Reinkarnasi Gadis Pelakor

Reinkarnasi Gadis Pelakor
BAB 21. Permintaan cerai, dan Perasaan yang tulus


__ADS_3

Tak kurang dari 30 menit, Verlyn pun akhirnya sampai di depan rumah Jonathan. Di sana Verlyn dapat melihat jelas, bahwa Jonathan tidak pulang ke rumah sendirian? Melainkan pulang bersama selingkuhannya, sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


Verlyn keluar dari mobil, dan dengan langkah cepat? Ia pun langsung menghampiri Jonathan dan juga selingkuhan suaminya.


"Brengsek!"


PLAK.


BRUK.


Tanpa basa-basi, Verlyn langsung menampar wajah pria itu. Sedangkan Johathan yang mendapat serangan mendadak, tubuhnya pun langsung terpelanting keras di tanah. Bahkan dari sudut bibirnya mengalir darah segar, akibat tamparan Verlyn yang nampak begitu keras.


Sungguh memang keras, karena emosi Verlyn atau Devina? Benar-benar sudah, memuncak. Apalagi melihat suaminya jalan bersama selingkuhannya. Tentu amarah wanita itu, kian memuncak. Dan itulah hukuman, bagi pria yang suka bermain wanita.


"De---Devina, apa yang kau lakukan?" sahut Vindy marah, karena Verlyn atau Devina tiba-tiba menyerang kekasihnya. Sedang Jonathan masih berusaha bangkit, dengan wajah yang sulit untuk di artikan.


"Perempuan... ******, diam kauuu! Aku... sedang tidak bicara, denganmu?" tegas Verlyn menunjuk wajah wanita selingkuhan suaminya.


"Kurang ajarrr!"


PLAK.


"Jangan... harap, kau bisa menyentuh Devina?" ucap Ririn secara tiba-tiba, karena sekarang dirinya telah berdiri tepat di samping temannya.


PLAK.


"Ini... untuk kau, karena sudah berani mengkhianati teman ku?" ucap Ririn, membalas pengkhianatan Vindy kepada Devina temannya.


PLAK.


"Ini... untuk kau, karena sudah mencelakai teman ku?" Satu tamparan keras, mendarat kembali di pipi mulus Vindy? Karena Ririn pun juga membalas perbuatan Vindy, karena sudah mencelakai temannya lima bulan yang lalu.


"Sebelum... menyentuh teman ku, kau berhadapan dengan ku?" sambung Ririn kembali mengingatkan, setelah puas memberi pelajaran wanita yang telah menyakiti temannya.


Sedangkan, Dita.


"Kak... yang sabar, kak? Tolong... jangan marah, kendalikan emosi kakak?" ucap Dita berusaha menenangkan mereka berdua, agar tidak terus-terusan tersulut emosi.


"Dita... jelas-jelas pria itu, sudah melecehkan mu? Tapi.. kenapa kau masih, membelahnya? Bicara... sama orang seperti mereka, tidak perlu basa-basi?" ucap Ririn menegur adik angkat temannya, karena Dita masih saja membela orang yang sudah melecehkannya.


"Tapi... kak, tidak semua urusan harus di balas dengan kekerasan?" tutur Dita memberitahu.


"Tapi... kakak yang tidak tahan lagi, Dita? Dan... mau segera bercerai dengan pria brengsek, seperti dia?"


Deg.


Kali ini, jiwa Devina lah yang berbicara. Kelakuan Jonathan, benar-benar sudah membuat wanita itu tidak tahan lagi? Untuk hidup bersama dengan pria, yang sama sekali tidak bisa berubah.


"A---apa kak, di---dia suami kakak?"


Dan sontak saja, ucapan Devina sukses membuat Dita benar-benar terkejut. Ia tak menyangka, bahwa mantan atasannya adalah suami kakak angkatnya.


"Bukan... lagi, karena sebentar lagi aku akan bercerai dengannya?" tutur Devina atau Verlyn memberitahu, berbicara penuh ketegasan.

__ADS_1


Hahahaha.


"Sudah... aku duga, kau adalah Devina?" ucap Jonathan tiba-tiba tertawa setelah berhasil berdiri, sambil menghapus darah segar dari sudut bibirnya.


"Kalau... aku Devina, kau mau apa hah! Dan... aku minta, ceraikan aku segera?" tegas Devina memberitahu, dengan wajah penuh amarah menatap wajah suaminya.


"Tenang.. saja, Mama sudah mengurus semuanya? Dan.... aku pastikan, kau akan menyesal?" sambung Jonathan penuh percaya diri.


"Aku.. tidak akan pernah menyesal, camkan itu?" tutur Devina, yang kini berniat untuk meninggalkan tempat.


Namun.


"Kau... sudah melahirkan, lalu mana anakku?" ucapan Jonathan, sukses membuat langkah Devina tiba-tiba terhenti.


"Hmm... jangan harap, aku akan mempertemukan mu dengannya?" tutur Verlyn atau Devina, sambil tersenyum menyeringai mendengar ucapan Jonathan yang terdengar sangat konyol. Setelah itu, Verlyn atau Devina kembali melanjutkan langkahnya.


"Kau... tidak berhak melarang ku untuk bertemu dengan, anakku sendiri?" sambung Jonathan, semakin berkata-kata konyol.


PLAK.


"Benar-benar... pria tidak punya, malu?" pekik Dita, secara tiba-tiba menampar wajah mantan atasannya.


Kali ini, Dita lah yang turun tangan menampar wajah mantan atasannya. Dita sangat muak, melihat tindakan memalukan yang di lakukan mantan atasannya. Jonathan bagaikan pria, yang menjilat ludahnya sendiri.


"Hay... wanita murahan, kau ada urusan apa dengan kuuu!" ucap Jonathan dengan suara meninggi, karena Dita berani mencampuri urusan rumah tangganya dengan Devina.


"Kelakuan... Tuan, benar-benar memalukan?" tutur Dita dengan suara ikut meninggi, ia tidak terima kakaknya di perlakukan demikian.


"Darahmu... memang mengalir dalam, tubuhnya? Tapi... aku tidak akan pernah lupa, dengan kata-kata yang keluar dari mulutmu?" tegas Verlyn atau Devina, kembali mengingatkan.


"Sejak... aku mengandung, kau sudah menolak kehadiran anak itu? Bahkan... kau meminta ku untuk membunuh anak, yang masih ada di dalam kandungan ku?" sambung Verlyn atau Devina menjelaskan untuk mengingatkan suaminya kembali.


Setelah melontarkan kata-katanya? Verlyn pun akhirnya perlahan pergi meninggalkan tempat.


Namun tanpa sadar, airmata Verlyn sudah menetes keluar membasahi kedua pipinya.


Entah kenapa, dan Verlyn juga bingung. Bila dirinya berurusan dengan, pria itu? Hati dan perasaannya, pun ikut terbawa suasana.


Begini kah rasanya, bila roh seorang wanita perebut suami orang? Menyatuh dalam jiwa seorang wanita, yang telah di sia-siakan oleh suaminya. Semenjak rohnya masuk dalam tubuh wanita ini, sudah banyak airmata yang tumpah dari sudut matanya.


Dulu, mungkin Verlyn adalah wanita paling kejam sedunia. Ia hanya tahu, bagaimana caranya merebut suami orang? Dan membuat hati seorang istri menangis, karena di khianati oleh pasangannya.


Jika, selama hidup Verlyn tak pernah meneteskan air mata. Mungkin inilah pengalaman pertemannya, karena rohnya telah menyatuh dalam jiwa seorang wanita yang telah di khianati pasangannya.


"Ya... Tuhan, kenapa begitu sakit? Dan... mungkin ini kah yang di rasakan seorang wanita, jika dulu aku rebut suaminya?" umpat Verlyn dalam hati, sambil menghapus air matanya. Ia tidak ingin terlihat rapuh, di depan semua orang? Termasuk di depan Jonathan dan juga wanita selingkuhan suaminya.


***


Sementara Jonathan, hanya bisa menatap punggung istrinya perlahan pergi dari hadapannya.


"Udahlah... Bab, gak usah mikirin mereka? Ada... baik kita masuk, dan kita bersenang-senang lagi? Dan... setelah bercerai dengan Devina, segera nikahi aku ya Bab?" ucap Vindy kembali menghasut Jonathan pria yang bukan suaminya.


Lalu dengan kebodohan, Johathan pun menuruti semua keinginan wanita selingkuhannya. Mereka melangkah masuk, dan kembali berhubungan panas lagi di dalam rumah.

__ADS_1


***


Sementara di lain waktu, di dalam sebuah mobil.


"Dev... kau jangan bersedih lagi, ya? Dan... menurut ku, itu adalah satu-satunya cara agar kau tidak tersakiti lagi? Perceraianmu... dengan suamimu, sudah sepantasnya kau lakukan? Jonathan... tidak akan pernah memberimu kebahagiaan, melainkan hanya penderitaan? Dan... setelah ini, ku harap kau bisa kembali tersenyum dan bahagia lagi?" ucap Ririn panjang lebar, untuk menenangkan temannya.


"Terima kasih... Rin, kau memang satu-satunya teman yang selalu bisa aku andalkan? Di saat... semua orang menjauhi ku, hanya kau yang selalu ada untuk mensupport diriku?" tutur Verlyn atau Devina, begitu sangat terharu mendengar ucapan temannya.


"Dan... maaf Rin, dulu aku sempat menjauhimu? Aku... terlalu percaya dengan kata-kata Vindy, sehingga aku pun menghiraukan semua penjelasanmu?" tutur Verlyn atau Devina, sambil meminta maaf.


Hasutan Vindy dulu, benar-benar menghancurkan pertemanan Devina dengan Ririn. Hingga Devina sempat menjauhi, teman karibnya sendiri? Yang sudah jelas baik, dan tulus kepadanya.


"Udahlah... Dev, yang lalu biarlah berlalu? Lagipula... aku tidak pernah menyalahkanmu, karena aku tahu? Itu... memang tujuan Vindy untuk merusak, hubungan pertemanan kita?" ucap Ririn memberitahu, sambil tersenyum penuh ketulusan.


"Oiiyya... soal asisten mu itu, kira-kira kau udah buka hati belum?" sambung Ririn secara tiba-tiba, kembali membahas tentang perasaan Devina kepada asistennya sendiri.


"Astaga... Rin, ngomong apaan sih kau tuh? Baru... juga minta maaf, bikin orang kesal lagi?" jawab Verlyn atau Devina, yang terlihat berusaha menyembunyikan perasaan sendiri.


"Kalau... menurut aku sih, David asisten mu itu? Adalah... pria yang baik dan pastinya, cold banget? Dan... aku perhatikan, asisten mu itu lebih tampan dari suami mu?" sambung Ririn, masih berusaha menjodoh-jodohkan Devina dengan asistennya. Ya meskipun Ririn juga memiliki perasaan, kepada David. Tapi jika itu untuk kebahagiaan temannya, Ririn pun rela mengorbankan perasaannya. Agar Devina dan David, bisa hidup bahagia dan sejahtera.


Sebelum perasaannya semakin dalam. Ririn pun beranisiatif, untuk menjodohkan Devina dengan David asisten temannya.


"Maaf... Rin, untuk saat ini aku belum bisa membuka hati lagi? Sekarang... ini, udah ada Ezra yang harus aku perhatikan? Di tambah... lagi jika nanti aku, sudah menjadi model? Aku... tidak ingin waktuku semakin terbagi, jika aku menjalin hubungan dengan seorang pria lagi?" tutur Verlyn atau Devina memberitahu.


"Tapi... kau mencintai pria itu kan, Dev? Dan... aku tahu, diam-diam kau sudah memiliki perasaan itu?" tanya Ririn sedikit lebih serius, untuk memastikan perasaan temannya.


Sedangkan Verlyn atau Devina yang mendengar, hanya terdiam sambil tetap fokus menyetir mobilnya. Karena yang benar, saja? Yang d lontarkan temannya itu, memang benar adanya. Diam-diam Verlyn atau Devina, memang sudah memiliki perasaan cinta kepada David asistennya.


"Diam... berarti benar, kau memang sudah mencintai pria itu?" sambung Ririn lagi, karena Verlyn sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaannya.


"Udahlah... Rin, jangan bahas itu terus? Sebaiknya... aku antar kau pulang, karena besok kita masih ada pemotretan lagi?" ucap Verlyn, yang sama sekali tidak ingin mengakui perasaannya sendiri.


"Ya... ampun Dev, kenapa kau begitu sulit mengakui perasaanmu sendiri? David... adalah pria yang baik, kenapa kau tidak ingin membuka hati untuknya?" umpat Ririn dalam hati, sambil terdiam.


Ririn sudah tidak tahu lagi, bagaimana caranya untuk membuat temannya mengakui perasaan. Mungkin kah Ririn perlu turun tangan, untuk membuat Devina cemburu dan ingin mengakui perasaannya. Jika melakukan hal itu, mungkin saja Devina akan mengakui perasaannya sendiri secara perlahan.


"Yang... baik, pantas mendapatkan yang terbaik? Dan... aku akan membuat hal itu, segera terwujud?" batin Ririn sambil memikirkan cara untuk, menyatuhkan cinta David dengan Devina temannya.


Bersambung.


¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿


Nah... loh, penasaran kan dengan ceritanya. Oke, sebelum author lanjut jangan lupa tinggalkan jejak dulu dong.


Vote👈


Like♥️


Komentar 💌


And Favoritkan😍


See you And terima kasih 🤗🤗🤗.

__ADS_1


__ADS_2