Ruang Kosong Di Sekolah

Ruang Kosong Di Sekolah
32. Pesta Ulang Tahun Anan


__ADS_3

Di sebuah tempat hang out anak muda yang masih baru dibuka bernama bernama Club House, Anan akan merayakan sweet seventeen di kafe tersebut. Di sana menyediakan makanan cepat saji seperti burger, pizza, pasta, dan aneka minuman soda lainnya.


Keanehan mulai terjadi, selepas Azan Magrib berkumandang, Tante Dewi sudah meminta hiasan serba Linkin Park, grup rock favorit Anan. Akan tetapi, hiasan tersebut berubah menjadi tokoh spiderman. Ada beragam kue, bingkisan, balon, lampu warna warni, dan semuanya hiasan berlatar belakan spiderman. 


Tante Dewi tahu kalau Anan pasti akan marah, tetapi waktu sudah sempit dan Anan sudah dalam perjalanan ke Club House bersama Dita. Ya, saat mengantar Dita pulang, Anan memintanya untuk bersiap ke pesta ulang tahunnya.


"Duh, gimana nih, Ndri?" tanya Tante Dewi pada sang kekasih.


"Ya, mau gimana lagi? Udahlah semuanya sudah siap. Lagian nggak apa-apa juga spiderman cocok buat anak laki-laki,  daripada hello kitti, hahaha." 


"Nggak lucu, Ndri. Anan udah gede, bukan anak-anak lagi." Dewi menatap Andri dengan tajam.


Saat tinggal menunggu kehadiran tamu undangan, peristiwa aneh berikutnya terjadi berkaitan dengan jumlah gelas yang disiapkan untuk para tamu undangan. Salah satu pelayan mendekat dan memberitahukan kalau gelas yang disiapkan untuk seratus orang kini berkurang. Gelas minuman itu hanya tersisa delapan puluh. 


"Kok, bisa gitu? Salah hitung kali?" tanya Tante Dewi.


"Tidak, Bu. Kami sudah pastikan gelas itu ada seratus," ucapnya.


Akhirnya, kekurangan gelas disiapkan kembali. Usai ditinggal oleh Tante Dewi dan Andri, kejadian kembali berulang. Dua puluh gelas mendadak raib dan ditemukan kembali berada di ruang dapur Club House tersebut. Begitu berulang sampai ketiga kalinya.  


Sampai para tamu undangan sudah mulai hadir. Saat itu, Tante Dewi bergegas menuju ke toilet, tetapi di salah satunya ada kejadian aneh berikutnya muncul. Sementara tamu undangan yang sesungguhnya baru juga datang sebagian, dari dalam ruangan di dekat toilet terdengar suara berdengung laksana lebah berkerumun. Suara itu ada di dalam ruangan tersebut. 


Tante Dewi sampai melapor ke pelayan yang ada di dapur. Namun, pihak Club House berusaha memastikan sumber suara tetapi tidak menemukan adanya kerumunan lebah tersebut. 


"Apa aku salah denger, ya?" gumam Tante Dewi.


Lalu, dia menuju ke toilet. Ada empat bilik di dalam itu. Suara-suara misterius disusul dengan hembusan-hembusan angin yang keluar dari seluruh bilik kamar mandi mulai terdengar.


Ada suara kencang dari piring dan gelas yang ada di pantry bergetar menghasilkan suara gemeratak. Para pelayan di dalam sana itu mulai panik.


Tak biasanya kejadian seperti itu berlangsung secara berentetan. Kalaupun ada suara aneh, hanya sekali atau dua kali. Tetapi, kali ini, kejadian misterius susul menyusul. 


Anita memekik kala melihat Dita datang bersama Anan. 


"Kok, bisa kalian berdua barengan? Cie… aku mulai curiga, nih?" tanya Anita.

__ADS_1


"Nggak kok, kita cuma ketemu di jalan tadi," sahut Dita.


Anan mengangguk setuju.


"Nan, jangan ke dalam, deh!" cegah Devon dengan wajah panik.


Mendengar hal itu, Anan malah makin penasaran. Dengan menyingkirkan bahu Devon, Anan bergegas masuk ke ruang pesta.


"Kok, jadi gini?!" teriak Anan kala melihat Tante Dewi bahkan mendorong Andri dengan kasar.


"Tante juga nggak bisa jelasin, Nan. Pokoknya ini aneh banget!" sahut Tante Dewi yang menceritakan kejadian demi kejadian aneh. 


Akhirnya, Devon menggiring para tamu untuk berpindah tempat. Sementara itu, Tante Dewi, Andri, Anan masih tinggal untuk mengurus administrasi terlebih dahulu. Dita, dan Anita juga masih tinggal. Tante Dewi meminta mereka untuk menunggu agar bisa bersama-sama menuju ke kafe terbaru yang akan dipesan Devon.


 


Saat mereka sudah hampir menuju ke mobil, tiba-tiba listrik juga mendadak padam. Kepanikan menjadi-jadi.


"Ini kayaknya tempat baru belum dirukyah apa didoain, deh," ucap Andri.


Anehnya, saat Andri berteriak memanggil para pelayan, tak ada yang menyahut. Listrik mulai menyala. Namun, suasana tampak sunyi. Lalu, dari arah luar Club House, mulai muncul sosok-sosok aneh seperti orang-orang dewasa yang menggandeng anak-anak berdatangan masuk ke dalam.


"Kayaknya, ya, ada hantu yang mau ngerayain ulang tahun, deh?" gumam Dita.


"Jangan becanda, deh, Ta!" sahut Tante Dewi.


"Dita bener, Dew, mereka pada datang," sahut Andri yang ternyata dapat melihat makhluk gaib.


"Jangan ngaco deh, Yang!" seru Tante Dewi.


"Pada kenapa sih, Ta?" tanya Anita.


Mendadak kemudian, Dita meraih tangan Anita dan Tante Dewi. Anita langsung dibekap mulutnya oleh Anan agar tidak berteriak. Padahal Anan juga ketakutan, tetapi dia mulai menahan diri agar sanggup melihat para makhluk halus yang berdatangan. Begitu juga dengan Tante Dewi yang akhirnya membekap mulutnya sendiri.


"Kita perhatiin aja dari sudut sini," bisik Dita.

__ADS_1


Sebagian makanan berjatuhan. Di tengah kekacauan itu, seorang anak lelaki dengan wajah terluka parah dan bersimbah darah di setengah bagiannya itu melihat Dita dan yang lainnya.


"Kayaknya, dia yang lagi ulang tahun," bisik Dita


Hantu anak lelaki itu mendekat. Menunjuk ke arah semuanya dan memberi perintah untuk bertepuk tangan.


"Kayaknya, dia minta kita tepuk tangan terus nyanyi lagu hepi besdey," ucap Dita.


"Bukan kayaknya lagi, emang iya, Ta," sahut Anita dengan linangan air mata karena ketakutan.


"Yang mau ulang tahun kan gue, ini kenapa kita jadi ngerayain ulang tahun hantu, sih?" keluh Anan.


"Udah ikutin aja biar cepet! Dulu dia pengen ngadain acara ulang tahun begini tapi sama rombongan keluarganya kecelakaan pas mau ke kafe di sini sebelum dirombak jadi Club House," ucap Dita.


"Yah, nasib dah!" sahut Andri


sosok-sosok putih itu memasuki ruang pesta lalu bergerak ke sana kemari seolah menikmati hidangan yang disediakan untuk pesta ulang tahun. Kejadian itu berlangsung sekitar sepuluh menit.


Setelah aman terkendali semuanya bergegas menuju kafe tempat Anan berulang tahun. Para gadis sudah histeris menyambut Anan. Mereka bergantian memberikan kado. Sayangnya, Dita belum membeli kado apapun untuk Anan. Jadi, dia memilih mundur dan mengajak Anita pergi menjauh dari pesta.


Jennifer datang dan terus mendekati Tante Dewi. Namun, Anan sudah membeberkan perselingkuhan Jennifer dan Shane pada Tante Dewi. Wanita itu sangat membenci perselingkuhan. Nyatanya, kekasihnya yang bernama Andri gemar menggoda perempuan termasuk menggoda Dita sedari tadi.


...*** ...


Keesokan harinya.


Pagi itu, Dita sudah ditunggu oleh Anita. Seperti biasa, sahabatnya itu mau mencontek tugas matematika pastinya. Anan dan Devon melintas.


"Mana kado gue, Ta?" tanya Anan.


"Dih, maksa. Aku belum beli kado." Dita langsung melenggang seraya menarik Anita meninggalkan Anan dan Devon.


...*****...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2