Ruang Kosong Di Sekolah

Ruang Kosong Di Sekolah
35. Mencari Anan


__ADS_3

Anan mulai membaca doa di dalam hati, meskipun hanya doa makan yang dia hafal. Dia lalu membaca al fatiha sambil mengingat doa-doa yang dia hapal. Namun, sulit sekali untuk mengeluarkan suara sampai akhirnya dia bisa bergerak. 


Anan secara tak sadar menoleh ke atas. Dia melihat sebuah wajah dengan mata yang sangat merah. Tubuhnya mendadak kaku dan tak bisa dia gerakan. Tangan pucat dan penuh luka berongga itu mencengkeram wajah Anan. Bau anyir darah bercampur dengan nanah menyeruak ke dalam rongga hidung pemuda itu.


Rasa sakit hinggap di kepalanya. Rasa seperti tertusuk duri dan membuat Anan berteriak sekeras mungkin. Namun, tak ada yang mendengar suara teriakannya. Anan lalu tak sadarkan diri kemudian.


Suara teriakan dan tangisan membuat Anan tersadar. Pemuda itu membuka matanya perlahan. Mencoba mengerjap membiasakan iris matanya dengan rangsang cahaya yang baru masuk. 


Anan perlahan menyadari kalau dirinya sudah berpindah ke lantai empat di ruang kosong yang tak boleh didatangi dengan alasan boleh digunakan jika sudah selesai pembangunannya. Di lantai empat itu penyinaran minim cahaya. Makin Anan bergerak, makin dia menemui sebuah ruangan yang penerangannya lebih terang dari ruangan sebelumnya yang gelap gulita di ujung koridor.


Hawa yang begitu dingin sampai menusuk ke tulang menyelimuti lantai empat. Dengan perlahan, Anan mulai menjelajahi ruangan kosong yang ada di lantai empat itu. Sesekali, Anan merasa kalau ada yang sedang mengintip dia dari balik dinding yang dia lewati.


Blam!


Blam!


Blam!


Suara pintu yang ditutup berulang kali dengan sangat keras dari arah belakang, membuat Anan sampai tersentak dan sedikit meloncat. Saat Anan hendak menoleh ke arah suara tersebut, tiba-tiba ada sosok yang memegang tangan Anan lalu berbisik. 


"Jangan lihat ke belakang, Den."


Anan langsung terkesiap. Dia mengenal suara tersebut.


"Yon, itu elu, kan?" bisik Anan.


Namun, tak ada siapa pun di sekitarnya. 


Kriiieeettt!


 Kriiieeettt!


Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang tengah mencakar cakar pintu dengan kuku-kuku panjangnya dari arah belakang. Tak hanya itu, suara bisikan-bisikan samar turut mengganggu pendengaran pemuda itu.


"Duh, please deh, jangan takutnya gue. Elu elu pikir gue berani apa?!" Gue udah takut, woi!" seru Anan.


Anan melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti akibat suara tadi. Baru beberapa menit telinga pemuda itu merasakan keheningan, tiba tiba....


Sret! Brak!


Seperti suara benda berat diseret lalu dibanting ke tembok dengan begitu keras. Beberapa kursi dan meja yang ditumpuk di sudut ruangan terlempar begitu saja ke dinding. Anan terkesiap dan mencoba melindungi diri dari serpihan tersebut.


Brug!


Tiba-tiba badan tegap milik Anan terpental ke depan. Sontak saja rasa sakit menjalar dan membuatnya mengaduh. Suara sayup-sayup terdengar. Namun, Anan kesulitan melihat para sosok itu lebih jelas.

__ADS_1


"Lepaskan dia! Lepaskan dia sekarang! Kau sudah punya kami di sini. Tidak puaskah kau menahan kami?" bentaknya.


"Huhuhu… kalian semua jahat! Kalian semua jahat!" 


Anan tak sadarkan diri kemudian.


***


Di rumah sederhana tempat Dita dan keluarganya berteduh. Dita yang sedang mengajari Ali mengaji, dipanggil oleh ibunya.


"Nan… hape kamu bunyi, tuh!" seru sang ibu yang sedang menggoreng telur untuk makan malam.


"Ya, Bu." Dita segera meraih ponselnya.


Suara Tante Dewi terdengar panik karena kehilangan Anan. Wanita itu mendengar kabar dari Devon kalau Anan hilang di kamar mandi dan tak pernah kembali. 


Dita langsung membuka mukena dan meminta izin pada ibunya untuk bergegas pergi ke sekolah.


"Nan, makan dulu!" seru sang ibu.


"Nanti ya, Bu, ini masalahnya buru-buru. Penting banget soalnya! Assalamualaikum!" Dita mencium punggung tangan ibunya lalu pergi.


"Waalaikumsalam." Ibunya dan Ali hanya saling tetap penuh kebingungan.


Dita melihat Tante Dewi sudah menunggu Dita di depan gang.


"Dita!" 


Keduanya berpelukan.


"Kamu tahu nggak, Ta, kira-kira Anan ke mana?" tanyanya.


"Di sekolah, Tante. Anan pasti masih di sekolah," ucap Dita. 


"Tante udah suruh Bu Kepsek buat cari di sekolah. Bahkan Tante minta polisi buat geledah sekolah, tapi dilarang. Dia bilang takut kalau nama baik sekolah terancam. Dia bilang suruh cari Anan ke tempat tongkrongannya," ucapnya seraya terisak.


"Tapi, aku yakin dia di sekolah, Tante. Izinkan Dita mencari ke sekolah," ucapnya.


"Ya udah, Tante antar kalau begitu." 


Dita dan Tante Dewi menuju ke sekolah. Sesampainya di sekolah, keduanya turun dari mobil dan memasuki gerbang.


"Tante bilang sama Pak Satpam. Terserah mau kasih uang rokok apa mau menjelaskan, yang pasti aku harus masuk ke sana," ucap Dita. 


"Kamu yakin sendirian ke dalam sekolah yang gelap itu?" Tante Dewi mengamati kondisi sekolah yang listriknya tiba-tiba padam.

__ADS_1


"Justru kalau berdua sama Tante nanti malah repot kalau pingsan," ucap Dita.


"Ya udah, kamu hati-hati, ya. Sekolah mahal kok, listrik aja mati. Mana serem begini, dih jadi curiga sama bu kepseknya," gumam Tante Dewi.


Dita melihat Silla yang sedang bermain petak umpet dengan para hantu.


"Kalian liat Anan, nggak?" tanya Dita.


 Mereka semua menjawab dengan menggeleng.


"Apa jangan-jangan ada di lantai empat, ya?" lirih Dita.


"Ta, jangan ke sana! Kita aja takut buat ke sana," cegah Silla.


"Justru itu tempat satu-satunya yang patut dicurigai, Mbak Kun," ucap Dita.


"Tapi, Ta… kamu hati-hati, ya," pinta Silla.


Dita mengangguk. Terbesit rasa bingung kenapa para hantu penunggu sekolah takut dengan ruang kosong di lantai empat. Apa yang sebenarnya terjadi di sana dan disembunyikan di sana.


"Astagfirullah, numpang-numpang Pak De, Pak Lek, Om, anak cantik mau lewat," ucap Dita kala melihat sosok tinggi besar dengan bulu di sekujur tubuhnya.


Sosok itu matanya terlihat merah menyala menatap tajam ke arah Dita dari arah yang berlawanan. Sehingga menutup jalan saat naik ke lantai dua.


"Geser, Om," pinta Dita.


Hantu besar itu lalu menggeser tubuhnya.


"Makasih, Om," ucap Dita. 


Dita berhasil naik ke lantai empat setelah membuka gerbang penutup yang ternyata tak terkunci itu. Suara tangisan lirih seorang siswi mulai terdengar oleh Dita.


Drap.


Drap.


Drap.


Terdengar langkah kaki yang berlari melewati Dita. Gadis itu juga mendengar suara napas yang terengah-engah dari sosok wanita di bagian sudut ruangan. Tangannya berada tepat di depan dadanya mencoba menahan napas. Peluh sudah mengucur hebat dari wajah sampai tubuhnya, bahkan rambut panjangnya terlihat sangat basah. Suasana di lantai empat itu menjadi sangat menakutkan untuknya. Namun, dia harus tetap melangkah demi mencari Anan.


"Astagfirullah, apa iya Anan dibawa ke sini, ya?" gumamnya.


Tiba-tiba, suara cakaran di dinding terdengar dan mengejutkan Dita.


...*****...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2