
Part 44
Ferdian semakin bingung diikuti rasa malu saat semua mata yang ada di dalam ruangan memandang ke arahnya. Seluruh tubuhnya seperti dikendalikan oleh seseorang.
Pemuda itu mencoba melawan sekuat tenaga, tetapi dia tak bisa mengendalikan kembali tubuhnya. Ferdian terus-menerus memasukkan makanan-makanan yang ada ke dalam perutnya, memaksa dirinya terus-menerus, sampai akhirnya dia mendengar bentukan sang ayah.
Prawira menggebrak meja sembari berseru, "HENTIKAN SEMUA INI!"
Prawira melihat tajam ke arah Ferdian yang awalnya tak menggubris perintahnya. Putranya mencoba mengendalikan diri, tapi sekuat apa pun mencoba, dia tetap tak dapat melawan.
"BERANI KAU KENDALIKAN TUBUH ANAKKU SEPERTI ITU, AKU BERSUMPAH AKAN MELAWANMU, BURHAN!"
Prawira kini menoleh ke arah Burhan yang langsung terdiam menahan tawa. Ruangan jamuan itu menjadi hening seketika. Semua menoleh ke arah Burhan yang akhirnya tertawa terbahak- bahak.
Ferdian masih tak mengerti pada siapa ayahnya berbicara. Pikirannya masih bersama tubuhnya tetapi dia tak bisa mengendalikannya. Makin dia berusaha lepas, tetap saja tak ada yang bisa dia lakukan. Akhirnya Tuan Karmo meminta putranya untuk berhenti.
"Hentikan perbuatanmu, Burhan! Kamu membuat malu tamuku," katanya seraya meraih cerutu di hadapannya.
Setelah Tuan Karmo mengatakan hal itu, tubuh Ferdian berhenti bergerak. Seketika saja, pemuda itu berlari kecil ke kamar mandi lalu memuntahkan makanan yang penuh di dalam mulutnya. Badannya terasa sangat sakit dan nyeri setelah apa yang baru saja terjadi ke padanya.
"Maafkan aku Tuan Kertarajasa. Aku hanya ingin membuktikan kalau anakmu itu sangat mudah untuk dikendalikan," tukas Burhan.
Prawira menatap tajam ke arah lelaki bengis tersebut. Ferdian kembali dari kamar mandi. Dia baru paham dari kata-kata Burhan barusan. Hal yang baru saja terjadi dengan dirinya pasti akibat dari ulahnya.
'Apa jangan-jangan selama ini dia bisa mengendalikan atau bahkan sering mengendalikan tubuhku? Setiap aku bangun rasa sakit dan nyeri akh rasakan. Mungkinkah tubuhku sedang dikendalikan?' Batin Ferdian bergejolak menahan amarah dan kebingungan yang bercampur menjadi satu.
Pandangan mata Burhan kini tertuju kepada Ferdian setelah tadi saling menatap tajam dengan ayahnya. Dia mempersilakan Ferdian untuk duduk kembali. Burhan meminta Loli untuk memberikan teh hijau dalam gelas dari bahan tanah liat untuk Ferdian.
"Silakan diminum, Nak. Itu akan menjadi penawar rasa mual dan tubuhmu yang nyeri itu," ujar Burhan tersenyum menyeringai.
Ferdian menatap ayahnya yang menganggukkan kepala tanda setuju. Pemuda itu meraih gelas tanah liat itu dengan tangan gemetar. Rasa manis teh hijau meluncur di batang kerongkongannya menuju lambung, menghangatkan.
"Lain kali, tolong jangan selancang ini. Memamerkan ilmumu dengan cara seperti ini tak membuatmu menjadi orang yang akan dihormati," tegur Ibu Santina.
__ADS_1
"Maafkan saya, Bu. Saya kan hanya sedang coba-coba. Saya juga bisa membuktikan pada Mas Prawira tentang ngilmu rasuk sukma. Ternyata mudah dan menyenangkan bukan?" Burhan menatap Prawira kembali. Lalu, tersenyum.
Ferdian kini mengerti apa yang baru saja terjadi kepadanya. Rupanya lelaki bernama Burhan ini bisa melakukan ilmu rasuk sukma. Mengendalikan tubuh seseorang dengan muda.
"Untukmu, Nak," kata Burhan sembari melihat wajah Ferdian yang masih bercucuran peluh keringat. Dia menyerahkan pisang raja pada Ferdian.
"Aku minta maaf sudah dengan lancang merasuk ke sukmamu seenaknya. Aku ingin mencoba sejauh mana ilmu yang kupelajari ini. Lagi pula aku ingin mencairkan suasana. Di sini suasananya terlalu serius, hahaha." Burhan hanya tertawa sendirian tak ada yang menimpali. Sampai akhirnya dia menyimak kembali dalam diam.
Ferdian tidak mau menjawab dan menerima pemberian Burhan. Bagaimanapun juga lelaki bernama Burhan ini sudah mempermalukan dirinya. Ferdian tiba-tiba teringat oleh sesuatu, saat dia berada di sekolah kemarin maupun tempo hari. Dia tak bisa. Dia juga tak dapat mengendalikan tubuhnya dengan benar ketika itu.
"Apa mungkin…." Ferdian melihat ayahnya.
"Aku tidak suka jika kamu seenaknya masuk ke pikiran orang. Kamu memanipulasinya sedemikian rupa seperti apa yang kamu lakukan kepada putraku," tegas Kertarajasa.
Burhan justru makin tertawa terpingkal-pingkal.
Wira lalu berkata, "Itu perbuatanku, aku harus melakukannya, meski begitu anak itu juga ikut membantuku." Ferdian ditunjuk oleh salah satu panitia.
"Baiklah, karena semua sudah datang, mari kita mulai membicarakan tentang perjanjiannya," ucap Ibu Santina.
"Jadi, Nyonya Aiko, bagaimana saya harus mengatasi Devila milik Burhan?" tanya Santina.
"Ini iblis yang berbeda, Bu. Aku pun tak bisa mengendalikan iblis ini," sahut Burhan.
"Sudah kalian temukan anak perempuan yang pantas untuk iblis itu?" tanya Aiko seraya mencicipi salad buah di hadapannya.
"Sudah, dia ada di sekolah. Namanya Anandita," ucap Santina.
"Dia juga cantik, Bu. Memangnya dia tak bisa aku miliki dulu, ya?" Burhan tertawa dengan bengis.
Brak!
Ferdian menggebrak meja mengejutkan semuanya. Dia bangkit berdiri menatap Burhan dengan tajam.
__ADS_1
"Ada apa dengan anakmu itu, Prawira?" tanya Burhan.
"Di, duduk!" titah sang ayah.
Ferdian tetap tak bergeming. Dia menunjuk ke arah Burhan.
"Jauhi Dita!" seru Ferdian.
"Oh, mau jadi pahlawan kesiangan, ya? Kamu lupa kalau saya bisa mengendalikan tubuhmu. Mau aku bawa tubuh itu berbaring di atas rel kereta api lalu dilibas habis, mau?" ancam Burhan.
"Di, nurut sama Papi. Duduk!" Prawira kembali menatap tajam anaknya.
Ferdian tak berkutik. Perlahan dua kembali merebahkan bokongnya. Pembicaraan kembali dilanjutkan. Mereka tetap sepakat akan mengincar tubuh Dita untuk dijadikan persembahan pada Iblis Devila.
...***...
Di malam prom night, Dita sudah berada di lantai empat. Ruang Kosong yang ditakuti. Dia bertemu dengan rohnya Mita dan juga Iblis Devila.
"Aku hanya ingin ditemani. Setelah iblis ini menghisap roh ku, aku sendirian di lantai ini. Tapi iblis ini menghisap semua teman yang aku bawa dan mengurungnya di sana," ucapnya seraya menunjuk ruang kosong tersebut.
"Siapa kamu?" tanya Dita berusaha melihat dengan jelas tanda nama di kemeja seragam hantu perempuan itu. Tertulis di sana nama Mita Kusuma.
"Diam kau anak manis!" Sosok bertudung yang dikatakan sebagai iblis itu datang, lalu mendorong Mita dan menghempasnya kuat-kuat.
"Tempat ini jadi semakin seru. Aku mencari jiwa-jiwa yang baru, yang pandai, dan sangat lezat sepertimu. Sepertinya kau adalah gadis yang dikirimkan untukku," ucap iblis itu. Mendekat dan mulai mencekik Dita.
"Le-lepaskan aku!" pinta Dita berusaha menarik tangan menyeramkan yang seperti akar pepohonan itu.
"Hmmmm, ini sangat lezat," ucapnya lagi sambil menjulurkan lidah menjilati pipi Dita.
Dita mulai tersudut. Cengkeraman di leher itu membuatnya merasakan sakit dan mulai kesulitan bernapas.
...*****...
__ADS_1
...Bersambung. ...