
Ceklit.
"Ada perlu apa?" tanya Verlyn sambil membuka pintu, dan berdiri tepat di hadapan mereka dengan tubuh sedikit seksi.
Glek.
Membuat mereka bertiga, kesusahan menelan selivanya.
"Ada apa sih kalian bertiga, aneh banget?" tutur Verlyn memandang heran wajah ketiga pria yang ada di hadapannya.
"To---tolong tutup tu---tubuh anda dulu, nona?" jawab David sedikit tergagap, sambil dengan susah payah menelan selivanya.
"Astaga... baru seperti ini, kalian udah gak tahan? Bagaimana nanti, kalau tubuh ku udah benar-benar.... Hmmm? Kalian... pasti gemetar gak kuat, tapi maaf gak bakal aku kasih?" ucap Verlyn sedikit menerbitkan senyum indahnya, sambil menarik piyama panjangnya lalu memakainya. Namun wajah ketiga pria itu, sukses di buat panas dingin karena wanita itu sedikit menggodanya.
"Ada perlu apa kalian datang kemari?" tanya Verlyn setelah memakai piyama panjangnya. Lalu David memalingkan muka, dan mulai membuka suara.
"Semua.... tugas sudah saya laksanakan, nona? Termasuk... mendaftarkan anda kembali, menjadi model namun masih di tempat yang sama? Dan... mereka sengaja saya panggil, untuk mengawal anak nona saat kita pergi nanti?" jelas David berbicara panjang lebar.
"Kapan, waktu pendaftaran nya?" tanya Verlyn sambil menatap tajam wajah tampan asistennya.
"Dua hari lagi, nona?" jawab David memberitahu.
"Bagus, tapi hari ini kita masih ada tugas? Dan aku sudah tidak sabar lagi, melihat reaksi mereka ketika aku datang nanti ke rumahnya?" ucap Verlyn berbicara panjang lebar, sambil menyilangkan tangan di depan dadanya? Kemudian berjalan keluar dari ruang sesanak olahraga, dan di ikuti oleh David sang asisten dan juga kedua anak buahnya Sandi dan juga Nando dari belakang.
"Kalian... berdua gunakan mobil yang berbeda, saat kita pergi nanti? Aku... masuk bersih-bersih sebentar, 15 menit lagi kita langsung berangkat?" sambung Verlyn dalam menjelaskan, lalu ketiga pria itu hanya tersenyum sambil mengangguk tanda mengerti. Kemudian Verlyn pun perlahan melangkah masuk ke dalam rumah, namun saat ingin menaiki anak tangga. Wanita itu malah tidak sengaja berpapasan dengan mbok Sari dan juga pak Nurdin yang ingin turun ke bawah sambil menggendong si Baby Ezra anak wanita yang tidak jauh dari pandangan nya.
"Wah... bapak dan mbok udah rapi aja nih, Ayang antengnya Mama ugah udah rapi? Kira-kira... ayang antengnya Mama mau kemana nih, sama bapak dan mbok Sari?" tanya Verlyn yang secara spontan mengajak anaknya berbicara dengan lagak seperti anak kecil, sambil mencubit dan mencium pipi kanan dan kiri anaknya.
"Mau... sarapan dong Ma, nanti kan kita mau jalan?" jawab mbok Sari, yang juga berbicara dengan lagak seperti anak kecil sambil memainkan tangan bayi tersebut.
"Ya... udah, mbok dan bapak sarapan aja dulu? Aku... mau bersih-bersih dulu, sekaligus siap-siap juga?" ucap Verlyn perlahan melangkah naik menuju kamarnya, kemudian di balas anggukan kepala oleh mbok Sari dan juga pak Nurdin suaminya? Lalu mereka perlukan menuruni anak tangga, menuju ruang makan.
Tanpa membuang-buang waktu, setelah sampai di dalam kamar? Verlyn pun langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan badan.
Tak cukup dan tak kurang dari 30 detik, wanita itu pun akhirnya selesai mandi? Ia berjalan menuju lemari pakaian untuk segera berpakaian, dengan wajah yang sangat fresh? Dan kali ini pun, Verlyn menjatuhkan pilihannya ke style casual sederhana dengan pakaian ala korea untuk membuat penampilannya sedikit lebih faminim.
Tak kurang dan tak lebih dari 15 menit, wanita itu pun melangkah keluar kamar dengan penampilan sederhananya? Kali ini, wanita itu menuruni anak tangga dengan rambut di biarkan terurai lagi. Dengan sedikit polesan bedak tipis dan gincu tidak terlalu menor, yang mana membuat penampilannya nampak semakin natural.
__ADS_1
Bagi orang yang memandangnya sekilas, mereka mungkin akan beranggapan? Bahwa pakaian yang di gunakan wanita itu, memang sangat jelek dan sangat sederhana sekali. Tapi lain juga di mata David sang asisten, pakaian yang di gunakan wanita itu nampak sangat sempurna.
Casual ala korea dengan sropped cardi dan pleated skirt bermotif, yang membuat penampilan wanita itu nampak semakin cantik dan menawan.
Setelah sampai, wanita itu perlahan menarik kursi dan perlahan duduk juga.
"Wah... nduk, hari ini kamu cantik sekali?" Cercah mbok Sari sambil memuji penampilan wanita di depannya, setelah memperhatikan penampilan wanita itu dari atas sampai bawah.
"Iya, terlihat elegan dan cantik sekali" sahut pak Nurdin menimpali ucapan istrinya.
"Masa... iya sih tetap terlihat cantik, padahalkan aku udah bikin penampilan ku sejelek mungkin?"
Uuffh.
Uuffh.
Uuffh.
Tanya Verlyn dengan alis bertautan, sambil sesekali menyeruput jus buah naga favoritnya.
"Iya... betul kan pak, meskipun sederhana tapi ini terlihat sedikit lebih nyaman bila di pandang mata?" ucap mbok Sari sambil melirik ke arah suaminya.
"Kalau... begitu, terima kasih ya mbok pak atas pujiannya?" ucap Verlyn terlihat tersipu malu, dan sedikit menyingkirkan senyum sambil melirik tajam ke arah asistennya untuk memberi kode.
Sementara pria yang merasa dirinya di tatap penuh arti, dari sang atasan? David perlahan melangkah kan kakinya menghampiri sang atasan, sambil kedua tangannya membawa seragam office boy.
"Nanti... mbok, Ezra dan bapak ikut sama aku ya, ke rumah Vindy? Sebelum... ke perusahaan bertemu dengan Baim, kita terlebih dahulu ke rumah anak perempuan mbok dan bapak?" ucap Verlyn sambil membuatkan dirinya, roti tawar selai cokelat kacang.
"Dan... seperti apa yang aku ucapkan kemarin, sebelum ke kantor bapak dan mbok Sari harus memakai seragam ini untuk melakukan penyamaran?"
"Seragam apa ya ini, nduk?" tanya pak Nurdin begitu sangat polos.
"Tapi... nduk, untuk ketemu dengan Baim anak kami? Buat... apalagi kita melakukan penyamaran, kan kita bisa langsung ketemu saja?" tanya mbok Sari yang tidak mengerti apa maksud, perkataan wanita yang ada di sampingnya itu.
"Iya, aku tahu penyamaran tidak perlu di lakukan pak mbok? Tapi... untuk sementara waktu, bapak dan mbok Sari kerja dulu di perusahaan? Lagipula... ini juga yang terbaik untuk kalian, agar bisa secepatnya bertemu dengan mereka anak-anak mbok Sari dan juga pak Nurdin?" tutur Verlyn berbicara panjang dalam menjelaskan, dengan di barengi senyum penuh arti.
"Ya... sudah, kalau itu yang terbaik bapak dan mbok cuma bisa pasrah saja?" tutur pak Nurdin dengan wajah nampak bersedih kembali.
"Udah... bapak dan mbok tidak perlu, khawatir? Pekerjaan... ini sifatnya hanya sementara kok, pak mbok?" ucap Verlyn perlahan mengulurkan tangan, mengelus pundak wanita tua itu untuk menenangkan.
__ADS_1
"Setelah... bertemu mereka kembali, terserah bapak atau mbok deh? Mau... tetap di lanjut pekerjaan ini, atau tidak? Dan... kalau mbok dan bapak mau ikut dengan Vindy atau pak Baim, ya terserah bapak dan mbok juga? Kalau... aku sih mbok pak tidak jadi masalah, yang penting kalian berdua bisa bahagia?"
Tutur wanita itu dengan penuh ketulusan, meskipun bibirnya menyungkirkan senyum? Namun di balik itu semua, terselip sebuah rencana yang sudah tersusun sedemikian rupa? Untuk wanita itu, membalaskan dendamnya kepada manusia-manusia terkutuk seperti Vindy dan juga saudaranya Baim.
"Maaf... kalian harus ikut terlibat dalam rencana pembalasan dendam ku, karena anak-anak kalian sungguh sudah keterlaluan? Jika... di biarkan, mereka tidak akan sadar dari kesalahan yang pernah mereka lakukan? Dan... aku yakin, kalian juga ikut andil dalam rencana busuk anak-anakmu? Berkedok... pertolongan, namun di balik itu semua kalian menyimpan sejuta rahasia? Jika... kalian benar-benar terlibat, terpaksa kalian juga harus ikut mempertanggung jawabkan, apa yang pernah terjadi pada ku? Tidak... memandang muda atau tua, jika mereka bersalah mereka tetap harus bertanggung jawab?" umpat Verlyn dalam hati, yang sudah menyimpan sejuta kecurigaan untuk mbok Sari dan juga pak Nurdin suaminya.
***
Tak berselang beberapa menit, mereka semua akhirnya selesai sarapan. Pak Nurdin dan mbok Sari terlihat sudah tidak sabaran ingin segera bertemu dengan anak perempuannya, mereka berjalan keluar duluan menuju mobil sambil menggendong si Baby Ezra.
Tanpa sepengetahuan dari mereka, Verlyn pun kembali memberi kode untuk mengisyaratkan asistennya untuk segera mengikuti kedua orangtua itu dari belakang. Begitupun dengan Sandi dan juga Nando, dengan sigap mengambil tugas-tugas mereka.
Mereka terlihat memasuki mobil yang berbeda, untuk mengikuti perjalanan Tuannya nanti bersama sang atasan. Menunggu dari dalam mobil, sambil sesekali mengisap rokok yang sudah terlanjur mereka bakar.
"Murni... gaji mu akan aku tambah tiga kali lipat, kalau kau menjaga rumah dengan baik? Selama.. aku pergi, jangan biarkan siapapun masuk ataupun mendekati rumah ini?" jelas Verlyn sambil berbisik untuk memberitahu.
Untuk sebagai orang? Jika sudah mendapat tawaran naik gaji, apapun yang di perintahkan pasti akan menuruti. Sama halnya dengan Murni yang hanya pembantu biasa, tak banyak pilihan? Dengan wajah sumringah, ia pun menanggapi ucapan majikkanya dengan anggukan kepala tanda setuju.
"Ba---baik nona, akan saya jaga rumah ini segenap jiwa dan raga saya kalau perlu nyawa saya yang menjadi teruhannya?" ucap Murni dengan begitu bahagianya.
"Bagus, kalau begitu aku pergi dulu?"
"Si---silahkan nona?"
Sedangkan Verlyn, setelah memastikan pembantunya dapat ia percaya? Ia pun segera menyusul mereka keluar rumah, menuju mobil untuk segera berangkat untuk bertemu kembali dengan sahabat? Yang mana pernah merusak hidupnya, karena berselingkuh dengan suaminya sendiri.
Bersambung.
¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿
Nah... loh, penasaran kan dengan ceritanya. Oke, sebelum author lanjut jangan lupa tinggalkan jejak dulu dong.
Vote👈
Like♥️
Komentar 💌
And Favoritkan😍
__ADS_1
See you again And terima kasih 🤗🤗🤗.