
Part 43
Seminggu yang lalu.
Ferdian menelusuri lorong setelah melewati sebuah pintu. Cahaya menyilaukan terlihat di depan matanya. Pemuda itu melangkah perlahan lahan mendekati ujung lorong, terdengar suara beberapa orang yang sedang berbicara.
Di sana, Ferdian melihat sebuah ruangan megah dengan meja panjang. Di antara kursi yang berbaris di tepi meja, ia melihat seseorang yang dia kenal, Prawira Kertarajasa, ayahnya. Ia tersenyum saat memandang Ferdian, lalu pemuda itu berjalan mendekatinya. Di samping sang ayah ada pria tua dengan kursi roda bernama Sutomo Karmorejo.
"Apakah kamu baik-baik saja, Nak? Mereka memperlakukanmu dengan baik, kan?" tanya sang ayah yang baru sampai dari luar negeri.
Ferdian mengangguk, mata pemuda itu lalu tertuju kepada Ibu Santina yang tersenyum ke arahnya. Di samping wanita itu duduk seorang pemuda yang tidak pernah Ferdian lihat sebelumnya. Pemuda itu terlihat tampan dan awet muda, tetapi tangannya penuh dengan keriput. Sorot matanya tajam seperti tidak bersahabat, dia mengenakan kemeja panjang berwarna biru gelap dengan garis garis.
Pria yang baru Ferdian lihat itu menyesap segelas kopi di hadapannya, sebelum matanya tertuju kepada sang ayah kembali. Di belakang lelaki itu, berdiri seorang wanita muda. Cantik dan lugu dan hanya menatap ke depan dengan pandangan datar.
Ferdian terhenyak kala melihat wajah yang dia kenal, Lolita. Siswi SMA Abadi Jaya yang kehilangan temannya di sekolah secara misterius. Dia hanya menatap Ferdian sekilas tetapi tanpa ekspresi. Ferdian pernah mendengar kabar kalau Loli kehilangan kewarasannya. Gadis itu bagaikan boneka yang hanya diam menyimak. Padahal dulu saat bertemu dengan Ferdian, Loli sangat centil dan kerap menggodanya.
"Silakan duduk, Nak Ferdian!" titah Bu Santina seraya melayangkan senyum hangat.
Ferdian mengangguk lalu mendaratkan bokongnya di kursi tujuan.
"Pah, ada apa ini sebenarnya?" Ferdian yang duduk di samping ayahnya berbisik.
"Ikuti saja, Nak. Nanti kau akan mengerti," tukas sang ayah. Suaranya terdengar berat.
Ferdian menatap ke arah meja yang dipenuhi oleh makanan mewah dan lengkap. Ada kambing guling, ayam panggang, ayam goreng, beberapa sayuran dan lauk pauk serta buah-buahan tersaji dengan mewahnya. Seperti sedang berada di tengah jamuan pesta, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang menyentuhnya.
"Burhan, kamu tak seharusnya membawa gadis peliharaan mu itu ke tempat ini," kata Santina saat melihat wanita yang ada di belakang pemuda yang ternyata putranya itu.
Lelaki itu tersenyum, mengatakan bahwa dia membawa wanita itu sebatas pemuas nafsu bejatnya saja.
__ADS_1
"Ibu tak perlu khawatir. Aku masih membutuhkannya ketimbang temannya yang murahan itu," ucap Burhan.
Sang ayah yang duduk di kursi roda hanya tersenyum. Dia memaklumi apa yang dikatakan oleh Burhan.
Seorang pelayan wanita dengan rambut disanggul dan memakai kebaya dan jarik sampai lutut memasuki ruangan penjamuan.
"Nyonya Aiko telah tiba, Nyonya Santina," ucapnya.
"Persilakan sahabatku itu untuk masuk," ucap Santina dari tempat duduknya, ia mengangguk.
Wanita keturunan Jepang yang bernama Aiko Watanabe itu melangkah anggun. Rambutnya digerai sampai ke area bokong dan dijemput dibagikan tengah. Dia memakai setelan jas dan celana panjang berwarna hitam dengan motif garis. Saat dikenakan oleh wanita, setelan jas itu akan memberikan image maskulin yang terlihat memukau.
Santina bangkit menyambut kedatangan Aiko dan memeluknya. Lalu, dia mempersilakan wanita itu untuk duduk di kursi utama. Para tamu yang lain memberi hormat pada Aiko dari kursinya masing-masing.
"Maafkan atas ketidaksopananku menyambut kedatangan Anda tanpa menjemput Anda terlebih dahulu, Aiko," ucap Santina.
Burhan meletakkan gelas tersebut lalu berkata, "Masih terlalu dini untuk membangkitkan Devila. Bukankah Anda juga sedang memupuk kekuatan bersama Ratu Masako?"
"Hmmm, tentu saja. Lalu, bagaimana dengan keputusan Anda, Tuan Prawira?" Aiko menunjuk ke arah ayahnya Ferdian.
Ferdian menatap ke arah ayahnya berada. Dia melirik Tuan Prawira dari sudut matanya. la baru menyadari
kalau ayahnya benar-benar terlihat berbeda, belum pernah dia melihat sang ayah seserius ini. Tuan Kertarajasa tak menjawab pertanyaan Aiko.
Ferdian langsung bisa menilai bahwa mereka yang sekarang ada di hadapannya bukanlah orang sembarangan. Meski Burhan jauh lebih muda dibandingkan mereka, Ferdian tak melihat kesan bahwa pria itu berada di bawah mereka. Begitu juga dengan ayahnya. Ferdian merasa seolah-olah keluarga besar Kertarajasa miliknya berada di antara orang-orang yang memiliki karisma yang sama.
"Begitukah? Jadi belum ada kesepakatan apa pun di sini, apakah penawaran dari kami terdengar tidak membuatmu tertarik, Tuan Kertarajasa?" tanya Burhan.
__ADS_1
Prawira hanya tersenyum.
"Dengarkan aku, Prawira Kertarajasa, sudah tiba waktu bagimu untuk memperkuat kelompok kami!" seru Tuan Karmo.
Prawira hanya menanggapi pertanyaan itu semua dengan tenang seperti tak ingin terpancing.
"Apa kamu tidak pernah curiga? Kalau dia adalah anak titisan Rengganis? Maka seharusnya kekuatan itu ada di dalam dirinya." Aiko menunjuk ke arah putra dari Prawira.
Ferdian mulai mengerti ke arah mana pembicaraan ini. Ibunya yang telah lama meninggal saat melahirkannya, memang masih meninggalkan misteri.
Prawira tampak menahan diri sebelum menatap Tuan Karmorejo lalu berkata, "Bagaimana bila aku menolak perjanjian ini?"
Ferdian bisa melihat perubahan wajah Santina, Aiko, dan Burhan.
"Baiklah kalau begitu, kita tidak bisa mengambil keputusan dengan terburu-buru. Sepertinya aku sependapat dengan anakku saja," kata Santina kemudian.
"Biarkan Kertarajasa Kecil kita ini tahu di mana posisinya berada." Senyuman di wajah Tuan Karmorejo seperti mengisyaratkan sesuatu yang membuat Ferdian bergidik ngeri saat melihatnya.
Gejolak perasaan tak suka itu benar-benar terlihat dengan jelas. Tak berselang lama tiba tiba sesuatu terjadi, sesuatu yang terjadi begitu cepat terhadap dirinya. Prawira menoleh melihat putranya dengan sorot mata tajam.
"Ferdi, hentikan!" seru sang ayah.
Ferdian tak bisa mengendalikan bibirnya untuk buka suara. Dia tak bisa mengatakan apapun. Pemuda itu merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Tiba-tiba saja, kedua tangannya bergerak sendiri, mencengkeram makanan yang ada di atas meja lalu memasukkan paksa ke mulutnya secara membabi buta.
Rasa mual itu menyeruak, dia ingin memuntahkan semua makanan yang sudah masuk dilahap itu. Namun, makanan-makanan itu terus masuk, membuat Ferdian semakin ingin muntah. Akan tetapi, dirinya tidak bisa berhenti. Ferdian kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Nyonya Aiko dan Santina yang melihat kelakuan Ferdian, meraih tisu makan untuk menutup mulut. Mereka merasa mual dan jijik melihat apa yang sedang Ferdian lakukan.
"Ferdian, hentikan!" seru sang ayah lagi.
Ferdian melotot ke arah ayahnya. Dia menggeleng, mengisyaratkan kalau dia tak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri kala itu.
__ADS_1
...*****...
...Bersambung....