Ruang Kosong Di Sekolah

Ruang Kosong Di Sekolah
27. Kegiatan Ekskul di Sekolah


__ADS_3

Keesokan harinya, di rumah besar Anan.


Pak Amin, sopir Tante Dewi tak kunjung masuk untuk bekerja. Hal tersebut membuat wanita itu terlihat kesal dan gusar. Pagi itu, Tante Dewi berjalan mondar-mandir tak tentu arah.


"Kenapa sih, Tante? Pusing tau liatnya!" seru Anan.


Anan menghentikan pergerakan Tante Dewi dengan paksa sambil menahan kedua bahu wanita itu.


"Tante khawatir sama Pak Amin. Kamu ke rumahnya, ya. Terus kamu cari tahu kenapa dia udah satu minggu nggak masuk tanpa kabar," pinta Tante Dewi.


"Tapi, kan, aku harus sekolah, Tante."


"Ya, nggak sekarang juga, Nan! Kamu ke rumah Pak Amin pas pulang sekolah," ucap wanita itu.


"Oke, oke, oke." Anan menarik napas dalam lalu mendesah berat penuh kelegaan.


"Syukurlah, makasih ya anak ganteng. Macan Tants yang paling keren," ucapnya seraya mencubit pipi Anan.


"Awww, sakit tau! Eh, Tante, apa aku boleh tanya?" Anan melepas cubitan si Tante.


"Tanya apa, hayo?" seru Tante Dewi.


"Kok, Dita nggak pernah ke rumah lagi?" Anan bersiap membuka pintu mobilnya dan naik.


"Tumben tanya tentang Dita. Hmmmm, patut dicurigai ini," kata Tante Dewi.


"Kenapa harus curiga? Ya, bukan gitu juga sih. Tapi, kan, bukannya dia harus melunasi hutang ke Tante, ya?" tanya Anan mendengus kesal.


"Hutangnya udah lunas, adiknya juga udah sembuh. Oh iya, nanti malam kita rayakan ulang tahun kamu dengan makan malam di kafe biasa, ya?" 


"Hmmm, malas ah. Aku mau berangkat dulu."


Anan terlihat menunduk menahan kesedihan. Dia baru ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Namun, hati kecilnya menahan kekesalan karena dia yakin di Jepang sana, ibunya pasti merayakan ulang tahun Manan dengan penuh suka cita.


"Anan..., jadi, kan? Tante tanya, loh?" Tante Dewi berusaha menahan Anan.


"Iya, iya terserah Tante aja!" seru Anan.


"Terus kamu mau minta kado apa?" seru Tante Dewi.

__ADS_1


"Nggak usah, Tante. Mobil ini aja udah cukup," tukas Anan.


"Tapi itukan hadiah dari papi kamu. Tante mau kasih hadiah yang lain lagi. Kamu mau hadiah apa? Hape baru, apa laptop gaming yang baru? Atau alat musik?" tanya Tante Dewi.


"Terserah Tante aja. Aku mau pergi ke sekolah dulu," ucap Anan mulai kesal.


Tante Dewi melihat raut wajah sedih yang tak bisa Anan sembunyikan. Pemuda tampan itu melajukan mobilnya ke sekolah. Namun, sebuah mobil pajero sport hitam menghadang di depan gerbang.


"Wuidih, ada Anan." Seorang pria bernama Andri menengok dari jendela mobil. Pria keturunan arab itu merupakan kekasih dari Tante Dewi.


Anan melihat sosok pria tampan yang memiliki wajah keturunan pria Timur Tengah itu dengan ketus.


"Eh, ada Om Onta!" cibir Anan.


"Wah, keponakan songong!" seru Andri.


"Gue bukan keponakan elu, ya," ucap Anan.


"Bentar lagi, Nan, bentar lagi, tenang aja," sahut Andri dengan penuh percaya diri.


"Hmmm, kayaknya aku sering banget lihat itu Onta datang ke sini," gumam Anan.


"Hehehe, namanya Andri bukan Onta! Lagian kan sopir Tante nggak masuk masuk, Nan. Jadi ya udah deh, Tante terima aja tawaran dia buat antar jemput Tante. Ayo, Tante kenalin kamu ke Andri, biar lebih dekat!" ajak Tante Dewi.


"Nggak usah, Tante, nggak penting!" seru Anan mencibir.


Pemuda itu lantas melajukan mobilnya keluar gerbang setelah mobil Andri menepi. Dia sempat melirik dan melayangkan wajah sinis ketika melihat pria bernama Andri itu memeluk Tante Dewi.


"Dih, males banget gue liatnya," keluh Anan.


...***...


Hari itu di SMA Abadi Jaya.


Bel istirahat berbunyi, Anita berjalan beriringan bersama Dita menuju ke kantin. Beberapa stand bazar sedang diberi hiasan oleh para pengurus eksul. Pentas seni juga akan digelar. Hanya kelas XI dan XII yang meramaikan acara. Para murid kelas X hanya akan menjadi penonton dan diberi pengenalan kegiatan ekstrakurikuler lebih lanjut.


Kegiatan ekstrakurikuler  atau eksul adalah kegiatan tambahan yang dilakukan di luar jam pelajaran yang dilakukan baik di sekolah atau di luar sekolah dengan tujuan untuk mendapatkan tambahan pengetahuan, keterampilan dan wawasan serta membantu membentuk karakter peserta didik sesuai dengan minat dan bakat masing-masing.


Banyak kakak kelas yang saling memperlihatkan prestasi non akademik dan iming-iming hadiah agar para adik kelasnya tertarik untuk bergabung. Dita dan Anita juga berjalan-jalan sambil mengamati meja-meja stand pengenalan ekstrakurikuler tersebut.

__ADS_1


"Ta, kamu tahu, nggak?" tanya Anita mengajak Dita untuk menuju ke kantin.


Anita menarik Dita agar duduk di kursi kantin sembari menyantap batagor.


"Nggak tau!" sahut Dita asal


"Diam dulu makanya! Ini lagi mau aku kasih tau. Tadi aku lihat orang tua anak kelas XI A datang ke kantor kepsek. Kayaknya dia cari anaknya yang hilang, namanya kalau nggak salah Dian," ucap Anita.


"Dian? Anak Ekskul pemandu sorak? Apa jangan-jangan anak itu kabur kayak si Ratih?" Dita gantian bertanya.


"Setahu aku bener namanya Kak Dian. Dia tuh bukan tipe anak nakal begitu. Dia anak pintar, loh. Aku tahu banget Kak Dian itu karena kakak kelas aku pas SMP. Lagian si Ratih juga nggak kabur, Ta. Dia hilang begitu aja. Sampai sekarang juga polisi belum nemuin," ucap Anita.


"Kenapa orang tuanya Dian juga nggak ke kantor polisi aja buat laporan? Kenapa harus ke sekolah lapornya?" Dita meraih keripik batagor dari piring Anita.


"Mereka udah ke kantor polisi, Ta. Mereka dapat petunjuk kalau Kak Dian itu ada latihan persiapan pengenalan ekskul kemarin di sekolah ini. Kak Dian juga sempat izin telepon mamanya kalau dia bakalan pulang jam lima sore, tapi nggak pulang-pulang juga sampai semalam," ucap Anita menjelaskan.


"Kok, kamu tahu kronologinya?" tanya Dita.


"Emangnya tadi aku nggak bilang, ya? Aku tadi nguping pas orang tua Kak Dian dan Bu Kepsek ngobrol depan kantor Bu kepsek, hehehe."


Dita sempat terdiam sambil menggeser sosok kuntilanak yang duduk di bangku kantin kala itu. 


"Geser, Mbak Kun!" 


Dita lalu berpikir kenapa akhir-akhir ini ada saja murid yang hilang di sekolah dan belum juga diketemukan. Ada yang aneh dengan kondisi sekolah akhir-akhir ini," ucap Dita.


"Ini cewek ya, selalu aja ganggu aku buat ikutan duduk di kantin ini. Huuuuu… mentang-mentang udah temenan sama si Silla jadi ngelunjak kalau ketemu para kunti," keluh hantu kuntilanak itu.


"Ya, makanya geser, Mbak Kun," ucap Dita lagi.


"Kamu ngobrol sama siapa, sih, Ta?" tanya Anita.


"Sama laler, Ta, ngobrol dikit doang kok," ucap Dita berbohong.


"Dih, masa aku disamain sama laler, huuuuuu!" seru kuntilanak itu.


...*****...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2