
"Aaakhh...!!"
BRAK.
BRUK.
"Ini... semua, gara-gara Devina!" pekik Vindy, sambil mengobrak-abrik semua isi, di ruangan VVIP disana.
Namun.
"Hay... kalau mau ngamuk, jangan disini!" tegas seseorang yang merupakan pemilik club malam.
"A ukhmm... ma---maaf?" ucap Vindy, meminta maaf kepada pemilik club malam sambil cengengesan.
"A---aduh, bagaimana ini?" gumam Vindy dalam hati, yang baru sadar dengan perbuatannya.
"Maaf... maaf, memang kau sanggup bayar ganti ruginya?" sambung sang pemilik club malam, setelah mendengar Vindy mengamuk dan menghancurkan barang-barang miliknya.
"Aduh... pak Hendro, slow dikit dong pak? Jangan... marah-marah, aku kan tidak seng---?"
"Kalau... tidak bisa ganti rugi, sebaiknya cepat pergi dari sini?" ucap sang pemilik club yang ternyata bernama Handro, ia terus mengomel melihat perbuatan Vindy yang menghancurkan semua barang-barangnya.
"Sial... sial, ini semua gara-gara Devina? Andai... dia tidak kembali, mungkin hidupku tak sesial ini? Dia... bukan saja menjadi racun dalam hubunganku dengan, Jonathan? Tapi... pernikahan ku bisa terancam batal, gara-gara kehadirannya!!" umpat Vindy dalam hati, yang melampiaskan semua kesalahannya kepada Devina sahabatnya sendiri.
"Hay... kenapa masih bengong, di situ?" tegas pak Handro, meminta Vindy segera pergi meninggalkan club malam miliknya.
"Astaga... pak, sabar dikit dong? Gak... usah marah-marah, ini aku baru mau pergi kok?" ketus Vindy, sambil melangkah pergi meninggalkan tempat.
"Makanya... kalau gak punya uang, jangan rusakin barang-barang orang? Di... suruh ganti rugi bukannya bayar, malah cengengesan?" sambung pak Handro, yang terus mendumel akibat ulah Vindy yang secara sengaja merusak barang-barangnya.
"Berapa... sih, harga barang-barang ini pak? Rusak... sedikit, marah-marah sampai segitunya banget?" tanya Vindy, sambil balik badan. Bukannya langsung pergi, wanita itu malah balik badan lagi? Lalu menatap sinis, pria pemilik club malam itu.
"100, juta!!" sambung pak Handro, memberitahu.
"Hah! Cu---cuma barang rongsokan kek gini, masa ganti ruginya mahal banget?!"
"Masalah... harga, atau kau memang tidak punya uang?" tanya pak Handro, menaikkan satu alisnya menatap wajah wanita di hadapannya.
"Eekh... pak Handro jangan sembarangan ya, gini-gini aku tuh banyak uang?" ucap Vindy dengan sombongnya.
"Ya... udah, ayo sini cepat bayar?" sambung pak Handro, meminta uang kepada wanita di hadapannya itu.
"Tapi... pak, harganya bisa di kurang-kurangin tidak? Masa... cuma rusak dikit, ganti ruginya banyak banget?" ucap Vindy sedikit bernegosiasi.
"Tidak... bisa, kau tetap harus bayar ganti rugi sebesar 100 juta? Tidak... kurang, tidak lebih?" tegas pak Handro, sambil menyodorkan tangannya untuk meminta uang.
"Ya... udah, berhubungan aku tidak punya uang sebanyak itu? Bagiamana... kalau aku bayar bapak, dengan---?"
"Hmm... apa, maksud mu?" tanya pak Handro merasa curiga, dengan ucapan wanita di hadapannya itu.
"Dengan... tubuhku yang seksi, ini? Bukan... saja untuk mengganti kerugian, bapak? Tapi... bisa juga memuaskan hasrat, bapak? Dan... aku jamin pak Handro pasti sangat, puas?" ucap Vindy berbicara panjang lebar, sambil meraba-raba dan menggerayangi tubuhnya sendiri. Untuk membangkitkan gairah, pria yang ada di hadapannya itu.
"Mau... pergi, atau kedua pria itu yang akan menyeretmu?" ujar pak Handro dengan wajah penuh amarah, sambil mengusir Vindy dari club malam miliknya.
"Pak... ayo lah, pak? Tubuh... ku sangat seksi, masa bapak tidak tergiur? Sekali... main, bapak pasti ketagihan?" ucap Vindy, masih merayu pria yang ada di hadapannya.
Namun.
"Jangan... harap, saya akan tergoda dengan tubuh kotormu itu ******? Tidak... bisa ganti rugi, sebaiknya cepat pergi dari sini?" sambung pak Handro, menolak keras ajakan wanita di hadapannya.
__ADS_1
"Pak... aku udah siap, main yuk---?"
"Gino... Gali, seret wanita ini keluar dari sini!!" tegas pak Handro, yang akhirnya memanggil kedua anak buahnya untuk menyeret tubuh Vindy keluar dari club malam miliknya.
Tak menunggu waktu lama, mereka yang di panggil? Langsung datang, dan segera menyeret tubuh Vindy keluar dari club malam milik bos besarnya itu.
"Hay... lepaskan, aku belum selesai bernego dengan bos kalian?" pekik Vindy, sambil meronta-ronta saat kedua pria bertubuh kekar? Menyeret dirinya keluar, dari club malam itu.
"Sebaiknya... kau segera pergi, jangan bikin bos kami hilang kesabaran!!"
BRUK.
Pungkas salah satu dari mereka, sambil melempar tubuh Vindy keluar hingga terjatuh tersungkur di depan club malam.
"Arrrgghh---- Awas, kalian semua? Setelah... aku menjadi Nyonya Jonathan Bima Evander, semua perbuatan kalian pasti aku balas!!" pekik Vindy berteriak tepat di depan club malam itu, sambil berusaha berdiri.
"Awas, kalian?"
"Tunggu... pembalasan, ku!"
"Devina... tunggu, pembalasan ku? Akan... ku pastikan, kau akan mati di tangan ku? Andai... tahu mbok dan bapak akan mengkhianati ku, seperti ini. Mungkin... dari dulu aku sudah, membunuh mu!!" gumam Vindy, yang perlahan melangkah pergi meninggalkan tempat. Vindy terus merutuki sahabatnya, karena nasib sial yang telah di terimanya hari ini.
***
Pagi hari akhirnya menjelang. Setelah membersihkan badan, Verlyn pun segera bersiap-siap untuk ke kantor. Meskipun kesibukan wanita itu, kian bertambah? Namun Verlyn tak akan pernah lupa, dengan kewajibannya sebagai seorang ibu. Sebelum menjalani aktivitasnya sebagai model dan CEO perusahaan, Verlyn tak lupa menyiapkan segala kebutuhan anaknya. Dari memandikan, hingga membuatkan susu untuk anaknya.
Setelah selesai, Verlyn segera melangkah keluar, sambil menggendong anaknya menuruni anak tangga. Ezra yang terus tersenyum, membuat Verlyn ikut tersenyum, saat di gendong olehnya? Karena Ezra, semakin menggemaskan saja di matanya.
Bahkan setelah Verlyn menaruh anaknya di stroller, Ezra masih tetap tersenyum hingga di ruang tengah.
"Wah... Den Ezra, ceria banget hari ini pasti udah mandi?" sapa Murni, kepada anak majikannya.
"Hmm... udah ganteng, wangi lagi?" sahut Linda, menimpali ucapan majikannya.
"Iya... dong, hehehehe?" ucap Verlyn, sambil terkekeh geli.
Deg.... Deg... Deg.
"OMG... senyumnya hangat, banget?"
Membuat detak jantung David, seketika tak normal? Saat melihat senyum hangat, terbit dari sudut bibir atasanya.
"Oiiyya... Mur, Lin, jaga Ezra lagi ya? Aku... berangkat, dan hari ini aku tidak sarapan di rumah?" sambung Verlyn.
"Tapi... nona, sarapan sudah saya siapkan?" ujar Linda memberitahu, sambil menunjuk ke arah ruang makan.
"Ya... udah, kalian saja yang makan? Dan... pesan ku cuma satu, tolong jaga Ezra dengan baik? Apapun... kesibukan kalian, jangan pernah sekalipun meninggalkan Ezra seorang diri?" sambung Verlyn memberitahu, sambil mengingatkan.
"Baik, nona?" ucap Murni dan Linda secara bersamaan, sambil mengangguk tanda mengerti.
"Jika... kebutuhan Ezra habis, segera hubungi aku atau hubungi Tuan David. Mengerti, kalian?" sambung Verlyn, menjelaskan untuk memberitahu.
"Mengerti, nona?" jawab mereka secara bersama-sama, sambil menganggukkan kepala.
"Ya... udah, aku pergi dulu?" sambung Verlyn, sambil melirik jam tangannya.
Tepat, jam sudah menunjukkan pukul 06.30 menit.
"Ezra... sayang, Mama pergi dulu ya? Baik-baik di rumah, dan jangan rewel lagi ya sayang?"
__ADS_1
Cup.
Lirih Verlyn kepada Ezra, sambil mencium pipi gemas anaknya secara bergantian.
"Iya... Ma, dan Mama juga baik-baik dan hati-hati ya di jalan?" ucap Murni, mewakili ucapan Ezra kepada Mamanya.
"Bye... sayang?" ucap Verlyn, sembari melangkah pergi.
"Bye, Mama?" ujar Linda, sambil menggerakkan tangan Ezra, untuk melambaikan tangan.
"Hari... ini kita kemana, nona?" tanya David, setelah dengan sigap membuka kan pintu untuk atasanya.
"Ke... lokasi pemotretan, setelah itu baru kita ke kantor?" ucap Verlyn memberitahu, sambari masuk ke dalam mobil? Setelah David, membuka kan pintu mobil untuk atasanya.
"Hmm... oke, nona?" jawab David, kemudian melangkah masuk ke dalam mobil. Dengan style, simpelnya? Dengan senang hati, David akan mengantar ke manapun Verlyn akan pergi.
Visual atau gambar 👇👇
***
Sementara di lain waktu.
BRUK.
"Aarrrgggkkk---- sialan, pria itu seakan tak perduli lagi dengan ku? Menjawab telepon dari ku saja, dia tak sudi? Saat... pernikahan udah mulai dekat, baru dia bersikap seperti itu pada ku?" gerutu Vindy, sambil membanting keras ponsel ke lantai. Vindy sangat emosi, karena kekasihnya mulai mengabaikan dirinya.
Sejak meninggalkan club malam, Vindy terus mencoba menghubungi kekasihnya? Namun Jonathan, sama sekali tak menjawab telepon darinya. Bahkan chat yang di kirim Vindy pun, tak pernah Jonathan balas. Membuat wanita itu kehilangan kesabaran, hingga membanting ponselnya sendiri.
"Kau... sungguh keterlaluan, Jonathan? Bisa-bisanya... kau memperlakukan dirimu, seperti ini? Tapi... sekali milik ku, kau tetap harus menjadi milik ku. Aku... tidak perduli, meski kau adalah suami sahabatku sendiri?" gumam Vindy, langsung meraih tasnya yang ada diatas nakas.
Lalu tanpa membuang-buang waktu, ia pun melangkah keluar dari apartemennya? Untuk menemui kekasihnya.
"Dengan... tubuh ku ini, kau pasti akan kembali ke dalam pelukan ku?"
Bila pria itu, tak mau menjawab teleponnya. Maka Vindy, akan mendatangi Jonathan di perusahaan. Bahkan dengan segala cara, Vindy akan lakukan untuk mendapatkan pria itu lagi. Bermodalkan tubuh seksi, Vindy akan membuat Jonathan bertekuk lutut di hadapannya.
Bersambung.
¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿
Bijak-bijaklah dalam membaca ya, guys? Yang masih di bawa umur, tidak di perkenankan untuk membaca cerita di bagian ini.
Maaf ya guys, jika dalam cerita ku banyak mengandung hal-hal yang berbau ya gimana gitu.
Hehehehe, biasa lah guys? Cerita tak akan seru, jika dalam cerita tak ada yang sedikit menarik. Yaaa contohnya ya itu?
Hehehehe, maafkan author ya guys. Dan silahkan di lanjut bacanya, tapi jangan lupa🤔🤔.
Vote👈
Like♥️
Komentar 💌
And Favoritkan😍
See you And terima kasih 🤗🤗🤗.
__ADS_1