
Anan membawa Dita ke belakang perpus yang ternyata dekat dengan makam warga. Hanya pagar besi dan tembok setengah badan yang menjadi pembatas.
"Waduh, salah konsep gue bawa elu ke sini. Kok, gue baru tau ya ada makam warga di sini," kata Anan.
Dita berusaha menarik tangan Anan untuk melepasnya.
"Lepasin Anan!" pekik Dita.
"Silla bilang elu lagi cari gue. Giliran gue samperin malah minta lepas," sahut Anan.
Pemuda itu menoleh ke arah Dita seraya menyibakkan rambutnya dengan gaya cool.
"Dih, pede banget," cibir Dita.
"Ya dong, gue harus pede. Kan gue ganteng," sahut Anan.
"Haduh haduh, pengen muntah aku." Dita merogoh sesuatu dari dalam tas nya.
Anan berusaha melihat lebih dekat.
"Apaan, tuh?" tanya Anan.
"Nih, kado buat kamu! Berasa punya hutang tau nggak dikejar minta kado terus sama kamu," ucap Dita.
Anan langsung meraihnya dan langsung antusias. Sebuah kain slayer warna biru tua dengan gambar ikon Linkin Park membuat Anan tersenyum lebar.
"Jelek ya, Nan? Maaf deh, pas aku masuk toko distro yang deket pasar itu, cuma itu harga yang paling murah, jadi–"
"Bagus, kok, gue suka."
Anan langsung melipat-lipat slayer itu dan memakainya sebagai headband.
"Tambah ganteng kan, gue?" Anan mengangkat abisnya berkali-kali ke arah Dita.
"Cie…." Silla dan teman-teman sebangsanya muncul di balik pagar menggoda Anan dan Dita.
"Hai, Mbak Silla! Gue keren, kan? Gue ganteng, dong?" Anan melayangkan flying kiss ke arah para kuntilanak itu lalu melangkah meninggalkan Dita begitu saja.
__ADS_1
Dia sampai lupa akan rasa takutnya yang melihat hantu. Hadiah dari Dita benar-benar membuat suasana hatinya menjadi senang kala itu. Anan melangkah menuju ke lapangan basket dengan tingkat kepercayaan diri yang naik sampai seribu persen.
"Dih, dasar cowok prik! Bukannya bilang makasih gitu," lirih Dita lalu kembali ke lapangan basket.
Pertandingan basket hari itu dimenangkan oleh tim basket Anan. Sontak saja seluruh murid SMA Abadi Jaya bersorak bahagia.
"Nan, elu keren," puji Shane menghampiri Anan.
"Biasa aja, Shane, elu juga keren."
Di ujung sama, Jennifer dengan penuh percaya diri mengatakan kalau Anan dan Shane pasti setelah ini berkelahi memperebutkannya. Nyatanya, Anan dan Shane berpelukan setelahnya.
"Mana, Jen? Katanya ribut gara-gara elo? Jangan ngarang, deh!" cibir Maya.
"Ih, harusnya mereka ribut tau!"
"Udah deh, satu sekolah aja barusan tadi ngegosipin Anan sama adek kelas tadi," ucap Maya.
"Dita maksud, elu? Ih, nggak level dibandingkan gue, mah!" Jennifer berkata penuh percaya diri.
"Shane! Ayo, ganti baju!" ajak Devon seraya mengusili Anan dengan menarik bandananya.
"Von, jangan macem-macem, deh! Kalau sampai itu slayer elu pake, gue jamin besok kepala elu botak!" Anan menatap tajam Devon.
"Ih, serem luh! Gue kan cuma bercanda," ucap Devon seraya menyerahkan slayer bandana itu kembali pada Anan.
Shane hanya tertawa melihatnya lalu merangkul Devon menuju ke ruang gantin
Sementara itu, Anan mencari keberadaan Dita. Ternyata, gadis itu sudah pulang sedari tadi karena harus bekerja paruh waktu demi membayar uang sewa rumah.
"Kok, gue nyariin Dita, ya? Wah, geser nih otak gue!" Anan segera melangkah menyusul Devon dan Shane.
***
Sekitar jam lima sore pertandingan basket di lapangan sekolah berakhir. Minggu depan juga akan ada turnamen lain antara SMA di tempat lain. Anak-anak basket juga masih bersorak kegirangan bahkan masih menyantap pizza yang Anan pesan.
Shane dan Devon tampak berbelok menuju kelas. Anan sampai bingung mereka mau apa ke sana.
__ADS_1
"Bro, aku ke kamar mandi duluan, ya”, kata Anan kepada Devon dan Shane tetapi mereka tak menjawab.
Anan yang buru-buru, langsung berjalan tenang melewati lorong kelas yang sudah tampak gelap dan sepi. Setibanya di kamar mandi, Anan gantungkan tas olahraganta dan mulai mandi. Beberapa saat ketika pemuda itu mandi, tiba-tiba saja lampu kamar mandinya mati.
"Woi, jangan iseng lah!" seru Anan.
Dia sempat berpikir dikerjai Devon. Anan berhenti menyiram tubuhnya dan mulai mendekatkan telinga ke pintu, dengan harapan agar dia tahu siapa orang yang mematikan lampu kamar mandi ini.
Beberapa saat Anan terdiam, ternyata tidak ada suara teman-temannya. Anan lalu membuka sedikit pintu kamar mandi untuk melihat keadaan di luar dan ternyata keadaan di luar pun sama gelapnya.
"Jangan-jangan, Silla sama gengnya lagi nih yang godain gue," gumam Anan.
Pemuda itu mulai menutup kembali pintu lalu memakai baju ganti. Anan berpikir jika aku teruskan mandi sudah tidak kondusif lagi.
Ketika aku sudah memakai bajuku, aku menggeserkan tubuhku sedikit ke kanan dan aku menginjak sesuatu. Sesuatu yang diinjak Anan itu seperti kaki seseorang. Lalu, dia bergerak mulai mundur beberapa langkah menuju dinding kamar mandi.
Anan merasa di dalam kegelapan itu dia seperti merasakan kehadiran seseorang bersamanya. Anan segera mengambil tas yang dia gantungkan di belakang pintu, lalu bergerak pergi. Sayangnya, karena panik pemuda itu pun terjatuh. Anan mulai membungkukan badanku meraba-raba mencari tasku. Tiba-tiba, Anan mendengar suara seseorang yang sedang bernapas di hadapannya. Suaranya jelas sekali kalau itu bukan suara napas miliknya.
Embusan napas itu semakin kuat, dan seketika membuat bulu roma Anan mulai merinding. Keringat dingin mulai bercucuran di kening, tanpa pikir panjang lagi, Anan ingin segera keluar dari sana.
Anan mencari gagang pintu yang ada di sisi kiri, tetapi pintu kamar mandinya susah terbuka. Lalu, di belakangnya terasa ada sebuah angin dingin yang berembus, seperti meniup pundak Anan.
Suara embusan napas itu membuat Anan menjadi sangat takut.
"Nggak lucu nih, kalau gue digangguin Tante Silla."
Anan memberanikan diri membalikan tubuhnya dan tidak ada siapa-siapa di sana. Jantung pemuda itu kini semakin berdegup kencang. Anan sebenarnya ingin berteriak memanggil teman-temannya tetapi dia tidak bisa.
Tubuhnya sekarang seolah menjadi kaku, badan pemuda itu sama sekali tidak bisa digerakan. Tiba-tiba, ada sesuatu yang bergerak-gerak di atas kepala Anan.
Sekarang Anan merasakan ada sesuatu yang menyentuh rambutnya. Sedikit demi sedikit dan kali ini teksturnya mulai terasa. Sejumpumt rambut mulai menjuntai.
Sebuah rambut yang sangat panjang dan menutupi wajah Anan membuatnya ingin berteriak. Sekuat tenaga Anan berusaha memberontak, tetapi seperti ada yang memeluk dia dari belakang dengan sangat keras. Anan semakin tidak bisa bergerak, dan napas itu tidak bisa berjalan dengan lancar. Kali ini suara embusan napas itu terdengar jelas dari atas kepalanya.
"Duh, maafin saya yang jarang solat ni yaa Allah, saya nggak mau mati konyol begini." Anan mencoba untuk berdoa, meski hanya hapal doa makan dan doa tidur.
"Anan…, ayo main denganku!" ajaknya.
__ADS_1
...*****...
...Bersambung....