
Rupanya, suara ketukan tersebut berasal dari seorang wanita yang berada di balik cermin itu. Dia mengetuk cermin berkali-kali. Dita bangkit dan menghampiri. Mengambil gelas berisi air lalu mendadak menyiram air tersebut ke arah cermin.
"Ouch, maaf ya, Mbak, aku nggak sengaja." Dita menyunggingkan senyum manisnya.
"Kau…." Hantu wanita itu menggeram dengan wajah menyeringai. Dia mencoba merangkak ke luar.
"Mbak pikir saya bakal takut, gitu?" Dita mendorong kepala hantu itu agar masuk kembali ke dalam cermin.
"Ke-kenapa, kenapa kau bisa menyentuhku?" tanyanya penuh kebingungan.
"Rahasia Allah, Mbak. Hanya Dia yang tau," jawab Dita.
"Ta, kamu ngapain?" tanya Anita.
"Kamu pernah ngerasa aneh nggak, Nit, sama cermin ini?" Dita balik bertanya.
"Memangnya kenapa, Ta? Jangan bilang kalau ada hantunya? Mami aku baru beli seminggu lalu. Terus aku ngerasa kayak ada yang lagi ngawasin aku," ucap Anita yang tak mau mendekat.
"Emang ada, sih, hantu perempuan. Sebenarnya cantik, cuma karena dia galak jadinya ya serem aja," sahut Dita.
"Kamu bilang apa? Saya cantik?" tanya hantu perempuan itu seraya memegangi kedua pipinya dan tersenyum merona.
"Cantik, Mbak, sumpah deh. Asal jangan nakal. Mbak jangan gangguin temen saya, ya?" pinta Dita.
"Oke, oke, saya nggak akan ganggu. Tapi saya minta tolong," ucapnya.
"Minta tolong apa?"
"Skincare yang itu boleh saya pakai, ya?" Hantu perempuan itu menunjuk toner, pelembab, krim malam, dan siang.
"Waduh, buat apa?" tanya Dita tak mengerti.
"Biar makin cantik. Nanti saya kabulkan permintaan untuk membuat kamu makin cantik biar banyak yang tergila-gila," ucapnya.
"Jangan, Mbak, saya mau cantik alami aja," sahut Dita.
"Ta, kamu ngomong apa, sih? Ngomongin apa sama hantu itu?" tanya Anita.
Dita lalu menjelaskan perihal permintaan hantu tersebut pada Anita.
"Waduh, itu kan skincare impor dari Korea. Kok, dia tau aja sih barang mahal," tukas Anita.
Dita mengangkat bahu.
"Kamu mau lihat, Nit?" Dita menawarkan pada Anita.
"Nggak mau, ah! Aku malah jadi takut kalau mau ngaca di situ nanti. Udah ah, aku mau tidur aja." Anita segera meringkuk di balik selimut.
__ADS_1
Gadis itu tak mau membayangkan bertemu dengan hantu dalam cermin itu.
...***...
Hari itu di sekolah sedang diadakan ujian kenaikan kelas. Para murid kelas XII sebentar lagi juga akan merayakan kelulusan dan promosi night. Kejadian aneh atau mistis juga mulai mereda. Namun, para hantu di sekolah yang biasa Dita lihat seolah menghindar dan tak lagi berkeliaran di dalam sekolah. Mereka serasa takut akan sesuatu yang ada di sekolah tersebut. Namun, entah itu apa.
"Ta, aku ke toilet dulu, ya," ucap Anita meninggalkan Dita yang tengah bercanda bersama Anan dan Devon.
"Oke, Nit. Mau ditemenin, nggak?" tanya Dita.
"Nggak usah, bentar doang mau ganti," ucap Anita segera bergegas pergi.
"Ganti apaan, sih?" tanya Devon.
"Pembalut," sahut Dita.
"Apaan? Anita mau makan belut di kamar mandi?" tanya Anan.
"Pembalut, Anan! Pembalut menstruasi! Ganteng-ganteng budek!" seru Dita mencubit siku Anan.
"Tapi ganteng, kan?" Anan menaikkan alisnya berkali-kali menggoda Dita.
"Anan! Dicari Kak Ferdi sama Devon!" seru Nanda dari arah lapangan.
"Ya udah, Ta, kita samperin Ferdi dulu, ya. Nanti pulang sekolah kita bareng," ucap Anan lalu pergi merangkul Devon.
"Nan, gue liat-liat makin bucin, nih, sama Dita. Kapan elu tembak dia, nih?" goda Devon.
"Berisik, luh!"
...***...
Sementara itu, Anita melangkah menuju ke toilet di lantai dua. Gadis itu memasuki toilet bersama beberapa anak perempuan lainnya. Saat Anita menyelesaikan hajatnya, terdengar sayup-sayup suara anak perempuan yang menangis.
"Kok, kayaknya ada yang lagi nangis, tapi asalnya dari mana, ya?" gumamnya sambil menyiram kloset dengan beberapa gayung air.
Suara tangisan itu terdengar lagi membuat bulu kuduk makin merinding ditambah tangisannya yang terasa menyedihkan dan menyayat hati. Tiba-tiba, tampak terlihat kepala manusia dengan rambut hitam berantakan keluar dari dalam ventilasi di atas bilik kloset itu. Sedikit demi sedikit memperlihatkan wajahnya. Wajahnya pucat dan bersimbah darah. Sosok hantu itu sengaja memperlihatkan diri agar Anita dapat melihatnya.
"Mau main denganku?" Hantu perempuan itu menyeringai ke arah Anita.
"Aaaaaaa!"
Anita berteriak sekuat tenaga lalu tak sadarkan diri kemudian.
Salah satu murid perempuan yang mendengar teriakan Anita, berusaha membuka pintu toiletnya berkali-kali, akan tetapi sulit untuk terbuka. Kepanikan lantas terdengar sampai ada salah satu murid perempuan menghampiri Dita. Langsung saja Dita berlari menuju ke dalam toilet.
"Ada apa sama Anita?" Dita masuk ke dalam kamar mandi siswi.
__ADS_1
"Enggak tau, Ta. TAdi aku dengar Anita jerit. Tapi, pas aku ketok-ketok nggak ada jawaban dari Anita. Aku takutnya dia pingsan," ucap murid bernama Raya dengan nada cemas.
"Nit, buka Nit! Kamu kenapa?" teriak Dita seraya mengetuk pintu berkali-kali.
Tak ada jawaban dari dalam. Dita menoleh ke salah satu teman yang ada di sampingnya.
"Tolong panggilin siapapun buat dobrak pintu ini!" pinta Dita
Anak perempuan itu lalu bergegas menemui penjaga sekolah yang kebetulan melintas di anak tangga.
"Kita dobrak aja ya, Pak?" pinta Anita saat penjaga sekolah itu datang.
"Iya, Neng. Minggir dulu, Neng. Biar saya aja yang dobrak," ujarnya.
Sang penjaga sekolah itu akhirnya mendobrak paksa pintu bilik kamar mandi tempat Anita berada. Benar saja dugaan Dita dan yang lainnya, tubuh Anita sudah terbaring tak sadarkan diri di lantai kamar mandi dengan posisi duduk bersandar ember.
Pak penjaga sekolah lantas membopong tubuh Anita menuju ruang UKS.
"Anita kenapa, Ta?" tanya Ferdian yang melintas dan mau masuk ke kelas karena bel masuk setelah istirahat berbunyi.
"Nggak tau nih, Kak. Anita udah pingsan di dalam kamar mandi," jawab Dita.
Pak penjaga sekolah membaringkan tubuh Anita di atas kasur lantai yang disiapkan untuk gadis itu. Ferdian langsung membantu mencari kotak P3K yang ternyata berada di dekatnya. Dokter penjaga tak ada di ruang UKS tersebut karena sedang makan siang. Dita tampak panik dengan mengibaskan sobekan kardus bekas air mineral yang selalu disediakan di UKS.
"Memangnya kalau digituin bakalan sadar, Ta?" tanya Ferdian berusaha menepis kibasan yang diciptakan Dita.
"Siapa tau aja si Anita bisa sadar, lagian dia juga kelihatan gerah tuh keringetan," sahut Dita.
Ferdian mengoleskan minyak kayu putih ke area bawah hidung Anita.
Tak lama kemudian, Anita tersadar. Gadis itu menatap ke sekeliling. Dua pasang mata milik Dita dan Ferdian sedang menelisik ke arahnya satu persatu.
"Aku di mana, Ta?" tanya Anita.
"Di ruang UKS, Nit. Tadi kamu pingsan di kamar mandi," jawab Dita seraya memberikan air putih pada gadis itu untuk diminum.
"Oh iya, tadi aku pingsan." Anita meraih air mineral dalam kemasan botol 330 ml itu dari tangan Dita, "makasih, Ta."
"Kamu kenapa bisa pingsan gitu? Kamu sakit? Apa masih kelaparan sampai pingsan gitu? Kamu lagi nggak diet ekstrim, kan?" tanya Dita memberondong sahabatnya dengan banyak pertanyaan.
"Banyak banget, Ta, nanyanya kayak lagi survei." Ferdian sampai menahan tawa.
"Biar sekalian, Kak, nanyanya. Nanti dia bisa jawab semuanya sekaligus juga, hehehe." Dita menggaruk kepalanya salah tingkah.
"Aku lihat hantu, Ta. Dia mau ajak aku main," lirih Anita.
...*****...
__ADS_1
...Bersambung....