Reinkarnasi sang putri

Reinkarnasi sang putri
Putri keluarga Meng


__ADS_3

"Kau harus keluar dari sekolah ini Dan kembali ketempat asalmu dengan Telanjang! kau harus berjalan tanpa menggunakan busana apapun!"


gadis itu tersenyum licik saat mengutarakan kesepakatan nya ketika dia menang. sontak saja beberapa orang yang berada dibelakang gadis ini tampak cemas dan ragu saat pemimpin mereka berniat untuk mempermalukan alice.


Salah seorang diantara mereka memberanikan diri untuk maju dan mengutarakan pendapat nya pada gadis yang memimpin mereka.


"a-anu, nona July. tapi bukankah itu sedikit berlebihan? bagaimana jika pangeran Roland marah pada kami?"


Mendengar 'pangeran roland marah hanya karena alice' membuat july marah dan berteriak pada bawahan nya.


"Kau diam saja! memang nya kau pikir kau itu siapa? kembali ke belakang!"


gadis itu kembali ke barisan belakang dan tidak berani bicara lagi satu patah kata pun.


'hm? takut roland marah?'


jika dilihat-lihat lagi, sepertinya July terlihat cukup familiar dimata alice.


'July.. july Meng..perdana menteri.. ahh! bukankah dia yang memamerkan status ayahnya yang menjadi perdana menteri saat ujian pertama waktu itu? pantas saja dia nampak marah sekali denganku. bukan hanya karena aku dekat dengan roland tapi aku juga bisa masuk ke kelas genius dengan mudah. mungkin dia mengira aku masuk ke kelas genius berkat kedekatan ku dengan roland.'


"hei! apa kau tuli? kau dengar aku kan? kau mau bertanding denganku atau tidak?!"


Alice menghela nafas panjang dan berdiri dari kursinya.


"Baiklah, ku terima tantangan mu."


saat alice menerima tantangan nya, july terlihat sangat senang seakan-akan dia sudah mengalahkan alice sebelum bertanding.


"Tapi jika kau kalah, kau harus berlutut dan meminta maaf padaku karena sudah mengganggu ku. dan juga kau tidak boleh masuk ke academy selama sebulan. bagaimana?"


Alice juga menyuarakan kesepakatan nya pada july.

__ADS_1


July tersenyum,


"Tentu. jangan mengira hanya karena kau murid dari kelas genius, kau bisa mengalahkan ku dengan mudah!"


"Ya, ya. bicaralah sesukamu. aku tidak begitu suka berdebat. jadi langsung saja kita ke lapangan."


Alice berjalan pergi menuju lapangan dan diikuti oleh shera di belakangnya.


Melihat alice yang tidak begitu menghiraukan nya, kemarahan july benar-benar sudah memuncak.


'awas saja kau!'


July dan para bawahannya juga ikut Pergi menuju lapangan diluar kelas.


Di Lapangan


banyak orang dari kelas biasa ingin menyaksikan pertandingan antara alice dengan july. Mereka merasa marah atas ketidak-adilan sekolah karena memasukkan alice ke kelas genius.


"peraturan nya mudah, jika ada yang terjatuh duluan maka dia kalah. atau bisa juga jika orang itu mangaku kalah."


"oke."


Alice menjawab singkat.


'huh! Mungkin sekarang kau bisa tenang. tapi tunggu saja, aku akan mengalahkan mu. sihir mu hanya sihir angin! dasar lemah! kau bahkan tidak pantas berada disini.'


july sudah bersiap disisi kiri. begitu juga dengan alice, dia sudah bersiap disisi kanan.


salah seorang murid dari kelas genius menjadi wasit relawan agar pertandingan berjalan dengan adil.


"mulai."

__ADS_1


July mengeluarkan sihir petirnya dan langsung menyerang alice. beberapa saat sebelum pertandingan dimulai, rupanya july sudah membaca mantra sihir dan bersiap untuk mengeluarkan nya.


melihat sihir petir yang mendekat kearah nya, tidak membuat alice bergeming sedikitpun. alice masih bertindak santai seakan tidak terjadi apapun.


july merasa Senang karena alice tidak begitu menghiraukan sihirnya.


'huh! dasar sombong! kita lihat berapa lama lagi kau akan bersantai. sihirku tidak selemah yang kau kira!'


hanya tinggal beberapa centi sebelum sihir itu mendekat kearahnya, alice sudah melompat dan menghilang.


bukan hanya penonton, bahkan july dan para bawahan nya juga terkejut dengan hilangnya alice.


"lihat disana! dia berada di atas! Luar biasa!"


"eh? apa itu? a-apa apaan itu?"


ketika july melihat keatas, dia melihat alice yang sedang.. terbang?


"bukan! dia bukan terbang! lihatlah.. kakinya seperti menginjak tangga yang tak terlihat!"


benar saja, ketika semua orang melihat nya sekali lagi, mereka melihat kedua tangan alice berada di belakang punggungnya dan kedua kakinya perlahan naik keatas satu persatu. itu terasa seperti mereka sedang melihat tangga yang tidak terlihat.


"bukan. dia bukan menaiki tangga yang tak terlihat. tapi penguasaan sihir angin nya sudah sampai ketahap yang tidak bisa kalian bayangkan."


disaat semua orang sudah yakin atas kekalahan alice, hanya shera lah yang selalu yakin dengan kemenangan alice.


"Sihir angin nya.. sudah sampai ketahap yang tak terbayang.. kan?"


july yang terasa marah menjadi lebih marah lagi saat tau kekuatan alice yang sebenarnya.


"Dasar keparat! jangan pikir kau sudah memang brengsek!"

__ADS_1


..


__ADS_2