Reinkarnasi Gadis Pelakor

Reinkarnasi Gadis Pelakor
BAB 18. Tuhan, kenapa baru sekarang


__ADS_3

Selang beberapa jam, malam hari akhirnya tiba. Verlyn terlihat membereskan beberapa berkas pentingnya, dan bersiap untuk pulang, setelah sebagai pekerjaannya selesai. Verlyn keluar dari ruangan, dan berjalan masuk lift khusus untuk para CEO.


Saat ia turun menggunakan lift, dan berjalan keluar? Ia malah tak sengaja mendengar umpatan karyawan-karyawannya, yang membahas tentang dirinya.


"Guys..."


"Apaan..."


"Apa... kalian gak merasa aneh dengan nona, Alexa?"


"Aneh... aneh, kenapa sih?"


"Sikap... nona Alexa, kok lama-lama mirip kek nona Verlyn ya?"


"Hmm... iya juga, sih? Kalau... di perhatiin, lama-lama mirip kayaknya?"


"Tuhkan... berarti bukan cuma gue dong yang ngerasa, tapi kalian juga?"


"Huuufh... kalau menurut gue, nona Alexa itu keren banget? Apalagi... waktu nona Alexa ngeblosin pak Baim, ke penjara? Hmm... sumpah, itu cantiknya jelas banget?"


"Hmm... itu sih bukan aneh, namanya? Tapi... itu karena mata lu saja, yang jelalatan memang?"


PLAK.


"Lu... tuh, yaaa? Orang... lagi serius, malah bercanda?" ucap salah satu dari mereka, sambil menjitak kepala temannya.


"Hehehe, sorry-sorry?" ucapnya terkekeh meratapi kekonyolannya.


"Yang... di lakukan nona Alexa itu udah benar, guys? Siapapun... orangnya, jika mereka bersalah pantas mendapatkan hal itu? Penjara... memang pantas, untuk mereka?"


"Eekhmm...!"


"Hmm... no---nona, Alexa?" sontak mereka langsung terkejut, setelah mendengar suara deheman dari atasannya tempat mereka bekerja.


"Ingat... yang diterima oleh pak Baim, tidak hanya berlaku untuk dia? Tapi... hukuman itu juga berlaku untuk semua orang yang ada disini, termasuk aku sendiri yang sebagi atasan kalian. Paham.... atau, tidak?" sambung Verlyn berbicara panjang lebar, untuk mengingatkan mereka.


"Pa---paham, nona?" jawab mereka secara bersamaan, sambil menunduk takut.


"Mau... pulang, atau mau tinggal disini?" tanya Verlyn, sambil menatap dingin para karyawan-karyawannya.


"Ma---mau, nona?" jawab mereka lagi.


"Lain... kali kalau ngomongin orang, lihat sekitar? Atau... gak tunggu sampai orangnya udah, pulang? Paham!" sambung Verlyn, sambil melangkah keluar dari perusahaannya dan berniat untuk segera pulang.


"Ma---maaf, nona?" ucap mereka secara bersamaan, sambil memukul dan menyenggol antara satu sama yang lain? karena, tanpa mereka sadari atasannya malah memergoki pembuatannya.


Tak berselang, dan tak kurang dari 30 menit? Verlyn pun sampai di rumah, dan terlihat mobil yang di gunakannya perlahan bergerak memasuki halaman rumahnya yang nampak luas dan megah.


Sesampainya di depan rumah?


Ceklit.


"Eekhh... nona, sudah pulang?" sahut Linda setelah membuka pintu, untuk majikannya.


Verlyn melangkah masuk, sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.


"Lin... Ezra mana, udah tidur? Tumben.. banget suaranya tak terdengar, saat aku udah pulang?" tanya Verlyn sambil melangkah masuk.


"Den... Ezra baruuu saja tidur, nona? Tadi... Den Ezra, sempat rewel? Tapi... alhamdulilah udah gak, nona?" jawab Linda memberitahu, sambil mengingat langkah majikannya dari belakang.


"Kok... bisa, memang Ezra kenapa Lin?" tanya Verlyn, sambil mendudukkan tubuhnya di atas sofa.


"Rindu... sosok Papanya kali, nona?" jawab Linda, yang sudah mengerti insting seorang anak bayi.


"Maksud... kau, apa Linda? Kalau... ngomong, jangan sembarangan ya?" sontak Verlyn dengan suara meninggi, setelah mendengar penjelasan dari pembantunya.


"Ma--maaf... nona, ma---maksud saya bukan seperti itu?" jawab Linda dengan suara terbata-bata, sambil menunduk takut karena tidak sanggup melihat wajah majikannya.


"Lalu, apaaa!" sambung Verlyn, dengan tatapan tajam dan mengerikan.

__ADS_1


"Menurut... pengalaman, saya? Bayi... seusia Den Ezra, biasanya memang seperti itu nona? Dimana... saatnya dia memang kadang-kadang, merindukan sosok Papanya?" sambung Linda menjelaskan maksud dari perkataannya barusan.


"Lalu... dimana, Ezra?" tanya Verlyn, sambil berdiri dan berniat melangkah menaiki anak tangga.


"Di---di kamarnya nona, tapi---?" ucap Linda, tak melanjutkan kata-katanya.


"Tapi, apa?" tanya Verlyn sambil melangkah menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar anaknya.


"Di---didalam---" sambung Linda, dengan kata-kata yang terus terputus.


"Apa... sih Lin, gak jelas banget?" Sedangkan Verlyn sang majikan, terus melangkah menaiki anak tangga menuju kamar anaknya.


"Di--disana---"


Ceklit.


"Ada... Tuan David, nona?" sambung Linda, baru bisa melanjutkan kata-katanya. Namun sayang, majikannya itu terlanjur membuka pintu dan masuk.


Di dalam kamar, Verlyn melangkah masuk untuk melihat keadaan anaknya. Namun, siapa sangka? Verlyn malah menemukan David, tengah tidur bersama dengan anaknya di dalam kamar. Ezra yang tidur anteng di tempat tidurnya, sedang David? Terlelap tidur di samping Ezra, dengan kepala disandarkan dipojok kiri tempat tidur anak bayi tersebut.


Tapi, entah kenapa? Verlyn bukannya marah atau menegur asistennya, karena sudah lancang masuk dan tidur bersama anaknya tanpa izin? Tapi Verlyn justru melangkah masuk, dan menghampiri mereka yang sedang tidur terlelap. Verlyn melangkah mendekati, sambil terus memperhatikan wajah asistennya yang nampak sangat tampan sekali.


***


Sementara dari luar kamar, nampak Linda masih terlihat mendar-mandir di depan tangga dengan wajah nampak sangat gelisah dan ketakutan.


"Hay... Lin, kau kenapa? Kok... mondar-mandir, di depan tangga?" tegas Murni, yang merasa bingung dengan tingkah laku temannya itu. Wajahnya nampak gelisah dan ketakutan sekali, dengan keringat dingin membasahi wajah dan juga lehernya.


"I---itu... Mur, no---nona Verlyn masuk kekamar Den Ezra? Tapi... yang menjadi kekhawatiran aku Mur, Tuan David masih ada didalam?" ucap Linda memberitahu, dengan wajah nampak pucat karena terus gelisah


"Tapi... kau sudah ngomongkan sama nona, Verlyn?" tanya Murni kepada temannya.


"Itu... masalahnya, Mur? Aku... belum sempat ngomong, tapi nona Verlyn sudah keburu masuk?" ucap Linda semakin nampak gelisah, karena takut-takut David akan terkena masalah akibat ulahnya.


"Astaga... Lin, kenapa kau jadi sebodoh ini sih? Kalau... begini caranya, runyam sudah masalahnya?" cerotos Murni memberitahu temannya, membuat Linda semakin gelisah mendengar ucapan temannya.


"Duh... Mur, bisa tidak kau jangan nakut-nakutin aku? Dari tadi... aku sudah gelisah, jangan bikin aku tambah gelisah gara-gara dengar ucapan kau?" ucap Linda kepada temannya.


***


"David?" batin Verlyn sambil melangkah menghampiri asistennya yang sedang tertidur pulas bersama dengan anaknya Ezra.


Dag... Dig... Dug.


Dag... Dig... Dug.


Saat tidurpun, wajah tampan pria itu masih terlihat jelas. Verlyn yang terus memandang, wajah tampan asistennya? Seketika merasakan detak jantungnya, mulai tak normal. Bila terus di pandang, wajah pria itu samakin nampak berkarismatik? Yang mana Verlyn, semakin di mabuk kepayang pabila terus memandang wajah tampan asistennya itu.


"Ya... Tuhan, perasaan apa lagi ini? Setiap... melihat wajah asistenku sendiri, kenapa detak jantungku seakan tak normal? Dan... Apa benar yang dikatakan Ririn, kalau diam-diam?Aku... mencintai asistenku, sendiri?" umpat Verlyn dalam hati, yang merasa kagum dengan ketampanan yang dimiliki oleh asistennya.


Eekhmmm... Uuwwaaaahhhkk.


David mengerang dan menguap, sesaat sebelum kesadarannya kembali.


Dan.


Deg.


"No---nona, anda sudah pulang?" Saat Verlyn berniat untuk menyentuh wajah tampan asistennya, kesadaran pria itu tiba-tiba kembali? Bahkan pria itu juga nampak terkejut, ketika atasannya tiba-tiba ada di depan matanya.


"Da---David?" ucap Verlyn dan alhasil, seketika wajah cantik nan mulus itu nampak memerah karena merasa gugup dan malu. Karena tanpa di ketahui olehnya, David malah tiba-tiba terbangun dari tidurnya.


"Duh... Ma---maaf nona, sa---saya ketiduran? Ta---tadi... Ezra rewel, jadi saya harus menemaninya tidur disini?" jelas David memberitahu, agar wanita di depannya tidak memarahi dirinya atas ke lancangannya tersebut.


"Tidak... apa-apa, David?" ucap Verlyn dengan lembut, sambil tersenyum penuh ketulusan.


"No---nona, a---anda tidak marah?" tanya David merasa bingung, bukannya memarahi dirinya? Namun atasannya itu, justru bersikap manis dan tersenyum kepadanya.


Hahahaha.

__ADS_1


"Ya... kali aku, marah? Kau... sudah capek-capek bantu aku ngurusin Ezra, masa iya aku malah marahin kau?" tutur Verlyn memberitahu, sambil tersenyum penuh ketulusan kepada asistennya.


Membuat hati pria itu, seketika meleleh.


"Ya... sudah, kalau begitu saya permisi dulu nona?"


Sebelum perasaannya semakin dalam, cepat-cepat David segera berpamitan untuk menghindari perasaannya yang semakin tak pantas menurutnya.


"Benar-benar... brengsek, bisa-bisanya memiliki perasaan kepada atasan sendiri? Sadar... dong David, kau tidak sebanding dengan atasanmu itu. Dasar... diri dong David, sadar diri?" umpat David dalam hati, sambil melangkah keluar dari kamar Ezra.


David terus merutuki dirinya sendiri, Karena lagi-lagi perasaannya? tidak dapat ia kendalikan, dengan baik? Bahkan dengan lancangnya, hatinya malah merasa nyaman saat melihat senyum manis terbit dari sudut bibir atasannya.


Sedangkan, Verlyn?


"Terima kasih... David, kau sudah membantumu mendiamkan bayi ku?" lirih Verlyn sambil mengucapkan terima kasih, sesaat sebelum asistennya melangkah pergi


"Sama-sama?" jawab David sambil menutup pintu kembali, setelah dirinya telah berada diluar kamar.


"Ya... Tuhan, kenapa baru sekarang kau memberiku rasa ini? Andai... dulu aku sadar, mungkin aku tidak jadi wanita pelakor dan hampir menghancurkan rumah tangga orang lain?" umpat Verlyn dalam hati, sambil menatap punggung asistennya perlahan menjauh dari pandangannya.


***


Malam hari, semakin laut. Setelah meninggalkan rumah orangtuanya, Johathan tidak langsung pulang ke rumah? Melainkan ia pergi ke sebuah club malam, untuk melampiaskan kekesalannya dengan menenggak beberapa minuman beralkohol.


Sedangkan di lain tempat.


"OMG... OMG, mimpi apa aku semalam? Du---dua bulan lagi, a--aku akan menjadi Nyonya Jonathan Bima Evander? Duh... gak sabar banget, deh?" cerotos Vindy merasa bahagia sekali, pernikahannya dengan sebentar lagi akan tiba. Tinggal menghitung hari, maka dirinya akan menjadi Nyonya Jonathan Bima Evander.


Sangking bahagianya, Vindy sampai mengibas-ngibaskan jari tangannya di bagian wajah dan juga lehernya. Vindy sudah tidak sabar lagi menunggu hari itu tiba, sambil meraih handphone miliknya di atas meja untuk menghubungi kekasihnya untuk memastikan.


Sedangkan Jonathan, di saat dirinya tengah menikmati minuman di ruang VVIP club malam? Handphone miliknya, tiba-tiba saja berdering.


Trrrrsss... Trrrrsss.📱


"Ngapain... wanita itu, menelepon ku? Dia... pikir, aku bahagia akan menikah dengannya?" kesal pria itu, langsung menggeser tombol merah untuk mengakhiri sambungan teleponnya.


Sementara di satu sisi.


"Astaga... Bab, kenapa kau tak menjawab telepon ku? Padahal... aku bahagia banget, sebentar lagi kau akan menjadi suamiku?" umpat Vindy merasa kesal, karena Jonathan tidak menjawab panggilan teleponnya.


Di tengah kekesalan Jonathan, seorang wanita penghibur tiba-tiba masuk di ruangan VVIPnya. Wanita penghibur itu melangkah masuk, sambil memamerkan body seksinya kepada Jonathan dengan memakai pakaian yang nampak kurang bahan itu.


"Siapa... yang menyuruhmu masuk kemari, Hah!" bentak Jonathan, saat wanita penghibur itu perlahan duduk diatas pangkuannya.


"Ada... apa dengan dirimu, Tuan? Sejak... tadi aku melihatmu, kau hanya seorang diri? Dan... sebagai perempuan yang baik, boleh aku menemanimu disini?" bujuk wanita penghibur itu, sambil membelai mesra wajah Jonathan dengan jari telunjuknya.


"Menyingkirklah, aku sedang tidak bersela?" ucap Jonathan dengan suara meninggi, meminta wanita penghibur itu untuk tidak mengganggu dirinya.


Namun.


"Tenang... Tuan, dan jangan malu-malu? Akan... ku pastikan semua rasa gundah dan frustasi Tuan hilang seketika, dengan permainan kita malam ini?" bujuk wanita penghibur itu, semakin merayu Jonathan untuk membercinta dengannya.


Wanita penghibur itu, semakin memepetkan tubuhnya ke dada bidang Jonethan? Agar Jonathan bisa merasakan ke kenyelang gunung kembarnya, bila tubuhnya terus menempel ke tubuh atletis pria yang bernama Jonathan Bima Evander.


Jonathan yang sudah terpengaruh minuman, di tambah tubuh seksi wanita penghibur? Mana mungkin ia bisa menolak, perlakuan wanita penghibur itu kepadanya. Sebagai pria normal, bila disuguhkan pemandangan indah? Siapa yang bisa menolak, yang ada hanya akan membangkitkan jiwa kejantanan pria semakin meronta-ronta? Bila hasrat tersebut, tidak tersalurkan dengan baik.


Wanita penghibur itu terus menggoyang-goyangkan pinggulnya, diatas pangkuannya Jonathan. Bahkan dengan sengaja membangunkan ular besar nan panjang, dari tidurnya. Hingga kini ular besar itu, meronta-ronta meminta untuk segera dikeluarkan dari sangkarnya. Meminta untuk dimanjakan, oleh permainan wanita yang sudah mengganggu tidurnya.


"Kalau... begitu, cepat lakukan tugasmu? Hilangkan... semua frustasi ku, dan puaskan aku? Tapi... ingat, jangan bikin aku kecewa?" tegas Jonathan yang mulai terbawa suasana, akibat ulah wanita dihadapannya.


Tanpa di minta, dua kali? Wanita penghibur itu, langsung berlutut di depan kedua kaki Jonathan. Wanita penghibur itu, dengan lihai menggerakkan tangannya? Membuka satu persatu peralatan yang membungkus, ular besar nan panjang tersebut. Setelah membuka sabuk celana panjang pria itu, dan lemparnya ke sembarang arah? Kini wanita itu, menarik resleting celana panjang Jonathan dan merogolnya hingga terlepas dari posisinya semula.


Bersambung.


¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿


Bijak-bijaklah dalam membaca ya, guys? Yang masih di bawa umur, tidak di perkenankan untuk membaca cerita di bagian ini.


Maaf ya guys, jika dalam cerita ku banyak mengandung hal-hal yang berbau ya gimana gitu.

__ADS_1


Hehehehe, biasa lah guys? Cerita tak akan seru, jika dalam cerita tak ada yang sedikit menarik. Yaaa contohnya ya itu?


Hehehehe, maafkan author ya guys. Dan silahkan di lanjut bacanya, terima kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2