Rela Ku Lakukan Demi Dia

Rela Ku Lakukan Demi Dia
Bab 35


__ADS_3

Hari pun semakin petang, sarah yang berada diruang kerja tak sengaja melihat jam tangan nya menunjukan waktu pulang kerja.


"Udah waktu nya pulang ni" Batin sarah lalu membereskan beberapa lembar gambar desain nya.


Sarah pun menghampiri dewi yang tengah menghitung uang untuk dimasukan ke loker penyimpanan uang.


"Pulang bareng yuk wi!?" ajak sarah


"Aku mau jenguk nenek aku dulu sar , kamu mau ikut aku" ucap dewi sambil mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu keluar.


"Enggak deh , aku bareng mas fandy aja kalau gitu" sahut sarah lalu mengikuti dewi keluar toko.


Wajah dewi terlihat kurang baik akhir akhir ini setelah bertemu dengan rio adik fandy.


"Wi kamu gak enak badan ya?" tanya sarah cemas sambil mengulurkan tangannya kekening dewi memastikan sahabatnya itu baik baik saja.


"Enggak papa kok sar, aku sehat aja" jawab dewi tersenyum paksa.


"Kamu ada masalah ngomong dong sama aku, kaya sama siapa aja" Ucap sarah .


"Bukannya gitu sar, tapi ini masalah keluarga aku, jadi kamu gak perlu tau menurut ku" sahut dewi dengan suara yang akan menangis.


"Kamu kenapa si wi , gak kaya kamu biasanya tau" ucap sarah semakin cemas melihat dewi yang mata mulai memerah.


"Nangis aja wi gak papa ,aku sahabat kamu kok aku bakal ada disaat kamu susah , kita lewatin bareng wi" ucap sarah memeluk dewi.


Dewi pun membalas pelukan sarah lalu menangis terisak isak.


"Aku gak kuat sar, kaya gini" ucap dewi dalam tangisnya.


"Kenapa wi cerita dong sama aku" jawab sarah lirih menenangkan dewi lalu menyuruhnya untuk duduk dulu.


"Sar ibu aku ,, " dewi belum selesai menyelesaikan ucapannya tiba tiba ada seorang berhenti didepan toko tempat mereka duduk. seorang laki laki yang tak asing bagi mereka berdua.


"Bisa nangis juga ya lu" ucap laki laki itu.


"Kamu seneng ya liat aku nangis, dasar orang gak punya hati" jawab dewi dengan suara lantang.


"Santai dong , cuma ngomong gitu aja marah" ucap laki laki itu yang tak lain rio.


Dewi pun kembali terduduk dan diam mematung. Sarah yang melihat dewi seperti ini merasa sedih yang biasa dia lihat dewi seorang periang dan pemberani, tapi selain itu dia melihat ada sisi lain dari sahabanya itu yang belum pernah dia ketahui sisi rapuh sahabatnya itu.


"Udah jangan ganggu dia dulu" ucap sarah pada rio


"Kenapa si kak dia?" tanya rio bingung.


"Belum tau ,kamu pulanglah dulu biar aku saja yang tanya" ucap sarah menyuruh rio pergi meninggalkan mereka berdua dulu.


"Oke , kalau gitu" sahut rio lalu pergi mengendarai motor milik fandy.


"Oke sekarang kamu mau cerita " ucap sarah membujuk dewi agar menceritakan semua masalahnya.


"Belum saat nya sar aku cerita" jawab dewi lalu pergi meninggalkan sarah sendiri dikursi depan toko.


"Kenapa ya dewi, kayanya ada masalah besar yang lagi dia sembunyi in dari aku" Batin sarah gelisah .


"Udah lah besok aku tanya in lagi sama dia, sekarang telfon mas fandy dulu buat pulang bareng" Ucap sarah lalu mengambil ponselnya didalam tasnya.


Kriiingg,,!!!!

__ADS_1


Fandy yang mendengar ponselnya berdering pun mengangkat nya.


"Iya hallo, siapa?" ucap fandy bertanya pada penelfon.


"Ini aku mas sarah, apa gak liat dulu namanya" jawab penelfon itu yaitu sarah.


"Oh kamu sayang, maaf aku lagi nulis tugas buat anak didik baru ni, jadi gak liat kamu yang telfon" jawab fandy sambil menulis.


"Lagi sibuk ya berati" ucap sarah merasa dia mengganggu kerja fandy.


"Enggak kok, bentar lagi selesai" jawab fandy lalu menyelesai kan menulisnya.


"Emm,, kalau udah selesai bisa jemput aku kan mas?" tanya sarah pada fandy.


"Oke kamu tunggu bentar ya ,aku kesana sekarang" balas fandy lalu mematikan telfonnya.


Fandy pun menghampiri sarah yang tengah duduk di kursi depan toko.


"Yuk naik!?" pinta fandy


"Oke " sahut sarah lalu naik ke motor.


"Mas tadi rio kesini lo" ucap sarah


"Ngapain dia kesini" sahut fandy bingung


"Dia beli jaket soalnya lupa mau bawa jaket mau berangkat kuliah kayanya" ucap sarah menjelaskan.


"Oh gitu" sahut fandy singkat.


Tak lama mereka pun sampai dirumah sarah. Didepan rumah terlihat ibu dan bapak sarah yang sedang bersantai dan mengobrol berdua .


"Mampir dulu mas" ajak sarah


"Nak fandy makan bareng bapak yuk!?" ajak pak putro.


"Iya pak terima kasih, tapi lain kali saja saya juga mau langsung pulang saja" ucap fandy dengan sopan.


"Kenapa nak fandy, tak usah malu anggap sja rumah sendiri" ucap pak putro.


"Bukan begitu pak, tapi adik saya mungkin jam segini sudah pulang dan mama sama papa saya masih dikantor , dia nanti bosan pak" ucap fandy menjelaskan.


"Ya sudah kalau gitu lain kali saja kita makan bersama dirumah bapak ya" jawab pak putro tersenyum.


Fandy berpamitan lalu pergi pulang kerumahnya , sesampainya dirumah ia melihat rio tengah menonton tv diruang keluarga.


"Tumben nonton tv , biasa kalau sendiri maen game terus" ucap fandy meledek adiknya itu.


"Kak, aku kepikiran dewi deh" ucap rio memikirkan sesuatu dalam benaknya.


"Kamu udah mulai suka sama dewi ya, tumben kepikiran dia" jawab fandy memastikan.


"Bukan, tapi tadi aku liat kak sarah sama dewi duduk di depan toko dan melihat dewi kayanya lagi nangis deh" ucap rio


"Kenapa dewi nangis, gara gara kamu ya mungkin dia nangis" ucap fandy mencurigai


"Bukan lah, aku dateng dia udah nangis" sahut rio menghembuskan nafas dengan kasar.


"Apa dia ada masalah ya sampai nangis gitu, belum pernah liat dia nangis sampe kaya gitu, jadi khawatir sama dia" Batin rio

__ADS_1


"Aiihh,, mikir apa an lagi gua" gumam rio mengacak rambutnya.


"Kenapa kamu, kalau mau tau kamu tanya dia" ucap fandy .


"Tanya gimana" sahut rio bingunh


" Telfon dia terus hibur dia" ucap fandy singkat lalu pergi.


"Telfon , nomor aja gak punya" gumam rio kesal.


(DIKEDIAMAN DEWI)


****


Dewi tengah memikirkan masalah yang dia hadapi dan keluarga nya.


"Bagaimana dengan aku" Gumam dewi meneteskan air mata.


"Apa mereka tidak memikirkan perasaan ku" ucap dewi sendu. dewi pun semakin terisak dalam tangisnya ia sangat lah hancur. kenapa keluarga nya hancur sampai disini.


Tiba tiba suara ketukan pintu dari luar.


"Seperti nya ada tamu, aku gak boleh keliatan sedih kaya gini" ucap dewi mengusap air mata nya dan menuju keluar untuk membuka kan pintu.


"Iya sebentar" triak dewi dari dalam.


"Siapa ya" dewi pun kaget melihat seorang yang berada didepannya.


"Kamu kenapa kesini?" tanya dewi dengan suara terbata bata.


" Aku mau main aja" sahut seorang laki laki itu.


"Emm ,,masuk dulu" ucap dewi mempersilakan laki laki itu masuk.


"Mau minum apa?" tanya dewi yang masih bingung kenapa laki laki itu kesini.


"Gak usah , aku cuma mau ngomong sama kamu" ucap laki laki itu yang tak lain dan tak bukan adalah rio. dewi pun langsung duduk berhadapan dengan rio.


"Kamu mau ngomong apa?" tanya dewi menundukan kepalanya.


"Kamu tadi kenapa nangis?, apa mungkin karena aku salah kemarin gara gara aku diemin kamu" ucap rio dengan lembut.


"Ehh,, eng,,enggak kok bukan salah kamu" sahut dewi masih dengan terbata bata.


"Jawab jujur aja aku gak akan marah kok" ucap rio lembut.


"Apakah aku cerita sama dia aja ya tentang masalah keluarga aku" Batin dewi gelisah.


"Emm,,sebenarnya aku ada masalah tentang keluarga aku sekarang" ucap dewi lirih menahan air mata nya.


"Cerita in aja sama aku, mungkin aku bisa bantu, terus sebelumnya aku minta maaf atas semua kesalahan aku yang lalu lalu ya, aku mau kok jadi pendengar setia kamu" ucap rio mencoba mengibur dewi


"Bapak aku berselingkuh tanpa sepengetahuan ibu ditempat kerja nya disebrang, ibu tau dari temannya di sana yang juga kerja sma dengan tempat kerja bapak" ucap dewi menjelaskan.


"Lalu ibu kamu gimana?" tanya rio langsung pindah duduk disamping dewi.


"Setelah ibu tau, ibu selalu marah marah gak jelas, terus aku jadi bahan untuk meluapkan emosi ibuku, dulu ibu gak pernah marah sama aku, jadi aku sekarang ngerasa sendiri dan hancur, udah bapak jauh disana, sekarang ditambah ibu sering gak pulang kerumah " ucap dewi menahan tangisnya karena malu mau menangis didepan rio. Lalu rio pun tanpa basa basi merangkul dewi.


"Sabar semua masalah pasti ada jalannya, kamu yang sabar aja terus kamu gak sendiri kok masih ada sarah dan aku yang bakal jadi sahabat sekaligus keluarga kamu" ucap rio lembut. Tanpa sadar dewi pun bersandar dibahu rio lalu memejamkan matanya.

__ADS_1


"Aku merasa aman kalau dideket dia" Batin dewi lalu tersenyum.


"Makasih ya udah dateng kerumah ku terus udah mau hibur aku" ucap dewi langsung duduk dengan canggung.


__ADS_2