
30 menit kemudian, mobil mewah itu pun berhenti di depan sebuah gedung besar tinggi menjulang. David keluar dari mobil, sambil memutar ke samping kiri untuk membuka kan pintu mobil untuk Verlyn yang sedang duduk di kursi penumpang.
Baru selangkah kaki Verlyn keluar, namun sudah terlihat beberapa karyawan yang berdiri mengambil posisi berbaris untuk menyambut atasannya datang.
"Selamat pagi nona, Alexa?"
"Pagi nona, Alexa?"
"Pagi nona?"
Begitulah sapaan yang keluar dari mulut para karyawan, yang membuat Verlyn merasa aneh. Ia melangkah masuk lift khusus untuk CEO, sambil mengangguk beberapa kali.
Verlyn melirik tajam asistennya, ketika sudah berada di dalam lift. Bukannya memperbaiki cara penyebutan, malah mereka terdengar sengaja memanggil atasannya dengan nama lain.
"Ada apa ini, David!" tanya Verlyn dengan tegas sambil melirik tajam asistennya yang tengah berdiri tepat di sampingnya.
"Ini... memang kerjaan saya, nona? Kemarin... saya menginfokan kepada seluruh karyawan, bahwa perusahaan ini yang menjalankan sekarang adalah nona Alexa saudara sepupu jauh anda nona?" jelas David memberitahu.
"Apa tujuannya?" tanya Verlyn sambil menaikkan satu alisnya, yang mengintimidasi asistennya.
"Agar... mereka tidak kaget, nona? Jika... mereka tahu anda belum meninggal, otomatis mereka semua pasti akan sangat terkejut? Apalagi... mereka semua hadir, di upacara pemakaman anda kemarin?" jelas David memberitahu semua kepada Verlyn atasannya. Membuat wanita di sampingnya, perlahan terdiam mendengar semua penjelasannya.
"Ya.. udah gak apa-apa, itu malah bagus?" ucapnya, dan perlahan terdiam kembali.
"Jawaban... nona Verlyn kok seperti itu, apa sebenarnya dia marah?" batin David, sedikit mencuri-curi pandang ke arah wanita di sampingnya.
Sedangkan wanita di sampingnya.
"Baguslah... jadi aku tidak perlu beralasan lagi, di depan Abimanyu nanti?"
Justru merasa lega dengan tindakan asistennya, tanpa di suruh David sudah melakukan yang terbaik untuk nya.
Ting.
Pintu lift terbuka, dan mereka melangkah keluar dalam keheningan. Setelah percakapan singkat itu, mereka sama-sama memilih untuk tetap diam saja tanpa berniat untuk saling menyapa satu sama lain.
"Elvina, apa perusahaan dari PT. Sanjaya udah datang?" tanya Verlyn setelah sampai di depan meja sekretaris nya.
"Belum... nona, tapi mereka mengubah jadwal pertemuan?" jawab Elvina memberitahu.
"Di mana?" tanya Verlyn.
"Restoran pelangi, yang tempatnya tidak jauh dari perusahaan kita nona?" jawab Elvina memberitahu.
"Hah... restoran, pelangi? Tempat... itukan, tempat yang sering aku datangi untuk berkencan dengan Abimanyu?" umpat Verlyn dalam hati, sambil bernostalgia dengan masa lalunya.
"Ya... udah, kita ke sana sekarang juga?" tegasnya, dan langsung mengajak sekertarisnya dan juga asistennya untuk ke restoran itu, untuk mengadakan pertemuan dengan mantan kekasih nya.
"Bertemu... pria itu, apa nona Verlyn akan kembali seperti dulu? Bercinta... dengan pria itu, dan menjadi wanita pelakor lag?" umpat David, sambil mengikuti langkah atasannya dari belakang.
"Abi... Abi, kau memang tidak pernah berubah? Bisa-bisanya... mengajak ku meeting, di tempat itu lagi?" umpat Verlyn dalam hati yang merasa sedikit kesal, dengan pria yang pernah menjalin hubungan dengan nya.
__ADS_1
***
Tak kurang dari dua menit, mereka pun sampai di restoran pelangi yang di katakan Elvina sang sekretaris.
"Itu... mereka, nona?" jawab Elvina memberitahu.
"Iya... aku, tahu?" ketus Verlyn, membuat sang sekretaris langsung menunduk malu.
Sementara David, melihat wanita itu di perlakukan demikian. Ia pun mengulurkan tangan, mengelus pundak wanita itu untuk menyemangati sambil tersenyum.
"Terimakasih, Tuan?" lirih Elvina mengucapkan terima kasih, dan membalas senyuman pria yang ada sedang berjalan di sampingnya.
Sementara, Verlyn sudah berjalan duluan bertemu dengan Abimanyu untuk segera mengadakan pertemuan meetingnya.
"Hay... nona Alexa, selamat pa---?" sapa Abimanyu mencoba untuk bersikap lebih marah
Namun.
"Tidak... perlu basa-basi, langsung saja kita adakan meetingnya?" ujar Verlyn perlahan menarik kursi sambil mendudukkan tubuhnya, tanpa membalas sapaan dan uluran tangan pria itu.
"Astaga... nona Alexa, anda terlalu serius sekali? Ayolah... nona bersantai sedikit, waktu masih panjang?" tutur Abimanyu tersenyum, lalu berniat menggenggam tangan wanita itu untuk merayu.
"Tolong... jaga sikap anda Tuan, atau kerjasama kita batal?" tolak Verlyn, sambil menghempas tangan Abimanyu dari tangannya.
"Elvina... ayo cepat, duduk? Setelah... pertemuannya selesai, kita segera tinggalkan tempat ini?" sambung Verlyn dengan tegas, sambil meminta sekertarisnya untuk segera duduk, agar bisa langsung menjelaskan detail kerja sama antara perusahaannya dengan perusahaan mantan kekasihnya.
Hmmmm.
"Dunia... ini, memang sempit? Setelah... sekian lama aku menjalin hubungan dengan ****** itu, bisa-bisanya aku baru tahu? Kalau... dia, punya sepupu cantik dan seksi seperti kau?" ucap Abimanyu berbicara panjang lebar, untuk memberitahu. Namun tanpa ia sadari, wanita yang ia sebut ****** ada di depan matanya.
"Tapi... baguslah, dia sudah mati? Jadi... aku bisa buka lembaran baru, dengan wanita yang benar-benar aku cin---"
Membuat Verlyn marah, dan langsung berdiri dari kursinya.
"Aku... bukan Verlyn, yang bisa kau rayu dengan mudah!!" pekik Verlyn dengan wajah penuh amarah, bahkan netra matanya memerah seperti ingin menelan manusia hidup-hidup.
"Berhenti... bersikap seperti itu, Tuan? Atau... kerjasama kita, aku batalkan saat ini juga!!" ucap Verlyn benar-benar tidak terima dirinya di perlakukan demikian.
Bukannya sedih, kekasihnya meninggal dunia? Abimanyu justru sangat bahagia, wanita selingkuhannya telah tiada? Agar dirinya bisa membuka lembaran baru, bersama dengan sepupu dari mantan kekasihnya.
Merasa di abaikan oleh pria itu, dengan kemarahan? Verlyn pun berniat meninggalkan tempat itu. Namun.
"Akan... ku pastikan kau akan menyesal, telah memutuskan kerjasama secara sepihak? Aku... yakin, kau akan rugi besarrr!!"
PLAK!
"Aku... tidak akan pernah menyesal, mengerti!!" ucap Verlyn dengan tegas, setelah melayangkan satu tamparan ke wajah pria itu.
"Sebaiknya... kau, pulang? Di rumah... masih ada orang yang setia menunggumu, pulang? Kau... urus dia, nafkahi dia jangan melirik wanita lain?" sambung Verlyn tegas, sambil menatap tajam pria di hadapannya.
Verlyn sengaja memberi peringatan keras, agar pria itu menyadari semua kesalahannya. Setelah melontarkan kata-katanya, Verlyn pun segera meninggalkan restoran itu, di ikuti David dan Elvina sang sekretaris dari belakang.
__ADS_1
"Sekali... ******, tetap ******? Dan... akan ku pastikan, kau akan bertekuk lutut di hadapan ku?"
Abimanyu, bukannya menyadari kesalahannya? Ia justru berniat buruk kepada wanita yang telah mempermalukan dirinya di depan umum.
"Bekas... tamparannya memang, sakit? Tapi... ku pastikan, dia akan menjadi penghangat ranjang ku suatu saat nanti?" gumam Abimanyu mengelus lembut bekas tamparan Verlyn di wajahnya, lalu dengan mesumnya? Ia mendengus wangi harum, bekas parfum yang menempel pada wajahnya.
***
Sedangkan David, semakin merasa takjub dengan perubahan sikap wanita yang ada di hadapannya itu. Sungguh perubahan yang sangat baik, menurutnya. Meskipun ia tahu atasannya pernah memiliki hubungan gelap, dengan pria itu. Namun pria itu merasa bangga, karena wanita itu ingin berubah menjadi wanita yang lebih baik.
Begitupun dengan Verlyn, dalam hatinya saat ini bukan lagi rasa cinta untuk pria itu? Melainkan rasa benci dan ilfil, karena ia baru sadar pria itu bukan yang terbaik untuknya.
Setelah menempuh jarak sekitar 15, akhirnya mereka tiba di perusahaan. Mereka bertiga menuju lift, dan naik bersama menuju ruang mereka masing-masing.
"Elvina?" panggil Verlyn ketika sudah berada di lantai tiga gedung besar itu.
"Iya, nona?" jawab Elvina sambil membungkuk untuk memberi sedikit penghormatan.
"Bagaimana... perkembangan usaha properti, kita? Apa... ada yang kurang, atau bagaimana?" tanya Verlyn, saat berdiri tepat di depan pintu ruangannya.
"Sejauh... ini masih lancar nona, gak ada yang kurang sama sekali?" jawab Elvina setelah mengecek laporan yang ada di laptopnya.
"Pertambangan?" sambungnya memastikan terlebih dahulu, sebelum masuk ruangan.
"Masih, aman nona?" jawabnya menimpali ucapan atasannya.
"Kalau... ada masalah atau ada yang kurang cepat kasih tahu aku ya, jangan seperti tadi? Bukannya... untung, malah buntung?" jelas Verlyn, kembali mengingatkan.
"Baik, nona?" jawab Elvina, kemudian Verlyn perlahan masuk ke dalam ruangannya. Yang mana David, begitu sigap membuka pintu untuk atasan.
"Tidak, ada jadwal kan David?" tanya Verlyn sambil melangkah menuju kursi kebesarannya.
"Seperti... yang tadi saya, katakan? Jadwal... siang ini sampai sore nanti, belum ada nona?" jawab David memberitahu, sambil berdiri tepat di samping meja atasannya.
"Bagus... kalau begitu, ayo temani aku keluar sebentar?" ucap Verlyn kembali berdiri dari kursi kebesarannya.
"Kemana, nona?" jawab David bingung.
"Beli, peralatan bayi?" sambungnya, sambil melangkah untuk membuka pintu.
Bersambung.
¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿
Nah... loh, penasaran kan dengan ceritanya. Oke, sebelum author lanjut jangan lupa tinggalkan jejak dulu dong.
Vote👈
Like♥️
Komentar 💌
__ADS_1
And Favoritkan😍
See you again And terima kasih 🤗🤗🤗.