Reinkarnasi Gadis Pelakor

Reinkarnasi Gadis Pelakor
BAB 9. Maya adalah, Martua yang jahat


__ADS_3

"Aish... perasaan apa tadi, kenapa jantungku tiba-tiba berdenyut tak jelas ketika David menyentuh tangan ku?" gumam Verlyn berbicara dengan dirinya sendiri, sambil duduk di kursi taman Suropati yang berlokasi di Jl. Taman Suropati Menteng, Jakarta Pusat.


Taman seluas 16.328 meter persegi, yang di kelilingi berbagai macam pepohonan. Pepohonan yang sudah di tata sedemikian rupa, yang bisa menyejukkan hati siapa saja yang berkunjung ke sana. Termasuk, wanita yang kini sedang di landa perasaan aneh dari dalam hatinya.


Di penuhi berbagai macam permasalahan hidup, Verlyn pun akhirnya memutuskan pergi ke taman tersebut? Untuk menetralkan perasaannya yang mulai kacau, karena secara tidak sengaja asistennya menggenggam tangan nya.


"Arrrgghh... perasaan apa ini, bisa-bisa aku gila kalau seperti ini terus?"


Semakin ia menolak, perasaan itu pun semakin dalam menusuk ke dalam hatinya? Yang membuat pikirannya semakin kacau.


"Aish... mungkin kah aku mulai menyukai asisten ku, sendiri?"


Itu lah Verlyn tiba-tiba pergi, tanpa ingin di kawal oleh asistennya. Padahal biasanya, ia tidak mungkin pergi tanpa mengawalan.


Hmmm.


"Duduk... sebentar di sini lah, baru aku ke toko perlengkapan bayi? Dan... aku juga harus memikirkan cara, untuk mengantur pertemuan bapak dan mbok dengan anaknya? Aku... benar-benar tidak sanggup menceritakan hal ini, kepada mereka berdua? Orangtuanya... begitu baik, tapi kelakuan anaknya tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata?" ucap Verlyn sambil menikmati tiupan angin sepoi-sepoi yang berhembus di lokasi taman itu.


Singkat cerita, setelah meninggalkam taman Suropati Jakarta pusat. Verlyn langsung pergi ke toko perlengkapan bayi. Setelah melangkah masuk, Verlyn pun langsung memborong perlengkapan bayi itu untuk anak barunya Ezra menggunakan uang pribadi nya sendiri.


"Stroller udah, mobil-mobilan udah, baju anak juga udah? Hmm... kasur bantal selimut juga udah, bola-bola kecil juga udah, botol susu udah? Susu beloved gold juga udah? Hmm... apa lagi ya yang belum, oh My baby kids juga udah, boneka kuala juga udah, boneka doraemonnya juga udah?" ucap Verlyn begitu sangat bahagia, memilih-memilah perlengkapan bayi untuk anak.


Huuufh.


"Akhirnya... udah ke beli semua, kalau begitu waktunya pulang? Ezra... pasti senang banget, karena Mamanya udah membelikan begitu banyak hadiah?" ucap Verlyn, sambil menjinjing tas belanjaan nya keluar dari toko perlengkapan bayi.


Bila urusan anak kecil, dunia wanita itu bagaikan tercungkir balik. Ia terlihat begitu bahagia, memasukkan semua barang belanjaannya ke dalam bagasi mobil nya. Setelah semua beres, ia pun segera pergi meninggalkan tempat menuju pulang ke kediaman nya.


Tak kurang dari 30 menit, wanita itu akhirnya sampai di kediamannya. Mobilnya masuk ke halaman rumah yang begitu luas, namun malah berpapasan dengan mobil yang di gunakan David sang asisten tampannya.


"Astaga... anda pergi sendiri, nona?" ucap David setelah melihat atasannya keluar dari mobil, sambil mengeluarkan semua barang belanjaannya dari dalam bagasi mobil nya.


"Iya... kenapa sih, gak boleh aku pergi? Cuma... perlengkapan bayi, masa minta bantuanmu juga?" jawab Verlyn, dengan suara lantang nya.


"Astaga... nona, masa saya makan gaji buta? Ini... tugas saya, seharusnya anda menyuruh saya?" ucap David, merasa tidak enak hati.


"Siapa... bilang kau makan gaji buta, barusan aku minta kau cari anak mbok Sari dan pak Nurdin? Lagipula... gak masalah, aku pergi belanja sendiri?" ucap Verlyn dengan lantangnya, sambil mengingatkan apa yang barusan di tugaskan olehnya untuk asistennya.


"Wah... habis belanja perlengkapan bayi ya, duk?" sahut mbok Sari yang muncul dari arah samping rumah, sambil pak Nurdin menggendong anak tampannya? Siapa lagi kalau bukan, si Baby Ezra. Dan untung saja mereka tidak mendengar percakapannya, dengan asistennya.

__ADS_1


"Iya, nih mbok?" jawab Verlyn sambil berbalik badan, serta senyum tak pernah lenyap dari sudut bibirnya.


"Biar... bapak bantu ya, duk?" sahut pak Nurdin sambil menggendong Ezra.


"Boleh?" jawabnya dengan senyum mengembang. kemudian pak Nurdin perlahan berjalan, dan mulai mengambil satu persatu barang belanjaann wanita di depannya itu.


"Nona, saya bantu juga ya?" sambung David sambil meminta izin, kemudian di balas anggukan kepala oleh atasannya sambil tersenyum simpul. Membuat hati pria di hadapannya, meleleh kembali.


"Sini... mbok, biar aku yang menggendong Ezra? Mbok... pasti udah cepak kan, urusin Ezra seharian ini? Jadi... biar aku yang menggendong Ezra, dan mbok boleh istirahat?" ucap Verlyn perlahan mengalihkan gendongan Ezra, ke dalam gendongan nya.


"Terima kasih, duk?" ucap mbok Sari sambil mengangguk, sambil melepaskan gedongannya dari si Baby Ezra.


"Linda... Murni, kemana sih dua orang itu? Kita... sibuk di sini sejak jadi, mereka malah tidak ada yang keluar?" gerutu Verlyn, sambil memanggil kedua pembantunya. Karena sejak tadi, mereka tidak ada yang keluar untuk membantu.


Mendengar suara majikannya, barulah mereka buru-buru keluar dan berlari dari arah dapur.


"I---iya, nona?" jawab mereka secara bersamaan, sambil membungkukkan badan untuk beri hormat.


"Kemana saja kalian, di panggil baru keluar?" tanya Verlyn, menatap tajam wajah kedua pembantunya.


"Ka---kami tidak mendengar nya, nona?" jawab Linda sambil menunduk takut.


"Cepat... bantu mereka, jangan cuma bengong di situ?" tegas Verlyn, lalu mereka berdua segera melakukan pekerjaannya dengan baik sambil menggerutu ngomongin orang.


Sementara di lain waktu, tampak sebuah kediaman keluarga Tuan Bagaskara Evander.


Kediaman Bagaskara Evander.



Sore hari, Jonathan baru tiba di kediaman orangtuanya. Ia terlihat lesu, karena sudah seharian penuh mencari keberadaan istrinya namun hasilnya nihil.


Langsung saja ia melempar tubuhnya ke sofa samping Mamanya. Yang mana di situ ada Papanya, sedang duduk di sofa sambil membaca koran.


"Bagiamana, sudah ketemu belum?" tegas Tuan Bagaskara bertanya, begitu melihat putranya sambil menenteng jas pada lengan tangan nya dengan dasi di longgarkan.


"Nihil, Pa?" jawab Jonathan yang kini duduk di sofa samping Mamanya.


"Makanya... kalau cari istri yang becus, kau memang tak berguna menjadi suami?" ucap Tuan Bagaskara, sembari tetap menatap koran yang ada di tangan nya.

__ADS_1


"Udah... dong Pa, jangan tegas begitu dengan anak sendiri? Kasihan... kan Jonathan, baru pulang langsung di marahin sama Papa?" ucap Maya kini membuka suara, untuk membela anaknya.


"Kau... juga jangan terlalu memanjakan nya Maya, nanti anakmu ini gak bakalan jadi dewasa? Anakmu... ini sudah menjadi ayah, jadi sudah sepantasnya dia mencari istri dan anaknya itu?" ucap Tuan Bagaskara berbicara panjang lebar, tanpa memalingkan wajahnya di koran yang tengah ia baca.


"Papa... sih, pilih menantu kok orangnya ngambekkan? Masalah... kecil saja, pake pergi segala dari rumah?" sambung Maya semakin menyudutkan menantunya sendiri, di depan suaminya.


"Mama... ini, seperti gak pernah hamil saja? Ibu hamil itu kan, memang orangnya sensitif?" ucap Tuan Bagaskara malah berdebat dengan istrinya.


"Aakh, sok tahu deh Papa?"


BRAK!


Maya bukannya memahami ucapan suaminya, malah justru tidak mau diam? Maya terus bicara, yang membuat Bagaskara menjadi kesal.


"Kau, sama saja dengan putramu? Keras kepala, dan suka membangkang? Jonat... kalau sampai Devina belum kembali, jangan salahkan Papa mencopot jabatamu dari perusahaan?"


Bagaskara melempar koran tersebut di atas meja, dan pergi dengan kemarahan setelah melontarkan kata-kata yang tidak pantas untuk di dengar oleh istri dan anaknya.


"Ma, bagaimana ini? Kalau... Papa sampai benar-benar mencopot jabatan ku dari perusahaan, aku bisa malu? Aku... sudah menjabat CEO di sana sudah lama, masa gara-gara Devina jabatan ku malah di copot begitu saja?"


Jonathan bukannya menyadari kesalahan, malah ia merengek manja kepada Mamanya. Devina pergi bukan tanpa sebab, melainkan sakit hati karena melihat perselingkuhan Jonathan dengan Vindy sahabatnya sendiri. Bukan hanya itu, dengan kedua matanya sendiri? Devina melihat suaminya, beradegan panas di ranjang perkawinannya sendiri.


Maya sebenarnya sudah mengetahui kelakuan putranya, namun ia seperti tutup telinga dengan apa yang di lakukan oleh Jonathan. Karena sedari dulu, Maya memang tidak menyukai Devina menjadi menantunya.


Maya tetap mendukung hubungan Jonathan dengan Vindy, dan rela menutupi ke busukkan anaknya di depan suaminya sendiri. Menurut Maya, Devina hanyalah kotoran jalanan yang tak pantas di jadikan seorang ratu di keluarganya. Maka dari itu, ia mendukung seratus persen anaknya untuk tidak lagi berhubungan dengan istrinya itu, Devina.


Bersambung.


¿?¿??¿??¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿??¿??¿¿?¿


Nah... loh, penasaran kan dengan ceritanya. Oke, sebelum author lanjut jangan lupa tinggalkan jejak dulu dong.


Vote👈


Like♥️


Komentar 💌


And Favoritkan😍

__ADS_1


See you again And terima kasih 🤗🤗🤗.


__ADS_2