Ruang Kosong Di Sekolah

Ruang Kosong Di Sekolah
30. Anan Dipalak


__ADS_3

Preman bernama Wahyu itu sampai mengusap wajahnya dengan gemas. Beberapa preman lainnya malah menahan tawa.


"Gini aja, deh. Serahin semua uang yang ada di dompet luh!" pinta Wahyu dengan menengadah penuh paksaan.


"Bentar, saya lihat dulu." Anan lalu membuka isi dompet yang hanya tersisa satu lembar uang lima puluh ribu. 


Sisanya berupa kartu atm dan kartu kredit dari Tante Dewi. Pemuda itu memang jarang menggunakan uang tunai.


"Bang, bisa bayar palak lewat transfer rekening apa e-wallet? Bisa nggak?" tanya Anan. 


"Wah, songong banget nih bocah! Elu pikir gue nggak punya apa tuh rekening? Gue punya tau! Nih, elu transfer duitnya ke rekening gue!" seru Wahyu.


Wahyu mengeluarkan ponsel dan memberikan nomor rekeningnya pada Anan.


"Mas Wahyu! Hayo ngapain rame-rame ngerubungin orang kayak gitu? Kalian lagi malak, ya?" Suara gadis yang familier di telinga Anan terdengar.


"Eh, ada Dek Dita. Siapa yang lagi malak, Dek. Ini cuma lagi tukeran nomor telepon doang, kok." Wahyu meminta anak buahnya untuk mengangguk mengiyakan.


"Apaan, Ta! Dia bohong, tuh! Dia lagi malak gue barusan," sahut Anan yang menoleh ke arah Dita.


"Anan? Ngapain kamu di sini?" Dita sampai mengerjap-ngerjapkan kedua matanya tak percaya.


"Mau ngajak mereka main bola," sahut Anan asal.


"Kamu kenal Mas Wahyu? Tadi gimana, sih? Katanya kamu dipalak, terus ini barusan bilang mau main bola bersama. Jadi, mana yang bener?" Dita sampai menggaruk-garuk kepalanya.


"Ya masa iya gue beneran main bola sama mereka, Ta! Gue ke sini mau cari rumahnya Pak Amin, tapi gue dipalak sama dia!" Anan menunjuk ke arah Wahyu.


Wahyu dan anak buahnya langsung melangkah mundur merapat ke dinding gang. Tatapan tajam Dita sukses membuat nyali mereka ciut.


"Beneran, Dek Dita, Kakakanda cuma tanya nomor telepon doang, kok," ucap Wahyu.


Pria itu memang kerap menggoda Dita. Dia bahkan sudah sepuluh kali menyatakan cinta pada Dita. Namun, Wahyu dan anak buahnya selalu lari terbirit-birit jika Dita menunjukkan para sosok hantu yang melintas. Semenjak itu, Dita disegani oleh para preman kampung. 


"Pada pulang aja sana! Bersihin masjid juga boleh. Atau mau aku bilangin Mbak Kunti di pohon mangga deket masjid?" ancam Dita.


"Nggak, Dek Dita, nggak usah. Kita permisi dulu mau bersihin masjid," ucap Wahyu dengan paniknya sambil mendorong bahu anak buahnya agar segera undur diri.

__ADS_1


"Jadi, kamu mau ke rumah siapa tadi?" tanya Dita.


"Pak Amin," sahut Anan.


"Kayaknya orang baru di sini. Mana alamatnya, sini aku antar!" Dita sempat menepuk mulutnya. 


Dia tak sengaja melontarkan penawaran kebaikan pada pemuda menyebalkan itu. 


"Makasih banget nih, Ta." Anan tersenyum senang.


Senyum hangat yang sukses membuat Dita luluh dan merona.


...***...


"Nan, kamu yakin alamat rumah Pak Amin yang itu?" tanya Dita.


"Lha, emang ini yang ditulis Tante Dewi!" seru Anan.


Langit mulai terlihat mendung, sesekali disertai kilatan guntur menyambar-nyambar.  Angin juga mulai berembus kencang, mengguncang ranting ranting di dahan pohon tinggi. 


"Kayaknya mau ujan, nih," ucap Dita.


"Dikit lagi, sih. Tapi, jalan ini, kan, menuju ke area pemakaman kampung." 


"Waduh, lewat kuburan maksud kamu?" 


Dita menjawab dengan anggukan kepala.


Suara langkah kaki mereka mulai berlari menapaki tanah berlumpur di atas jalanan yang berbukit. Di samping kiri kanan jalan tak ditemui seberkas cahaya tertutup rimbunnya pohon bambu.


"Kampung luh serem banget, sih," gumam Anan.


"Kalau wilayah ini, sih, bukan kampung aku lagi, Nan. Ini udah menuju kampung seberang," tukas Dita.


Berbekal intuisi, mereka tetap menempuh medan yang sukar disinggahi. Hanya pohon-pohon tinggi menjulang yang menjadi saksi dari dua anak muda yang baru saja melintas di bawahnya.


Anan mengucap lirih karena berharap agar tak bertemu dengan hantu penunggu kuburan. Padahal, beberapa sosok pocong tengah mengintip dari pohon pisang atau pohon lainnya di sekitar. Dalam hati sebenarnya Dita juga melafalkan ayat kursi agar tidak diganggu. Repot rasanya jika Anan tiba-tiba pingsan di tengah cuaca mendung dan mau turun hujan itu.

__ADS_1


Pada akhirnya, hujan mulai turun rintik-rintik. Anan dan Dita sampai menutupi kepala dengan selembar daun pisang yang sebelumnya mereka temukan. Sebenarnya, Dita dan Anan merasa risih kala harus berdempetan dengan satu lembar daun pisang berdua itu. Namun, mereka pasrah, yang penting terhindar dari percik hujan yang mulai turun tiada henti.


Bersama-sama, mereka menempuh perjalanan yang sulit, berlari menuju setitik cahaya berwarna jingga dari seberang sebuah rumah sederhana yang berada di ujung jalan. Tak jauh dari rumah tersebut juga ada beberapa rumah lainnya.


Tok tok tok.


Dita mengetuk pintu seraya mengucapkan salam. Tak berapa lama terlihat seorang wanita paruh baya dengan tahi lalat di bawah hidungnya mengenakan kain jarik dan kaus oblong. Wanita itu membuka pintu rumah. Dia terdiam sejenak memandang dua anak muda yang sedang berdiri di ambang pintu.


"Mau cari siapa?" tanyanya.


"Apa ini rumah Pak Iman?" tanya Anan.


"Benar, ini rumahnya dan saya istrinya."


"Akhirnya ketemu juga. Saya Anan, Bu, ini temen saya Dita. Saya keponakannya Tante Dewi majikannya Pak Amin. Bentar saya bawa oleh-oleh."


Anan mengeluarkan kue lapis dari dalam tas ranselnya. Dita sempat melihat merek kue lapis itu. Dita tahu kalau kue tersebut berasal dari toko kue yang ternama. Harga kue lapis satu kotak ukuran 20x20 cm itu saja sudah mencapai tiga ratus ribu rupiah.


Aduh, boleh nyicip nggak, ya? Itu kan lapis mahal, kayaknya enak banget tuh kue.


Dita tak sadar kalau sedari tadi sudah dipersilakan masuk oleh tuan rumah. Dita sampai menyeka air liur yang mau menetes itu.


"Woi, jangan ngelamun aja, luh! Ayo, masuk!" seru Anan menyentak raga Dita.


Dita mengangguk lalu menyusul Anan merebahkan bokong di kursi yang sama.


"Ibu buatin minuman hangat dulu, ya. Kasian kalian kehujanan," ucapnya.


"Iya, Bu, makasih." Dita melayangkan senyum lalu menoleh pada Anan kala wanita itu masuk ke dapurnya.


"Nan, itu kan kue mahal. Rasanya pasti enak. Tapi, ya maaf maaf aja, nih. Mending kamu kasih uang aja kalau nengok orang sakit daripada bawa kue mahal. Kalau duit kan bisa buat beli beras, sembako, lauk lauk—"


Ucapan Dita terhenti karena Anan baru saja meraup bibir Dita dengan tangan kanannya yang terasa dingin itu.


"Bawel banget, luh! Gue juga bawa kali amplop buat Pak Amin. Lagian udah biasa kali Tante Dewi kasih kue begitu buat jenguk orang sakit," ucap Anan.


...*****...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2