
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya mobil mewah itu pun sampai di sebuah kediaman.
Mobil itu memasuki halaman rumah yang luas dengan dinding dan pagar besi tinggi menjulang. Siapa lagi orangnya kalau bukan Verlyn, beserta rombongannya pak Nurdin dan juga istrinya dan si Baby kecil Ezra? anak Devina Stefani Germanotta. Dan juga seorang anak, yakni tiba-tiba menjadi anaknya. karena rohnya kini telah berpindah ke tubuh seorang wanita yang telah bersuami dan juga memiliki seorang anak.
Kediaman Gunadhya Violetta👇👇
Ceklit.
"Ayo... pak, mbok kita masuk?"
Verlyn perlahan keluar dari mobil sambil membuka pintu rumahnya, Lalu mengajak kedua orangtua itu untuk segera masuk ke dalam rumah.
Mereka yang masih enggan untuk menginjakkan kakinya, nampak malu-malu memasuki rumah tersebut. Dengan beberapa pengawal berdiri bersejajar di depan pintu gerbang dan pintu masuk rumah, dengan pakaian serba hitamnya.
"Hai... kenapa cuma berdiri bengong di situ, gak lihat nona besar kita mau masuk rumah!! Cepat... beri hormat, dan tundukkan kepala kalian!!" ucap David dengan tegas, melempar tatapan tajam ke arah seluruh pengawal yang tak memberi hormat kepada nona besarnya. Lalu tanpa menunggu waktu lama, para pengawal berbaju serba hitam pun langsung menundukkan kepala setunduk-tunduknya.
Rumah yang bernuansa cantik dan elegan, membuat mata siapa saja langsung takjub bila memandangnya. Begitupun Pak Nurdin dan juga istrinya Mbok Sari, sangat merasa takjub melangkah kan kakinya masuk ke dalam rumah itu. Matanya begitu terbelalak mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan rumah itu.
"Mbok... pak, ayo masuk?" panggil Verlyn kepada kedua orangtua tersebut, lalu mbok Sari dan pak Nurdin pun perlahan melangkah masuk ke dalam rumah sambil mendudukkan tubuhnya di atas sofa.
"Pelayan?" panggil Verlyn kepada salah satu pembantu yang bekerja di rumahnya.
Lalu pembantu bernama Murni berusia lebih muda dari mbok Sari dan juga pak Nurdin, perlahan menggerakkan kakinya dan mendekat untuk memenuhi panggilan majikannya.
"Saya nona?" ucap Murni dengan kepala tertunduk memberi hormat.
"Buatkan aku jus jeruk dingin?" ucap Verlyn
"Baik, nona?" jawab Murni sambil mengangguk pelan tanda mengerti.
"Oiiyya... bapak dan mbok mau minum apa, biar sekalian di bikinin juga?" sambung Verlyn sambil bertanya.
"Kami... cukup teh hangat saja, duk?" jawab pak Nurdin kepada wanita di hadapannya.
"Mur... bikinin mereka teh hangat juga ya? Terus... kalau ada cemilan, jangan lupa di bawa juga?" sambung Verlyn kepada pelayan di hadapannya, sedangkan wanita bernama Murni hanya mengangguk tanda mengerti. Kemudian perlahan melangkah masuk, untuk membuatkan pesanan mereka.
"Oke, sambil nunggu pesanan datang? Hmm... Lin, tolong antar mereka ke kamar atas ya? Biar... mereka bisa menyimpan barang-barang, sekaligus mereka bisa bersih-bersih juga?" titah Verlyn kepada pelayan yang bernama Linda, yang sedikit lebih tua darinya.
"Baik, nona?" jawab Linda sambil tertunduk.
"Mari... mbok, pak saya tunjukkan kamarnya? Kamarnya... ada, di atas? Di sana... bapak dan mbok bisa istirahat, sekaligus bersih-bersih?" ucap Linda perlahan mengajak mbok Sari dan pak Nurdin untuk segera naik ke atas agar mereka bisa istirahat, sekaligus membaringkan Ezra yang masih tertidur pulas dalam gendongan mbok Sari sang wanita tua.
Sedangkan Pak Nurdin dan juga istrinya, hanya menanggapi ucapan gadis itu dengan anggukan kepala. Kemudian mengikuti langkah wanita di depannya, menaiki anak tangga satu persatu.
Ceklit.
"Ini... mbok, pak kamarnya? Silahkan... masuk dan kalian bisa istirahat, kalau ada perlu apa-apa panggil saya saja? Permisi" sambung Linda setelah mengantar mereka menuju kamarnya, kemudian perlahan menutup pintu setelah berpamitan.
"Terima kasih?" ucap mbok Sari kepada pembantu bernama Linda, sebelum gadis itu melangkah keluar.
Sementara di ruangan tengah rumah itu.
"David?" panggil Verlyn kepada asistennya.
"Ada apa, nona?" tanya pria itu, sembari membungkukkan badan.
"Ikut... aku keruangan sebentar, aku mau bicara?" titahnya sambil berjalan menuju sebuah ruangan, sementara David sang asisten mengikuti dari belakang.
Ceklit.
"Hmm... mohon maaf nona, ada keperluan apa nona memanggil saya kemari?" tanya David setelah Verlyn membuka pintu dan melangkah masuk.
"Tutup pintunya dulu, baru aku bicara?" ucap Verlyn kepada asistennya, sambil membalikkan badan secara perlahan.
Pria itu tertunduk? sebenarnya ia masih memiliki sejuta pertanyaan tersimpan dalam hati, untuk wanita di hadapannya. Sejak siang tadi, setelah ia mengetahui bahwa nona besarnya masih hidup? Pertanyaan itu masih merasuki alam pikirannya.
Lalu wanita yang merupakan atasannya itu memanggilnya, mungkin inilah saatnya pertanyaan itu ia lontarkan agar semua unek-unek dalam pikirannya segera terselesaikan.
"Kau... pasti bingungkan, kenapa orang yang sudah meninggal bisa hidup lagi? Dan... sejak tadi pasti pertanyaan itu yang selalu mengusik pikiran mu kan?"
Ucap Verlyn memulai pembicaraan, sedangkan David hanya terdiam sambil mendengarkan semua kata-kata yang sebentar lagi akan keluar dari mulut wanita di hadapannya.
"Awalnya... aku juga bingung, waktu pertama kali terbangun? Membuka... mata di tempat yang asing, bahkan dalam kondisi yang berbeda" sambung Verlyn menjelaskan, sedangkan David hanya menyimak sambil terdiam.
__ADS_1
"Ya... aku telah bereinkarnasi ke dalam tubuh wanita ini, David? Dan... anak yang di gendong oleh wanita tua itu adalah, anaknya dan anak itupun adalah juga anakku? Wanita... ini kecelakaan dalam keadaan hamil tua, dan kedua suami-istri itulah yang telah menyelamatkan nya? Namun... tahu-tahunya aku malah nyasar di tubuh wanita yang telah, bersuami?" jelas Verlyn memberitahu, sementara mata David terbelalak sempurna karena sulit mencerna apa yang di ucapkan wanita di hadapannya tentang reinkarnasi dan perpindahan roh orang yang sudah meninggal ke jasad yang baru.
"Mu---mungkin Tuhan telah memberi nona kesempatan kedua, agar nona bisa mengubah diri menjadi orang yang lebih baik?" ucap David dengan suara sedikit terbata-bata, takutnya nanti malah salah ucap dan membuat dirinya malah berakhir sial.
"Oh... jadi maksud kau, dulu aku adalah orang yang kurang baik, orang jahat? Begitu, maksud kau?" ucap Verlyn terdengar sedikit sewot mendengar ucapan asistennya.
"Bu---bukan seperti itu maksud saya, nona?" jawab David dengan suara panik, karena apa yang di pikirannya malah benar-benar terjadi.
"Tapi... ucapan mu benar juga, sih?" sambung Verlyn, membuat pria di hadapannya langsung menatap bengong wanita yang merupakan atasannya itu.
"Mungkin... ini cara Tuhan agar aku bisa memperbaiki diri, dengan reinkarnasi ini aku akan memanfaatkan hidup ku untuk membantu wanita ini agar dia tidak menjadi istri yang di sia-siakan suaminya?" lanjut Verlyn yang semakin membuat pria di hadapannya semakin bingung.
"David... kau harus berjanji, tentang ini aku hanya memberitahukannya pada mu? Tolong... jaga rahasia ini, jangan sampai orang lain tahu, termasuk orang-orang yang ada di rumah ini. Mengerti!!" ucap Verlyn dengan tegas, menatap tajam wajah pria di hadapannya.
"Saya... berjanji, rahasia ini aman di tangan ku nona? Dan...kalau di izinkan, boleh saya ikut membantu anda nona?" tutur David dengan wajah seriusnya, sambil menawarkan diri untuk membantu wanita di hadapannya itu.
"Boleh... saja, asal kau tak keberatan?" ucap Verlyn sambil menaikkan satu alisnya.
"Tak... keberatan nona, saya benar-benar siap membantu nona dalam segala hal?" jawab David memberitahu.
"Ya... sudah, setelah ini tolong antar aku ke tempat di mana aku di makamkan? Meskipun... aku sudah mati, gak salahkan kalau aku mengunjungi makam ku sendiri?" titah Verlyn kepada asistennya.
"Baik nona, kalau begitu saya permisi dulu?" jawab David sedikit membungkukkan badan, dan perlahan membalikkan badan sambil membuka pintu.
Ceklit.
"Permisi... pesanan anda sudah siap, nona?"
Saat membuka pintu, David tak sengaja berpapasan dengan Murni yang datang untuk memberitahu bahwa pesanan nona besarnya sudah jadi. Untung saja percakapan mereka sudah selesai, sehingga Murni akhirnya tak dapat mendengar sepata katapun.
Sementara David, akhirnya bisa bernafas lega dengan senyum mengembang menghiasi wajahnya, karena pertanyaan dalam hatinya kini sudah terjawab.
David menuruni anak tangga, dengan sudut bibir yang terus berbinar. Entah apa yang telah membuat pria itu, terus tersenyum? Karena jelas saat ini pria itu benar-benar bersyukur, Tuhan masih memberi kesempatan kedua kepada wanita yang merupakan atasannya untuk memperbaiki diri. Meskipun wajah mereka sudah jauh berbeda, namun bagi David itu tidak menjadi masalah.
"Ya... udah panggil mbok Sari dan suaminya, kalau mereka sudah bersih-bersih suruh mereka segera turun karena sebentar lagi aku akan pergi?" pinta Verlyn kepada pembantunya, lalu wanita itu pun melangkah keluar dari ruangan itu menuju ruang tamu untuk menikmati jus jeruk dinginnya sebelum pergi.
"Baik nona?" jawab Murni sambil mengangguk dan melangkah kan kakinya menaiki anak tangga untuk memanggil mbok Sari dan suaminya pak Nurdin.
Tak lama kemudian, setelah menyeruput setengah gelas jus jeruk dinginnya? Verlyn pun kembali beranjat dari sofa kemudian berjalan keluar sambil memberi kode kepada asistennya untuk pergi mengunjungi makamnya seperti apa yang sebelumnya pernah ia katakan.
David yang mendapat kode tatapan dari wanita itu, segera mengikuti langkah atasannya dari belakang.
"Mau pergi sebentar mbok? Baik-baik di rumah, jaga juga Ezra dengan baik?" ucap Verlyn menghentikan langkah sejenak.
"Baik duk?" timpal mbok Sari
"Mur, Lin?" panggil Verlyn kepada kedua pembantunya.
"Kami nona?" jawab mereka secara bersamaan, sambil membungkukkan badan tanda hormat.
"Layani... mereka dengan baik, setelah aku pergi segera buatkan mereka makanan?" titah Verlyn kepada kedua pembantunya.
"Baik nona?" jawab mereka secara bersamaan, sambil mengangguk pelan.
"Dan... ya, satu lagi? Kalau... bayi ku butuh sesuatu, salah satu dari kalian segera hubungi aku. Mengerti?" sambung Verlyn memberitahu sekaligus mengingatkan.
"Mengerti nona?" jawab mereka secara bersamaan sambil mengangguk tanda mengerti.
"Saya... pergi dulu, jaga rumah baik-baik?" ucap David kepada pengawal yang berdiri berjaga di depan pintu rumah.
"Baik Tuan?" jawab mereka sambil kedua tangan di lipat ke depan untuk memberi hormat, setelah itu mereka pun kembali ke posisi semula yaitu berdiri tegak dengan pandangan mata lurus ke depan memperhatikan semua situasi dan kondisi rumah dan sekitarnya.
***
Sementara di lain waktu, wanita paruh baya baru saja sampai di rumah sakit. Mendapat informasi dari anaknya, wanita paruh baya itu segera ke rumah sakit. Langkahnya terburu-buru memasuki rumah sakit, menuju ruangan di mana suaminya tengah di tangani.
Melihat anaknya duduk kursi tunggu rumah sakit, wanita paruh baya itu segera menghampiri anaknya.
"Nathan... bagaimana kondisi, Papa? Apa... kata dokter, mengenai kondisi Papa?" tanya wanita paruh baya itu, dengan perasaan panik dan khawatir.
"Gak... tahu, Ma? Sampai... saat ini, dokter belum keluar---?"
Ceklik.
Ucapan Jonathan tiba-tiba terputus, kala mendengar pintu ruangan Papanya perlahan terbuka.
"Dok... bagaimana kondisi suami, saya? Apa... suami saya, keadaannya baik-baik saja?"
Mama Jonathan yang melihat dokter, yang menangani suaminya, langsung melangkah menghampiri kemudian bertanya.
__ADS_1
Terdengar helaan nafas panjang dari sang dokter
"Mari... ikut saya, ke ruangan?" ucap sang dokter, perlahan mengajak mereka berdua ke ruangannya. Ekspresi wajah dokter itupun sangat buruk, yang mana sulit untukungkap kan dengan kata-kata.
Lalu wanita paruh baya itu dan putranya, mengikuti langkah dokter itu. Bahkan raut wajah mereka pun, juga menyimpan sejuta pertanyaan untuk dokter yang menangani orang tersayangnya.
"Silahkan... duduk, saya akan jelaskan semuanya?" sambung sang dokter, mempersilahkan mereka untuk duduk. Lalu wanita bernama Maya, perlahan duduk di sebuah kursi depan meja dokter tersebut.
"Bagaimana... dokter, apa kondisi suami saya baik-baik saja? Jantungnya... gak kenapa-kenapa kan, dokter?"
Setelah itu, wanita bernama Maya pun kembali bertanya.
Suara helaan nafas panjang terdengar kembali, dari pria yang menyandang status sebagai dokter. Setelah menimbang-nimbang, pria itu pun perlahan membuka suara.
"Serangan... jantung yang di alami Tuan Bagas, sangat fatal Nyonya? Kondisi... ini, merupakan komplikasi yang sangat serius? Ada... pembengkakan arteri di bagian otak, beliau? Dan... akibat kemarahan yang tidak terkontrol, detak jantung beliau jadi bermasalah Nyonya? Sebagai... asumsi saya, ini di namakan aneurisma?" jelas sang dokter, memberitahu.
"Aneurisma?" gumam Maya dan Jonathan, saat menyimak penjelasan dari sang dokter.
"Iya... Nyonya, apabila pecah? Akibatnya.. sangat fatal bagi kondisi kesehatan, Tuan Bagaskara?" sambung sang dokter, menjelaskan sekaligus memberitahu.
"Ya... Tuhan, lalu kondisi suami saya bagaimana dokter? Apa... suami saya, akan baik-baik saja?" ucap Maya sambil meneteskan air, kala mendengar penjelasan dari sang dokter.
Terdengar helaan nafas panjang dari sang dokter. Meskipun berat, dokter tersebut tetap harus menyampaikan mengenai kondisi Tuan Bagaskara saat ini juga.
"Maaf... Nyonya, saya dan tim medis lainnya sudah berusaha semaksimal mungkin? Tapi... Tuhan berkehendak lain, nyawa Tuan Bagaskara tidak bisa kami selamatkan? Tuhan---" ucap sang dokter menjelaskan, namun ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
"Apa! Suami... saya, me---meninggal? Tidak... mungkin dokter, ini tidak mungkin? Suami... saya, tidak mungkin meninggal? Nathan... Papa tidak mungkin, meninggal kan?"
Tangis Maya benar-benar pecah, kala mendengar semua pernyataan dari sang dokter.
"Gak... Ma, dokter ini pasti salah?" lirih Jonathan, ikut meneteskan air sambil memeluk Mamanya untuk menenangkan.
"Sabar... Nyonya, Tuan? Ini... adalah kehendak Tuhan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin? Tapi... Tuhan, lebih menyayangi beliau?" tutur sang dokter, mencoba untuk menenangkan mereka berdua. Namun.
"Cukup! Jangan... bicara, lagi? Ayo... Ma, kita keluar dari sini? Papa... tidak mungkin pergi secepat, ini? Kau... adalah dokter yang tidak, berguna?" bentak Jonathan, yang malah tidak mempercayai perkataan dokter yang menangani Papanya.
Jonathan mengajak Mamanya segera keluar, untuk melihat kondisi Papanya. Sebelum mereka melihat, mereka tidak akan mempercayai semua kata-kata yang keluar dari mulut dokter tersebut.
Ceklik.
"Papa...!!"
"Hiks---hiks---hiks?"
"Papa... ayo bangun, Pa?"
"Pa... jangan, tinggalkan Mama?"
Lirih Maya, setelah masuk ke dalam ruangan suaminya. Tangisannya benar-benar pecah, saat melihat kondisi Bagaskara yang mana seluruh telah tertutupi kain putih. Saat membuka kain tersebut, tangis Maya kembali pecah, melihat wajah pucat suaminya dengan mata sayu yang enggan untuk terbuka lagi.
"Pa... maafkan Nathan, gara-gara Nathan Papa jadi seperti ini?"
"Papa... ayo bangun, Pa? Nathan... janji, kalau Papa buka mata? Nathan... akan menuruti semua keinginan, Papa? Nathan... janji, Nathan janji Paaa hahahaha," lirih Jonathan menangisi kematian Papanya, ia berusaha mengguncang-guncang tubuh kaku Papanya untuk membangunkan. Namun mata sayu Papanya enggan untuk terbuka dan Jonathan baru menyadari semua perbuatannya terhadap Papanya.
Sementara di luar ruangan. Terdengar helaan nafas panjang dari sang dokter. Ia begitu sedih, di kala dirinya gagal menyelamatkan nyawa pasiennya kali ini.
"Sus...?" lirihnya memanggil salah satu suster, yang kebetulan lewat di depan ruangan itu.
"Iya... dok?" jawab suster yang sempat menghentikan langkah, kemudian perlahan melangkah menghampiri.
"Apa... kamu sudah mencatat, dan mengurus jenazah Tuan Bagaskara Evander?" tanya sang dokter.
"Sudah... dokter, hari dan tanggal sudah saya catat semua? Dan... mobil ambulance nya, juga sudah siap dokter?" jelas suster, sambil menyodorkan selembar buku catatan yang ada di tangannya.
"Ya... sudah kalau begitu, tolong panggil beberapa petugas? Karena... jenazah beliau, akan segera di pindahkan?" ucap sang dokter, meminta.
"Baik... dok?" lirih seorang suster, sambil mengangguk pelan tanda mengerti. Ia segera bergerak dari hadapan sang dokter, lalu berjalan untuk memanggil beberapa petugas.
¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿
Hallo... Guys, awal baca nih? meski tak menarik😭, tapi setidaknya jangan lupa tinggalkan jejak 👍😉.
Vote👈
Like♥️
Komentar 💌
And Favoritkan😍
__ADS_1
See you again thanks for watching 🙏🙏🙏