Ruang Kosong Di Sekolah

Ruang Kosong Di Sekolah
38. Sosok Pelindung


__ADS_3

Part 38


Di sebuah rumah besar berlantai tiga,


seorang wanita yang mengenakan jubah hitam berdiri di beranda. Seorang pria


yang memakai jubah hitam yang sama mendekat di belakangnya. Dia mendorong


seseorang pria paruh baya yang duduk di kursi roda.


“Iblis itu sudah tak bisa dikendalikan. Mas bilang, Mita merupakan tumbal yang cocok dan dapat mengendalikan iblis itu karena dia merupakan siswi terpandai. Nyatanya, iblis


itu semakin ngelunjak, Mas! Semua murid pandai dilahapnya!” serunya.


“Kita sudah membuat perjanjian dengannya. Tak akan ada yang bisa memusnahkannya kecuali dia yang ilmu dan kekuatannya lebih tinggi dari Iblis Wongso.” Si pria di kursi roda meminta pemuda di belakangnya untuk mengambilkan cerutu.


“Halah! Dulu kakakmu juga bilang begitu, Mas. Nyatanya dia mati setelah menumbalkan Mita, putrinya sendiri. Lalu, istrinya juga menyusul,” ucapnya.


“Yang saya dengar kalau Tante Phoebe jadi hantu gentayangan di rumah yang lama, di kompleknya,” sahut pemuda di


belakang kursi roda itu.


“Hantu Nyonya Larson, kan?” tanya si wanita.


Pemuda itu mengangguk.


“Bagaimana putra keluarga Prayoga Bukankah Wongso mau melahapnya juga waktu itu?” tanya si pria di kursi roda.


“Nggak bisa, Mas. Anan bukan siswa yang cukup pandai. Dia masuk ke Abadi Jaya karena uang,” sahut wanita itu.


“Tapi gadis yang menolongnya merupakan siswi yang pandai, Bu. Anandita namanya.” Pemuda itu tersenyum menyeringai.


“Ya sudah, coba kita gunakan dia!” titah si


pria kursi roda.


"Aku akan siapkan ritual merasuk sukma," ucap si wanita lalu pergi ke sebuah ruangan di dalam rumah itu.


***


Di rumah sakit tempat Dita dirawat.


“Elu mimpi apa tentang Yono sama Ratih?” tanya Anan.


“Aku mimpiin mereka ada di sekolah, Nan. Di lantai empat.”


“Bukannya mereka hilang, ya? Terus elu pikir mereka ada di lantai empat gedung sekolah kita? Emang ada apaan di sana?  Bukannya masih renovasi, ya? Masih kosong gitu?”


“Entahlah, Nan, kamu mau, nggak—”


“NGGAK!”


“Anan dengerin dulu!”


“Gue udah tahu jalan pikiran elu. Pasti elu mau ngajak gue buat ke lantai empat, kan?” terka Anan.

__ADS_1


Dita menjawab dengan anggukan.


“Udahlah, elu pulihin diri elu dulu. Liat nanti aja gimana baiknya.”


“Nan.…”


“Apa lagi?” Anan yang hampir bangkit untuk membeli minum karena terlupa, langsung menoleh ke arah Dita.


“Terima kasih, ya.” Dita melukis


senyum hangat di wajahnya.


Anan hampir saja limbung setelah


mendapatkan senyum manis nan cantik itu. Dia berusaha menegakkan tubuhnya dan bersikap cuek tetapi masih keren.


“I-iya, sama-sama. Gue beli minum


dulu,” ucap Anan lalu keluar dari ruang perawatan. Sejenak dia menepuk dadanya sendiri seraya menghirup napas dalam. Detak jantungnya mendadak cepat mendapat senyuman manis dari Dita.


“Aku mau ikut si ganteng, ah!” Tante Key mengendap-endap mengejar Anan meninggalkan Dita sendirian.


Tak lama kemudian, seorang perawat datang untuk memeriksa kondisi Dita. Dia juga membawa beberapa obat untuk Dita.


“Selamat siang, Nona Anandita. Minum obat dulu, ya. Lalu ini ada suntikan untuk lambungnya biar nggak mual terus,” ujar perawat berkulit sawo matang dan rambut digelung. Dita membaca tanda pengenal perawat di dada kiri wanita itu. Tertulis nama Tiara.


“Iya, suster Tiara.”


Namun, saat perawat itu hendak menyuntikkan obat ke selang infus Dita, mendadak kemudian Anan datang Bersama salah


“Suster Tiara kok bisa ada di sini?


Bukannya tadi udah pulang, ya?” tanya perawat yang datang bersama Anan. Namanya Suster Lala.


“Ummm, saya, saya tadi diberi perintah suster kepala untuk memberikan suntikan obat lambung ini pada pasien,” ujarnya dengan nada panik.


“Perasaan nggak ada obat lambung yang disuntik buat pasien ini, deh. Soalnya jadwal pemberian obat pasien ini ada di tangan


saya dan tanggung jawab saya. Coba saya cek lagi,” ucap Suster Lala lalu pergi ke ruangan para suster.


“Iya, kamu cek lagi, pasti ada.” Suster bernama Tiara tetap nekat hendak menyuntikkan sesuatu ke selang infus


Dita.


Akan tetapi, tiba-tiba saja, Dita menepis tangan Suster Tiara. Suntikan itu terjatuh dari tangan perawat tersebut.


“Jangan coba-coba!” Suara Dita berubah lebih berat penuh ketegasan. Sorot matanya tajam dan tersenyum menyeringai ke arah Suster Tiara.


“Ta, elu nggak apa-apa, kan?” tanya Anan.


“Kamu boleh merasuk ke raga perempuan ini tanpa ketahuan siapa pun. Tapi, kamu tak akan bisa luput dari saya,” ucap Dita lagi, kedua tangannya terlihat seperti sedang menyibakkan selendang.


Suster Tiara tampak panik. Memundurkan


langkah perlahan-lahan. Dia takut melihat Dita yang seperti tengah kerasukan sosok yang lebih kuat darinya.

__ADS_1


“Ta, ini elu, kan?” tanya Anan lagi.


“Kayaknya ini bukan Dita, deh,” sahut Tante Key di belakang Anan.


Sosok Dita masih emnatap Suster Tiara dengan tajam.


“Pergi! Atau kamu mau roh mu itu tidak kembali pada tubuh aslimu?” tantang Dita dengan senyum menyeringai.


Mendadak kemudian, Suster Tiara tergeletak


tak sadarkan diri. Sekelebat bayangan hitam keluar dari tubuh Suster Tiara.


“Loh, kok, pingsan? Terus, tadi itu bayangan apa, ya?” Anan sampai menatap heran ke arah Suster Tiara.


“Jaga anak ini baik-baik, ya. Jangan biarkan siapa pun menculiknya,” Dita tersenyum pada Anan lalu tak sadarkan diri kemudian.” Asap warna keunguan keluar dari sekeliling tubuh Dita.


Anan meletakkan plastik berisi minuman ringan ke atas meja kabinet di samping ranjang Dita.


“Ta, Ta, bangun, Ta! Elu nggak apa-apa, kan?” Anan menepuk pipi Dita sampai membuatbgadis itu tersadar.


“Loh, kok, Suster Tiara pingsan?” tanya Suster Lala.


“Saya juga nggak tahu, Sus,” sahut Anan.


Suster Tiara lalu tersadar dengan memegang kepalanya yang te rasa pusing.


“La, kenapa aku di sini? Tadi akubmau pulang, loh,” ucap Tiara.


“Kamu barusan mau kasih obat ke pasien ini, Tia,” sahut Lala.


“Suster Tiara kayaknya kerasukan. Coba bawa dulu ke ruangan suster biar istirahat,” ujar Anan.


“Tiara, ayo ikut aku! Eh tapi ini obat untuk pasien, ya.” Suster Lala menyerahkan tiga butir obat untuk Dita. Lalu, dia memapah Suster Tiara menuju ruangan suster.


Anan meraih bekas suntikan yang terjatuh di lantai.


“Aku mau kasih ini ke Tante Dewi. Kali aja dia tahu isi kandungan obat ini,” gumam Anan.


“Memangnya apa yang terjadi?” tanya Dita.


“Elu kerasukan, Ta.”


“Iya, Ta, kamu kerasukan. Aku tuh sempet lihat kayak ada bayangan seorang ratu pakai selendang ungu yang keluar dari tubuh kamu,” sahut Tante Key.


“Dia mau apa merasuk ke aku?” tanya Dita tak mengerti.


“Ngelindungin elu kayaknya, Ta,” sahut Anan.


Pemuda itu lalu menceritakan tentang


kejadian yang sama yang menimpa Suster Tiara. Tubuh perawat itu dikendalikan oleh orang lain yang langsung pergi kala terancam oleh keberadaan sosok yang merasuk ke dalam tubuh Dita.


Dita merenung, ini bukan kali pertama dia merasa ada yang sedang menjaganya. Namun, siapa sosok yang merasuk pada Suster Tiara  dan mengincarnya itu masih jadi hal yang tak bisa dia pecahkan.


...*****...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2