
Pagi hari, tepat di siang hari.
Ceklit.
"Permisi, Tuan?" ucapnya setelah masuk di sebuah ruangan.
"Hah, kau?"
Tanggapannya melirik sebentar, lalu seseorang itu pun kembali dengan pekerjaannya.
"Bagaimana, kau sudah menemukan informasi tentang wanita itu?"
Lanjutnya, namun tak bergeming dari pekerjaannya.
"Maaf... Tuan, saya tidak---?"
BRAK!
BRUK!
"Tidak, berguna!" ucapnya tiba-tiba berdiri dan langsung menghajar anak buahnya. Membuat pria itu, tak dapat melanjutkan ucapannya.
"A---ampun, Tuan? Tolong, maafkan lah sa---?"
BRUK!
"Aku... sudah membayarmu dengan mahal, tapi kenapa kerjaanmu hanya seperti ini?" pekiknya, kembali melayangkan satu pukulan ke anak buahnya.
"To---tolong, Tuan? A---ampuni, saya?"
"Pergi... dari sini, sebelum aku membunuh mu!" tegasnya, membuat pria itu seketika berdiri dan langsung berlari terbirit-birit keluar dari ruangan itu.
Trrrsss... Trrrsss.📱
"Iya... Ma, ada apa!" kesalnya sambil menjawab telepon.
"Jonat... ke rumah sekarang ya sayang, Mama ada kejutan untuk mu?" ucap Maya dari seberang telepon.
"Apaan... sih Ma, malas aakh!" ketus Jonathan, karena anak buah yang di suruhnya untuk mencari informasi tentang Devina ternyata gagal.
"Kau... kenapa sih sayang, bicara sama Mama kok seperti itu?" tanya Maya dari seberang telepon. Maya bingung mendengar perkataan putranya, yang terdengar begitu kasar.
"Gak... Ma, Jonat cuma banyak kerjaan di kantor?" jawab Jonathan beralasan.
"Ya... sudah, kalau begitu kau ke rumah sekarang ya sayang?" sambung Maya mengulang kembali kata-katanya.
"Mau... ngapain sih, Ma?" tanya Jonathan dengan wajah memelas.
"Ke rumah... dulu dong sayang, baru kau akan tahu?" ucap Maya dari seberang telepon, memberitahu.
"Oke, nanti Jonat ke sana? Tapi, Jonat selesaikan perkejaan dulu?" ucap Jonathan dengan muka lesu menanggapi perkataan Mamanya.
"Ya... sudah, lanjut gi pekerjaanmu, dan Mama tutup dulu teleponnya?" ucap Maya sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.
"Iyaaaa?" jawab Jonathan, dengan malas.
Tuutt... Tuutt.
Dan sambungan teleponnya akhirnya terputus.
Tiga hari belakangan ini, Jonathan ternyata sudah mengutus anak buahnya? Untuk mencari tahu, informasi tentang Devina istrinya. Namun sampai saat ini, anak buah Jonathan belum menemukan titik terang dalam pekerjaannya. Jonathan dengan kesal, ia pun membabi buta menghajar dan memukuli anak buahnya sendiri. Karena Jonathan menganggap, anak buahnya tidak berguna dalam menunaikan tugasnya.
Sedangkan di lain waktu.
Hmmm.
"Kau... tidak akan pernah menemukannya, karena saya tidak akan membiarkan itu terjadi?" ucap seorang pria yang sedari tadi, memantau pergerakan Johathan dari jarak jauh.
"Silahkan... utus semua anak buah, terbaikmu? Tapi... jangan harap, kau bisa menemukan apa yang kau cari?" tutur pria tersebut, sambil tersenyum menyeringai memantau pergerakan Johathan melalui teropong.
Dan pria yang melakukan itu, tak lain dan tak bukan adalah David Guetta Titanium sang asisten pribadi Verlyn atau Devina.
Hahahaha.
Pantas saja anak buah Jonathan tak pernah berhasil, karena yang selalu menggagalkan itu semua ternyata David asisten pribadi Verlyn atau Devina.
"Selagi... nyawa masih di kandung badan, jangan harap dapat menemukan apa yang kau cari?" ucap David dengan senyum menyeringai. David sangat puas, karena upaya nya dalam menggagalkan rencana Jonathan ternyata berhasil.
"Dan, kalian?" sambung David, perlahan memanggil kedua anak buahnya Sandi dan juga Nando.
"Iya, Tuan?" jawab mereka secara bersamaan, sambil sedikit membungkuk untuk memberi hormat.
"Kalian... terus di sini, dan tetap pantau pergerakan pria itu? Jangan... beri kesempatan pria itu, untuk mencari informasi tentang nona Verlyn, meski cuma sedikit?" jelas David mengingat kedua anak buahnya.
"Baik, Tuan?" jawab mereka, sambil mengangguk tanda mengerti.
Sementara David, secara perlahan menghidupkan mesin motornya. Menambah kecepatan motornya, lalu segera pergi meninggalkan tempat. Begitupun Sandi dan juga Nando, tetap di tempat seperti apa yang di ucapkan Tuannya.
David, memang hanya seorang asisten. Tapi kemampuan yang di miliki, sama halnya dengan para CEO di seluruh dunia. Tidak bisa di pandang remeh, begitu saja. Jika, berhubungan dengan Verlyn sang atasan idaman? Jangan harap, David akan membiarkan itu terjadi. Siapapun orang yang mencoba mengganggu kehidupan atasannya, David tidak akan tinggal diam. Dengan segala cara David akan melindungi atasannya, Meski nyawanya sendiri yang menjadi taruhan.
***
Namun di satu sisi.
Ceklit.
"Kak, bantuin aku dong?"
Vindy tiba-tiba mendatangi perusahaan tempat kakaknya bekerja, Ia bergelayutan manja sambil meminta bantuan kepada kakaknya Baim.
"Apaan... sih Vin, datang-datang langsung bergelayutan seperti itu?" ucap Baim, sambil bergelayut dengan komputer di depannya.
"Kak, bantuin aku?" ucap Vindy mengulang kembali kata-katanya, dan masih tetap bergelayutan di depan meja kerja kakaknya.
"Aaakh... dasar kau, tak pernah berubah? Ketika... ada masalah, baru kau datang kemari?" ucap Baim yang tetap fokus dengan komputer di depannya, untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.
"Kak... berhenti dulu, dong? Masa... udah bela-belain datang jauh-jauh, tapi tanggapan kakak malah seperti ini?" ketus Vindy yang mulai kesal, karena kakaknya tak menanggapi ke datangannya.
"Apa... sih Vin, kau mau apa?" tanya Baim, yang akhirnya terpaksa mengakhiri aktivitasnya.
__ADS_1
"Bantuin, akuuu?" sambung Vindy, sambil duduk di atas meja kerja kakaknya.
"Bantuan, apa?" tanya Baim kepada adik perempuannya itu.
"Pacarku, mulai tak mencintai aku lagi? Dan kalau begini terus, posisi ku pasti akan terancam kak?" jelas Vindy memberitahu.
"Ya... malah bagus, dong? Jadi... kau bisa kembali dengan suami, dan anakmu?"
BRUK!
"Iissh... kakak, kalau ngomong jangan sembarang dong? Mana... mungkin aku kembali, dengan pria miskin? Daniel... sudah bangkrut, dan tidak ada apa-apanya dibanding dengan Jonathan?" sambung Vindy, memandang rendah suaminya saat ini.
"Ya... Daniel bangkrut karena kau juga, kau terlalu mantrealistis?" kata Baim menimpali ucapan adik perempuannya itu. Yang membuat Vindy semakin kesal, mendengar ucapan dari mulut kakaknya sendiri.
"Kalau... aku mantre, lalu kau apa? Kau... bekerja di sini, tapi selalu mencuri uang---?"
Huuufh.
"Jangan... kencang-kencang, nanti ada yang dengar?" sontak Baim langsung membekap mulut adiknya menggunakan tangannya.
"Dasar... otak licik, kakak adik sama saja? Dan... kau Baim, tunggu hukuman mu? Sudah... aku beri kesempatan, tenyata kau masih mencuri uang di perusahaan ini?" umpat seseorang dari balik pintu, sambil merekam suara percakapan mereka.
"Iissh... kalau, ngomong jangan kacang-kacang dong? Kalau... ada yang dengar, bisa-bisa kakak di pecat dari sini?"
Lanjutnya, sambil melepaskan bekapan tangannya.
"Hmm... tunggu saja, secapatnya kalian akan mendapatkan pelajaran itu?" batin seseorang dari balik pintu, yang masih merekam percakapan mereka.
"Makanya... jangan macam-macam sama aku, nanti kalau aku marah? Semua... ke busukan kakak, bakal aku bongkar nanti?" sambung Vindy memandang jahil kakaknya, membuat pria itu sekatman dan tak punya banyak pilihan.
"Hmmm... dasar, adik laknat!" umpat Baim dalam hati, yang merasa kesal dengan kelakuan adiknya.
"Makanya... jangan macam-macam sama aku, kakak? Belum... tahu sih, siapa aku sebenarnya Hahahahaha?" gerutu Vindy dalam hati, merasa senang karena sudah membuat kakaknya laki-lakinya tak banyak pilihan.
"Cepat... katakan, apa mau mu datang kemari?" ketus Baim, dengan muka kesal.
"Bantu... aku menyingkirkan wanita saingan ku, dengan begitu posisi ku tidak akan pernah terancam?" ucap Vindy dalam menjelaskan rencana busuknya.
"Siapa, orangnya?" tanya Baim, kemudian berniat melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Ini, fotonya?"
Deg.
Mata Baim seketika terbelalak sempurna? Sungguh ia panas dingin, melihat foto yang di lempar oleh Vindy adik perempuannya.
Baim tak menyangka, ternyata wanita saingan adiknya adalah Alexa? Sang atasan, di mana ia bekerja saat ini.
"Ma---maaf Vin, aku tidak bisa membantumu?" Sontak Baim menolak keras, permintaan Vindy sang adik.
"Lah... kenapa, kak?" tanya Vindy dengan wajah sangat bingung.
"Sebaiknya... kau pergi dari sini, dan Maaf? Kali... ini, aku tidak bisa membantumu?" sambung Baim malah tiba-tiba mengusir Vindy dari ruangannya, dengan wajah yang sangat pucat.
"Kak, ada apa sih?" tanya Vindy.
Vindy semakin bingung, melihat wajah kakaknya tiba-tiba berubah pucat setelah melihat foto yang di lemparnya.
BRAK!
Lalu secara spontan, Baim langsung menutup pintu ruangannya kembali dengan begitu kerasnya.
"Iissh... kak Baim kenapa sih, kok tiba-tiba bersikap seperti itu?" gumam Vindy yang secara terpaksa pergi meninggalkan tempatnya.
"Aarrrgggkkk---- setress aku lama-lama, kalau seperti ini? Semua... orang yang ku harapkan, tak ada yang bisat membantu? Mbok... dan Pak, sudah mengkhianatiku, dan sekarang kak Baim tidak bisa menolongku juga?" gerutu Vindy dalam hati, yang perlahan pergi meninggalkan perusahaan, tempat Baik kakak laki-lakinya bekerja saat ini.
"Meskipun... kau, sudah menolak permintaan adikmu? Tapi... camkan satu hal, bahwa perbuatanmu kali ini tak bisa aku maafkan lagi?"" gumam Verlyn, sambil terus bersembunyi? Agar dirinya tidak ketahuan oleh, Vindy dan juga kakaknya Baim.
Saat mereka mengadu mulut di dalam ruangan, ternyata Verlyn secara diam-diam merekam semua percakapan antara kakak dengan adiknya itu. Dan begitu Vindy di seret keluar oleh kakaknya, buru-buru Verlyn segera bersembunyi di balik pintu di salah satu ruangan yang ada di perusahaan nya.
Verlyn begitu sangat bahagia, karena kini ia memiliki bukti untuk menghancurkan sahabatnya secara perlahan. Dengan bukti itu, Vindy akan secepatnya hancur di tangannya.
Flashback~on
Sebelum pergi mengantar mbok Sari dan pak Nurdin pulang kampung, Verlyn terlebih dahulu mempertemukan Baim dengan kedua orangtuanya. Dan benar ucapan kedua orangtua itu, Baim sempat tidak mau mengakui mereka sebagai orangtua sama halnya apa yang di lakukan Vindy adik perempuannya.
Namun, dengan bantuan Verlyn atau Alexa, Baim akhirnya mengakui? Bahwa mereka adalah orangtuanya.
Ceklit.
"Nak?" Dengan mata berkaca-kaca, mereka pun masuk ke dalam ruangan anaknya sesuai arahan Verlyn atau Alexa.
BRUK!
"Hay... lancang sekali kau, datang-datang langsung panggil aku anakmu?"
Begitulah tanggapan Baim, setelah kedua orangtuanya masuk ke ruangannya.
"Oh... begini kelakuan mu Baim, saat bicara dengan orangtuamu? Apa... seperti ini balasanmu, kepada orang yang sudah melahirkan dan membesarkan mu?" ucap Verlyn atau Alexa, yang secara tiba-tiba muncul dari luar.
Deg.
"No...nona, Alexa?" Dan sontak sekujur tubuh Baim seketika membeku, setelah melihat atasannya tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.
"Pilih, mana? mengakui mereka sebagai orangtua mu, atau membusuk di penjara selamanya?" tegas Verlyn atau Alexa, langsung memberi dua pilihan yang cerdas.
"Ma---maksud, nona?" jawab Baim sedikit tergagap, sambil sesekali melirik kedua orangtuanya.
"Kau... pikir, apa aku tidak tahu perbuatanmu selama ini? Kau, selalu mencuri uang kan di perusahaan ini?" tegas Verlyn atau Alexa, mengintimidasi manajer keuangannya.
Deg.
"A---ampun, nona? To---tolong, jangan penjara kan aku?" ucap Baim, langsung bersimpuh di bawa kaki atasannya untuk memohon ampun.
"Jangan... bersimpuh di bawa, kaki ku? Tapi... bersujud dan memohon ampunlah kepada mereka berdua? Mereka... sudah membesarkan mu dengan tulus, tapi apa balasanmu kepada mereka? Kau... tinggalkan mereka di rumah usang, bagaikan kacang yang lupa kulitnya?" tutur Verlyn atau Alexa, dalam mengingatkan Baim untuk segera menyadari semua kesalahannya.
"Mbok... pak, a---ampuni Baim? Maafkan... Baim, dan Baim janji tidak akan berbuat seperti itu lagi?" ucap Baim, langsung bersimpuh di bawa kaki kedua orangtuanya. Ia menangis tersedu-sedu, dan mencium kedua kaki orangtuanya.
"Jangan... pernah, menguji kesabaran ku? Andai... bukan kedua orangtua mu, kau pasti sudah membusuk di penjara?" tegas Verlyn atau Alexa memberitahu sambil menatap tajam wajah pria di hadapannya, lalu secara perlahan Verlyn pergi meninggalkan ruangan itu, Agar mbok Sari dan suaminya bisa melepas rindu, kepada anaknya Baim.
__ADS_1
Flashback~off
BRAK.
"Tuh... rekaman suara, Baim. Apa, hukuman bagi orang yang sudah menggelapkan uang di perusahaan?" ucap Verlyn, saat telah sampai di depan meja sekretaris nya.
"Me---menurut... Undang-Undang Hukum Pidana, Pasal 374? Pelaku... penggelapan aset perusahaan bisa dipidana penjara maksimal 5 tahun, nona?" jawab Elvina, menjelaskan dengan suara gemetar.
"Kau... mau hubungi polisi, atau kau sedang menungguku yang turun tangan?" sambung Verlyn sambil memainkan kuku-kuku jari tangannya, dengan santai.
"Baik... nona, akan saya hubungi polisi sekarang juga?" jawab Elvina, langsung menuruti perintah atasannya. Dengan cepat wanita itu, segera menghubungi polisi sesuai permintaan wanita yang merupakan atasannya.
"Nah, gitu dong? Karena jika aku sudah bertindak, kau pun akan menyusul Baim di dalam penjara?" sambung Verlyn, sambil berjalan masuk ke dalam ruangannya.
Sementara Elvina, baru selesai menghubungi polisi untuk menjebloskan Baim segera ke dalam penjara.
Tak menunggu lama, terlihat sudah beberapa tim polisi memasuki perusahaan tersebut. Sesuai laporan, tim polisi itu pun langsung ke ruang tempat Baim berada saat ini.
Ceklit.
Tim polisi memutar gang pintu, dan segera melangkah masuk setelah pintu terbuka. Tanpa membuang-buang waktu, tim polisi itupun segera menangkap Baim sesuai laporan yang telah di terima.
"Saudara... Baim, silahkan ikut kami ke kantor polisi?" ujar polisi sambil memborgol tangan pria itu.
"Ada apa ini pak, kenapa saya tiba-tiba di tangkap seperti ini?" Baim yang semula sibuk dengan pekerjaannya, langsung terkejut dan panik? Saat posisi-polisi itu, tiba-tiba masuk dan menangkap dirinya.
"Kau... harus mempertanggung jawabkan kesalahanmu Baim, dan ikutlah dengan polisi-polisi itu?" sahut Verlyn, tiba-tiba melangkah masuk.
"Apa... maksud, nona?" ucap Baim, pura-pura tidak tahu.
"Kau... tentu sudah paham, dengan apa yang pernah aku katakan padamu sebelumnya? Aku... sudah memberimu, kesempatan? Tapi... diam-diam, kau masih melakukan kesalahan yang sama?" tutur Verlyn berbicara panjang lebar, untuk mengingatkan.
"A---ampun, nona. Tolong, maafkan lah saya? Sungguh... nona, tolong jangan masukkan saya ke dalam penjara?" sontak Baim langsung bersimpuh di bawa kaki atasannya, berhadap belas kasihan? Agar wanita di hadapannya itu, akan memaafkan perbuatnya kembali.
BRUK.
"Sudah... terlambat, dan ikutlah dengan polisi-polisi itu?" tegas Verlyn memberitahu, sambil menghempas tangan Baim dari kakinya.
"Tolong... nona, saya masih punya keluarga? Jika... saya di penjara, siapa yang akan menafkahi mereka?" bujuk Baim sekali lagi, siapa sangka wanita itu akan kembali memaafkannya.
Namun.
"Renungkan... sendiri kesalahan mu, Baim? Berkali-kali... sudah aku memberimu kesempatan, tapi kau masih mengulang kesalahan yang sama? Jika... di penjara baru kau akan jerah, maka terimalah hukumanmu?" ucap Verlyn berbicara panjang lebar untuk mengingatkan, sekaligus memberitahu.
Wanita itu melangkah pergi, seakan tak perduli lagi dengan rengekkan dan permintaan maaf dari pria itu.
"Cepat... bawa orang ini Pak, dan berikan hukuman yang setimpal?" sambung Verlyn tanpa menoleh, dan terus melangkahkan kaki jenjangnya pergi dari tempat itu.
Sedangkan Baim?
"Camkan... nona Alexa yang terhormat, setelah aku bebas? Ku... pastikan kau akan menerima balasan, dari atas apa yang kau lakukan padaku ini?" umpat Baim dalam hati, dengan sorotan mata tajam melirik atasannya? Saat dirinya telah dibawa pergi, oleh beberapa tim polisi.
***
Tak berselang beberapa menit, sore hari akhirnya tiba? Dan Jonathan pun, sampai di kediaman orangtuanya. Ia tampak membuka pintu mobil, dan perlahan turun.
Kemudian disambut hangat oleh Mamanya, setelah mendengar suara mobil anaknya memasuki halaman rumah.
"Hay... sayang, kau sudah datang?"
"Langsung... saja, Ma? Apa... tujuan Mama, panggil Jonathan datang kemari?" tanya Jonathan dengan penampilan nampak kusut, sama halnya perasaannya? Yang mana saat ini sangat kacau, memikirkan cara untuk mendapatkan informasi tentang wanita yang mirip dengan istrinya.
"masuk... dulu dong sayang, baru kau akan tahu?" bujuk Maya kepada Jonathan, putra semata wayangnya itu.
"Aduh... Ma, Jonat capek?" keluh Jonathan kepada wanita paruh baya, we yang merupakan Mamanya sendiri.
"Duduk... sayang, Mama ambilkan dulu kejutannya?" sambung Maya, sambil mendudukkan tubuh putranya diatas sofa? Kemudian segera melangkah menaiki anak tangga, untuk mengambil kejutan untuk Jonathan putranya.
Tak berselang beberapa menit, Maya pun sudah kembali sambil membawa sesuatu di tangannya.
"Ma... apa ini, Ma?" ucap Jonathan begitu sangat terkejut, melihat surat KUA yang terdaftar atas namanya dan juga Vindy wanita selingkuhannya.
"Iya... sayang, Mama sudah urus semuanya? Dua... bulan lagi, kau akan menikah dengan kekasihmu?" ucap Maya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, menatap wajah putranya dengan begitu bahagia.
"Astaga... kenapa Mama melakukan hal, itu?" tanya Jonathan semakin frustasi dengan perbuatan Mamanya, yang mana Maya diam-diam telah mengurus pernikahannya dengan Vindy wanita selingkuhannya.
"Sayang... lebih cepat, lebih bagus? Masa... berhubungan terus, tapi gak ada status pernikahan?" tutur Maya kepada Jonathan, dengan wajah begitu sangat bahagia.
"Tapi... Ma, Jonat belum siap?" ucap Jonathan dengan muka memelas, sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Kenapa... sayang, kok tiba-tiba gak siap begitu?" tanya Maya kepada Jonathan putranya.
"Aku... belum resmi bercerai dengan Devina, Ma?" tutur Jonathan dengan wajah semakin kusut dan frustasi.
"Itu... bisa di atur, sayang? Setelah... pernikahanmu dengan Vindy selesai, baru kita mengurus perceraianmu dengan Devina? Lagipula... Papa juga sudah merestui, kau menikah dengan kekasihmu. Ya, kan Pa?" ucap Maya berbicara panjang lebar, sambil melirik suaminya yang sedang duduk di sebelah sofa tempat Jonathan duduk.
"Mama... saja tuh yang setuju, kalau Papa sih gak pernah? Papa... cuma malas berdebat, jadi Papa diam saja?" ketus Bagaskara perlahan berdiri, sambil melangkah pergi dari ruang tengah.
"Iishh... Papa mah gitu, suka ngeselin?" sungut Maya, melirik kesal punggung suaminya yang melangkah pergi dari ruang tengah, tempat dirinya dan putranya sedang berdiskusi perihal tentang pernikahan Johathan dengan Vindy kekasih sekaligus wanita selingkuhan putranya.
"Terserah... Mama, yang jelas Jonat belum siap? Aku... masih punya banyak kerjaan, dan Jonat mau pulang sekarang?" sambung Jonathan menimpali ucapan Papanya, dan setelah melontarkan kata-katanya? Jonathan pun melangkah pergi meninggalkan rumah orangtuanya, dengan hati tidak baik-baik saja.
"Astaga, kenapa anak itu tiba-tiba kompak dengan Papanya? Ada apa sih dengan anak itu, biasanya gak seperti ini?" gumam Maya merasa bingung dengan kelakuan putranya saat ini.
"Dulu... dengar nama Vindy saja, anak itu semangat banget kelihatannya? Tapi... ini kok, malah gak siap nikah? Ada apa sih, dengan anak itu?" gumam Maya lagi, ketika Jonathan telah pergi meninggalkan rumahnya menggunakan mobil.
Bersambung.
¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿
Nah... loh, penasaran kan dengan ceritanya. Oke, sebelum author lanjut jangan lupa tinggalkan jejak dulu dong.
Vote👈
Like♥️
Komentar 💌
And Favoritkan😍
__ADS_1
See you And terima kasih 🤗🤗🤗.