
Jeda pelajaran kedua membuat Dita tak tahan ingin menuju ke toilet bagi siswa. Anita tadinya menawarkan diri ingin mengantar tetapi Dita menolak secara halus karena ingin bergegas.
Selepas dari toilet, Dita sempat melihat dua bayangan seseorang yang sedang berbincang. Bayangan pertama seperti manusia tetapi yang satunya melayang seperti hantu. Perbincangan mereka sangat mencurigakan karena berada di sudut dan seperti bersembunyi.
"Aku harap tahun ini cukup. Jangan kau ambil lagi para murid. Tunggu tahun depan! Kau sudah berjanji meminta satu anak setiap dua purnama, kenapa tahun ini kau ingin meminta lagi, hah? Buat sekolah ini menjadi nomor satu dengan pendapatan tertinggi di negara ini, mengerti?"
Dita sempat mengintip. Namun, saat dia mengintip sosok manusia itu telah melangkah pergi masuk lift. Dan saat dia berbalik, Dita langsung menemukan wajah seorang gadis menyeramkan seperti tersiram air panas. Dia berteriak di wajah Dita memekakkan telinga. Dita sampai memejamkan mata dan ketika dia membuka mata sosok hantu itu hilang.
"Suara siapa itu, ya? Suara seorang laki-laki. Tapi, siapa?" gumam Dita.
"Ta! Ngapain di situ?" Anan yang baru saja hendak ke toilet menegur Dita.
"Hah? A-aku, aku tadi –"
"Tadi kenapa?" tanya Anan mendekat.
"Hai, pada ngapain berduaan di sini? Kalian nggak lagi pacaran, kan?" Ferdian yang melintas dengan tumpukan kertas ulangan di kedua tangannya menegur Anan dan Dita.
"Kita nggak pacaran, kok, Kak. Kak Ferdi mau balik ke kelas, ya?" tanya Dita.
"Alu disuruh ke kelas kamu, nih. Bawa kertas ulangan Bu Endang," jawab Ferdian.
"Hah? Ulangan dadakan gitu? Waduh! Aku ikut bareng Kakak, deh," ucap Dita meninggalkan Anan sendirian.
"Sialan si Ferdi, bisa-bisanya bikin Dita nyuekin gue," keluh Anan lalu bergegas menuju ke toilet.
Saat sedang buang air kecil, Anan merasa ada yang sedang memeluknya dari belakang.
"Gue udah berusaha ya menguatkan diri kalau ketemu setan, tapi nggak gini juga kali. Masa pas gue pipis, sih!" Anan segera menaikan resleting celananya.
Perlahan-lahan, tangan itu makin bergerak memeluknya lebih erat.
"Wangi banget badan kamu, ya?"
Anan segera menoleh dan terperanjat kala melihat sosok yang memeluknya. Dia segera mendorongnya sampai jatuh ke lantai.
"Bencong! Elu ngapain peluk gue?!" hardik Anan.
"Emangnya nggak boleh apa? Anan, jahat ih," seru Panji.
"Eh, dengerin ya, Nji, kalau sampai elu begitu lagi ke gue, nanti gue patahin tangan elu!" ancam Anan.
"Uh, jahatnya." Panji segera berdiri dan menyegerakan membuang air kecil juga.
Anan memilih untuk bergegas meninggalkan Panji. Lalu, Panji merasa ada dua tangan yang menyentuh lengannya lalu memeluknya perlahan.
__ADS_1
"Cie, Anan… tadi aja marah-marah, taunya kamu satu gelombang juga kayak aku," ucap Panji kegirangan lalu menyentuh kedua tangan itu.
"Kok, kasar sih tangan kamu, Nan?" Panji menoleh ke bawah dan melihat dua tangan di pinggangnya pucat, penuh luka berongga mengerikan.
Panji lalu memberanikan diri mencoba menoleh dan mencari tahu siapa yang sedang memeluknya. Nyatanya, sosok kuntilanak Silla sedang menggoda Panji. Dia tersenyum menyeringai dan tertawa cekikikan.
"Wuaaahh… hantuuuuuuuu!" Panji segera lari terbirit-birit.
Panji lupa belum menutup resletingnya saat berlari menuju ke kelas, kelas yang sama dengan Anan.
"Elu kenapa, Nji?" tanya Devon.
"Gue digangguin hantu, Bro! Kalau nggak percaya, tanya aja sama Anan. Dia pasti tahu ada hantu di kamar mandi itu." Panji menunjuk Anan.
"Lha, mana gue tahu!" Anan pura-pura menyangkal tuduhan Panji.
"Halah, hari gini masih percaya sama hantu! Tutup tuh celana luh, burung luh terbang ntar bahagia lagi," cibir Shane yang melintas di antara mereka saat jeda jam pelajaran.
"Hih, tau aja sih Shane. Biarin aja kalau burung gue hilang. Kan bagus gue nggak usah operasi lagi hahaha."
"Siapa yang mau operasi?" Suara Pak Andi, guru IPS, menggema di ruang kelas Anan.
"Panji, Pak. Mau operasi ngilangin burung!" tunjuk Anan membuat Panji meringis.
Sontak saja gelak tawa seisi kelas tercipta menertawai Panji.
"Ih, si Bapak mah!" Panji segera duduk ke kursi kelasnya.
***
Siang itu, para anak-anak basket berkumpul. Akan ada pertandingan antar sekolah hari itu. Dita hendak memanggil Anan, tetapi karena banyaknya gadis yang berkumpul untuk memberi semangat pada Anan, sehingga Dita tak bisa memanggilnya.
"Kamu ngapain sih, Ta, celingukan begitu?" tanya Anita.
"Nggak apa-apa, ya udah lah nggak jadi aja," sahut Dita.
"Apanya yang nggak jadi?" tanya Anita lagi sambil mengipasi diri karena cuaca memang terasa panas.
"Nggak apa-apa."
"Dih, nggak jelas! Aku beli minum dulu, ya. Kamu mau minum apa?" tanya Anita.
"Air putih yang dingin aja," sahut Dita.
"Oke, siap!" Anita melangkah menuju kantin.
__ADS_1
Sosok kuntilanak Silla mendekat mengejutkan Dita.
"Astagfirullah, bangun-bangun makan daging!" seru Dita yang sempat menjadi perhatian sekitarnya. Gadis itu hanya menunduk dan mundur.
"Ngapain sih, Mbak Kun?" bisik Dita.
"Mau aku bantuin, nggak? Kayaknya mau manggil Anan, kan?" tanyanya.
"Hmmm, iya sih. Tapi, kayaknya rame. Aku pulang aja lah."
"Tunggu di sini! Aku panggil Anan, ya."
Silla menghampiri Anan yang terlihat langsung menghindar. Anan sudah bersiap dengan seragam basket dan tinggal menunggu tamu dari Sekolah Nusantara Cerah.
"Anan…."
"Apaan, sih? Jauh-jauh, kek. Bau nih!" bisik Anan.
Anan berusaha menghindari terus sampai akhirnya Silla berteriak.
"Anan! Dicariin Dita!"
Anan yang sedang bercanda dengan Devon langsung menoleh ke arah Silla.
"Tuh, Dita ada di sana!" tunjuk Silla ke arah Dita yang mencoba berjinjit untuk melihat ke area lapangan basket yang sudah tertutup para murid perempuan itu.
"Mau ngapain dia cari gue?!" seru Anan yang lupa kalau Silla adalah hantu.
"Elu ngomong sama siapa?" tanya Devon.
"Eh, anu, eng, itu, gue lagi dicari Dita. Tunggu sini bentar, ya," ucap Anan yang langsung ke luar lapangan basket untuk menghampiri Dita.
"Ikut gue!" Anan menarik tangan Dita sampai membuat gadis itu melongo dan menurut.
Semua orang menatap ke arah mereka berdua sampai Anita pun ikut melongo dengan membawa dua botol air mineral dingin di tangannya.
"Makasih ya, Nit!" Devon yang sedari tadi mengikuti Anan dan mengerti apa yang hendak Anan lakukan langsung berhenti di hadapan Anita. Dia meraih botol air mineral itu dan meminumnya.
"Von, itu kan buat Dita," ucap Anita mencoba meraih air mineralnya.
"Nanti juga dibeliin sama Anan," sahut Devon.
"Huh, nggak modal banget, sih!" Anita bersungut-sungut.
...*****...
__ADS_1
...Bersambung....