
"Iya, Kak, ini mama aku!" serunya.
Hantu anak kecil itu menunjuk seorang wanita berambut pendek yang sedang memesan siomay kala itu.
"Kamu yakin itu mama kamu," bisik Dita pada hantu anak lelaki itu.
"Iya, ini mama aku. Mamaaaaaa!"
Hantu itu memeluk ibunya yang tiba-tiba merasakan sesuatu menabrak bokongnya. Perempuan itu sempat curiga kalau Anan yang menepuk bokongnya.
"Bukan gue, Mbak," ucap Anan yang langsung mengangkat kedua tangannya.
Dia paham kalau perempuan itu mencurigainya. Lagipula, posisinya juga ada di belakang Dita.
"Halo, Bu, nama saya Dita." Gadis itu mencoba memberanikan diri untuk menyapa dan mengenalkan diri.
"Apa saya kenal sama kamu?" tanya wanita itu.
"Justru sekarang saya mau kenalan, Bu. Ummm … bisa bicara sebentar," pinta Dita.
"Bang, cepet atuh bungkusinnya!"
Wanita itu tampak menghindari Dita dan Anan. Dia terlihat takut karena ada dua orang asing yang ingin berbicara dengannya. Setelah mendapatkan siomay untuknya, wanita itu bergegas pergi.
"Bu, tunggu, Bu!" seru Dita.
Wanita itu tetap saja berjalan untuk menghindar. Dita lalu menanyakan nama hantu anak lelaki itu. Hal yang sebelumnya dia lupakan.
"Nama kamu siapa, Dek?" tanya Dita.
"Aldi."
"Oke, Aldi. Ayo, ikut aku, Di!" ajak Dita yang lalu berlari mengejar ibunya Aldi.
"Ibu, maaf saya nggak bermaksud menakuti. Tapi saya mau bicara tentang Aldi," tutur Dita.
"Hah? Tentang Aldi? Anak saya sudah meninggal sejak satu minggu yang lalu. Lagipula bagaimana kamu bisa kenal sama Aldi?" tudingnya tanpa menghentikan langkah cepatnya.
Dita menarik tangan wanita itu dengan paksa, "saya mohon izin sebelumnya sama Ibu, ya?"
Dita meraih tangan wanita itu lalu menunjukkan sosok Aldi yang sedang menyusul langkah mereka bersama dengan Anan.
"A-a-aldi?"
Bruk!
Wanita itu lalu tak sadarkan diri jatuh ke permukaan aspal jalan.
"Waduh, dia pingsan," ucap Dita.
__ADS_1
"Elu sih, Ta. Lagian pakai ditakutin segala. Terus gimana ini?" tanya Anan.
Dita menoleh ke arah hantu anak kexil itu, "Aldi, kamu ingat nggak rumah kamu di mana? Ya kali aja deket sini gitu. Kamu inget, nggak?"
Aldi mengangguk, "di ujung jalan sana terus belok kiri."
"Ya udah kalau gitu kita ke sana aja, Nan," ajak Dita.
"Terus ibu ini gimana?"
"Ya digendong, lah!"
"Gila! Sambil gendong ibu ini? Berat, Ta!" protes Anan.
"Ya habis mau gimana lagi. Aku bantu angkat ibu ini aja, ya," sahut Dita.
Akhirnya, Dita dan Anan menggotong tubuh ibunya Aldi. Seorang satpam komplek yang melihat mereka, akhirnya datang mendekat untuk membantu mengantar wanita yang ternyata bernama Sari itu untuk pulang.
"Nah, ini rumahnya Ibu Sari," ucap sang satpam.
"Oh iya, Pak. Makasih banyak sebelumnya," ucap Dita.
"Buka pagernya, Ta!" titah Anan yang menahan bobot tubuh Ibunya Aldi.
"Iya, tahan dikit ya. Assalamualaikum, permisi ... ada orang di rumah?" tanya Dita seraya membuka pagar besi setinggi perutnya itu.
"Hei, kalian apain bini gue?!" bentaknya seraya membentak Anan.
"Waduh," lirih Anan.
"Elo apain bini gue?!" bentaknya lagi.
"Nggak kita apa-apain kok, Pak, istrinya. Tadi dia pingsan, makanya kita tolong," ucap Anan.
"Benar, Pak. Justru kita mau nolong makanya kita anterin pulang," sahut Dita.
Dita dan Anan melihat hantu anak kecil itu langsung memeluk pria besar tersebut. Anak itu hanya bisa memeluk kaki kanan milik lelaki besar itu.
"Kok, kaki gue berat, ya?" gumam pria berkepala botak dengan badan kekar penuh tato itu.
"Ta, gimana nih?" bisik Anan.
"Bismillah, Nan. Pak, ini tolong dulu bantuin istrinya. Terus minta balsem juga, ya?" pinta Dita.
"Ya udah, taro bini gue di kursi itu. Terus Elo berdua tunggu di sini!" serunya.
Anan lalu meletakkan tubuh ibunya Aldi di atas kursi rotan panjang yang ada di teras rumah itu. Pria itu lalu melangkah ke dalam rumah meskipun kaki kanannya terlihat terseok-seok menahan berat Aldi. Pria itu merasakan kesemutan karena hantu itu.
Pria besar tadi datang dengan membawa minyak angin di tangannya.
__ADS_1
"Ini minyaknya. Elu ciumin anginnya ke hidung bini gue biar dia sadar," pintanya.
"Iya, Pak, terima kasih." Dita menerima minyak angin cap parang itu.
Dita lalu membaluri bagian bawah hidung ibunya Aldi. Dia juga sedikit memijat bagian kaki dan tangan wanita tersebut. Namun, suatu gambaran muncul dan membuat gadis itu tersentak.
Warna mata Dita putih semua. Tubuh gadis itu kejang-kejang sampai terduduk lemas lalu tergeletak di lantai.
"Elu kenapa, Ta?" Anan mulai panik dan mengangkat kepala Dita ke pangkuannya.
Dita menggelepar sampai Anan harus memeganginya agar tenang. Dita sempat bangun dan duduk seraya memegangi kepalanya.
Brug!
Dita tak sadarkan diri kemudian. Untungnya gadis itu jatuh tepat di kedua tangan Anan yang sigap membantu.
"Yah, dia ikut pingsan juga," gumam Anan.
Dita memasuki dimensi waktu sebelum Aldi meregang nyawa. Dita melihat kalau Aldi dan ibunya sedang berlibur di taman wahana. Setelah lelah bermain dan makan es krim, Aldi tertidur dengan pulas. Ibunya membopong anak itu ke lahan parkir taman wahana tersebut.
"Maafin mama ya, Di."
Mengetahui anaknya tak sadarkan diri, wanita itu malah meletakkan Aldi ke dalam bagasi mobil milik pengunjung yang sedang terbuka. Si pemilik tak menyadari kalau ada anak kecil di dalam bagasinya karena sibuk memindahkan kardus. Ibunya Aldi tahu kalau mobil itu akan mengarah ke luar kota karena tadi sempat berbincang-bincang.
Ibunya Aldi memang sengaja untuk membuang anaknya karena akan menikah lagi dengan seorang pria kepala preman di pasar. Dia berharap pemilik mobil akan merawat Aldi atau membawa anak itu ke panti asuhan ketika menemukan Aldi.
Dita tersadar dan menatap wajah tampan Anan. Kemudian, gadis itu mencoba untuk duduk.
"Elu kenapa, Ta? Mabok minyak cap parang luh?" tanya Anan.
"Aku lihat semuanya, Nan." Dita lalu menoleh pada ibunya Aldi yang sudah siuman itu. Dita menunjuknya.
"Kamu kenapa tunjuk saya kayak gitu?!" tanya ibunya Aldi.
"Astagfirullahalazim, jadi ibu yang udah bunuh Aldi? Ibu masukkin Aldi ke dalam bagasi mobil sampai dia kehabisan oksigen dan meninggal, kenapa ibu bisa setega itu?"
Tangis Dita pecah kala menuding wanita di hadapannya.
"Elu ngomong apa sih, Ta? Jangan sembarangan ngomong luh," ucap Anan.
"Aku lihat semuanya, Nan. Wanita ini membunuh anaknya sendiri karena akan menikah lagi!" seru Dita.
"Ka-kamu, kamu ngomong apa, sih? Jangan asal nuduh kamu," ucap wanita bernama Sari itu dengan raut wajah ketakutan.
"Iya, Neng. Elu jangan nuduh bini gue sembarangan!" Suaminya ikut membela.
...*****...
...Bersambung...
__ADS_1