Ruang Kosong Di Sekolah

Ruang Kosong Di Sekolah
45. Awal Mula Menemukan Devila


__ADS_3

Malam Prom yang diadakan untuk melepas kelulusan para siswa dan siswi digelar dengan meriah. Pesta persiapan sudah terealisasi tanpa ada kekurangan satu apa pun.


Para siswa dan siswi datang bersama pasangan mereka masing-masing. Tampil dengan gaun dan stelan jas yang rapi, serta berpenampilan wajah penuh make up. Acara tersebut digelar dengan meriah dalam area sekolah, tepatnya di halaman.


Anan yang menjadi salah satu pengisi acara, mempersembahkan lagu untuk sosok gadis yang berdiri di hadapannya. Dia berpikir kalau gadis itu adalah Dita. Semua gadis bersorak kala merasa Anan memberikan persembahan lagu untuk mereka. Sesuatu yang manis yang pemuda itu pertunjukkan. 


Selesai menyanyikan lagu terakhir bersama grup band-nya, Anan turun untuk meraih minuman. Ferdian langsung turun menghilang menuju ke arah toilet di lantai bawah. Sementara itu, Anan menuju stand minuman tempat Anita berada.


"Dita cantik banget ya malam ini, Nit," ucap Anan seraya melihat ke arah Dita yang memakai gaun warna merah muda dengan panjang selutut. Rambut gadis itu digerai dan diberi jepit mutiara di sebelah kiri di atas daun telinganya.


"Dita? Mana anaknya? Dari tadi dia izin ke toilet nggak balik-balik, Nan," sahut Anita.


"Oh, berarti dia udah balik tuh di sana!" Anan menunjuk ke sosok Dita yang berdiri memandangnya seraya tersenyum.


"Mana sih Dita? Aku nggak liat, Nan!" seru Anita. 


"Itu di sana!" tunjuk Anan.


Tiba-tiba, Devon datang mengejutkan Anan.


"Nan, tadi gue mau ke depan ambil microphone cadangan di mobil elu. Eh, mobil elu baret, tuh!" ucap Devon dengan panik.


"Aduh, bisa gawat ini. Itu mobil tante gue, bukan mobil gue." Anan lalu melangkah menuju ke arah parkiran.


"Anita, bagi minum, ya!" goda Devon seraya mengerling ke arah gadis itu.


"Ambil aja! Kalau perlu satu termos ini kamu bawa pulang!" seru Anita yang masih mencari keberadaan Dita sesuai petunjuk Anan.


Tak ada sosok Dita yang dia lihat kala itu sampai membuatnya kebingungan. 


"Mana Dita, sih? Si Anan siwer kali matanya," gumam Anita.


...***...

__ADS_1


Anan menghentikan langkahnya kala melihat sosok yang menyerupai Dita menaiki anak tangga.


"Von, elu urus mobil gue, deh. Telepon bengkel terdekat, ketok magic kalau perlu buat benerin mobil gue," titah Anan seraya menyerahkan kunci mobilnya.


"Elu mau ke mana?" tanya Devon sambil menerima kunci mobil tersebut. 


"Ada perlu gue sama Dita." 


"Huuuu, kalau udah mulai bucin mending ngaku aja! Jangan elu tahan, Nan!" seru Devon yang melihat Anan menjauh.


Anan menaiki anak tangga. Namun, lama kelamaan sosok yang menyerupai Dita itu menuju ke lantai empat, rooftop dari asrama tersebut. 


"Itu Dita bukan, sih? Wah, jangan-jangan ni anak masih kepo sama ruang kosong di lantai empat," gumamnya.


Suasana makin gelap kala kaki jenjangnya melangkah menaiki anak tangga sekolah.


"Kok makin gelap, ya?" Anan sempat menghentikan langkahnya. Menghela napas sejenak, akhirnya Anan memberanikan diri. Meraih ponsel dari sakunya lalu menyalakan aplikasi senter di ponsel tersebut. 


"Ta, elu mau ke mana?" panggil Anan.


"Yeee, ngarep banget minta dikejar ini cewek. Udah dibilang jangan ke sini malah nekat banget ini cewek, ya. Bodo lah, gue ikutin aja apa mau elu, Ta." 


Anan tiba di lantai empat. Netranya menelisik ke arah sekeliling. Sosok yang menyerupai Dita telah menghilang. 


"Ta, jangan nakutin gue, deh? Duh, apa tadi setan ya yang gue ikutin." Anan hendak berbalik arah ketakutan. 


Tiba-tiba, sosok hantu Mita datang mendekat dan menarik tangan Anan. 


"Ikut aku!" 


...***...


Satu tahun sebelumnya di sebuah rumah kosong yang terbengkalai dan berada di Pulau Nirwana jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Terdengar suara gema langkah kaki terdengar. Seorang pria melangkah masuk menyusuri satu ruangan ke ruangan lain, dengan bekal senter di tangan. Sosok itu adalah Burhan.

__ADS_1


Pria itu tampak sedang mencari sesuatu, kumpulan buku-buku tua yang ada di dalam ruangan tersebut. Burhan sampai di sebuah dinding-dinding yang berisi simbol serta coretan-coretan yang mulai termakan lapuk debu. Dia terdiam sejenak, memperhatikan bangunan ini dengan saksama.


Sudah lama sekali tempat ini ditinggalkan sehingga banyak sekali benda-benda tua yang berserakan. Selain itu lantai batu mulai ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan liar, membuat lelaki itu sejenak merasakan kengerian yang terjadi dari kilasan sejarah kelam masa lalu tempat tersebut. 


"Pembantaian keluarga Arjuna Prayoga. Aiko, memang hebat. Dia menyembunyikan suaminya yang lumpuh serta anaknya yang cacat jauh dari tempat ini. Andai saja bisa kusentuh dan kukendalikan putra satunya lagi." Burhan bermonolog seraya menatap sekeliling. 


Pria itu kembali bergerak menelusuri setapak demi setapak, sembari memungut foto-foto peninggalan yang didominasi gambar Anan dan kembarannya ketika masih kecil.  Bangunan ini tak pernah diketahui keberadaannya oleh Anan.


Pria itu terdiam. Ia mendengar suara gelak tawa seorang wanita yang selintas muncul dari balik sebuah ruangan yang sepertinya tidak jauh dari tempatnya berdiri. 


"Akhirnya, aku menemukanmu wahai Ratu Iblis Devila!" ucap Burhan seraya menajamkan pendengarannya. Sesekali dia menahan napas karena mencium aroma apak, debu, serta bau bangkai. 


Dia tidak habis pikir siapa yang akan menghabiskan waktu untuk tetap di tempat ini. Apakah dirinya melupakan detail yang dulu dia kumpulkan, ataukah ada orang lain yang memiliki tujuan khusus untuk berada di bawah atap kediaman tua ini. Dan ternyata Aiko benar, dia lebih memilih bekerja sama dengan Ratu Masako dan meninggalkan Devila.


Burhan terus berjalan menelusuri lantai batu, menghampiri suara yang memantul dari dinding-dinding yang dipenuhi jelaga bekas kebakaran besar yang pernah menimpa rumah ini. Dia berhenti pada sebuah pintu kayu yang terlihat janggal di matanya. Dari semua pintu yang ia lihat, pintu cokelat ini tampak jauh lebih terawat dibandingkan pintu-pintu lain yang terlihat kusam dipenuhi jelaga hitam. 


Burhan pun mendorong perlahan pintu itu, dengan berbagai pertanyaan yang mendekam di dalam kepalanya. Pria itu tersentak ketika tiba-tiba aroma bangkai pekat seketika menusuk hidungnya. Meski begitu, aroma menjijikkan ini tak menggoyahkan dirinya, sehingga dengan diliputi rasa penasaran yang menggebu-gebu, dia tetap memaksa masuk.


"Hah, kasian sekali kau hanya menyantap bangkai," pungkasnya Sembari menutupi hidungnya dengan sapu tangan yang dia bawa.


Burhan melangkah menghindari lantai yang dipenuhi oleh bangkai dari kucing dan tikus yang berserakan memenuhi luas ruangan yang tampak riuh dengan berbagai benda-benda peninggalan lama. Sosok Iblis Devila tertawa dan berbalik badan.


"Kau mau bekerja sama denganku?" tanya Devila.


"Tentu saja. Aku menuruti ibu dan ayahku untuk datang ke sini jauh-jauh mencarimu." Burhan menyeringai dia menyerahkan kotak hitam yang dia bawa ke arah Devila. 


Tiga belas janin bayi yang belum sempurna terdapat di dalamnya. Rata-rata berusia di bawah tujuh bulan.


"Hmmmm, baiklah." 


Devila melahapnya dengan rakus.


...*****...

__ADS_1


...Bersambung. ...


__ADS_2