Ruang Kosong Di Sekolah

Ruang Kosong Di Sekolah
37. Efek Bius


__ADS_3

"Dita, bangun, Ta!" Anan mengguncang tubuh Dita yang masih terbaring di rumah sakit. 


Dita perlahan membuka netra miliknya. Sinar mentari sudah menyapa mengintip dari celah tirai jendela. Ranjang Dita berada di paling sudut dekat jendela. Dia baru sadar kalau barusan dia bermimpi seram tentang Yono dan anak-anak yang hilang.


"Anan? Kita di mana?" tanya Dita mencoba mengamati sekelilingnya. 


"Kita di rumah sakit, Ta. Di ruang IGD tepatnya. Gue juga baru aja sadar," jawab Anan.


Tirai pembatas antar kasur yang satu dan yang lainnya terbuka.


"Hai, Ta! Tante udah suruh anak pantry bawain kita bubur," ucap Tante Dewi. Di tangannya ada selang infus yang sama dengannya dan Anan.


"Kita semua dirawat?" tanya Dita.


"Iya, Ta. Satpam menemukan kita pingsan dekat warung. Aneh, nggak sih? Padahal kita lagi cari Anan di sekolah," kata Tante Dewi.


Seorang suster menghampiri dan memberikannya beberapa dokumen untuk ditanda tangani.


"Habis ini selang infus kita dicopot ya, Nan. Untung aja IGD sepi jadi kita bisa bertiga diobservasi di sini dulu," ucap Tante Dewi.


"Kenapa kita bisa pingsan ya, Tante?" tanya Dita.


"Itu yang gue juga heran, Ta," sahut Anan.


"Ini hasil lab udah keliatan kalau darah kita mengandung obat bius. Jadi kita pingsan karena sebuah obat injeksi yang membuat kita nggak sadarkan diri. Dosis lebih besar terdapat di kamu, Ta. Kemungkinan kamu masih perlu perawatan, deh," ucap Tante Dewi.


"Kenapa harus dirawat, Tante? Memangnya nggak bisa pulang bareng kalian?" Dita merasa sekujur tubuhnya gatal kala itu dan mulai menggaruk.


"Tuh, tuh, kamu lagi gatel-gatel, kan? Masih pusing, eneg, mual pengen muntah juga. Nanti kalau kamu nekat pulang, kamu bisa pingsan bahkan dehidrasi kalau mual muntah terus nggak diobati," jelas Tante Dewi. 


"Iya, Ta. Kalau soal biaya, tenang aja ada Tante gue ini," sahut Anan.


"Iya, Ta. Soal ibu kamu, kamu tenang aja. Tadi, Tante udah ngabarin kalau kamu nginep di rumah Tante, kamu pasti nggak mau buat ibu sama adik kamu khawatir, kan?" terka Tante Dewi.


Dita menjawab dengan anggukan. Tak lama kemudian, seorang suster membuka infus milik Anan dan Tante Dewi. Namun, tidak dengan Dita. Gadis itu malah dipindahkan ke ruang perawatan sampai alergi dan efek obat bius itu hilang sekitar dua kali dua puluh empat jam.


"Tante udah hubungi Kapten Andrew?" tanya Anan.


"Udah, Nan. Tapi Tante juga bingung laporannya gimana. Kenapa juga kita bisa dibius, ya?" 


"Tentu aja ada keanehan, Tante. Kita pada ngapain sih di sekolah? Kok, bisa-bisanya kita ketemu di warung deket sekolah?" tanya Anan.


"Entahlah, Tante juga bingung. Tante mau ngajak kalian makan malam kali, ya. Terus ada yang mau ngerampok kita."

__ADS_1


"Ah, masa sih? Terus ada barang-barang yang hilang, nggak?" tanya Anan.


"Nggak ada, Nan."


"Siapa yang mau jahat sama kita, ya? Kenapa kita sampai dibius," gumam Dita.


"Kamu siap siap pindah ruangan dulu, ya, Ta. Tante mau urus administrasi. Nggak usah pikirin soal biaya perawatan kamu," ucap Tante Dewi.


"Iyalah, kan nanti aku gantinya pakai tenaga," sahut Dita.


"Nah, itu tau!" Setelah selang infus Tante Dewi dilepas, dia melangkah bersama seorang suster menuju ke bagian administrasi. 


"Ta, gue ganti baju dulu, ya. Nanti gue ke ruangan elu," ucap Anan.


Dita mengangguk.


***


Dita telah dipindahkan ke ruang perawatan lantai tiga nomor 310 kelas satu. Rasa bosan membuatnya menyalakan televisi. 


"Hmm ... hmm ... hmm ... hmm ...."


Tiba-tiba, terdengar suara wanita bersenandung dari arah samping.


Lalu, senandung itu kembali terdengar, kali ini Dita mematikan TV di kamar tersebut. Suaranya makin terdengar dan membuat Dita yakin kalau itu bukan suara manusia. Gadis itu menoleh ke ranjang yang ada di sebelahnya. Dilihatnya sepasang kaki yang sedang mengguncang-guncang dengan posisi duduk. Sosok itu memakai daster berwarna putih yang lusuh. Permukaan kulit kakinya penuh rongga dengan cairan nanah dan darah jadi satu. Bau busuk, anyir darah, dan nanah bercampur jadi satu.


"Perasaan tadi nggak ada orang di sebelah? Ummm ... maaf kamu siapa, ya?" Dita memberanikan diri untuk bertanya.


"Hihihihi ...."


Suara itu sekarang tertawa cekikikan dan terdengar mengerikan. Dita mencoba membuka tirai samping pemisah dengan kasur sebelahnya perlahan-lahan. Ia tidak melihat siapapun di sana.


"Boooooo!"


Perempuan berdaster itu sudah berdiri di hadapannya. Hantu perempuan itu tertawa menyeringai menakuti Dita. Hantu itu yakin kalau Dita pasti akan ketakutan, menjerit, bahkan tak sadarkan diri. Namun, ternyata tak seperti yang hantu itu harapkan.


"Kok, nggak takut sih sama aku? Kemarin kemarin pada takut loh sama aku," ucapnya.


"Kayaknya pernah lihat, deh. Kamu yang waktu itu kecelakaan di lift, kan?" tanya Dita seraya menunjuk.


"Oh iya, kita pernah ketemu, ya? Halo, nama aku Keysa. Panggil aja Tante Key. Anak-anak sini pada manggil aku Tante Key," ucapny seraya mengulurkan tangannya.


"Halo, Tante Key. Nama aku Dita. Tadi Tante bilang anak-anak sini? Siapa aja?" 

__ADS_1


"Itu loh para pasien yang meninggal di sini. Mereka udah temenan sama aku. Pas aku awal-awal jadi hantu aku takut banget loh. Sekarang mah udah biasa. Malah mereka ngajarin aku buat nakutin kalian kalian, hehehe."


"Jangan gitu, Tante. Nggak baik nakutin manusia terus," ujar Dita.


"Habisnya setiap mereka lihat aku, pasti teriak, kabur, terus nangis. Padahal aku juga pengen kenalan kayak gini. Sayangnya, nggak semua manusia kayak kamu, hihihi. Kamu sakit apa?" tanya Tante Key. 


"Ada yang bius aku, Tante. Efeknya perut aku sakit, mual, muntah, masih pusing," jawab Dita. 


"Wah, kamu mau dijahatin orang dong? Apa jangan-jangan kamu mau diperkosa?" tanya Tante Key.


"Nggak sampai diperkosa, sih. Tapi emang kayaknya. Duh, aku tuh lupa loh 


Tiba-tiba, Anan datang membawakan pesan dan langsung berteriak.


"Astaga! Elu tuh magnet banget sih buat hantu!" seru Anan yang langsung menutupi wajahnya dengan keranjang buah.


"Kenalin, Nan, ini Tante Key," ucap Dita.


"Ogah, gue nggak mau kenalan!" ketus Anan.


"Ih, ganteng banget pacarnya. Kalau nggak mau kenalan, nanti aku cium loh." Tante Key mendekat menggoda Anan.


"Iya, iya, kenalan." Anan mengulurkan tangannya, "nama gue Anan."


"Halo, aku Keysa, panggil aja Tante Key." Hantu kuntilanak itu menjabat tangan Anan.


"Ta, hape lu mati, ya? Tadi nyokap elu telepon Tante gue, katanya nanti siang dia mau pergi nemenin Ali ke kampung Bu Endang apa siapa gitu."


"Oh, iya, aku baru inget. Bu Endang ngajak ke kampungnya soalnya anaknya mau nikah di kampung, ini Jumat, kan? Mungkin ibu balik minggu," ucap Dita.


"Ya, makanya kata ibu elu, elu dititipkan ke Tante Dewi." 


"Ih, si ibu mah, emangnya aku bocah apa dititip. Aku kan bisa pulang ke rumah, sendirian di rumah juga nggak apa-apa," protes Dita.


"Nggak bisa! Elu kan masih sakit. Udah di sini aja anteng, sampai dokter bolehin elu pulang," ucap Anan.


"Nan, aku mimpi buruk tau tentang Yono dan Ratih," ucap Dita.


Anan yang sedang menghindari tatapan Tante Key langsung menoleh ke arah Dita.


...*****...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2