Ruang Kosong Di Sekolah

Ruang Kosong Di Sekolah
22. Selingkuh


__ADS_3

Di parkiran sebuah taman wahana. Anan menarik tangan Dita untuk ikut berjongkok.


"Ada apa sih, Nan?" tanya Dita yang ikut berjongkok dan bersembunyi di balik mobil Anan.


"Ada si Jennifer," bisik Anan.


Dita melihat Jenifer tengah menggandeng erat lengan milik Shane. Mereka sedang menikmati es krim dengan mesra seraya menuju stand penjual boneka di taman hiburan kala itu. Sesekali Shane mendaratkan kecupan di kepala Jennifer.


"Itu bukannya pacar kamu, ya?" tanya Dita.


"Iya, tapi tadinya. Sekarang aku sama dia udah putus." Anan terlihat kesal menunjukkan raut wajah cemberut, tetapi malah makin menggemaskan untuk Dita lihat.


"Sayang, nanti beli boneka itu, ya?" pinta Jennifer pada si pria.


"Ya, sayang. Apa sih yang nggak buat kamu," ucap pria itu mesra seraya merangkul Jennifer.


"Cowok bule di sampingnya, bukannya temen kamu, ya?" tanya Dita lagi sambil memperhatikan dengan saksama.


"Iya, tadinya. Sekarang udah bukan temen gue lagi," ucap Anan bersungut-sungut.


Anan mengeluarkan ponsel dari sakunya kemudian. Timbul rencana untuk mengerjai Jennifer. Pemuda itu lalu menghubungi Jenifer.


"Kamu di mana, Jen?" tanya Anan.


"Hai, Baby. Aku lagi di klinik kecantikan, nih. Mami aku soalnya mau tanam benang," ucap Jennifer berbohong dari dalam ponsel Anan, padahal dia sedang bermesraan dengan Shane. Jennifer juga tampak menarik Shane ke tempat lebih sepi agar tak terdengar ramai sedang di taman hiburan.


"Kok, kayaknya rame banget, sih? Aku denger sekitar kamu seperti ada di taman hiburan gitu?" tuding Anan yang memang sudah tahu keberadaan Jennifer dan Shane.


"Oh, masa sih rame? Umm... kayaknya emang kliniknya emang deket sama taman hiburan hehehe. Kamu tumben telepon aku, kamu kangen, ya?" tanya Jennifer dengan nada manja dan genit menggoda.


"Kenapa aku harus kangen?" Anan muncul mengejutkan Jenifer dan Shane. Gadis itu langsung melepas pegangannya dari tangan Shane.


"Baby! Kok, kamu ada di sini?" pekik Jennifer mencoba mendekati Anan dan memeluknya. Anan segera menepis dan mendorong gadis itu.


"Jadi ini Mama kamu yang lagi mau tanam benang dan diantar ke klinik? Mana kliniknya? Apa mau aku aja yang tanamin benang pakai benang jahit?" Anan bertolak pinggang di hadapan Shane dan Jennifer. Dia juga melirik tajam pada pemuda bule itu.


"Hai, Nan! Denger dulu, Bro, gue bisa jelasin semuanya sama elu. Ini semua salah paham, kok!" ucap Shane mencoba membela diri.


"Nggak usah elu repot-repot jelasin ke gue. Tuh, semua udah jelas. Kita putus sekarang, Jane!" seru Anan menunjuk ke Jennifer.

__ADS_1


"Baby, nggak bisa gitu, dong! Mama aku tuh udah ngajakin dinner malam sama Tante Dewi," ucap Jennifer mencoba menahan tangan Anan.


"Nggak usah ada dinner bareng! Males gue!" Anan menepis tangan Jennifer.


Anan melangkah kembali menuju ke arah mobilnya. Jenifer dan Shane langsung mengejarnya dan berusaha untuk memberikan keterangan palsu.


"Udah ya, gue udah nggak mau denger segala kebohongan elu elu semua!" seru Anan.


"Tapi aku nggak selingkuh, Nan! Kamu tuh yang lagi selingkuh sama dia, iya kan?" Jennifer menunjuk ke arah Dita.


"Gue sama Dita punya urusan yang kalian nggak perlu tau. Yang jelas kita nggak selingkuh," tegas Anan.


"Aku juga nggak selingkuh sama Shane!" sahut Jennifer.


"Nggak selingkuh kata elu? Pegang tangan, gandengan, bahkan saling cium kata elu nggak selingkuh? Bullshit luh, Jen!" tuding Anan menunjuk Jennifer dan Shane. Wajah Anan sudah terlihat merah padam. Dia tak menyangka kalau kekasihnya akan berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.


"Anan, tunggu! Aku nggak mau putus sama kamu!" Jennifer mencoba mengejar Anan.


"Bodo amat! Gue tetep mau putus sama elu. Minggir atau nanti gue tabrak?!" tantang Anan seraya menarik tangan Dita dan meminta gadis itu untuk masuk ke dalam mobil.


"Udah, Jen, kamu minggir! Malah bagus jadinya kita nggak usah sembunyi-sembunyi lagi," ucap Shane menarik tangan Jennifer.


***


Sepanjang perjalanan, kedua saling terdiam. Hanya hantu anak kecil itu yang buka suara. Dita dan Anan akhirnya turun di sebuah taman yang menjual balon gas dengan aneka bentuk. Sosok hantu anak kecil itu meminta untuk dibelikan. Dita dan Anan bagaikan pasangan muda yang tengah berpiknik di taman tersebut bersama anak lelakinya. Hanya saja mereka berpiknik ria bersama sosok makhluk astral. Anan menghentikan mobilnya di sebuah taman kecil dekat dengan Komplek Matahari.


"Kamu nggak apa-apa kan, Nan?" tanya Dita memberanikan diri saat turun dari dalam mobil.


Gadis itu sempat melihat Anan murung setelah memergoki perselingkuhan kekasihnya dengan sahabatnya sendiri.


"Nggak apa-apa, kok. Gue malah seneng bisa putus dari cewek matre itu. Elu laper nggak, Ta?" tanya Anan.


Anan menawarkan Dita makan karena mendengar suara perut gadis itu berbunyi. Namun, Dita masih saja berbohong.


"Nggak laper, kok," sahut Dita.


"Halah, basi luh! Nggak usah bohong sama gue!"


"Hehehe, kamu tau aja kalau aku laper." Dita melayangkan senyum manis yang sempat membuat Anan salah tingkah.

__ADS_1


"Ada tukang siomay tuh. Yuk, gue beliin!" ajak Anan.


"Tapi …."


"Kenapa tapi? Elu nggak suka siomay?" tanya Anan lagi.


"Ummm ... kalau makan siomay satu porsi, aku tuh suka masih laper hehehe. Kalau di rumah aja aku terbiasa makan siomay pakai nasi. Kata ibuku biar sekalian kenyangnya, hehehe."


"Dih, gue nggak nyangka badan kevil kayak elu makannya banyak. Kalau elu masih lapar, nanti gue beliin satu gerobak siomay kalau perlu," ucap Anan.


"Ummm… sombongnya mentang-mentang anak orang kaya," sahut Dita.


"Mau nggak?"


"Ya, mau lah!"


Penuh keyakinan Dita berucap.


Dan pada akhirnya, Dita sukses membuat Anan melongo karena berhasil menghabiskan tiga porsi siomay dan satu botol air mineral kala itu.


Sosok hantu anak kecil yang menemani Dita dan Anta tadi berkeliling menjauh. Lalu, dia kembali lagi ke hadapan Anan dan Dita sambil menunjuk penjual mainan robot.


"Kak, mau robot itu!" tunjuknya.


"Tuh kan, Ta, dia tukang pulak," sahut Anan kesal.


"Nggak apa-apa, Nan, sekali-kali jadi orang baik nyenengin anak kecil," ucap Dita.


"Elu pikir selama ini gue bukan orang baik, gitu?" Anan memicing tajam.


"Ya, nggak gitu juga hehehe. Anan orang baik, kok," ucapnya.


Tiba-tiba, seorang wanita datang membeli siomay.


"Bang, siomay dua porsi dibungkus, ya, nggak pakai lama," pinta wanita itu.


"Kak, ini mama aku!" seru hantu anak kecil itu menunjuk sosok wanita yang baru saja sampai.


...*****...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2