Reinkarnasi Gadis Pelakor

Reinkarnasi Gadis Pelakor
BAB 8. Sedikit berubah, untuk menyembunyikan perasaan satu sama lain


__ADS_3

"Tidak, ada jadwal kan David?" tanya Verlyn sambil melangkah menuju kursi kebesarannya.


"Seperti... yang tadi saya, katakan? Jadwal... siang ini sampai sore nanti, belum ada nona?" jawab David memberitahu, sambil berdiri tepat di samping meja atasan nya.


"Bagus... kalau begitu, ayo temani aku keluar sebentar?" ucap Verlyn kembali berdiri dari kursi kebesarannya.


"Kemana, nona?" jawab David bingung.


"Beli, perlengkapan bayi?" sambungnya, sambil melangkah untuk membuka pintu.


Namun, pada saat Verlyn ingin membuka pintu. David pun ingin menarik gang pintu tersebut, dan secara tidak sengaja? David refleks menggenggam tangan atasannya, dan terjadilah mereka saling menatap satu sama lain.


Deg.


Deg.


Deg.


Jantung pria itu mulai tak normal, ketika menatap netra biru kehitam-hitaman milik atasannya. Begitupun dengan Verlyn baru menyadari wajah tampan asistennya. Verlyn bisa merasakan nafas hangat pria itu, ketika menghembus mengenai puncuk rambut di kepalanya.


"David??" batin Verlyn, merasa takjub dengan ketampanan yang di miliki asistennya.


Tak sadar, jantungnya pun mulai berdetak tidak karuan, pada saat ia tak sengaja mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan asistennya. Dan bertemu lah dua netra yang berbeda, antara miliknya dan juga asistennya.


Jantung nya semakin berdetak, ketika dirinya diam-diam menatap netra milik asistennya? Netra coklat abu-abu tua, yang membuat pria itu semakin berkarismatikbila di pandang dari dekat.


Namun.


Tok.


Tok.

__ADS_1


Tok.


Suara ketika pintu, tiba-tiba membuyarkan lamunan mereka berdua.


Eekhmm.... Eekhmm.


"Da---David! Ke---kenapa... kau, lancang sekali hmm?" bentak Verlyn, saat menyadari tangan asistennya menggenggam erat tangannya.


Eekhmm.... Eekhmm.


"Ma---maaf... nona, sa---saya benar-benar tidak sengaja?" ucap David, sambil meminta maaf kemudian langsung menarik tangannya agar terlepas dari genggaman tangan atasannya.


"Ya... udah, gak apa-apa? Tapi... lain kali, jangan di ulangi lagi ya?" tegas Verlyn untuk memberitahu. Meskipun wanita itu sendiri, masih sulit mengendalikan perasaan. Namun ia tak ingin terlihat, gampangan di depan pria itu meski hanya sekedar asisten pribadinya sendiri.


Tok.


Tok.


Tok.


Sebuah suara dan ketukan pintu tiba-tiba mengagetkan mereka kembali.


Eekhmm.... Eekhmm.


Wanita itu berusaha mengatur suasana hatinya, dan perlahan membuka pintu.


"Ada... apa, Baim?" tanya Verlyn, setelah membuka pintu.


"Nona... saya, keluar sebentar? Kalau... pekerjaan nona sudah selesai, hubungi ponsel ku saja?" ucap David, merasa sedikit kecewa dengan sikap atasannya barusan.


"Kemana?" tanya Verlyn, mengalihkan perhatiannya sebentar menatap asisten pribadinya.

__ADS_1


"Mau... ngopi sebentar, di cafe sebelah nona?" jawab David menjelaskan untuk memberitahu.


"Baiklah..?" jawab Verlyn, kemudian kembali fokus dengan berkas yang di sodorkan karyawannya.


"Ma--maafkan... nona, ternyata saya masuk di waktu yang salah?" ucap pria itu, dan perlahan berniat untuk kembali ke tempatnya.


"Hmmm... bukan sesuatu yang perlu di permasalahkan, anda santai saja pak Baim?" ucap Verlyn sambil tersenyum ramah.


"Hmm... ngomong-ngomong, nona? Ini... ada laporan keuangan bulan lalu, bisa anda cek sebentar nona?" sambung pria bernama Baim, sambil menyodorkan berkas yang ada di tangannya.


"Oke... nanti aku cek, dan kau bisa kembali ke ruangan mu?" ucap Verlyn sambil menerima berkas yang ada di tangan karyawannya.


"Baik... nona, kalau begitu saya permisi dulu?" jawab pria bernama Baim, sambil pamit undur diri.


"Hmm..?" dehem Verlyn, membalas ucapan karyawannya.


"Ya... Tuhan, perasaan apa tadi? Apa... hanya aku yang merasa hal seperti, itu? Tapi... benar-benar tidak bisa di pungkiri, wajah David memang tampan sih? Tapi... maafkanlah aku, Tuhan. Karena... ke angkutan, mungkin saat ini kau kecewa dengan ku? Meskipun... kau, hanya asisten? Tapi... aku merasa tidak pantas, bersanding dengan pria baik-baik seperti mu? Maafkan... aku David, karena sikap ku, kau mungkin sangat sakit hati?" umpat Verlyn dalam hati, menyadari kesalahannya pada asistennya barusan.


Bersambung.


¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿


Nah... loh, penasaran kan dengan ceritanya. Oke, sebelum author lanjut jangan lupa tinggalkan jejak dulu dong.


Vote👈


Like♥️


Komentar 💌


And Favoritkan😍

__ADS_1


See you again And terima kasih 🤗🤗🤗.


__ADS_2