
RK Part 41
"Hantu itu mau ajak kamu main?" Dita menatap Anita dengan lekat.
"Sepertinya dia datang lagi, nih," gumam Dita.
"Siapa yang datang lagi, Ta?" tanya Ferdian.
"Oh, nggak, Kak. Nggak apa-apa."
"Yakin nggak apa-apa atau ada apa-apa yang kamu sembunyikan?" tanya Ferdian.
"Yakin, Kak." Dita mengangguk berulang.
"Ya udah kalau begitu saya balik ke kelas ya." Pemuda itu melayangkan senyum manis lalu pamit.
Tak lama kemudian dokter penjaga UKS datang dan memeriksa kondisi Anita. Setelah dirasa membaik, Dita menggandeng Anita untuk kembali ke kelas.
Sepulang sekolah, Dita menceritakan semuanya pada Anan. Dia takut kalau hantu yang kerap mengajak main itu mulai muncul lagi. Nantinya akan ada murid yang hilang lagi. Anan meminta Dita untuk lebih waspada ke depannya.
...***...
Dua hari menjelang acara pentas seni di sekolah, para panitia menjadi pasukan yang paling lelah. Dita, Anita, Devon, dan Anan termasuk para siswa yang tergabung dalam OSIS yang menjadi panitia acara pensi perpisahan tersebut.
Mereka harus pulang setiap hari minimal saat maghrib. Bahkan malam itu, mereka menginap di sekolahnya. Malam itu, panggung untuk acara pertunjukan tari, dan grup band dari sekolah akan dibuat. Dita dan Anita membeli nasi goreng di sebuah kedai yang tak jauh dari sekolah.
Anan dan yang lainnya berada di ruangan panitia. Devon yang merasa bosan
memutuskan untuk keluar sejenak dari ruangan panitia. Pemuda itu sebenarnya berbohong untuk merokok. Devon terpaksa bersembunyi di samping pot tanaman besar di sudut dekat arah menuju ke toilet. Tiba-tiba, ada lemparan batu yang datang ke arahnya dari ruang kelas.
"Siapa sih yang lempar batu ke gue?" Devon bermonolog seraya celingukan.
Namun, bukan cuma sekali bahkan berkali-kali sampai batu itu membuat kaca jendela di samping Devon pecah.
"Wah, ngajak ribut nih orang." Devon segera memanggil Anan.
Keduanya memberanikan diri untuk menghampiri sumber lemparan batu itu. Devon merasa lemparan itu datang dari lantai dua. Akan tetapi, saat mereka tiba di lantai dua, tak ada siapa pun di sana.
"Woi, pada ngapain di atas?" tegur Samuel, salah satu panitian teman Anan.
"Tadi ada yang lempar batu sampai kaca itu pecah. Yang lempar dari sini makanya mau kita samperin," sahut Devon.
"Terus ada, nggak? Kalau nggak ada, jangan-jangan setan lagi," ucap Samuel menakuti.
__ADS_1
Otomatis saja, Anan dan Devon langsung saling menatap satu sama lain. Mereka merasa merinding dan memutuskan untuk turun. Tak lama kemudian, Anan dan Devon mendengar tawa khas perempuan diikuti dengan munculnya sosok itu di atas pohon luar pagar sekolah dan sedang duduk seraya menyisir rambut kusutnya dengan jari.
"Sial, ngapain lagi si Silla di situ, nakutin aja," gumam Anan.
"Silla Siapa, Nan?" tanya Devon.
"Elu nggak perlu tahu, lah. Nggak usah tahu." Anan segera bergegas melapor pada penjaga sekolah kalau ada kaca ruangan yang pecah.
...***...
Anita dan Dita masih mengantre di depan kedai nasi goreng yang ramai. Apalagi mereka harus memesan sepuluh bungkus nasi goreng untuk para panitia yang menginap. Anita merasa kandung kemihnya penuh.
"Ta, aku mau pipis," bisik Anita.
"Pipis di mana?"
"Coba numpang di toilet mini market depan boleh kali, ya?" tanya Anita.
"Ya udah sana!"
"Anterin, Ta," pinta Anita.
Keduanya lalu menuju minimarket di seberang kedai nasi goreng. Anita lantas meminta izin pada seorang kasir perempuan untuk menumpang di toilet minimarket tersebut.
"Aku tunggu sini, ya," ucap Dita yang akhirnya memesan satu cup kopi susu di kasir minimarket.
Setelah menuntaskan buang air kecil, tiba-tiba ada suara ketukan tiga kali yang terdengar.
“Iya, Mbak, sebentar ya. Saya lagi pakai celana," balas Anita.
Namun, tak ada balasan apapun yang terdengar di luar pintu. Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan kembali sampai Anita mulai jengkel karena resleting celana jeans yang dia kenakan macet.
"Tunggu dong, Mbak! Bisa sabar dikit nggak, sih!"
Hening seketika sampai Anita pikir kalau orang yang mengetuk pintu kamar mandi mungkin saja sudah pergi. Namun, tak lama kemudian, ada yang mengetuk kembali pintu kamar mandi tempat Anita berada.
"Aduh, nggak tau apa ya kagi kesusahan nutup celana gini. Kalau mau buru-buru, kencing aja di depan pintu," sahut Anita mulai sewot.
Akan tetapi, suara seorang perempuan yang parau dan berat terdengar dekat dengan tempat Anita berada.
"Saya di atas, Mbak."
Sontak saja Anita mencoba menoleh ke langit-langit secara perlahan. Wajah pucat dengan kedua mata menghitam dan bagian dagu memperlihatkan tulang itu tersenyum menyeringai. Tetesan darah anyir dan busuk itu menetes ke wajah Anita.
__ADS_1
"Huaaaaaaa! Setaaaaaaan!" Anita lantas menuju ke luar tanpa menutup rapat resleting celananya yang macet.
"Kamu kenapa, Nit?" tanya Dita.
"Ada setan, Ta, di kamar mandi itu," ucap Anita.
"Oh, dia emang suka muncul tapi nggak jahat, kok, Mbak. Dia cuma usil, Mbak." Kasir perempuan itu menjelaskan.
"Tetap aja, Mbak, serem!" Anita bersungut-sungut.
Dita menghampiri toilet dan mendapati sosok kuntilanak yang kerap menemaninya di kantin sekolah, ternyata ada di langit-langit minimarket.
"Mbak Kun, kok ada di sini?" tanya Dita.
"Dita? Iya, Ta. Kami semua diusir nggak bisa ke sekolah. Tapi kami masih nongkrong di sekitar sekolah, sih," jawabnya.
"Diusir sama siapa?" tanya Dita lagi.
"Kepala sekolah kamu lah," sahut Mbak Kun lalu pergi menghilang
"Kepala sekolah? Lho, kok bisa? Mbak Kun, Mbak Kun, yeeee orang masih mau ngobrol, malah main hilang aja."
"Ta, ayolah balik ke sekolah! Ngapain juga kamu samperin hantu itu," ucap Anita ketakutan.
"Iya bentar." Dita masih tak mengerti kala sosok kuntilanak itu menyebut kepala sekolah yang mengusir mereka. Itu artinya, kepala sekolah dapat melihat makhluk astral.
Dita dan Anita kembali ke sekolah dengan membawa sepuluh bungkus nasi goreng. Kehebohan terjadi kala mereka sampai. Anan menceritakan pertemuannya dengan Silla. Sosok hantu kuntilanak itu ternyata tinggal di pohon luar sekolah.
"Nan, tadi aku juga ketemu sama Mbak Kun yang nakutin Anita. Dia bilang kalau dia diusir sama kepala sekolah," bisik Dita.
"Kepala sekolah? Kok bisa?" Anan menatap tak percaya.
"Nah, itu dia masalahnya. Itu artinya kan kepala sekolah bisa lihat makhluk astral, dong."
"Iya sih. Tapi ya mungkin aja emang dia mau bersih-bersih sekolah dari makhluk astral makanya dia usir. Bisa jadi, kan?" Anan menyantap nasi gorengnya dengan lahap.
"Tapi, kenapa ada hantu di lantai empat? Tuh, lagi ngeliatin kita dari sana," bisik Dita menunjuk dengan lirikan matanya.
Anan mencoba memberanikan diri mendongak. Lalu, dia menunduk kembali dengan cepat. Rupanya Dita benar. Ada sosok perempuan yang berdiri di tepi rooftop lantai empat. Namun, wajahnya tak terlihat jelas karena sosok itu berada dalam daerah yang minim cahaya.
"Dia ganggu nggak ya, Ta, kalau kita nginep di sini sekarang?" bisik Anan.
"Nggak tahu, Nan, kan aku belum tanya. Mau ditanyain, nggak?"
"Koplak!"
__ADS_1
...*****...
...Bersambung....