Ruang Kosong Di Sekolah

Ruang Kosong Di Sekolah
31. Di Rumah Pak Amin


__ADS_3

"Bawel banget, luh! Gue juga bawa kali amplop buat Pak Amin. Lagian udah biasa kali Tante Dewi kasih kue begitu buat jenguk orang sakit," ucap Anan.


Tak lama kemudian, istrinya Pak Amin kembali dengan membawa piring penuh dengan jajanan kue-kue tradisional. Tak hanya kue saja, ia juga menghidangkan dua gelas kopi tepat di hadapan Dita dan Anan.


"Apa kalian tahu kalau saya sudah sering melihat petaka yang dimulai dari rasa pensaran yang dimiliki oleh manusia? Sejatinya karena memang tak ada yang salah dari keingintahuan. Semua itu bagi saya pribadi adalah hal yang wajar dimiliki oleh semua manusia, termasuk kalian berdua. Jadi, apakah kalian ke sini mau bawa bapak saya pergi?" tanyanya.


Anan terlihat bingung dengan pertanyaan yang baru saja diajukan oleh istrinya Pak Amin. 


"Apa maksudnya, Bu? Siapa yang mau bawa bapak ibu pergi? Saya ke sini cuma mau nengok Pak Amin.


Tak ada jawaban selain tawa menyeringai. Wanita itu terlihat berbeda. Anan baru mengerti ketika dirinya menoleh pada Dita yang duduk di sampingnya. Anan bisa melihat dengan jelas perubahan sikap dari gadis yang sebelumnya cerewet itu, tiba-tiba menjadi pendiam. Dita seakan terpaku dengan dahi yang berkeringat, wajahnya juga begitu pucat.


"Monggo, Mas, Mbak, silakan diunjuk kopinya." Istri Pak Amin mempersilakan.


"Ta, elu kenapa?" bisik Anan.


Dita tak menjawab, pandangannya hanya melihat ke gelas kopi yang ada di hadapannya.


Ta, elu kenapa?" bisik Anan.


"Nan, keluar, yuk!" ajak Dita.


"Kenapa memangnya?" Anan masih tak mengerti dengan yang dibicarakan Dita.


"Kayaknya ini bukan rumah Pak Amin, Nan."


"Bener, kok, ini rumahnya." Anan masih bersikeras.


"Bukan Anan! Ayo, kita keluar aja!"


"Kenapa sih, kok elu takut banget?"


"Kayaknya aku datang bulan juga agak basah nih," bisik Dita.


"Hah? Datang bulan basah gimana?"


"Aku haid, menstruasi, bulanan cewek," ucap Dita.


"Astaga! Jadi, cuma gara-gara itu kamu pengen pulang?"


"Ih, nggak paham, ya! Justru karena aku datang bulan makanya harus menghindari dia," bisik Dita.

__ADS_1


"Dia siapa? Ngapain juga dihindari?" Anan masih saja ngotot.


"Dia hantu, Nan! Bukan manusia! Kalau aku datang bulan bisa berabe urusannya. Kadang aku kerasukan," ucap Dita.


Anan mulai menunjukkan wajah cemas dan takut.


"Silakan diminum!" titah wanita itu.


"Nggak, Bu, nggak haus. Pak Amin ke mana ya, Bu?" tanya Anan.


"Ada, kok. Nanti saya panggilkan. Atau kalian mau nyusul ke dalam?" tanyanya.


"Nan, pulang aja, yuk!" ajak Dita.


"Nggak usah, Bu. Kita pulang aja. Besok-besok aja kita ketemu Pak Amin," ucap Anan.


"Nggak mau makan dulu?" tanya wanita itu lagi.


Dia mendekat pada Dita. Mengendus-endus aroma tubuh gadis itu sambil mengitarinya.


"Kamu wangi, ya?" lirih wanita itu mengitari Dita.


Pemuda itu langsung meraihnya. Namun, wanita itu menepis tangan Anan.


"Dia milikku! Biarkan dia di sini, ya!" ucapnya seraya menatap tajam pada Anan.


"Jangan, Bu, nanti mamanya dia nyariin. Saya juga kena omel," ucap Anan.


Anan masih berusaha menolong Dita, tetapi wanita itu malah mendorongnya sampai terjatuh. Sosok wanita yang menyerupai istrinya Pak Amin mengubah dirinya menjadi wanita renta yang wajahnya penuh keriput, borok, dan bercampur darah serta nanah.


Wanita itu menyeringai lalu mencekik Dita. Membawanya ke dinding dan mengangkat tubuh Dita saat dicekik.


"Le-lepaskan, lepaskan aku!" Dita berusaha meronta seraya membaca selamat nabi yang dia hapal.


Sosok gaib itu hendak merasuk dan menghisap aura kehidupan milik Dita. Namun, perlahan-lahan dia melepaskan cengkeraman tangannya di leher Dita. mundur ketika cahaya sinar keunguan memancar dari tubuh Dita.


"Nyuwun sewu, Kanjeng Ratu. Kulo mboten weruh," ucap Sosok gaib itu dengan membungkukkan badan di hadapan Dita.


Sosok wanita cantik yang mengenakan mahkota dan pakaian kerajaan Jawa serta memakai selendang warna ungu itu tersenyum. Dia berdiri di belakang Dita tanpa Dita sadari kehadirannya.


Sontak saja, sosok gaib itu menghilang. Meninggalkan Dita dan Anan di sebuah kebun pisang. Keduanya mencoba berdiri dan saling bertatapan.

__ADS_1


"Kita pergi dari sini, Ta!" ajak Anan yang menjawab dengan anggukan.


"Iya, tapi jangan lihat ke belakang dan sekitar kamu juga," pinta Dita.


Anan dan Dita mulai melangkah pergi. Dita malah menarik lengan Anan agar segera bergegas. Bersama sama, mereka mulai meninggalkan tempat menyeramkan itu tanpa berani menoleh ke belakang lagi.


Padahal tempat itu dipenuhi oleh sosok pocong sepanjang mereka menyusuri kebun pisang. Makhluk-makhluk itu seperti memberi jalan kepada mereka. Menuntun Dita dan Anan untuk pergi sejauh mungkin dan tidak lagi terlibat dengan makhluk gaib di tanah itu.


Langkah mereka semakin jauh, sebelum terdengar suara jeritan seorang wanita. Suara teriakan itu memecah keheningan. Anan sempat menghentikan langkahnya. la ingin berbalik menoleh melihat apa yang terjadi di belakang sana.


Duta juga masih tak mengerti dengan makhluk gaib yang awalnya ingin merasuk ke dalam dirinya malah melepaskan dia begitu saja bahkan seperti meminta maaf. Dita masih tak mengerti apa yang membuat makhluk itu mundur. Siapa pula sosok yang menjadi penyelamat dirinya dari cengkeraman makhluk gaib tadi.


Melihat Anan masih bengong dan menatap ke belakang, Dita segera menghantam kepala Anan dengan menjitaknya.


"Sakit, Ta!" seru Anan.


"Kan, udah dibilang jangan lihat ke belakang, Nan!" ucap Dita.


Mendengar hal itu, Anan mengurungkan niatnya. Ia kembali berlari mengejar Dita yang sudah lebih cepat.


Keduanya bertemu dengan seorang wanita yang terperangah melihat ke arah Dita dan Anan.


"Kalian pada dari mana? Kok, kayaknya kalian dari kebun pisang situ," tanyanya.


"Saya mau ke rumah Pak Amin, Bu. Tadi saya lihat rumahnya di sana terus saya bertemu istrinya Pak Amin. Tapi, lama kelamaan kok serem, ya? Kayaknya saya ketemu sama hantu," ucap Anan.


"Astagfirullah, Dek. Di sana itu serem suka banyak penampakan dan menculik manusia. Begitu balik pulang, manusianya jadi bego dan bengong aja. Untung kalian bisa kembali secepatnya. Lagian ya, Pak Amin baru aja meninggal kemarin."


"Hah? Pak Amin meninggal?" Dita dan Anan bertanya bersamaan.


"Iya, dia dibawa sama istrinya mau dikubur ke kampung. Katanya sih stress karena anaknya hilang apa kabur gitu nggak pulang-pulang," ucap ibu berdaster itu. Lalu, dia pamit pergi.


Anan dan Dita lagi-lagi saling menatap.


"Aku pulang duluan ya, Nan. Udah rembes, nih!" ucap Dita lalu berlari kencang menuju rumahnya karena malu dengan noda darah yang tembus di bagian bokong itu.


"Ta! Tungguin gue! Jangan tinggalin gue!" Anan ikut berlari mengejar Dita.


...*****...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2