
"Astagfirullah! Ini setan bener-bener ngajakin main petak umpet kali, ya? Dari tadi suaranya aja yang kedengeran tapi wujudnya belum keliatan. Huh, dasar setan!" umpat Dita dengan kesal.
Wusssss!
Sesuatu nampak terbang ke arah Dita sampai membuat gadis itu merunduk dan berjongkok. Kakinya mulai lemas tak lagi bisa menopang tubuhnya saat sempat berjongkok, gadis itu memilih duduk di atas permukaan lantai semen yang kotor dengan pasrah.
"Hadeh, apaan itu, ya?" gumamnya.
Akan tetapi, segera dia menutup
mulutnya dengan tangannya sendiri. Napasnya yang sudah beraturan pun kembali naik turun karena terkejut dengan kedatangan sosok lelaki di depannya.
Plak!
"Dasar sialan! Kenapa kamu muncul tiba-tiba di depanku? Dasar bikin kaget aja, huh!" hardik Dita dengan kesal.
"Duh, sakit tau, Ta!" Anan mengusap pipi
kanannya yang terkena tamparan oleh Dita.
Dengan sangat kesal, gadis itu pun kembali menghela napas panjang. Lalu, dia memeluk Anan.
"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Dita.
"Sakitlah habis ditampar sama kamu!" ucap Anan.
Mengingat ini sudah melewati jam malamnya dan dirinya masih saja berkeliaran di luar, Anan takut dimarahi Tante Dewi.
"Gue mau kita segera pulang, Ta," lirih Anan dengan sedih.
Lelaki itu terlihat sedih karena melihat gadis itu kesusahan mencarinya. Namun, Akan menjadi sangat senang kala Dita masih khawatir dan mencarinya. Anan lalu bangkit berdiri dan memastikan jika gadis itu akan baik-baik saja.
"Kalian, ayo ikuti aku!" Suara Yono terdengar mengejutkan Dita dan Anan.
"Yono, kamu ternyata ada di sini? Ayo, kita pulang!" ajak Dita.
"Aku sudah tak bisa pulang, Ta, tapi aku akan mencari jalan keluar bagi kalian agar kalian bisa segera kembali," ucapnya seraya menatap wajah gadis itu.
"Kamu mau ke mana, No?" tanya Dita seraya memegang lengan lelaki itu.
Tak ada jawaban, yang ada hanya sebuah senyuman bak hipnotis baginya dan menuruti apa yang diucapkan lelaki tersebut.
__ADS_1
"Kan, tadi dia bilang mau cari jalan, Ta," ucap Anan.
Dita mengangguk. Dengan sangat sabar, gadis itu terdiam sembari menyenderkan tubuhnya ke dinding tersebut, Anan juga melakukan hal yang sama. Mereka menatap langit malam yang penuh bintang. Anan menceritakan kalau dia sempat melihat Yono dan beberapa murid yang masih berkeliaran di sana tetapi tak bisa keluar.
"Kenapa mereka semua disekap di sini ya, Ta? gumam pemuda itu.
"Entahlah, Nan."
Tak lama kemudian, terlihat Yono kembali datang dengan senyuman di wajahnya. Gadis itu pun mengerutkan keningnya seraya menatap lelaki tersebut.
"Bagaimana?" tanya Dita dengan penuh harap.
"Berdirilah! Kalian bisa berjalan ke arah jalan itu dan akan menemukan jalan dekat tangga," jawabnya dengan tersenyum.
"Lha, tadi aku juga lewat situ, No. Aku pikir ke kunci makanya kamu bilang mau cari jalan keluar, gimana sih?" tanya sang gadis kembali seraya berdiri dan membersihkan pakaiannya.
Yono hanya menatap mereka dengan pandangan datar. Lalu, Anan dan Dita karena terlalu senang bisa lolos dari tempat itu. Anan dan Dita itu berlari dengan cepat ke arah gerbang anak tangga yang sudah diberitahukan oleh Yono.
Namun, ketika mereka menuruti anak tangga, seutas tahu yang dibentangkan sepanjang anak tangga membuat Dita dan Anan jatuh terjerembab.
"Duh, sakit," lirih Dita.
Dia juga melihat Anan yang tak sadarkan diri kemudian. Tiba-tiba, di kejauhan muncul dua pasang kaki menggunakan sepatu skets mendekat.
Jleb!
Jleb!
"Masuki alam bawah sadar mereka, dan buat mereka lupa tentang hari ini. Lalu, kamu kumpulkan bersama wanita di mobil tadi," titahnya.
"Baik, Bos."
***
Dita berada di sebuah tempat yang dia tak tahu ada di mana. Malam pun semakin gelap dan mencekam. Hanya sinar bulan yang menjadi penerangnya. Dita menatap langit lalu mendesah,
"Kenapa harus bulan sabit, sih?"
Bahkan, rembulan pun tidak berpihak padanya. Tidak ada bintang-bintang yang menemani sang ratu malam. Jadi, kenapa aku berada di sini? Dita masih mencoba mencerna. Dia merasa sedang berada di tengah hutan.
Sreek... Sreek...
__ADS_1
Dasar sepatunya menginjak tumpukan daun kering. Melewati semak belukar dan ranting-ranting yang tega menggores kulit lengan dan pipi mulusnya. Menimbulkan rasa perih, gatal. dan juga darah.
Tubuhnya melangkah di antara barisan pepohonan yang meliuk-liuk seperti monster. Suara embusan angin yang memukul-mukul ranting membuatnya merinding. Terasa dingin, sunyi, dan juga mencekam. Rasanya seperti berjalan di tengah-tengah pemakaman.
"P-pemakaman?!" Dita terperanjat saat menatap sekitar. Tempat itu ternyata memang sudah berubah.
Tidak ada lagi pohon-pohon maupun semak belukar. Hutan belantara sudah berganti menjadi pemandangan batu nisan yang berderet-deret di sekitar tempatnya berpijak. Sejauh matanya mengedarkan pandangan, hanya kuburan saja yang terlihat. Kemudian, makhluk-makhluk tidak kasat mata mulai beraksi.
Suara lolongan serigala seolah menjadi pembuka parade pesta mereka di tengah pemakaman yang mulai menyeramkan itu. Suara ringkik kuda pun turut menjadi teror dahsyat yang menyerang. Terdengar pula suara gelak tawa yang bersahutan. Seolah tengah menertawakan dirinya. Mereka sedang menertawakan kebodohannya. Mereka semua yang tidak kasat mata itu berada di sekeliling Ditan
Tepat pada saat itu, muncul sebuah sosok putih dari kegelapan. Perlahan terbang mendekat ke arahnya. Membuat Dita tidak punya pilihan selain mengambil langkah seribu. Gadis itu berteriak histeris dalam hati. Dita benar-benar sangat ketakutan saat itu.
Dita mengerjap. Ia harus lari sekarang juga. Sayangnya, semua sudah terlambat. Belum sempat tubuhnya bergerak, sosok itu lebih dulu mencegat langkahnya. Sepasang mata Dita langsung membesar. la menatap tidak percaya. Sosok itu ternyata Yono dan beberapa murid yang hilang.
"Yono, kamu sudah mati, kan?" tanya Dita.
Wajah Yono dan yang lainnya seperti ditaburi bedak terlihat sangat pucat. Sepasang matanya melotot tajam. Bola mata pemuda itu terlihat nyaris keluar dari lubang matanya.
Pakaian Yono yang serba putih tampak dipenuhi bercak darah. Bibir pemuda itu terlihat sobek. Dita nyaris pingsan saat melihat kaki mereka yang sama sekali tidak menyentuh tanah.
"Kalian mau apa?!" jerit Dita dengan suara tercekat.
Dengan napas terengah-engah dan ketakutan yang luar biasa, kakinya terjebak di antara batu-batu nisan. Dia tidak bisa maju ataupun mundur.
Kedua tangan Yono bergerak semakin dekat ke lehernya. Jemari pemuda yang sedingin es mulai menyentuh kulit Dita. Mencengkeram tenggorokan gadis itu hingga dirinya mulai kesulitan bernapas. Melihatnya kesakitan, Yono tertawa puas. Sangat puas.
"Kami memintamu untuk mati!" seru Yono.
"Nggak, nggak mungkin. Kamu bahkan nolong aku sama Anan, kan?" tanya Dita.
Yono menyeringai.
"Kamu harus mati!"
"Dita, kamu harus mati!"
"Kamu harus mati!"
Dita mencoba meronta, "Lepaskan aku! Lepaskan aku!"
...*****...
__ADS_1
...Bersambung....