Reinkarnasi Gadis Pelakor

Reinkarnasi Gadis Pelakor
BAB 10. Rasa di lema, dan sakit hati mendalam


__ADS_3

Maya sebenarnya sudah mengetahui kelakuan putranya, namun ia seperti tutup telinga dengan apa yang di lakukan oleh Jonathan. Karena sedari dulu, Maya memang tidak menyukai Devina menjadi menantunya.


Maya tetap mendukung hubungan Jonathan dengan Vindy, dan rela menutupi ke busukkan anaknya di depan suaminya sendiri. Menurut Maya, Devina hanyalah kotoran jalanan yang tak pantas di jadikan seorang ratu di keluarganya. Maka dari itu, ia mendukung seratus persen anaknya untuk tidak lagi berhubungan dengan istrinya itu, Devina.


"Kau... pulang lah ke rumahmu, masalah ini biar Mama yang bicara dengan Papa? Jika... Mama yang turun tangan, pasti Papa tak akan berkutik?" ucap Maya penuh percaya diri.


"Tapi... kalau Papa sampai tahu, apa penyebab Devina pergi dari rumah? Bukan... cuma jabatan ku yang akan terancam Ma, tapi aku pasti akan di lempar keluar dari perusahaan oleh Papa?" ucap Jonathan sambil melepaskan pelukan, dari Mamanya.


"Sayang... kenapa harus cemas, kan di sini masih ada Mama? Dari... awal, Mama udah gak setuju Papa menjodohkan dengan Devina? Tapi... tanpa ke putusan dari Mama, Papa tetap melangsungkan pernikahanmu dengan kotoran jalanan itu" ucap Maya tanpa perasaan, dan juga melepas pelukannya dari anaknya.


"Lalu... apa rencana Mama, untuk Papa nanti" tanya Jonathan sambil memperbaiki posisi duduknya.


"Gak... perlu tahu, ini urusan Mama?" sambung Maya perlahan berdiri, sambil menyilangkan tangan di depan dadanya.


"Ya... udah, kalau begitu Jonat pamit dulu ya Ma?" ucap Jonathan ikut berdiri, mencium pipi kanan dan kiri mamanya sebelum pergi.


"Hati-hati ya sayang?" tutur Maya juga mencepaka-cepiki kedua pipi mulus anaknya.


"Iya, Ma?"


Dan Jonathan pun, perlahan melangkah pergi meninggalkan kediaman orangtuanya.


***


Tak berselang beberapa menit, malam hari akhirnya menjelang.


Kita kembali di kediaman Gunadhya Violetta👇👇




Di ruang tamu.


Mbok Sari dan pak Nurdin tengah membaringkan Ezra di atas kasur empuk dan bantal, yang sudah di belikan tadi siang oleh Mamanya.



Ezra sangat lahap meminum susu bebelove gold yang di belikan Mamanya, memalui botol susu yang tadi siang di belikan juga Verlyn untuk anak barunya Ezra.


Verlyn perlahan menuruni anak tangga, dengan perasaan bergelayut dengan pikiran. Wanita itu bingung, harus memulai dari mana perkataannya agar tidak membuat perasaan orangtua itu sedih, mendengar kabar? jika anaknya Baim tengah bekerja di perusahaannya, menjadi manajer keuangan. Tapi juga memiliki sifat yang kurang baik, karena mencuri uang di perusahaan.


Verlyn bingung harus melakukan apa, kini perasaannya benar-benar di lema? Ingin sekali Verlyn menghukum dan menjebloskan pria itu ke dalam penjara, namun Verlyn juga tidak enak? Karena orangtua Baim, pernah menolong dirinya dari kecelakaan maut.


Dan kegelisahan wanita itu, tak lepas dari pandangan sang asisten David Guetta Titanium. Pria yang sejak tadi mencuri-curi pandang ke arah wanita, yang tengah berjalan menghampiri anaknya dan orangtua itu.


Eekhmmm.


"Mbok... pak, Devina ingin bicara. Tapi... Mbok dan bapak, jangan marah atau tersinggung dulu ya? Karena... Devina yakin, ini pasti akan menyakiti perasaan mbok dan bapak?" ucap Verlyn dengan selembut mungkin, sambil menggunakan nama wanita pernah di tolong oleh mereka.

__ADS_1


"Memang... mau bicara apa duk Devina, ke dengarannya serius sekali. Bapak dan mbok, jadi penasaran jadinya?" tanya pak Nurdin.


"Aku... udah tahu, di mana keberadaan anak mbok dan bapak bernama Baim? Tapi---"


"Yang, serius kamu duk, di---di mana dia sekarang a---apa dia baik-baik saja dan ba---bagaimana kehidupan dia dan keluarganya?" ucap mbok Sari dengan begitu bahagianya karena mendengar ucapan wanita yang ada di sampingnya, dan bertanya begitu banyak pertanyaan soal kondisi kehidupan anaknya itu. Membuat wanita duduk di sampingnya, semakin di landa rasa di lema yang semakin mendalam.


"Hmmm... kondisi anak mbok dan bapak, baik-baik saja? Dia... bekerja di perusahaan Gunad corp, sebagai menajer keuangan? Anak... dan istrinya juga sangat baik, pak mbok?" jelas Verlyn sedikit mengarang cerita, untuk membuat perasaan orangtua itu lebih tenang dan bahagia.


"Tapi... Vindy bagaimana, kondisinya duk? Apa... dia juga sudah kamu temukan, duk?" sahut pak Nurdin penuh harapan, dan sedikit membuat bengong wanita di depannya setelah menyebut nama anak perempuannya.


"A---apa tadi pak, Vi---Vindy? Vi---Vindy siapa ya pak, hmmm apa bapak ingat dengan ciri-cirinya bagaimana?" tanya Verlyn untuk memastikan, sebelum menyimpulkan pendapatnya. Wanita bernama Vindy di dunia ini bukan cuma satu atau dua orang saja, tapi banyak? Bukan cuma sahabatnya, yang sudah ia tahu karakter asli nya seperti apa.


Wanita ******, yang suka merebut suami orang. Termasuk suami wanita yang tengah ia pinjam tubuhnya, kecelakaan mobil karena memergoki suaminya sedang berselingkuh dengan sahabat sendiri.


"Ciri-cirinya... wajahnya cantik seperti kamu duk, punya rambut sebahu. bibir kecil tipis, hidung besar tapi sedikit mancung. dan memiliki bola mata coklat kemerah-merahan?"


Deg.


Seakan nafasnya berhenti seketika, mendengar penjelasan bapak tua di hadapannya itu. Wanita yang tega merebut suami sahabatnya sendiri, ternyata adalah anak pak Nurdin dan juga mbok Sari? Orangtua yang telah menolongnya dari kecelakaan maut, karena perbuatan anak perempuannya sendiri. Yang katanya sudah menikah dan pindah, karena ikut dengan suaminya ke kota. Tapi tanpa sepengetahuan orangtuanya, ternyata anaknya telah mengkhianati suaminya sendiri karena berselingkuh dengan suami sahabatnya sendiri.


Perasaan di lema kini benar-benar merasuki diri wanita itu. Bukan hanya perasaan di lema, tapi perasaan sakit hati yang teramat dalam. Namun, dengan segala kesabaran? Wanita itu berusaha, menyembunyikan semua itu dari orangtua yang ada di hadapannya.


"David, bisa kah kau kemari sebentarrr!!" panggil Verlyn dengan rahang yang sudah mengeras, dan terlihat sangat berusaha menyembunyikan kemarahan.


Pria yang semula berdiri tegak, langsung berlari meninggalkan tempat karena sebuah suara tiba-tiba mengagetkan nya.


"Sa---saya, nona?" Pria itu sedikit tergagap, setelah berdiri tegak di hadapan wanita yang telah memanggilnya barusan.


"Apa... yang terjadi, kenapa nona Verlyn tiba-tiba marah seperti ini? Jangan-jangan... perkataan orangtua itu, telah menyakiti hati---"


"Jawab, David!! Kalau... di tanya jawab dong, jangan diam saja!!" tegas Verlyn dengan kemarahan yang semakin menjadi-jadi, bahkan melampiaskan kemarahannya kepada David asistennya sendiri.


"Be---belum, nona?" jawab David semakin tergagap, mendapati kemarahan atasanya begitu sangat tiba-tiba.


"Di mana foto itu, tunjukkan pada ku sekarang?" tanya Verlyn semakin menunjukkan muka seramnya, menatap wajah David sang asisten.


Kemarahan Devina kini sudah menyatuh ke dalam roh Verlyn, yang membuat wanita itu memiliki kemarahan yang tidak terkontrol.


Bahkan Ezra yang semula tenang, menjadi tiba-tiba menangis setelah mendengar teriakan oleh Mamanya. Baru kali ini mbok Sari dan pak Nurdin melihat kemarahan wanita itu, yang membuat mereka juga ikut tersentak kaget. Kini mereka berusaha mendiamkan bayi tersebut, agar bisa berhenti menangis.


"I---ini, nona?" jawab David sambil menyodorkan selembar foto itu kepada atasannya.


Dan setelah memastikan, ternyata foto itu benar-benar sangat usang?


"Pantas... saja David tidak bisa menemukannya, ternyata foto wajah ****** ini memang tidak jelas?" umpat Verlyn dalam hati, setelah memperhatikan foto tersebut.


Kemudian.


"Maaf... kalau aku sudah membuat kalian takut, dan terkejut? Tapi... aku mohon mbok pak, tolong bawa Ezra ke kamar sekarang juga?" jelas Verlyn atau Devina berusaha sedikit lembut kembali.

__ADS_1


"Baik, duk?" jawab mbok Sari, sambil mengangguk dan perlahan membawa Ezra ke dalam gendongannya.


"Dan... maafkan kami juga duk, karena kami duk sampai repot mencari anak-anak kami?" sahut pak Nurdin, sembari meminta maaf.


"Aku... sudah berjanji pada kalian, jadi ini bukan salah mbok atau bapak?" tutur Verlyn sedikit lembut lagi, untuk menjaga perasaan mereka.


"Kami... permisi dulu, duk?" ucap mbok Sari, pamit untuk naik ke atas.


"Tunggu, sebentar!" ucap Verlyn tiba-tiba menghentikan langkah mereka.


"Ada apa, duk?" tanya mbok Sari.


"Besok.... kalian siap-siap, karena besok aku mau mempertemukan kalian sama seseorang?" ucap Verlyn.


"Siapa, dok?" tanya pak Nurdin penasaran.


"Bertemu... Baim dan Vindy besok, pak mbok?" ucap Verlyn


"Beneran, duk?" sahut mbok Sari dengan begitu bahagia.


"Tapi, dengan satu syarat?" sambung Verlyn, kemudian melontarkan sebuah i syarat kepada mereka berdua, serta senyum tak pernah luntur namun nampak seperti di paksakan.


"syarat apa, duk?" tanya pak Nurdin semakin penasaran.


"Bapak dan mbok harus ikutin semua apa yang aku perintahkan, salah satunya besok kalian harus melakukan penyamaran? Kalau kalian setuju, besok aku bawa kalian bertemu mereka?" jelas Verlyn memberitahu, sambil menaikkan satu alisnya melirik kearah kedua orangtua yang ada di sampingnya.


Terlihat dari mereka berdua saling menatap satu sama lain, kemudian perlahan memutuskan.


"Baik... duk, kami setuju?" jawabnya secara bersamaan.


"Oke, kalau begitu besok kalian siap-siap ya?" sambung Verlyn dengan menampilkan senyum terpaksa untuk menyembunyikan perasaan, sekaligus agar orangtua itu tidak menaruh curiga kepadanya.


"Terima kasih duk, kalau begitu kami permisi ke atas dulu?" jawab mbok Sari sambil mengucapkan terima kasih.


"Silahkan dan selamat istirahat?" kemudian di balas anggukan kepala, serta senyum mengembang dari sudut bibir wanita itu sambil melambaikan tangan kepada anaknya yang kini mulai tenang kembali.


Bersambung.


¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿


Nah... loh, penasaran kan dengan ceritanya. Oke, sebelum author lanjut jangan lupa tinggalkan jejak dulu dong.


Vote👈


Like♥️


Komentar 💌


And Favoritkan😍

__ADS_1


See you again And terima kasih 🤗🤗🤗.


__ADS_2