
Setelah menempuh perjalanan sekitar 19 menit, mobil yang di gunakan Verlyn dan David sang asisten akhirnya sampai di sebuah pemakaman umum yang bertuliskan TPU Duri Kepa.
David bergegas keluar untuk membuka pintu mobil untuk atasanya. Setelah itu David pun melangkah duluan untuk menunjukkan jalan di mana letak makam wanita yang sedang berjalan di sampingnya itu. Sementara wanita cantik itu dengan kacamata hitam bertender di atas hidung mancungnya, hanya mengikuti langkah pria itu dari samping.
Tak lama kemudian, pria itu pun menghentikan langkahnya menandakan bahwa mereka telah sampai. Ia melirik dan menunjuk makam yang bertuliskan nama Verlyn Gunadhya Violetta, kepada wanita yang ada di sampingnya.
Setelah di tunjukkan, Verlyn pun menggerakkan kakinya dua langkah. Ia perlahan berjongkok di samping makamnya sendiri, sambil membuka kacamata hitam yang di gunakannya. Ia menyiram makamnya tiga kali dengan sebotol air, lalu menamburkan beberapa helai bunga di atas makamnya kemudian berucap dalam hati.
"Ya... Tuhan, aku tahu jasad ini pernah melakukan banyak maksiat? Namun... satu permintaan, aku mohon jangan siksa jasad ini? Lapangan lah... kubur jasad ini, dan beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri agar dosa di masa lalu ku dapat aku tebus sebelum maut kembali mencabut nyawa ku?" ucap Verlyn dalam hati, lalu melafalkan satu ayat.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
"Bismillāhirraḥmānirraḥīm."
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
"Alḥamdu lillāhi rabbil'ālamīn."
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ
"Ar raḥmānir raḥīm."
مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ
"Māliki yaumid dīn."
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ
"Iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn."
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ
"Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm."
صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ
"Sirāṭallażīna an'amta 'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍ ḍāllīn."
"Artinya?" ucap Verlyn lagi dalam hati.
Ayat 1: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang."
Ayat 2: "Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam."
Ayat 3: "Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang."
Ayat 4: "Pemilik hari pembalasan."
Ayat 5: "Hanya pada Engkaulah kami menyembah dan hanya pada Engkaulah kami mohon pertolongan."
Ayat 6: "Tunjukilah kami jalan yang lurus."
A"(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat padanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Amiiinn?" lanjutnya, kemudian menarik nafas lalu menghembuskannya secara perlahan sambil berdiri? Setelah itu, Verlyn perlahan berjalan sambilmemakai kacamata hitamnya kembali.
Kemudian perlahan mengangguk menatap ke depan, memberi kode asistennya untuk segera meninggalkan tempat. David tanpa membuka suara, ia pun segera meninggalkan tempat mengikuti langkah atasannya dari belakang.
Sesampainya, David segera membuka pintu mobil untuk wanita itu. Setelah masuk, David pun bergegas masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Namun di tengah jalan, mobil yang di gunakan Verlyn dan David hampir bertabrakan dengan mobil ambulance yang membawa jasad Tuan Bagaskara Papa Jonathan Bima Evander.
"David, hati-hati dong bawa mobilnya?" tegur Verlyn kepada asistennya.
"Ma---maaf nona, sebelum belok saya sudah melihat sekitar gak ada mobil melintas? Namun... saat saya melajukkan kecepatan mobil, ambulance itu tiba-tiba melintas begitu saja?" jelas David sambil meminta maaf.
BRAK.
"Kurang ajar, mobil siapa sih itu!!"
Sementara mobil yang mengikuti mobil ambulance itu dari belakang malah tersulut emosi, keluar dari mobil sambil memukul stir mobilnya dengan penuh amarah.
BRUK.
"Hai, keluar kau!! Bisa nyetir mobil tidak, kalau tidak bisa gak usah bawa mobil!!" teriaknya sambil memukul mobil yang di gunakan Verlyn dan juga asistennya.
"Lah, kok malah pria brengsek ini yang keluar dan marah-marah? Emangnya... apa hubungan dia dengan mobil ambulance ini?" batin Verlyn dalam hati, melihat Jonathan marah-marah di depan mobilnya dan memukul kaca mobilnya.
"Hai, keluar! Jangan jadi pengecut, sembunyi dari balik kaca mobil?" ucap Jonathan, yang mana ucapannya itu sukses membuat wanita dalam mobil itu tak terima dengan apa yang di katakannya.
BRAK.
"Siapa yang pengecut, aku atau kau yang pengecut!!"
"No---nona Verlyn?"
Tegas Verlyn sambil membuka pintu mobil dengan kasar. sorot matanya begitu sangat tajam menatap wajah pria, yang merupakan suami dari wanita yang ia pinjam raganya.
Melihat atasannya tiba-tiba keluar dari mobil dengan kemarahan, buru-buru David juga keluar dari mobil untuk menghentikan atasannya.
"Dasar, wanita murahan!!"
PLAK.
Tanpa bertanya, Jonathan langsung melangkah menghampiri wanita itu sambil menamparnya dengan keras.
"Hai, jaga ya ucapan mu. Aku bukan wanita murahan, seperti apa yang kau ucapkan itu!!" ucap Verlyn sambil memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan Johathan di wajahnya.
"Kau----"
"Cukup!" ucap David dengan tegas, sambil menghentikan tangan Jonathan yang berniat menampar Verlyn kembali.
"Hentikan perbuatanmu itu Tuan, atau saya akan membuat anda menyesal karena telah memukul---"
"Wah wah wah, hebat!!" sela Jonathan sambil bertepuk tangan.
"Apa maksud kau? Berselingkuh... membalas mu, hai aku tidak seperti dirimu yang berselingkuh saat istri tengah hamil tua? Dan... dia, pria ini bukan selingkuhan ku---?" ucap Verlyn mencoba untuk menjelaskan.
Selain tersulut emosi Jonathan pun mengira, bahwa hilangnya istrinya lima bulan yang lalu bukan karena kecelakaan? Melainkan pergi mencari pria kaya untuk membelas perselingkuhannya dengan Vindy dulu.
Meskipun Verlyn mencoba untuk menjelaskan.
"Busit, gak usah bohong! Sini... kau, sini!!"
Namun Jonathan kembali menarik paksa tangan Verlyn, lalu membawa wanita itu mendekati mobil ambulance untuk memperlihatkan jenazah Papanya kepada wanita yang tengah ia tarik paksa itu.
"Lihat, jenazah siapa yang terbaring kaku saat ini!!" sambung Johathan, setelah meminta petugas mobil jenazah untuk membuka kaca mobil ambulance itu.
"Tu---Tuan Bagas! A---apa yang terjadi dengan Tuan Bagaskara, kenapa dia bisa meninggal dunia?" batin Verlyn saat melihat pria yang masih menyandang status sebagai mertua wanita yang ia pinjam raganya, kini terbujur kaku tak bernyawa.
"Kau... tahu, gara-gara perbuatanmu aku sering bertengkar dengan Papa ku sendiri? Ngakunya... hilang karena kecelakaan, tahunya malah berselingkuh dengan pria lain?" sambung Johathan memberitahu, dengan wajah jijik menatap tubuh istrinya dari atas sampai ujung kaki.
"Sudah... berulang kali aku katakan, aku tidak pernah berselingkuh? Dan... pria itu bukan selingkuhan ku, tapi dia adalah David Guetta titanium asisten---"
BRUK.
"Menjauh dari anakku dan jenazah suami ku!"
"Astaga, nona Verlyn?"
Ucap Maya tiba-tiba mendorong kasar tubuh wanita itu, sampai jatuh tersungkur ke tanah. David yang melihat atasannya di perlakukan demikian, langsung berlari untuk membantu atasannya berdiri dan alhasil adegan itu mampu membuat hati Jonathan semakin panas, dan mengira bahwa istrinya benar-benar telah berselingkuh darinya.
"Jangan... datang ke pemakaman, karena saya yakin kau hanya akan mengotori makam suami ku. Nathan... ayo pergi, jenazah Papamu lebih penting daripada wanita murahan ini?" sambung Maya segera mengajak anaknya pergi meninggalkan tempat, di mana ia bertemu kembali dengan menantunya, setelah lima bulan lamanya Devina meninggalkan rumah.
"David? Ayo kita segera pergi dari sini, dan cari tahu apa yang menyebabkan Tuan Bagaskara meninggal dunia?" panggil Verlyn kepada asistennya, sambil meminta asistennya untuk mencari tahu apa yang menyebabkan Tuan Bagaskara sampai meninggal dunia. kemudian perlahan melangkah masuk ke dalam mobil, setelah sang asisten membuka kan pintu mobil untuknya.
"Baik, nona?" ucap David, lalu bergegas masuk ke dalam mobil.
"Oiiyya, ada satu lagi? Tolong... cari tahu juga, di mana keberadaan anak-anak mbok Sari dan pak Nurdin? Kalau... mau informasi yang lebih akurat, minta fotonya pada mbok Sari?" sambung Verlyn meminta asistennya.
"Baik nona?" jawab David sambil menyetir mobil dan fokus pada jalanan di depannya.
Merasa tak ada keperluan lain, mobil yang di gunakan mereka pun menuju rumah kembali.
***
__ADS_1
Tak berselang beberapa menit, malam hari akhirnya menjelang. Makan malam pun sudah selesai, terlihat mbok Sari dan juga suaminya pak Nurdin melangkah menaiki anak tangga menuju kamar untuk membaringkan Ezra yang sudah tertidur setelah di beri susu bebelove gold yang sempat di beli oleh Verlyn sebelum tiba di rumah. Sementara Verlyn, masuk ke ruangannya untuk mengecek jadwal meeting di kantornya sebelum tidur.
Saat mengecek beberapa jadwal meeting, David sang asisten tiba-tiba datang sambil mengetuk pintu sebelum masuk.
Tok.
Tok.
Tok.
"Boleh saya masuk nona?" kata David
"Masuk saja, pintunya tidak di kunci?" jawab Verlyn dari balik pintu. Kemudian David perlahan membuka pintu dan melangkah masuk.
"Ada perlu apa?" tanya Verlyn, saat David berdiri tepat di meja kerjanya.
"Hanya... ingin memberi berkas-berkas ini pada anda, nona?" jawab David sambil menyodorkan berkas-berkas itu pada wanita yang di hadapannya.
"Berkas dari perusahaan mana?" tanya Verlyn menatap wajah pria itu, sambil menaikkan satu alisnya.
"Perusahaan dari PT. Sanjaya dan Kara crop, nona?" jawab David memberitahu sambil melipat kedua tangannya ke depan setelah menyerahkan berkas-berkas itu pada wanita di hadapannya.
"Apa! Kenapa kau menerima berkas kerjasama dari perusahaan-perusahaan itu, pemimpinnya brengsek-brengsek semua?" sontak Verlyn langsung berdiri, setelah mendengar penjelasan asistennya.
Membuat David terkejut dan langsung menundukkan kepala setunduk-tunduknya karena takut.
"Ma---maaf nona, kalau saya sudah lancang?" ucap David dengan kepala masih tertunduk sambil meminta maaf.
"Sebenarnya... beberapa bulan terakhir ini, setelah nona di nyatakan meninggal? Saya... sempat menghendel pekerjaan nona, yang ada di kantor?" sambung David memberitahu dengan kepala masih tertunduk takut.
"Lalu... kenapa kau menerima berkas kerjasama, dari perusahaan itu?" tanya Verlyn sambil menaikkan alisnya, menatap tajam wajah pria di hadapannya itu.
"Justru... itu, nona? Sebelum saya menyerahkan pada Elvina, ada baiknya nona memeriksanya terlebih dahulu?" jelas David memberitahu dengan sedikit membungkukkan badan.
"Apa isi berkas kerjasamanya?" tanya Verlyn, sambil duduk kembali di kursi kebesarannya.
"Dari PT. Sanjaya isi berkas kerjasamanya pembangunan hotel, nona? Letaknya ada di Surabaya?" jawab David memberitahu.
"sudah berapa lama?" tanya Verlyn lagi.
"sudah hampir sebulan, nona? Bahan baku yang di kirimkan sudah hampir 50 trek? Dan... pembangunannya mungkin sebentar lagi akan selesai?" jelas David memberitahu secara detail, Verlyn pun hanya mengangguk-angguk mendengarkan perkataan asistennya.
"Lalu... dari perusahaan Kara corp, apa isi berkas kerjasamanya?" sambung Verlyn sambil melirik berkas dari perusahaan Kara corp.
"Pembangunan mall, letaknya di kota Subang Jawa barat. Sampai sejauh ini masih berjalan dengan lancar, sudah hampir 100 trek bahan tambang yang kita kirimkan ke lokasi itu? Dan... asumsi saya, pembangunan itu baru akan selesai dua bulan lagi?" jawab David kembali menjelaskan secara detail, isi pembangunan dari perusahaan Kara corp.
"Ya... sudah, tetap lanjutkan pembangunan itu? Catat, apa-apa saja yang di butuhkan Setelah... dari pemakaman, antar aku memantau semua perkembangan pembangunan itu?" ucap Verlyn akhirnya memutuskan dan menyetujui kedua berkas kerjasama tersebut. Sedangkan David merasa bingung dengan keputusan yang di ambil oleh wanita di hadapannya itu. Awalnya marah-marah dan protes, namun pada akhirnya mengizinkan juga.
"No---nona tetap ingin menghadiri pemakaman itu, bukan kah tadi siang wanita paruh baya itu mengatakan kalau nona di larang datang ke pemakaman itu?"
Terlebih saat Verlyn mengatakan bahwa dirinya akan menghadiri pemakaman itu, membuat pria di hadapannya semakin merasa bingung.
"Untuk... mengawali sebuah pekerjaan, salah satunya ya kita harus menghadiri pemakaman itu?" ucap Verlyn sambil tersenyum penuh arti.
"Tapi... apa tidak akan menjadi masalah, jika nanti kita menghadiri pemakaman itu nona?" ucap David kembali bertanya.
"Tidak akan? Lagipula... kita datang ke sana bukan untuk mencari keributan, melainkan hanya untuk menghormati orang yang sudah meninggal dan menghargai partner bisnis kita?" sambung Verlyn berbicara panjang lebar untuk memberitahu.
"Tapi... apa yang membuat nona tiba-tiba menyetujui kerjasama itu?" tanya David penasaran.
"Dia adalah pria brengsek, suami wanita yang aku pinjam raganya? Kerjasama... ini, adalah awal kehancurannya!!" jelas Verlyn memberitahu dengan raut wajah penuh amarah dan di balik itu semua tentu ada maksud lain? Yaitu Verlyn ingin segera membalaskan dendam Devina agar Jonathan segera menyadari semua kesalahannya.
"Ya... Tuhan, itu sangat berbahaya nona?" ucap David penuh ke khawatiran.
"Tidak akan, asal kau bersedia membantu ku?" ucap Verlyn menatap wajah pria di hadapannya.
"Saya bersedia, saya sangat bersedia nona?" ucap David menimpali ucapan wanita itu dengan cepat.
"Bagus? Dan... seperti permintaan ku tadi siang, cari tahu apa yang menyebabkan Tuan Bagaskara meninggal? Aku... yakin, itu bisa kita jadikan untuk menghancurkan Jonathan?" ucap Verlyn sambil memanggut dagunya pertumpuh pada siku tangannya dan juga pada meja di depannya.
"Baik nona? Kalau begitu saya permisi dulu, dan saya pastikan informasi itu akan segera saya dapatkan?" ucap David penuh percaya diri, sambil meminta izin untuk segera meninggalkan tempat.
"Silahkan?" ucap Verlyn, lalu David pun segera melangkah keluar meninggalkan tempat untuk segera menuntaskan tugas dari wanita di hadapannya itu.
Bersambung.
¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿
Hallo... Guys, awal baca nih? meski tak menarik😭, tapi setidaknya jangan lupa tinggalkan jejak 👍😉.
Vote👈
Like♥️
Komentar 💌
__ADS_1
And Favoritkan😍
See you again thanks for watching 🙏🙏🙏