceklit.
"Eekh... duk Linda kenapa repot-repot, mbok kan bisa turun sendiri ambil makanannya nanti? Kalau... begini kan mbok jadi gak enak, pake bawakan makanan mbok ke kamar segala?" ucap mbok Sari merasa tidak enak hati, setelah membuka pintu dan melihat makanan yang di antarkan oleh Linda pembantu di rumah itu.
"Gak... repot kok mbok, ini memang sudah menjadi pekerjaan saya?" ucap Linda sambil tersenyum manis, lalu menyerahkan makanan dan susu itu kepada mbok Sari.
"Waduh, kalau begitu terima kasih ya duk Linda? Lain kali jangan seperti ini lagi ya, mbok bisa kok turun sendiri ambil makanannya?" sambung mbok Sari, kemudian menerima makanan yang di bawakan oleh Linda.
"Hmm... Iyya mbok, kalau begitu saya permisi dulu?" ucap Linda kemudian berjalan menuruni anak tangga.
"Sekali lagi terima kasih ya duk?" tutur mbok Sari, ketika gadis itu menuruni anak tangga.
"Iyya... mbok, sama-sama?" tutur Linda kemudian berlalu pergi menuruni tangga.
Meninggalkan kisah mbok Sari dan juga Linda? Kini kita berpindah ke cerita selanjutnya😉.
***
Verlyn memantau dan lebih memilih menunggu di dalam mobil. Melihat mobil jenazah itu bergerak meninggalkan rumah, wanita itu meminta asistennya mengikuti mobil tersebut namun mobil mereka terpaut cukup jauh dari mobil jenazah di depannya.
"Bagaimana... pun, Tuan Bagaskara adalah orang yang baik? Lagipula... aku ke sana untuk menghormati Tuan Bagaskara, tak perduli Mama dan pria brengsek itu mengusir ku dari tempat itu?" umpat Verlyn dalam hati
Meski Jonathan pernah menyakiti hati wanita yang ia pinjam raganya, tapi Verlyn tetap akan menghadiri pemakaman itu. Apalagi mengingat kebaikan Tuan Bagas, Verlyn pun menggerakkan hatinya untuk menghadiri pemakaman itu. Lagipula pria tua itu masih menyandang status sebagai mertua Devina wanita yang ia pinjam raganya, tak salah jika Verlyn menghadiri pemakaman itu untuk memberi penghormatan terakhirnya untuk wanita itu kepada mertuanya.
Terlihat begitu banyak para sahabat bisnis Tuan Bagaskara Evander datang untuk mengantarnya ke peristirahatan terakhir.
Bagaimana tidak para sahabat bisnis bisa tahu, secara Bagaskara Evander adalah pemilik saham tertinggi di perusahaan yang di pimpin oleh anaknya Jonathan Bima Evander. Dan sebagai CEO, Jonathan harus menginfokan berita tersebut, kepada para sahabat dan juga komisaris di mana dirinya menjabat sebagai CEO.
Sahabat bisnis hingga kerabat terdekat, tentu turut berduka cita atas meninggalnya Bagaskara. Memberikan ucapan bela sungkawa untuk Bagaskara, tentu itu bukanlah hal masalah. Termasuk wanita yang bernama Verlyn Gunadhya Violetta, juga turut berbela sungkawa untuk Bagaskara apabila mengingkat semua kebaikan beliau. Namun sayang, sifat baik itu tidak di turunkan kepada putranya.
Sifat kedua pria tersebut sangat berbanding terbalik. Di mana Tuan Bagaskara Evander adalah orang yang baik dan setia, sementara Jonathan Bima Evander adalah pria jahat dan brengsek, semenah-menah pada orang lain dan suka bergonta ganti pasangan.
***
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam 14 menit, akhirnya mereka sampai di TPU Gunung Gadung yang berlokasi di Jakarta selatan jawa barat. Mengingat perjalanan cukup jauh, mereka pun senjaga berangkat lebih awal agar tak terkena macet saat di perjalanan.
Setelah menempuh jarak sekitar 63 kilometer, akhirnya mereka sampai di TPU Gunung Gadung. Tak menunggu waktu lama, mereka pun segera menurunkan jenazah Tuan Bagaskara untuk segera di makamkan.
Terlihat Jonathan terus membimbing langkah Mamanya, karena Maya tak pernah berhenti menangisi kematian suaminya.
Saat Bagaskara di turunkan di liang lahat, Verlyn dan ketiga bawahannya juga sampai di lokasi pemakaman itu. Maya dan Jonathan yang melihat merasa geram, karena wanita itu tidak menuruti keinginannya.
__ADS_1
"Dasar... wanita murahan, untuk apa kau datang kemari!!"
Ucap Maya mencoba untuk menghempas menantunya ke tanah. Namun sayang, niatnya itu tidak dapat di lakukan? Karena kedua bodyguard utusan David, sigap menghalangi jalan wanita paruh baya itu.
"Untuk apa kau datang kemari, wanita murahan! Apa kau datang kemari hanya ingin perlihatkan ke hebatanmu dalam merayu dan menaklukan semua pria?" ucap Jonathan tak pikir panjang, langsung melontarkan kata-katanya di depan semua orang dan di depan jasad Papanya.
"Pergi dari sini, ke datangan mu di sini hanya akan mengotori makam Papa ku sa---"
"Sekali... mengusir ku dari sini, berkas kerjasama kita aku batalkan?" ucap Verlyn yang akhirnya membuka suara, untuk membungkam mulut pria di hadapannya.
"Siapa kau, yang berhak memutuskan kerjasama hanya lah nona Verlyn Gunadhya Violetta?" ucap Jonathan
"Kau... tak ingat, siapa pria berdiri di samping ku saat ini hmm? Jika... tidak, coba lah ingat baik-baik?" sambung Verlyn memberitahu sambil mengingatkan.
"Tentu... kau hadir bukan, di rapat pembangunan mall itu?" jelas Verlyn berusaha mengingatkan.
"Tu---Tuan David Guetta Titanium?" ucap Jonathan yang akhirnya mengingat sambil menunjuk pria yang merupakan asisten pribadi Verlyn Gunadhya Violetta wanita yang tengah mereka perlakukan dengan sangat tidak baik.
"Bagus, akhirnya kau mengingatnya? Aku... sepupuh dari Verlyn Gunadhya Violetta, dan sekarang perusahaan itu aku yang menjalankannya? Tak peduli seberapa banyak kerugian yang akan aku alami? Tapi... yang jelas, sekali mengusir ku dari di sini? Maka berakhirlah kerjasama kita, hari ini juga?" sambung Verlyn dengan tegas, memberitahu sekaligus mengingatkan.
"Pikirkan baik-baik? Jika bahan baku pembangunan itu aku hentikan, otomatis pembangunan mall itu akan terhenti? Tak ada perusahaan yang berani memberi mu harga terjangkau, seperti perusahaan ku? Akan... ku pastikan kau akan rugi besar, setelah ini?" tutur wanita cantik itu lagi, dan hasilnya Jonathan pun langsung bungkam dan segera kembali ke posisinya semula.
"Ayo... Ma, pemakaman Papa lebih penting tidak usah pedulikan keberadaan wanita murahan ini?" ucap Jonathan sambil membimbing langkah Mamanya untuk kembali ke posisi awalnya.
"Sial... kenapa wanita ini tiba-tiba bersepupuh dengan nona Verlyn Gunadhya Violetta, dan kenapa dari awal aku tidak mengetahuinya?" umpat Jonathan dalam hati, kemudian kembali ke posisinya semula.
"Hmm... kau pikir setelah ini posisi mu akan aman, Johathan? Jangan... harap, karena ini baru awal kehancuran mu?"
Sementara Verlyn, selain seorang model? Diam-diam wanita cantik itu sebenarnya, memiliki perusahaan sendiri? Yang mana kini perusahaan itu, bergerak di bidang properti dan juga pertambangan.
David sebagai asisten pribadi wanita itu, tentu ikut serta membantu atasannya dalam mengelola perusahaan tersebut.
Sejak, atasannya di nyatakan meninggal dunia? David berusaha keras menghendel perusahaan itu dan semua pekerjaan di perusahaan itu.
Mengetahui atasannya meninggal, separuh jiwa David bagai hilang? Namun David tetap berusaha menghendel semua pekerjaan atasannya yang terbengkalai di kantor, meskipun diri dan jiwanya dalam keadaan terpuruk.
Dan setelah mengetahui atasannya masih hidup, tentu David tak membiarkan orang lain menyentuh dan menyakiti wanita itu.
Wajah boleh beda, tapi di dalam diri wanita itu? Ada roh, yang tinggal di sana. Dan sebagai asisten, David tentu memiliki kewajiban untuk melindungi wanita itu? Meski yang akan menyakitinya sekalipun adalah suaminya sendiri.
Menyerahkan kembali perusahaan itu, kepada atasannya. Tak perduli meski wajah atasannya kini sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Bagi David, wanita itu tetap menjadi wanita idamannya walaupun itu hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.
Bersambung.
¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿
Nah... loh, penasaran kan dengan ceritanya. Oke, sebelum author lanjut jangan lupa tinggalkan jejak dulu dong.
Vote👈
Like♥️
Komentar 💌
__ADS_1
And Favoritkan😍
See you again thanks for watching 🙏🙏🙏