Reinkarnasi Gadis Pelakor

Reinkarnasi Gadis Pelakor
BAB 2. Terus menggoreskan luka


__ADS_3

Dan sebagai kenyataan, bukan Devina yang meninggal dunia melainkan anak dalam kandungannya. Namun karena suatu hal, roh Devina terlahir kembali? Meskipun sangat di sayangkan, jasad anaknya lah yang menjadi penerima roh ibunya sendiri.


***


Setibanya di dalam, anak Devina pun telah selesai di bersihkan.


"Permisi Bu, ini bayinya sudah saya bersihkan" sahutnya sambil menyerahkan bayi tersebut kepada ibu asuh Devina.


Ibu Khadijah yang masih meratapi kepergian anaknya, secara perlahan menghapus air matanya kemudian menerima bayi tersebut masuk ke dalam gendongannya.


"Terima kasih suster?" tuturnya setelah menerima bayi tersebut, lalu berjalan mendekat ke arah dimana jasad Devina terbaring tak bernyawa.


"Sayang? lihat bayimu cantik sekali, persis waktu kamu masih kecil nak. Hidungnya mancung, dan kelopak matanya sangat indah? semua yang ada di wajah bayimu, nyaris tak ada perbedaan," ucap Ibu Khadijah dengan air mata berlinang, mendekatkan bayi tersebut ke samping brankar dimana Devina terbaring.


"Tapi nak, semua ini tak mungkin kamu lihat lagi. karena sebelum kamu bisa melihatnya, kamu sudah terlebih dahulu di panggil oleh sang pencipta" sambung Ibu Khadijah semakin berlinang air mata.


Berulang kali wanita itu menghapus air matanya, namun air matanya tetap saja menetes dengan sendirinya. Bahkan adapun sebagian dari ucapannya terdengar terputus-putus karena Ibu Khadijah terus-menerus menangis terisak.


"Bu mohon maaf ya Bu, jenazah anak ibu akan segera di pindahkan?" sahut suster barjalan masuk, sambil mendorong brankar Devina keluar.


"Baik suster?" ucap Ibu Khadijah, sambil menghapus air matanya.


"Ibu apa jenazah akan langsung di pulangkan, atau di mandikan disini terlebih dahulu?" tanya suster, kepada wanita di hadapannya.


"Langsung di pulangkan saja suster, kami yang akan memandikannya setelah sampai di rumah nanti?" jelas Ibu Khadijah memberitahu, kemudian suster dan beberapa petugas rumah sakit langsung mendorong brankar tersebut menuju pintu keluar rumah sakit, di mana Ibu Khadijah mengikuti mereka dari belakang.


Tuan Bagas yang melihat brankar milik Devina di tarik keluar, ia kemudian berdiri dan berjalan menghampiri. Begitupun Jonathan, ia terlihat malas mengikuti langkah Papanya dari belakang.


"Kenapa kalian masih ada disini, bukankah saya sudah menyuruh kalian pergi dari sini" sentak Ibu Khadijah kepada mertua anak dan suami dari anaknya.


"Tuh kan, apa Jonathan bilang tadi Pa? Seharusnya dari tadi kita udah tinggalkan rumah sakit ini? kalau udah seperti ini, Papa kan jadi malu sendiri" sela Jonathan, kepada orangtuanya.


"Sudah cukup Nathan, atau kau benar-benar ingin Papa---" sentak Tuan Bagaskara.


"Eekhh... slow dong Pa, gak usah marah-marah gitu, Nathan cuma bercanda kok Pa?" sambung Jonathan menyelah ucapan Papanya.


Dengan muka memelasnya Jonathan pun mengunci mulutnya rapat-rapat.


"Hmm... begini, Ibu tenangkan diri dulu? ingat Bu kita ini masih keluarga dan keluarga tidak baik kalau terus-terusan bertengkar seperti ini? apalagi kita bertengkarnya di depan jenazah Devina, itu benar-benar gak baik Bu?" tutur Tuan Bagas mencoba untuk menenangkan wanita di hadapannya, agar tak terus-terusan mengusirnya dari tempat itu.


"Biarkan kami tetap mengikuti pemakaman ini ya, Bu? Devina bukan saja menantu bagi saya, tapi sudah saya anggap putri kandung saya sendiri Bu" ucap Tuan Bagas sekali lagi, agar wanita di hadapannya tetap membiarkan dirinya untuk menghadiri pemakaman.

__ADS_1


Terdengar helaan nafas panjang dari wanita tersebut, meskipun berat namun ia akhirnya mengizinkan mereka untuk menghadiri pemakaman tersebut.


"Terserah kalian? yang jelas selama pemakaman berlangsung jangan pernah membuat keributan. Jaga sikap. sedikit saja kalian melakukannya, saya tak segan-segan mengusir kalian dari rumah saya?!" ucap Ibu Khadijah memperingatkan mereka kemudian melanjutkan langkahnya dan perlahan masuk kedalam mobil ambulance untuk menemani jenazah anaknya.


***


Beberapa saat kemudian, mobil ambulance itupun tiba di panti asuhan. Saat mendengar suara mobil ambulance tiba, Tiara dan beberapa penghuni panti asuhan yang lain perlahan melangkah keluar. Begitupun juga anak-anak panti, dengan rasa penasaran mereka pun berjalan keluar untuk melihat siapa yang datang.


"Bu... Khadijah, siapa yang meninggal Bu?" tanya Tiara saat melihat Ibu pengurus pantinya keluar dari mobil.


"De---Devina nak?" tutur Bu Khadijah, dengan air mata menetes keluar kembali.


"A---apa, kok bisa memangnya apa yang terjadi?" sahut salah satu dari mereka bertanya dengan muka heran dan terkejut.


"Kecelakaan" ucap Ibu Khadijah singkat, sambil menyeka air matanya.


"Ya Tuhan?" sambungnya dengan muka semakin terkejut sambil kedua tangannya menutupi mulutnya.


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un" tutur Tiara merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Nak... ini bayi kakakmu, tolong kamu bawa ke dalam? anak-anak yang lain ajak mereka masuk juga ya, dan Ibu urus pemakaman kakakmu dulu" ucap Bu Khadijah sambil menyerahkan anak Devina kepada Tiara untuk ia urus untuk sementara waktu, lalu gadis itupun sigap meraih dan langsung membawa anak itu ke dalam. Dan juga mengajak anak-anak yang lain, untuk ikut dengannya juga.


"Bu, Sukma?" panggil Ibu Khadijah kepada Ibu pengurus panti asuhan yang lain.


"Panggil... juru agama sekarang, setelah itu kita segera memandikan jenazah Devina?" pinta Ibu Khadijah kepada rekannya.


"Bak Bu?" jawab wanita itu, lalu bergegas untuk memanggil juru agama yang di minta oleh rekannya.


"Bu Halimah? tolong kamu siapkan air, supaya jenazah Devina secepatnya di makamkan hari ini juga" titah Bu Khadijah, dengan lihainya langsung mengurus seluruh keperluan jenazah anak asuhnya dengan bantuan rekan-rekannya yang sesama pengurus panti.


Sementara di luar, para petugas rumah sakit perlahan mengeluarkan jenazah di bantu oleh Tuan Bagas, dan mereka sama-sama mengangkat jenazah Devina masuk ke dalam rumah secara perlahan.


Sesampainya, Tuan Bagas langsung membantu Bu Khadijah mengurus proses pemakaman. Sebagian kursi telah ia susun di depan rumah, tapi lain dengan Jonathan suami Devina.


Ketika semua orang sibuk dengan pemakaman istrinya, priq itu justru sibuk dengan urusannya sendiri. Di hatinya tak ada niat sama sekali, untuk ikut berbela sungkawa ataupun membantu orang-orang yang datang melayat.


"Ibu-ibu lihat deh, ada ya suami macam itu? semua orang sedih dan berbela sungkawa, tapi dia malah sibuk dengan pekerjaannya sendiri" ucap salah satu ibu-ibu rempong, yang tak habis pikir dengan sikap angkuh suami dari Devina.


"Iya... Bu, aneh banget ya?" sahut salah satu dari mereka, menimpali ucapan temannya.


"Hatinya mungkin udah mati ibu-ibu, pemakaman istrinya saja ia tidak perduli?" lanjut mereka lagi, sambil melirik tajam ke arah Jonathan.

__ADS_1


"Atau... mungkin saja selama ini, Devina bukan istri yang baik ibu-ibu? suaminya cuek-cuek saja gitu, gak perlu dengan jenazah istrinya?" sambung ibu-ibu rempong itu lagi, berbalik membicarakan Devina dengan kata-katayang tidak-tidak tentang Devina selama hidup.


"Mungkin saja ibu-ibu? wajah Devina memang terlihat polos dari luar, tapi hatinya kita kan tidak tahu ibu-ibu? sikap dan perbuatannya, tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata kalau dipikir-pikir ibu-ibu?" tutur salah satu dari mereka lagi, semakin mengumpat Devina dengan kata-kata yang semakin buruk.


Ck... ck... ck.


"Anak muda sekarang, kelakuannya memang di luar batas ya ibu-ibu? kalau mereka tidak di awasi dengan baik, kelakuannya bisa saja seperti mereka?"


"Iya ya ibu-ibu, sikap mereka benar-benar di luar batas---?"


"Ibu-ibu... kalian datang kesini tujuannya apa, ayo? Mau... melayat, atau gibah? Ingat... loh ibu-ibu, gak baik gibahin orang yang sudah meninggal?" tegur sang juru agama, yang tak sengaja mendengar gibahan ibu-ibu rempong itu.


Mendengar teguran sang juru, mereka pun akhirnya membungkam mulutnya. Sedangkan Jonathan masa bodoh dengan ucapan para ibu-ibu rempong itu, ia tetap saja sibuk dengan urusannya sendiri. Hingga jenazah istrinya selesai di mandikan dan di kafankan.


"Nathan, kenapa masih disitu? sebentar lagi istrimu di kuburkan, apa kau tidak ingin mengucapkan sesuatu sebelum istrimu di makamkan?" tutur Tuan Bagas, memanggil anaknya.


"Iya... Pa, tunggu sebentar?" ujar Jonathan yang akhirnya beranjak dari tempatnya, lalu berjalan masuk sambil berjongkok di samping jenazah istrinya.


Ia membuka sedikit kain kafan milik istrinya, lalu mengucapkan sesuatu di dekat tengan istrinya.


"Yang tenang kau di sana istriku, yang malang? beristirahatlah dengan tenang, hahahahaha. setelah kau di kuburkan, aku akan segera menikah dengan Vindy? asal kau tahu, wanita yang benar-benar aku cintai adalah Vindy bukan kau? aku hanya terpaksa menikahimu karena permintaan Papaku, dan anak yang kau lahirkan, itu semua permainan ku saja agar Papaku tidak menyumbangkan seluruh hartanya ke yayasan" bisik Jonathan berbicara panjang lebar.


Sungguh biadap dan brengsek pria itu, menurutnya pernikahan dan kehamilan sebagai permainan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Saat semua orang berpikir ia mendekati istrinya untuk menyampaikan suatu hal penting, ternyata kenyataannya sangat jauh dari apa yang mereka pikirkan. Jonathan mendekati istrinya, hanya untuk melontarkan kata-kata busuk itu pada istrinya.


Sementara seorang anak yang keberadaannya tak jauh dari tempat itu, langsung memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Anak itu langsung histeris dan menangis dengan sangat keras, setelah mendengar ucapan ayahnya sendiri. Tiara yang mengurus bayi itupun merasa bingung dan kewalahan, untuk mendiamkan bayi tersebut.


Entah apa yang membuat anak itu, tiba-tiba menangis? Apakah anak itu benar-benar memiliki ikatan batin, ataukah ini semua tentang ucapan Jonathan. Roh itu merasa sakit hati dan tak terima dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya, karena pria itu dengan sadar terus menggoreskan luka hati istrinya berulang kali.


Jasadnya sudah terbujur kaku, namun suaminya masih membuat perasaannya terluka. Ketika jasadnya belum di kuburkan, namun suaminya itu sudah ada niat untuk menikahi wanita selingkuhannya.


Bersambung.


¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿


Hallo... Guys, awal baca nih? meski tak menarik😭, tapi setidaknya jangan lupa tinggalkan jejak 👍😉.


Vote👈


Like♥️


Komentar 💌

__ADS_1


And Favoritkan😍


See you again thanks for watching 🙏🙏🙏


__ADS_2