
Tiga hari sudah berlalu, mbok Sari dan pak Nurdin suaminya pun sudah kembali ke kampung halamannya. Sedangkan kedua pembantu di rumah itu, sedikit demi sedikit mulai merubah cara hidupnya. Mereka tak pernah lagi bergosip, dan mereka pun mulai akrab dengan anak majikannya. Semenjak pak Nurdin dan mbok Sari pergi dari rumah, mereka lah yang menggantikan tugas untuk menjaga dan merawat anak majikannya.
Tepat di hari weekend, Verlyn atau Devina sama sekali tak ada kegiatan keluar rumah. Ia hanya akan menghabiskan waktu di rumah sambil berolahraga, sekaligus meluangkan waktu untuk anaknya Ezra.
Di sesanak olahraga, Verlyn melakukan aktivitasnya di temani oleh anaknya dan juga kedua pembantunya. Ezra, duduk tampan di atas strollernya sambil mimik susu bebelove melalui botol susu miliknya. Sedang Linda dan juga Murni, duduk di samping stroller itu sambil membantu dan menjaga anak majikannya.
"Nona... kenapa mbok Sari dan pak Nurdin, malah pergi sih?" tanya Linda sedikit kepo.
"Iya... padahal kalau ada mereka, Baby Ezra kan ada yang jagain?" sahut Murni menimpali ucapan temannya.
"Udah... gak ada ke perluan, makanya mereka memilih pulang kampung?" jawab Verlyn atau Devina, sambil terus berolahraga untuk membakar kalori dalam tubuhnya.
"Hmmm... padahal kan, kita udah mulai akrab juga sama mereka? Dan... kalau mereka gak ada, rumah ini jadi sepi deh?" ucap Linda sambil mendengus pasrah.
"Aku... udah coba melarang mereka, tapi mereka malah memilih pergi? Kalau... orang udah gak mau, tidak baik untuk di paksakan?" tutur Verlyn memberitahu, sambil terus melakukan aktivitasnya.
"Tapi... saya heran, kok nona tiba-tiba bisa punya anak? Padahal... kan waktu jadi model, gak pernah terdengar gitu kalau nona sedang hamil?" tanya Murni dengan wajah bingung, sambil terus membantu anak majikannya mimik susunya.
"Wanita... yang aku pinjam raganya, yang punya anak ini?" jawab Verlyn memberitahu, sambil terus membakar kalori dalam tubuhnya.
"Memangnya... apa yang terjadi nona, kok nona bisa masuk dalam tubuh wanita ini?" sambung Linda bertanya.
"Aku, bereinkarnasi ke dalam tubuh wanita ini?" jelas Verlyn memberitahu, sambil terus berolahraga.
"Rei---Rein, hah apa sih itu nona kok cara penyembutannya susah banget?" ucap Linda yang ke susahan dalam menyebut, apa yang di ucapkan majikannya.
"Reinkarnasi!" jelas Verlyn mengulang kembali kata-katanya.
"Ya... itu nona, Rein---?"
Trrrrsss... Trrrrsss.📱
"Huushf, jangan berisik?"
Trrrrsss... Trrrrsss.📱
Saat Linda bertanya, ponsel milik majikannya tiba-tiba berdering. Dan membuat Linda, tak bisa melanjutkan kata-katanya.
Sedangkan Verlyn perlahan menggeser tombol hijau, untuk menjawab panggilan teleponnya.
"Ya, Hallo?" tanya Verlyn saat menerima panggilan.
"........"
"Baik, aku segera ke sana?" jawab Verlyn menanggapi perkataan seseorang dari seberang telepon.
"........"
"Ya... baik, dan terima kasih?" sambung Verlyn menimpali ucapan seseorang dari seberang telepon.
Tuutt...Tuutt.
Dan panggilan pun akhirnya terputus.
"Nona... Reinkarnasi itu apaan sih?"
"Orang... mati, berpindah roh?" ucap Verlyn, singkat dan jelas. Ia segera menghentikan aktivitasnya dan perlahan mengambil handuk jubahnya kemudian memakainya.
"Hah, orang yang sudah mati?" sontak mereka terkejut, dengan mata terbelalak sempurna setelah mendengar penjelasan majikannya.
"Udah... gak perlu mikirin soal itu, karena itu bukan urusan kalian? Mending... kalian jaga Ezra dengan baik, karena aku mau pergi hari ini?" tutur Verlyn memberitahu, sambil melangkah keluar dari sesanak olahraga dan di ikuti oleh kedua pembantunya, sambil mendorong stroller anak majikannya.
"Ini... kan hari weekend nona, kok harus pergi juga?" tanya Murni mengikuti langkah majikannya, sambil mendorong stroller anak majikannya dari belakang dan juga Linda berjalan berdampingan.
"Jadwal... pemotretan nya di majuin, jadi mau tidak mau aku harus pergi?" jelas Verlyn memberitahu. Dan membuat mata kedua pembantunya terbelalak kembali.
"Hah, nona pemotretan lagi?" pekik mereka secara bersamaan.
"Ada... apa sih, kalian kok kaget begitu?" tanya Verlyn sambil menaikkan satu alisnya, sambil terus berjalan masuk ke dalam rumah.
"Nona, mau jadi model lagi?" tanya Murni yang menatap tidak percaya.
"Harusnya... sih besok, tapi produsernya malah mintanya hari ini? Dan... sebagai seorang model, ya aku harus profesional?" jelas Verlyn memberitahu, dan perlahan melangkah menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar untuk segera membersihkan diri terlebih dahulu.
"Hati-hati ya, nona?" ucap Linda kembali mengingatkan.
"Maksudnya?" tanya Verlyn langsung menghentikan pijakannya di tengah anak tangga. Ia bingung dengan ucapan pembantunya bernama Linda.
"Jangan... sampai kejadian masa lalu terulang kembali, kasihan Ezra harus kehilangan Mamanya dua kali? Dan... kami pun tidak bisa membayangkan, kalau nona harus pergi lagi?" tutur Murni kembali mengingatkan, sambil memandang sedih ke arah Baby Ezra anak majikannya.
"Jangan khawatir, ini bukan Verlyn yang dulu dan kalian harus percaya itu?" tutur Verlyn, dan kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar untuk membersihkan badan sebelum pergi.
"Dan... Ezra, kau harus percaya dengan Mama? Meski... kesibukan Mama nanti harus meninggalkan mu, setiap hari? Tapi... percaya lah Ezra, waktu Mama dan hidup Mama tetap akan Mama habiskan hanya untukmu? Mama... tidak akan membiarkan mu, hidup terlantar seperti seorang anak di luaran sana?" batin Verlyn ketika sudah masuk ke dalam kamar, untuk segera membersihkan badan.
***
Verlyn, adalah wanita muda berperawakan cantik berusia 22 tahun. Perasaan, baru kemarin mendaftarkan diri? Namun hari ini, Verlyn langsung mendapat panggilan pemotretan pertama.
Bermodalkan tubuh seksi, serta tinggi badan 167 cm? Pasti tak mempersulit dirinya untuk, menjadi seorang model kembali.
Dengan kesempatan ini, Verlyn akan menggunakan nama barunya untuk menjadikan Devina seorang wanita karir dengan perkejaan yang lebih baik.
Dengan menjadi seorang model, Verlyn percaya? Orang-orang yang pernah menyakiti dan merendahkan Devina, pasti akan merasakan penyesalan yang teramat dalam.
Dan inilah awal pembalasan dendamnya, untuk wanita yang tengah ia pinjam raganya. Perlahan tapi pasti, dengan penampilan barunya? Derajat Devina, pasti akan melonjak tinggi.
Meskipun gaya hidupnya akan berubah drastis, karena harus membagi waktu perkejaan dengan anaknya nanti? Namun untuk menjadi seorang model profesional, Verlyn harus mengutamakan pekerjaannya daripada waktu bersama dengan anaknya.
Verlyn harus merelakan waktu bersama anaknya, agar bisa menjadi seorang model sukses di kemudian hari. Meluangkan sepenuh waktunya, untuk menunaikan tugas-tugasnya nanti sebagai model.
Menjadi seorang model, memang tidak mudah? Maka Verlyn harus siap, untuk segala hal. Model profesional, tidak menganggap pekerjaan itu sebagai “pekerjaan sampingan”.
Jika Verlyn ingin menjadi model internasional, maka Verlyn harus siap dalam segala hal? Termasuk, berpergian keluar kota ataupun keluar negeri kapanpun juga.
Apalagi persyaratan untuk menjadi seorang model, yaitu belum menikah, atau sudah tidak dalam ikatan pernikahan. Dan inilah yang di perjuangan Verlyn untuk saat ini, namun ia tak akan pernah merahasiakan bila dirinya sudah memiliki seorang anak.
Bila Verlyn tetap bisa di simplin dalam segala hal, menjadi modeling internasional? Baginya, itu tidak jadi masalah meskipun harus membagi waktu antara pekerjaan dan anaknya nanti. Pemotretan, dan berpergian keluar kota itu hal biasa baginya.
Dan begitu mendapat panggilan, mau tidak mau Verlyn harus pergi. Untuk memulai sebuah pekerjaan, Verlyn harus di simplin dalam waktu. Agar ia bisa menjadi seorang model sukses, dan go internasional.
***
Tak berselang beberapa menit, wanita itu pun sampai di sebuah kantor agensi. Yang berkhusus untuk merekrut para gadis muda, untuk di jadikan seorang model.
Sebelum dirinya sukses di terima, terlebih dahulu wanita itu melakukan sesi pemotretan. Untuk memperlihatkan seberapa besar keinginan untuk menjadi seorang model profesional.
__ADS_1
Namun.
"Hay... kau, Devina kan?" seorang wanita tiba-tiba menyapanya, ketika ia ingin duduk di sebuah kursi.
Di tangannya terdapat sebuah amplop, dan sepertinya wanita itu juga salah satu calon model di perusahaan agensi ini.
Verlyn pun melirik wanita itu "Kau... siapa, apa kita saling mengenal?" sambung Verlyn dengan raut wajah sangat bingung.
Bug.
"Astaga... Dev, kau sombong banget sih? Mentang-mentang... udah nikah, teman sendiri kok di lupain?" ucap wanita itu, sambil memukul pundak Verlyn yang duduk tepat di belah kursinya.
"Siapa... sih, main mukul orang saja, so akrab banget deh? Orang... aku memang tidak tahu, pake di pukul segala sakit tahuuu?" gerutu Verlyn atau Devina, karena wanita di sampingnya sangat so akrab kepadanya.
"Aku... Ririn Devina, teman SMA kau dulu? Aish... gak seru kau Dev, teman sendiri udah lupa?"
Untung saja wanita bernama Ririn itu, tidak tersinggung dengan kata-kata yang di lontarkan oleh Verlyn atau Devina. Karena ia bertanya dengan suara, dingin dan kasar.
"Ririn? Ririn siapa, sih?" batin Verlyn atau Devina, sambil mengingat wanita yang mengaku sebagai teman SMAnya dulu.
Bug.
"Hoy, malah bengong? Udah... ingat, tidak? Aish... benar-benar gak seru kau, Dev?" keluh wanita bernama Ririn, karena teman SMAnya itu tidak mengingat dirinya.
Dan seketika, bayangan masa lalu kembali melintas di kepada Verlyn dan Devina.
POV. Devina dan Ririn
"Rin, hiks---hiks---hiks?" lirih Devina menangis sesenggukan, setelah dirinya di putuskan oleh Daniel pacarnya.
"Aku... kan udah bilang sama kau Dev, jangan berhubungan dengan pria itu?"
Sementara Ririn berusaha menenangkan temannya, untuk tidak menangis dan bersedih lagi.
"Aku... sangat malu, Rin? Daniel.. bukan hanya memutuskan ku, di depan orangtuanya? Tapi... Daniel juga menjatuhkan pilihannya, di depan mataku? Dia... berpegangan tangan, dan mereka---- hiks---hiks---hiks," ucap Devina semakin menangis terisak.
"Udah... Dev, kau yang sabar ya? Dan... jangan menangis pria playboy, seperti Daniel itu? Airmata mu... ini sangat berharga, tidak pantas menangisi pria seperti dia? Paham!" tutur Ririn penuh ketulusan, dan masih berusaha untuk menenangkan temannya agar tidak menangis lagi.
Begitulah hubungan Devina dan Ririn. Dulu pertemanan mereka sangat seru dan akrab? Bahkan pertemanan mereka dulu, lebih dari saudara. Jika Devina bersedih, Ririn pun dapat meresakan hal yang sama. Bila temannya di khianati seorang pria, maka Ririnlah yang turun tangan untuk membela temannya itu.
Tapi sejak lulus sekolah, dan panti asuhan tempat Devina berteduh di gusur? Hubungan pertemanan mereka pun, kian putus. Devina sudah jarang di temui, sejak menikah. Sedangkan, Ririn tetap melanjutkan studinya di luar kota.
Namun setelah lulus, kini Ririn telah kembali pagi ke Indonesia untuk meraih cita-citanya di Indonesia sebagai model.
***
Namun, di tempat yang sama. Devina dan Ririn kembali di pertemukan, dalam profesi yang sama pula.
"Ririn, hiks---hiks---hiks?"
"Devina?"
Sontak saja mereka saling berpelukan, setelah Devina mengingat kembali teman karibnya itu. Devina menangis, begitupun dengan Ririn juga ikut meneteskan air mata. Setelah sekian lama, akhirnya mereka kembali di pertemukan dalam kondisi baik-baik saja.
"Dev... apa kabar, selama ini kau pergi kemana? Aku... sempat mendengar kabar, kau mengalami kecelakaan? Mobil mu... jatuh ke jurang dan hancur, tapi tim polisi tidak bisa menemukan keberadaan mu?" sambung Ririn sembari melonggarkan pelukannya dari temannya Devina.
"Lima... bulan yang lalu, aku sempat di tolong oleh sepasang kakek dan nenek? Mereka... merawat ku dengan baik, dan akupun kembali dalam keadaan baik-baik saja sekarang?" jelas Devina memberitahu.
"Tapi... anakmu di mana, bukan kah kau mengandung besar waktu itu?" tanya Ririn melirik perut rata temannya.
"Lalu... suami di mana, kenapa dia tidak mencari mu? Kau... nikah dengan seorang pria kaya, tapi kenapa justru kau ingin menjadi model?" tanya Ririn dengan wajah bingung, karena sejak tadi ia tidak melihat keberadaan suami temannya itu.
"Saat... ini waktunya gak pas, Rin? Nanti... aku jelaskan saat kita sampai, di rumah nanti?" sambung Devina memberitahu, lalu di balas anggukan kepala oleh temannya.
***
Beberapa jam yang lalu, sesi pemotretan akhirnya selesai. Devina segera kembali ke rumah bersama dengan temannya, untuk menceritakan kejadian yang pernah di alaminya lima bulan yang lalu.
"Benar-benar... brengsek pria itu, tidak punya perasaan?" pekik wanita bernama Ririn, setelah mendengar penjelasan temannya. Ririn sangat marah, mendengar perselingkuhan suami Devina dengan sahabatnya Vindy
"Aku... juga tidak habis pikir, Rin? Mereka... tega melakukan hal itu, sama aku?" sambung Devina menimpali ucapan temannya. Saat ini mereka tengah berada di dalam kamar anaknya, karena Devina langsung membawa temannya itu menemui Ezra di dalam kamarnya.
"Benar-benar... biadap, berani sekali mereka berselingkuh dalam keadaan kau hamil besar?" ucap Ririn lagi, sambil mengusap lembut tangan mungil Ezra yang sedang tertidur pulas di kasur empuknya.
"Aku... hanya pasrah dengan kuasa Tuhan, Rin? Kalau.. karma itu, pasti ada?" ucap Devina atau Verlyn, memberitahu wanita di depannya itu.
"Aku... sih tidak puas Dev, kalau mereka belum mendapat balasannya sekarang? Ya... meskipun aku, percaya? Tapi... aku belum puas, jika kita belum membalas mereka?" ucap Ririn sambil menggepalkan tangannya, perasaan wanita itu sungguh sangat tidak terima? Teman karibnya, di perlakukan demikian oleh sahabatnya sendiri.
***
Malam hari sudah tiba, Ririn pun akhirnya pamitan kepada temannya. Ririn merasa tidak nyaman, bila berlama-lama di rumah temannya sampai laut malam..
"Dev, aku pulang ya?" ucap Ririn yang pamit kepada temannya, sambil berjalan keluar.
"Kenapa... buru-buru sih, Rin?" tanya Verlyn, sambil mengantar temannya ke depan.
"Aku... masih ada urusan, Dev" tutur Ririn, yang merasa tidak enak.
"Kenapa... gak nginap sih, Rin? Kalau... ada kau kan, Ezra gak kesepian?" turun Verlyn kepada Ririn, teman karibnya.
"Lain... kali saja Dev, ini aku masih ada urusan---"
BRUK.
Ucapan Ririn tiba-tiba terputus, di kala dirinya tidak sengaja menambrak seseorang di hadapannya. Seseorang itu bagai tembok yang kokoh, sampai membuat tubuh Ririn ambruk di lantai karena kehilangan keseimbangan.
"Astaga... Rin, kalau jalan hati-hati dong?" ucap Verlyn atau Devina, sambil membantu temannya untuk segera berdiri.
Sedangkan, Ririn?
Dag... Dig... Dug.
Dag... Dig... Dug.
Tak sengaja Ririn mendongakkan kepalanya menatap wajah pria, yang barusan ia tambrak. Namun seketika jantung Ririn berdetak tak jelas, saat ia melihat wajah tampan asisten temannya itu.
"Nona, apa anda baik-baik saja" tanya Devid sembari mengulurkan tangan, untuk membantu wanita yang terjatuh di depannya.
Saat Verlyn, ingin membantu temannya. David juga ingin membantu wanita di hadapannya, untuk segera berdiri.
Ririn yang terhipnotis dengan ke tampanan David, langsung menghiraukan bantuan dari temannya. Dan memilih menerima bantuan pria, yang mengulurkan tangan tepat di depannya.
"Terima kasih?" ucap Ririn menerima bantuan dari David, asisten temannya.
__ADS_1
"Nona, apa anda baik-baik saja" tanya David sekali lagi, untuk memastikan.
"Iya, aku baik-baik sa---?"
"Hehehe... gak usah so manis, yuk buruan jalan?" ucap Verlyn menyelah ucapan temannya, sambil menutupi mata Ririn dengan telapak tangannya.
Kemudian perlahan membawa Ririn, segera pergi dari hadapan asistennya.
"Tapi... Dev, aku belum kenalan sama---?"
"Udah... lain kali, saja? Sebaiknya... kau pulang, udah malam soalnya?" ucap Verlyn, kenapa temannya.
Melihat tingkah laku temannya, yang so manis kepada asistennya? Entah kenapa, hati Verlyn tiba-tiba terbakar api cemburu. Lalu tanpa sadar, ia pun segera menjauhkan temannya dari David sang asisten.
Sedangkan David, hanya menatap heran ke arah mereka berdua. Sebelum atasannya marah, sebaiknya ia mencari aman dengan tetap berdiam diri di tempatnya semula.
"Dev... tuh orang siapa, tadi? Kok... tampan banget, yak?" tanya Ririn setelah menjauh, namun padangan matanya tak bergeming dari tempat pria itu berdiri.
"David, asisten ku?" jawab Verlyn dengan cepat dan singkat.
"Hah... se---serius, pria barusan itu a--asisten mu?" ucap Ririn dengan mata terbelalak sempurna, mendengar ucapan temannya.
"Napa... sih, biasa aja kali?" ucap Verlyn sambil menaikkan satu alisnya, menatap wajah temannya.
"Wah... benar-benar kau, Dev? Masa... pria tampan, di jadiin asisten? Kalau... aku nih ya, pasti udah aku jadiin pacar? Masa... cowok ganteng, di anggurin?" cerotos Ririn, berbicara panjang lebar untuk memberitahu temannya.
Sedangkan Verlyn.
"Benar, juga sih? Kalau di lihat-lihat, David itu memang tampan?" umpat Verlyn dalam hati, yang diam-diam telah mengagumi pria yang merupakan asistennya sendiri.
"Ya... ampun, Aarrrgggkkk---- kok aku malah ketularan kek Ririn sih. Tidak... tidak, aku tidak mungkin menyukai asisten ku sendiri?" umpat Verlyn dalam, yang man hatinya bergalayut dengan pikirannya sendiri.
"Udah... gak usah mikirin cowok terus, mending kau pulang? Besok... kan kita masih ada, pemotretan?" ucap Verlyn dengan cepat, untuk mengalihkan pikirannya.
"Ya... udah, aku pulang ya Dev. Dan sampai jumpa besok pagi, yaaa," ucap Ririn, sambil melangkah masuk ke dalam mobil taksi.
"Oke... Rin, hati-hati jalan yaaa?" jawab Verlyn menimpali, sambil melambaikan tangan kepada temannya.
Tak berselang beberapa menit, mobil taksi yang di tumpangi temannya perlahan meninggalkan tempat. Dan Verlyn segera kembali ke dalam rumah. Menaiki anak tangga satu persatu, menuju kamar sebelah untuk tidur bersama anaknya.
***
Sementara Ririn, setelah meninggal rumah temannya ia tak langsung pulang ke apartemennya. Melainkan ke apartemen Vindy, untuk memberi wanita itu pelajaran.
Dan benar saja, setelah menunggu beberapa menit. Terlihat mobil mewah, yang nampak berhenti tepat di depan sebuah apartemen besar tinggi menjulang. Dan tak lama kemudian, keluar seorang wanita dari dalam mobil tersebut? Ririn yang mengintai tak jauh dari tempat itu, dapat melihat dengan jelas? Vindy keluar dari mobil mewah tersebut, yang mana pria itu. Tidak lain dan tidak bukan adalah, Jonathan Bima Evander suami dari temannya.
Setelah memastikan, tanpa basa-basi? Ririn langsung keluar dari mobil taksi, dan dengan langkah cepat? Ia pun menghampiri Vindy dan suami temannya, dengan kemarahan yang sudah sampai di ubun-ubun kepalanya.
PLAK.
"Wanita, mu-ra-han!"
PLAK.
"Pengkhianat!"
PLAK.
"Kau... perempuan, kriminal!"
PLAK.
"Bab... tolong aku Bab, tolong?" lirih Vindy, yang meminta tolong kepada Jonathan pria yang merupakan kekasihnya.
SRET... SRET.
"Akan... ku bunuh kau, dasar pelakor!"
Ririn membabi buta, mencakar dan menampar wajah Vindy habis-habisan dengan kemarahan.
BRUK.
"Hentikan!" pekik Jonathan, sambil menghempas kasar tubuh Ririn untuk menjauh dari wanita selingkuhannya.
"Ku... pastikan kau akan menyesal, telah memilih batu kerikil daripada batu permata?" tutur Ririn mengingatkan, berusaha bangkit sambil menatap tajam wajah pria yang merupakan suami dari temannya.
"Siapa... kau, dan apa maksudmu?" tanya Jonathan dengan nada meninggi, karena tak mengerti dengan kata-kata wanita di hadapannya.
"Memilih... mengkhianati istrimu, demi seorang pelakor? Hmm... ku pastikan kau akan menyesal, camkan itu?" tutur Ririn mengulang kembali kata-katanya, sambil menatap wajah pria di hadapannya dengan penuh amarah. Kemudian, setelah melontarkan kata-katanya, Ririn pun segera pergi meninggalkan tempat.
"Bab... tolong aku, Bab?" lirih Vindy kepada Jonathan.
Sedangkan Jonathan.
"Siapa... wanita itu, Bab? Dan... jelaskan, apa maksud dari semua perkataanya?" tegas Jonathan bertanya kepada wanita selingkuhannya.
"Bab... aku lagu kesakitan, kok malah bertanya seperti itu sama aku?" Bukannya menjawab pertanyaan, Vindy malah bersungut manja kepada Jonathan.
"Jawab... sekarang, atau aku tinggalin kau sendirian disini?" tegas Jonathan bertanya untuk yang terakhir kalinya.
Huuufh.
Terdengar helaan nafas panjang dari wanita itu, lalu perlahan membuka suara.
"Teman... ku, di SMA dulu?" jawab Vindy dengan wajah memelas, karena mu tidak mau harus menjawab pertanyaan dari pria yang merupakan kekasihnya.
"Apa... masalahmu dengannya, kenapa dia menyebutmu sebagai perempuan kriminal? Sebenarnya... apa yang telah kau, lakukan. Hmm?" tanya Jonathan sekali lagi, kepada wanita selingkuhannya.
"Gak... tahu juga, Bab? Mungkin... dia iri kali sama aku, karena aku bisa dapat laki-laki tampan dan kaya sepertimu? Sedangkan... dia, masih jomblo abadi sampai sekarang ini?" jelas Vindy berbicara panjang lebar, namun kenyataannya? Itu semua hanyalah kebohongan semata, untuk mengelabui pria yang tengah bersamanya.
"Baby... Baby, hidupmu banyak drama juga? Kemarin... kakek, dan nenek-nenek? Sekarang... sama wanita yang lebih muda, besok apalagi?" keluh Jonathan kepada wanita selingkuhannya, sambil membopong tubuh wanita selingkuhannya masuk kedalam kamar unit apartemennya.
Bersambung.
¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿
Nah... loh, penasaran kan dengan ceritanya. Oke, sebelum author lanjut jangan lupa tinggalkan jejak dulu dong.
Vote👈
Like♥️
Komentar 💌
And Favoritkan😍
__ADS_1
See you And terima kasih 🤗🤗🤗.