
Tak kurang dari 30 menit, akhirnya mobil yang di gunakan Verlyn tiba di kediamannya. Wajah kedua orangtua itu masih terlihat sedih, di kalah mereka tak menyangka? Anak perempuan yang mereka banggakan selama ini, tega memperlakukan mereka seperti orang gila.
"Pulangkan... saja kami ke kampung sekarang juga, nduk?" tutur pak Nurdin tiba-tiba melontarkan, kata-katanya. Kini perasaan nya sangat sedih dan kecewa, dan meminta wanita yang sedang duduk di sampingnya untuk segera membawa mereka pulang kampung.
Sedangkan mbok Sari hanya terdiam, namun matanya terlihat sembab karena terus saja menangis sehabis meninggalkan tempat barusan.
"Lah... kok tiba-tiba begitu pak, memang bapak dan mbok tidak mau ketemu sama Baim dulu?" tanya Verlyn merasa bingung dengan ucapan pria tua itu.
"Tidak... perlu, dan kami sudah cukup kecewa hari ini? Baim... bukannya menganggap kami, orangtuanya? Tapi... justru kami akan mendapatkan perlakuan sama, seperti apa yang di lakukan Vindy kepada kami?" jelas pak Nurdin memberitahu dengan wajah sangat kecewa.
"Oke... aku antar kalian, pulang? Tapi... bapak sama mbok, yang tenang dulu? Tinggal lah... di sini dua atau tiga hari lagi, aku mohon mbok pak demi Ezra?" ucap Verlyn berusaha membujuk kedua orangtua itu, agar mereka mengurungkan niat untuk kembali pulang ke kampung.
"Tapi... nduk, mbok dan bapak merasa tidak enak sama kamu? Mbok... sama bapak sebenarnya sangat malu, memiliki anak seperti dia?" ucap mbok Sari, yang secara perlahan mulai menceritakan semua kejadian masa lalu.
"Kenapa... malu mbok, memang apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Verlyn.
"Ternyata... selama ini, dia sudah memperlakukan nduk dengan semena-mena? Melihat... Vindy dengan pria barusan, mbok sudah menduga? Dia... meninggalkan suami dan anaknya, pasti karena pria itu? Jadi... ini alasannya dulu, kenapa dia menyuruh kami untuk melenyapkan mu nduk?" jelas mbok Sari memberitahu, sambil menangis sesenggukan.
Sedang Verlyn yang mendengar semua penjelasan wanita tua itu, hanya menatap santai wajah mbok Sari.
"Sudah... aku duga,Vindy adalah pelaku di balik kecelakaan yang di alami Devina lima bulan yang lalu? Setelah... mencelakai sahabatnya, dia justru meminta kedua orangtuanya untuk membunuh sahabatnya sendiri?" batin Verlyn yang sudah menduga, bahwa kecelakaan yang di alami Devina dulu dalangnya adalah sahabatnya sendiri.
"A---apa mbok, ja---jadi maksud mbok Vindy yang melakukan ini semua? Kenapa... mbok, kenapa Vindy tega melakukan ini semua kepada aku?" ucap Verlyn pura-pura terkejut, dengan wajah sengaja di buat sedih agar semakin terlihat menyakinkan.
"Maaf... nduk, kami sebagai orangtua merasa sangat malu? Kami... tidak bisa mendidik anak kami, untuk menjadi wanita yang lebih baik? Dulu... kami sangat bangga, karena anak kami akhirnya di nikahi laki-laki tampan dan mapan dari Jakarta? Tapi... kini tinggal kekecewaan, karena akhirnya kami bisa melihat sendiri bagaimana kelakuan anak kami selama ini?" jelas pak Nurdin, yang ikut bersedih karena merasa sangat kecewa dengan kelakuan anak perempuan mereka.
"Apakah... bapak dan mbok ingin melihat Vindy seperti dulu, lagi?" tanya Verlyn dengan wajah penuh arti.
"Maksud... kamu, nduk?" tanya mbok Sari, tak mengerti.
"Kalau... kalian ingin melihat Vindy berubah, izinkan aku untuk memberinya pelajaran? Dengan... membuatnya jerah, Vindy pasti akan perlahan menyadari kesalahannya?" jelas Verlyn memberitahu.
"Sebenarnya... kami tidak setuju, nduk? Tapi... jika itu yang terbaik, baiklah kami serahkan semuanya pada mu? Dan... mudah-mudahan setelah ini, Vindy akan menyadari kesalahannya?" sambung mbok Sari, yang akhirnya memberi peluang untuk Verlyn membalaskan dendamnya untuk wanita yang tengah ia pinjam raganya.
"Ya... sudah, mbok dan bapak sebaiknya istirahat dulu? Tinggal lah.. di sini dua atau tiga hari, setelah itu baru aku antar kalian pulang ke kampung?" ucap Verlyn sambil membuka pintu mobil.
"Terima kasih, nduk? Kalau... begitu kami permisi naik ke atas, dulu?" Kemudian di balas anggukan kepala oleh kedua orangtua itu, dan mereka perlahan melangkah keluar dari mobil sambil berjalan menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar yang berada di lantai tiga.
__ADS_1
"Bagus... akhirnya mereka masuk dalam, genggaman ku? Dengan... izin kedua orangtua itu, aku pasti akan membuat para penghianat itu menyesali semua perbuatannya? Dan... terima kasih pak mbok, berkat bantuanmu kini tubuh wanita ini bisa membalaskan dendamnya?" umpat Verlyn dalam hati, yang perlahan keluar dari mobil sambil memperhatikan punggung kedua orangtua itu yang secara perlahan lenyap dari pandangannya.
***
Sementara di lain waktu, Jonathan dan selingkuhannya Vindy akhirnya sampai di rumahnya.
Rumah Minimalis Jonathan👇👇
BRAK!
"Vindy... jelaskan pada ku sekarang juga, siapa mereka tadi?" tanya Jonathan, yang akhirnya membuka suara sambil membanting pintu saat masuk ke dalam rumah. Tak ada lagi panggilan Baby atau sayang, yang jelas sekarang ini pria itu hanya membutuhkan jawaban dari wanita selingkuhannya.
"Bab... kok kamu kasar begitu sih sama, aku? Mana... panggilan sayang mu Baby, apa kau lupa kalau aku ini kekasih mu? Katanya... cinta dan sayang, tapi kok kasar sama aku?"
Bukannya menjawab pertanyaan, wanita itu menggoda pria yang ada di hadapannya. Bahkan Vindy, bergelayut manja di depan pria itu.
Sesekali membelai wajah pria itu, dan sesekali mengecup mesra bibir pria itu. Bahkan dengan jahilnya, Vindy sesekali menyentuh bagian sensitif Jonathan untuk membuat pria itu sejenak melupakan pertanyaan tentang dirinya.
"Apaan sih Bab, apa sih yang mau kau tanyakan pada ku?" ucap Vindy dengan suara terdengar sangat manja, yang membuat Jonathan semakin terangsang di buatnya.
"Aaakh... Bab, kauuuuu sungguh wanita ******? Akuuuu... sedang bertanya padamu, dan bisanya kau malah mengalihkan perhatian ku dengan----"
Perlakuan wanita itu sungguh di luar batas, saat Jonathan bertanya? Vindy justru mengajak pria itu untuk bercinta, untuk mengalihkan pikiran pria itu. Vindy terus menggerayangi tubuh Jonathan, hingga resleting celana Jonathan berhasil di bukanya.
"Eekhmmm... astaga, ayo lah Bab ayo lah kita bersenang-senang dulu? Daripada... mikirin hal lain, mending kita bersenang-senang saja hari ini?"
Bukannya menghentikan perbuatan, Vindy justru menaiki pria itu dan mulai memainkan permainannya.
"Bab... bisa kan kau menikah ku, dan setelah menikah nanti? Kapan... pun kau ingin bercinta, aku pasti akan memanjakan mu setiap---"
BRUK!
"Maaf, aku tidak bisa?" ucap Jonathan langsung menghempas tubuh Vindy ke sofa, Jonathan secara sepihak langsung mengakhiri percintaannya dengan Vindy.
"Kenapa... Bab, bukan kah ini yang kau mau? Berhubung... dan bercinta seperti, setiap hari?" ucap Vindy kembali membelai manja dada atletis Jonathan.
__ADS_1
"Pargi... dari sini, dan jangan pernah berharap hal lebih dari ku?" kesal Jonathan, yang justru secara tiba-tiba malah mengusir kekasihnya pergi dari rumahnya.
"Jonat... kau, apa-apa sih! Aku... belum sampai, tapi kenapa kau malah tiba-tiba seperti ini? Ada apa sih dengan dirimu. Jonat? Setelah.... bertemu Devina tadi, kenapa kau seolah-olah tak ingin bercinta lagi dengan ku?" kesal Vindy, karena Jonathan tiba-tiba menyuruh dirinya untuk pergi dari rumahnya.
Vindy belum mencapai puncak, namun Jonathan tiba-tiba memperlakukan dirinya seperti ini.
"Vindy... kenapa kau harus menuntut hal, lebih? Di.... mana justru aku tidak bisa mengambulkan, itu semua?" tanya Jonathan.
"Hay... Jonat, apa kau sudah lupa dengan janjimu? Kau... akan menceraikan istrimu, dan akan menikahi diriku" ucap Vindy kembali mengingatkan.
"Memang... benar aku akan menikahimu, tapi bukan hari ini atau hari esok? Sebagai... kekasih, seharusnya kau memberi ku sedikit waktu? Jangan... terlalu menuntut ku seperti ini, atau jangan pernah berharap aku akan menikaimu lagi?" jelas Jonathan yang secara tiba-tiba tak berselera lagi, untuk melanjutkan percintaannya dengan Vindy selingkuhannya.
"Aaakh... Jonat, kau sungguh keterlaluan!" ucap Vindy dengan begitu kesalnya.
"Sebaiknya... kau segera tinggalkan, rumah ini?" ucap Jonathan tak perduli.
"Kau... sangat keterlaluan, Jonathan!" pekik Vindy berteriak, karena merasa kesal sekali?
Terlebih dahulu Vindy memakai bajunya kambali, sebelum pergi meninggalkan rumah kekasih nya.
Entah kenapa, setelah mendengar kata nikah? Jonathan tak ingin lagi melanjutkan adegan panasnya dengan Vindy. Tiba-tiba ada rasa penolakan, dari dalam diri pria itu? Hingga secara tiba-tiba, ia merasa enggan melakukan hal itu lagi kepada kekasihnya. Dulu sebelum Devina kembali, Jonathan bersikeras ingin berpisah dengan Devina? Karena ingin segera menikahi kekasihnya, Vindy. Namun ada apa dengan pria itu, jangankan menikahi? Bercinta dengan wanita itu, kenapa rasanya Jonathan sudah tak berselera lagi.
Bersambung.
¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿
Nah... loh, penasaran kan dengan ceritanya. Oke, sebelum author lanjut jangan lupa tinggalkan jejak dulu dong.
Vote👈
Like♥️
Komentar 💌
And Favoritkan😍
See you And terima kasih 🤗🤗🤗.
__ADS_1