
Selang dua minggu, hari persidangan cerai pun tiba. Di pengadilan agama, Maya pun memutuskan tanggal persidangan putranya dengan Devina.
Dari pihak Jonathan, pria itu merupakan kalangan dari orang kaya raya. Menyewa jasa seorang pengacara, bagi Jonathan itu tidak akan membuat dirinya bangkrut. Berbeda dengan Devina yang merupakan dari kalangan menengah, menyewa jasa seorang pengacara, mungkin Devina tidak sanggup.
Dan tidak kurang lebih dari jam 10 pagi, Jonathan datang penuh percaya diri. Ia melangkah masuk ke ruang persidangan dengan begitu gagahnya. Sementara di sampingnya, Vindy merangkul mesra lengan kekasihnya.
Begitupun dengan Maya, tak kalah sombong dari putranya. Ia melangkah masuk, sambil mendorong kursi roda suaminya, dari belakang.
Dan tepat 15 menit kemudian, nampak Devina datang dengan penampilan yang sangat berbeda. Devina datang bersama dengan seorang pengacara, yang lebih terkenal? Daripada pengacara yang di sewa oleh Jonathan, yang sebagaimana sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.
Oke, kurang lebih seperti inilah penampilan Verlyn dan Devina kalau menurut versi dari author. Kalau kurang setuju, tolong di komentar di kolom komentar di bawa ya guys👇👇.
Oke... terima kasih, dan lanjut lagi ya🤗🤗.
***
Jonathan yang semula duduk penuh percaya diri, seketika terkejut melihat kehadiran Devina? Yang begitu cantik dan anggun.
Selain merubah penampilan, wanita itu juga datang sambil membawa seorang pengacara? Yang paling terkenal, di kota Jakarta.
Begitupun Ririn dan Dita, juga turut hadir mendampingi Devina dalam sidang tersebut.
Sejak kedatangan Devina, nyali Jonathan tiba-tiba saja menciut. Jonathan terus memperhatikan penampilan Devina yang nampak lebih cantik dan anggun, daripada wanita yang tengah bersamanya.
Jonathan ingin sekali menegur Devina, namun wanita itu seakan tidak berniat untuk melihat ataupun melirik ke arahnya. Hingga pada akhirnya, Jonathan pun mengurungkan niatnya.
Mereka duduk saling berdampingan, tetapi keduanya sama-sama tidak saling bertegur sapa. Dari lubuk hati Jonathan, muncul sebuah keraguan untuk menceraikan Devina. Bahkan di hatinya muncul rasa penyesalan, namun sayang? Jonathan terlalu gensi, untuk mengaku itu semua.
Hingga kemudian Majelis hakim dan beberapa petugas di persidangan, mulai memasuki ruangan persidangan.
Bertanda bahwa persidangan perceraian antara mereka berdua, sebentar lagi akan segera di mulai.
"Selamat... siang, semuanya? Di tempat ini, akan berlangsung sidang gugatan perceraian antara pihak penggugat yaitu Saudara Jonathan Bima Evander dengan Saudari Devina Stefani Germanotta sebagai pihak tergugat. Apakah itu benar?" ucap Majelis hakim memulai persidangan.
Baik Devina maupun Jonathan, mereka sama-sama menganggukkan kepada. Hingga kemudian Majelis hakim, mengetok palu sebagai fakta bahwa persidangan telah di mulai.
"Jadi... saudara Jonathan, tolong anda jelaskan? Mengapa... anda menggugat cerai istrinya anda, karena disini tercatat bahwa pernikahan kalian tidak mengalami masalah apapun?" tanya Majelis hakim kepada Jonathan.
Pria itu perlahan mengangkat wajahnya, dan menatap Majelis hakim. "Karena... sebagaimana alasan saya untuk menceraikan istri saya, yaitu karena istri saya sering kali melalaikan tugas-tugasnya sebagai seorang istri?" Tutur Jonathan mulai membuka suara.
"Bila... saya berkata A, maka istri saya akan berkata B? Menurut... saya pak hakim, Devina itu bukanlah wanita yang baik? Mungkin... menurut pak hakim, rumah tangga saya tidak mengalami masalah apa-apa? Tapi... perlu pak hakim tahu, istri saya ini sangat pintar bermuka dua? Sudah... beberapa bulan ini, dia tidak pulang pak hakim? Dan... entah pria mana, yang menemani tidurnya selama ini?" ucap Jonathan berbicara panjang lebar, namun kenyataannya itu semua tidak benar adanya.
"Kurang... ajar, berani sekali pria ini memutar balikkan fakta? Andai... bukan di ruangan persidangan, mungkin aku sudah memberinya pelajaran?" umpat David dalam hati, mendengar semua kebohongan dari mulut pria yang merupakan suami dari atasannya. Mendengar itu semua, tanpa sadar tangan David sudah menggepal sangat erat dan siap untuk memukul wajah Jonathan.
"Saya... sebagai suaminya, sangat merasa malu pak hakim? Sebagai... suami, saya tidak sudi lagi mempertahankan wanita seperti dia, menjijikan!" sambung Jonathan memberitahu. Namun kenyataannya, itu semua tidak benar adanya. Melainkan itu semua adalah kebohongan semata.
Saat Jonathan menjawab pertanyaan Majelis hakim, terlihat ada seorang petugas berita acara yang mencatat seluruh perjalanan proses persidangan. Hingga bunyi ketikan dan papan keyboard, menyertai Jonathan saat menjawab.
Majelis hakim itu mendengarkan semua jawaban dari Jonathan. " Apakah... saudara, bisa memberikan buktinya?" tanya Majelis hakim sekali lagi.
Dan Jonathan pun mengangguk, dan terlihat Maya berdiri dari kursinya? Kemudian menyerahkan handphonenya, yang berisi sebuah rekaman suara? Kepada petugas, sebagai jawaban, bahwa mereka memiliki bukti. Atas perselingkuhan menantunya.
Sedang Bagaskara, hanya terdiam, melihat semua kejadian istrinya dalam memfitnah menantunya sendiri.
__ADS_1
"@@@khh... say4n9, pelan-pelan s4yan6 444khh?"
"S4bar... d0ng s4yan6, sebentar lagi kita k3lu4rrr?" desis rekaman suara dari handphone tersebut, yang memperdengarkan suara d3s4h4n seorang wanita dengan pasangannya.
Suara rekaman itu di putar di depan sebuah mikrofon, yang bisa di dengar oleh semua orang yang menghadiri persidangan tersebut.
Di sisi lain, Verlyn tidak menyangka? Devina bisa memiliki mertua yang sangat jahatnya. Demi membela anaknya, ia rela merekayasa suara rekaman tersebut. Dan bagi orang lain mendengar pun, sontak mereka langsung menutup telinga mereka masing-masing dan menatap jijik ke arah dirinya.
"Saudari... Devina, apakah hasil rekaman itu adalah benar suara rekaman anda?" tanya Majelis hakim kepada Devina.
Sebelum menjawab, wanita itu nampak menoleh kearah pengacaranya? Dan setelah di anggukan kepala, Verlyn pun mulai berdiri dan menjawab pertanyaan Majelis hakim.
"Tidak... pak, hakim? Hasil... rekaman suara itu, bukan milik saya. Dan... saya dapat menyimpulkan, bahwa rekaman itu sudah di rekayasa?" jelas Verlyn begitu santai dan tegas.
Di raut wajahnya sama sekali tak terlihat tanda-tanda, kemarahan ataupun kegelisahan. Karena takut semua rahasianya akan terbongkar, namun wajah Verlyn malah menunjukkan reaksi sebaiknya. Wanita itu dengan santai menjawab pertanyaan yang di lontarkan Majelis hakim kepadanya.
"Apa... maksud mu, dan apa kau punya bukti?" sahut seorang pengacara yang di sewa oleh Jonathan, menimpali ucapan Verlyn.
Haaaahh!
Verlyn nampak menghela nafas panjang, lalu kembali membuka suara.
"Pak.. hakim, sebenarnya saya malas menjawab pertanyaan mereka? Sudah... jelas mereka tidak menyukai saya, untuk apa saya menunjukkan bukti kepada mereka? Tapi... intim, saya ingin segera bercerai dengan suami saya? Karena... saya tidak sudi, menjalin hubungan dari keluarga yang tidak tahu malu?" jelas Verlyn memberitahu, yang berbicara nampak sangat berwibawa dan tegas.
"Hay.. apa maksudmu, kau mengatakan keluarga kami tak tahu malu? Astaga... jelas-jelas kau adalah istri tak tahu malu, malah mengataki keluarga kami?" sahut Maya yang tidak terima mendengar perkataan yang di lontarkan oleh Verlyn, ia berdiri dan menimpali ucapan wanita itu.
Dan
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukkan palu, dan terdengar Majelis hakim menegur untuk menenangkan suasana. Sedangkan Verlyn hanya melirik santai, wajah wanita paruh baya tersebut, lalu kembali duduk di kursinya.
"Saudari... Devina, apa alasan anda mengatakan hal itu dan apakah anda mempunyai bukti?" tanya Majelis hakim kepada Devina lagi.
"Jelas-jelas... buktinya sudah ada di depan mata, anda masih bertanya pada saya pak hakim?" tutur Verlyn melirik Jonathan, dan Majelis hakim mendengarkan secara seksama setiap kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu.
"Putusan... pengadilan, belum keluar? Tapi... Tuan Jonathan yang terhormat, terang-terangan membawa wanita selingkuhannya masuk ke dalam persidangan ini?" tutur Verlyn dengan begitu tegas, menunjukkan kursi di mana Vindy sedang mendudukkan tubuhnya.
"Sudahlah... pak hakim, saya adalah type orang yang tidak suka berbasa-basi? Jika... perceraian adalah jalan pintas, sebaiknya pak hakim segera putuskan saja? Karena... sejujurnya, saya paling malas berurusan dengan orang-orang seperti mereka?" tegas Verlyn begitu sangat berwibawa, meminta Majelis hakim segera memutuskan sidang perceraiannya dengan Jonathan.
Terdengar helaan nafas panjang dari Majelis hakim, hingga kemudian beliau kembali membuka suara.
"Apakah... tidak ada itikad untuk berdamai, saudari Devina?" tanya Majelis hakim kepada Devina.
Dengan cepat Verlyn menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak ada waktu dan tidak perlu mediasi? Hari... ini juga, segera putuskan perceraian ini pak hakim?" jawab Verlyn dengan nampak berkaca-kaca.
"Bagaimana... dengan anda sendiri saudara, Johathan? Apakah... anda beritikad damai dan ingin memperbaiki kelakuan anda sebagai seorang suami?" giliran Majelis hakim melempar pertanyaan kepada Jonathan.
Sama halnya dengan Verlyn, pria itu pun menggelengkan kepalanya. "Tidak... pak hakim, keputusan saya sudah bulat? Dan... tidak bisa di ganggu gugat, lagi?" jelas Jonathan yang nampak penuh percaya diri, untuk segera menceraikan istrinya.
Majelis hakim pun menatap Devina dan Jonathan, di hadapannya kini dua pasangan muda yang masa-masa memiliki usia pernikahannya uang juga masih terlalu muda. Namun di antara mereka tidak ada itikad baik untuk saling berdamai. Dan sebagai Majelis hakim yang sudah berkali-kali memimpin sidang perceraian, Majelis hakim itu nampak menghela nafasnya kembali dan memandang Devina dan juga Jonathan secara bergantian.
__ADS_1
"Sekarang... saya ingin menanyakan hal yang sifatnya lebih tertutup, yang sifatnya sedikit privasi. Namun harap kalian berdua tolong jawab yang jujur. Apakah... selama menikah, saudara Jonathan dan saudari Devina pernah melakukan hubungan suami dan istri?" tanya Majelis hakim pada akhirnya.
Pertanyaan yang memang bersifat privasi, namun tidak bermaksud menyinggung atau berkaitan dengan stereotif gender. Tapi justru pertanyaan ini di tanyakan untuk mengambil keputusan yang berkaitan dengan Kompilasi Hukum Islam.
Mendengar pertanyaan tersebut, Jonathan dan Verlyn sama-sama menundukkan kepala. Di satu sisi mereka malu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sementara di sisi lain, Majelis hakim meminta keduanya untuk menjawab.
"Sudah?" jawab Verlyn dengan cepat.
"Apa... dari hubungan itu, kalian sudah memiliki anak?" tanya Majelis hakim lagi kepada Devina.
"Sudah?" jawab Verlyn dengan cepat.
Helaan nafas panjang terdengar dari Majelis hakim lagi, kemudian beliau mulai membuka suaranya.
"Selamat... siang semuanya, mengingat dan menimbang sidang gugatan cerai yang dilayangkan oleh penggugat atas nama Jonathan Bima Evander terhadap tergugat yaitu saudari Devina Stefani Germanotta, serta keputusan dari kedua belah pihak yang keduanya menolak mediasi? Dan... untuk mencari jalan tengah atau solusi dari permasalahan Rumah Tangga yang kini di jalani, maka?" ucap Majelis hakim yang pada akhirnya mengumumkan sidang perceraian antara mereka berdua.
"Pertama... pengadilan agama Negeri Provinsi DKI Jakarta memutuskan, bahwa perceraian dari Saudara Jonathan Bima Evander dan Devina Stefani Germanotta. Sebagaimana... telah di sepakati oleh kedua belah pihak, maka perceraian ini pun di kabulkan. Sah!" ucap Majelis hakim, mengumumkan.
"Kedua... menilik dari Kompilasi Hukum Islam, bahwa kedua pasangan sudah pernah melakukan hubungan badan. Maka menurut istilah ustadz abdul somad, perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya memiliki masa iddah selama 4 bulan 10 hari? Sementara... perempuan yang ditalak cerai suaminya, memiliki masa iddah selama 3 bulan?" sambung Majelis hakim, kembali mengumumkan.
"Ketiga... mengenai nafkah yang akan di berikan oleh saudara Jonathan, tetap akan memberikan nafkah untuk sebagai pengganti kebahagiaan selama menikah untuk Devina dan anaknya selama tiga bulan lamanya. Demikianlah... putusan ini diterapkan dan disahkan di Jakarta, tanggal 27 Oktober 2022." ucap Majelis hakim, yang akhirnya memutuskan sidang perceraian antara Jonathan dan juga Devina.
Kemudian di lanjutkan dengan tiga kali ketokkan palu, oleh Hakim yang menjadi tanda bahwa pernikahan keduanya telah resmi berakhir.
Tidak di pungkiri, perceraian selalu membawa atmosfer kesedihan. Itu juga yang di rasakan Verlyn saat ini. Wanita itu bahkan memejamkan matanya, dengan dramatis saat Hakim menyebut putusan cerai siang hari itu.
Akan tetapi, tidak di pungkiri di sisi lain. Verlyn merasa lega, bebas, dan bahagia. Tali kekang kuda yang salam ini menjerat lehernya, perlahan telah di lepaskan. Hanya saja terlintas wajah wajah Papa Bagaskara dipikirannya saat ini. Selama menjalin pernikahan dengan Jonathan, hanya Papa Bagaskara yang menganggap dirinya kayaknyab sebuah keluarga.
Di satu sisi, Jonathan hanya menunjukkan wajah datar saat pembacaan putusan perceraiannya. Pria itu sudah membulatkan tekadnya untuk menceraikan Devina. Semakin cepat, justru semakin baik adanya.
Semenjak Vindy, nampak tersenyum di sudut bibirnya. Wanita itu berharap, usai putusan perceraian antara Jonathan dan Devina. Langkahnya untuk menjadi menantu tunggal Bagaskara Evander akan kian mulus.
"Saat... yang di tunggu, telah tiba. Jonathan... dan Devina, akhirnya sudah bercerai. Resmi berakhir. Kini... aku hanya perlu memasang strategi, agar Jonathan segera menikah ku. Hanya... aku yang pantas dan layak, menjadi Queen Lady di keluarga Bagaskara Evander. Hahahaha---?" gumam Vindy dalam hatinya sendiri.
Bahkan wanita itu, nampak beberapa tempat tersenyum sendiri. Membayangkan, bagaimana cara dirinya akan menjadi Nyonya Jonathan Bima Evander. Satu-satunya menantu, dari ada salah satu dari Taipan yang sangat terkenal di Ibukota.
Usai putusan sidang perceraian, Pengadilan Agama Islam pun. Memberikan akta perceraian kepada Johathan dan juga Verlyn. Dan usai itu semua, keduanya dipersilahkan untuk saling berjabat tangan.
Terlihat enggan, tetapi Jonathan dan Verlyn tetap berjabat tangan? Sekalipun sebagai bentuk formalitas saja. Setelah itu semua, seluruh rangkaian persidangan telah usai. Verlyn memilih untuk meninggalkan ruang persidangan terlebih dahulu, Sementara Jonathan nampak masih mengamati akta perceraiannya yang masih ia genggam di tangannya.
Bersambung.
¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿
Huuufh... lega rasanya guys, akhirnya Devina resmi bercerai dengan suaminya. Menarik bukan😉. Tapi sebelum dilanjut ceritanya, ada baiknya readers tinggalkan jejak dulu👍. Agar author terus bersemangat dalam berkarya 😁.
Dan.
Bijak-bijaklah dalam membaca ya, guys? Yang masih di bawa umur, tidak di perkenankan untuk membaca cerita di bagian ini.
Maaf ya guys, jika dalam cerita ku banyak mengandung hal-hal yang berbau ya gimana gitu.
Hehehehe, biasa lah guys? Cerita tak akan seru, jika dalam cerita tak ada yang sedikit menarik. Yaaa contohnya ya itu?
Hehehehe, maafkan author ya guys. Dan silahkan di lanjut bacanya, terima kasih 🙏🙏🙏
__ADS_1