Ruang Kosong Di Sekolah

Ruang Kosong Di Sekolah
29. Mencari Pak Amin


__ADS_3

Sementara itu, Anan masih melirik ke arah Dita dengan tatapan aneh. Pemuda itu sempat bergumam kala melihat Dita kembali memberikan beberapa suap mie ayam bekas Anita pada sosok kuntilanak di sampingnya.


"Dasar cewek aneh," kata Anan.


Hantu kuntilanak itu mendengar ucapan Anan, lalu mengadu pada Dita.


"Kayaknya, dia ngatain kamu cewek aneh, deh."


"Dia bilang aku kayak gitu? Ih, dasar cowok nggak waras!" sungut Dita.


Dita bersungut-sungut sambil membayangkan dengan jijik kala pernah mendapatkan pelukan dari Anan tempo hari. Gadis itu memicingkan kedua matanya kala menatap ke arah Anan. Pemuda itu langsung membuang muka berpura-pura tak melihat ke arah Dita.


"Mbak Kun, temen-temen kamu si kunti pink sama kunti muka rata, pada ikut antre, tuh! Mereka lagi baris buat dapetin undangan ulang tahun si cowok prik itu," tukas Dita.


"Mana mereka? Dih, norak banget, sih! Aku ikutan antre juga lah kalau gitu." Kuntilanak itu lalu melayang pergi.


Anan yang melihat ada tiga kunti sudah berada dalam barisan, langsung menahan diri agar tidak ketakutan.


"Von, buruan!" seru Anan.


"Iya, bentar!" sahut Devon.


"Hahaha, emangnya enak!" cibir Dita.


Pandangan Dita lalu terarah pada sesuatu yang terlihat melintas. Bayangan hitam yang seperti jubah melayang itu terdeteksi menuju ke lantai empat. Dita mencoba menpertajam indera penglihatannya mengikuti bayangan itu. Namun, dia malah melihat seperti ada sosok murid perempuan sedang berdiri di rooftop lantai empat. Sosok itu memakai seragam sekolah yang sama dengan dirinya.


"Itu siapa, ya? Perasaan kayak pakai seragam murid sini," lirih Dita berbicara pada diri sendiri lalu meneguk air mineral dalam kemasan botol di hadapannya.


"DITA TAU NGGAK–"


Dita yang terkejut saat meminum air mineral dalam kemasan botol itu, langsung menyemburkan air di dalam mulutnya ke wajah Anita.


"Maaf, maaf, Nit!" tukas Dita.


"Huh, Dita! Emangnya aku kesurupan apa pakai disembur segala, basah semua, nih, mukaku!" seru Anita.


Dita meraih beberapa lembar tisu lalu membersihkan wajah Anita.


"Lagian kamu, sih, datang-datang main ngagetin aja, " sahut Dita.


Anan melintas bersama Devon di hadapan Dita setelah selesai membagikan undangan. Tiga kuntilanak tadi masih mengikutinya. Lama kelamaan, gaya keren Anan yang sedang berjalan itu berubah menjadi lari lari kecil untuk menghindari kejaran para kunti. Meskipun tak mengerti, Devon ikut berlari mengejar Anan.


"Anan, tungguin gue! Mau ke mana woi?!" seru Devon.

__ADS_1


"Gue mau pipis!" Anan berbohong seraya berlari.


Dita sampai terpingkal-pingkal menertawai kelakuan Anan.


"Dita, kamu kenapa, sih?" tanya Anita.


"Sumpah, seru banget, Nit." Dita tak bisa menahan gelak tawanya.


"Ini aku ada undangan buat ulang tahun Anan nanti malam," ucap Anita seraya memamerkan undangan tersebut.


"Kamu diundang? Oh, baguslah." Dita melahap lagi mie ayamnya sampai habis.


"Udah gitu doang reaksi kamu?" tanya Anita.


"Terus aku harus bilang wow, gitu?" .


"Ya iyalah wow, Ta! Ini undangan juga buat kamu tau!" ucap Anita.


"Hidih! Siapa juga yang mau datang ke ultah tuh cowok prik!" tegas Dita.


"Jadi, kamu nggak mau dateng gitu, Ta?" tanya Anita memastikan.


"Nggak mau! Males aku!" sahut Dita lagi lalu dia mengeluarkan suara senyawa tanda kenyang.


"Males, Nit, aku sibuk mau bantu ibuku bikin kue," sahut Dita laku bangkit berdiri menuju kelas.


"Aku bayar deh kue buatan ibu kamu. Pokoknya kamu harus nemenin akh datang ke ulang tahun Anan! Kalau tidak…."


"Kalau tidak, kenapa?" Dita menghentikan langkahnya.


"Aku akan adukan kamu ke ibu kamu kalau kamu menolak undangan Anan."


Dita tertawa kecil, tetapi raut wajahnya jadi berubah serius. Jika Anita nekat memberitahukan ibunya perihal Anan, nanti ibunya pasti akan marah dan mengadu pada Tante Dewi. Makin runyamlah kehidupannya nanti.


"Oke, oke. Aku temani kamu datang ke ultah Anan."


"Hore! Nah, gitu dong!" Anita merangkul bahu Dita sembari melangkah menuju kelas mereka.


...***...


Sore itu, Anan sedang berada di sebuah perkampungan tempat Pak Amin tinggal, sopirnya Tante Dewi.


"Duh, gue nanya ama siapa ini alamat rumahnya Pak Amin?" keluh Anan.

__ADS_1


Pemuda itu terpaksa memarkirkan mobilnya di depan gang karena ternyata alamat rumah yang diberikan Tante Dewi tidak dapat dijangkau oleh mobil.


Tiba-tiba, saat Anan melangkah menuju ke sebuah gang, dia dihadang oleh sekelompok pria tak dikenal.


"Mau ke mana luh, Mas? Kayaknya elu bukan orang baru di sini, iya, kan? tanya Wahyu ketua preman kampung tersebut. 


Seorang ketua preman bernama Wahyu dan lima anggotanya terlihat menghadang Anan kala itu.


"Mas, mas, saya masih sekolah, Bang. Nggak liat saya pakai seragam gini!" sahut Anan.


"Woi, mulai songong ini bocah!" seru pria bertubuh pendek tetapi badannya kekar yang ada di belakang Wahyu.


"Bukan maksudnya songong, Bang. Begini, Bang, dengerin dulu. Gue mau cari alamat rumah Pak Amin di Jalan Kenanga nomor lima belas Kampung Biru. Abang tau, nggak, alamatnya?" tanya Anan.


"Oh, rumah Pak Amin bapaknya si Yono, kan?" tanya Wahyu.


Anan menjawab dengan anggukan kepala.


"Nah, nggak semudah itu anak muda. Paling nggak nih, elu harus kasih kita uang terima kasih. Anggap aja lah masing-masing seratus ribu. Kayaknya kalau gue liat-liat, elu anak orang kaya, ya?" Wahyu berkeliling mengitari Anan sambil mengamati.


"Oh, gue paham ini. Jadi, ceritanya Abang-Abang semua mau malak saya?" tuduh Anan.


"Bukan ceritanya lagi, cuy! Gue lagi kaga bikin drama. Ini kenyataan bukan cerita. Lagian emang itu syaratnya kalau elu mau lewat gang sini atau keluar dari sini dengan selamat," ancam Wahyu.


"Sebenarnya, sih, saya nggak masalah dengan uangnya. Tapi, saya nggak suka aja kalau dipalak kayak gini. Apalagi kalian berlima cuma minta cepe, total lima ratus ribu. Yah, rendah banget harga diri gue dihargain segitu," sahut Anan.


"Eh, bocah bau kencur! Masih sekolah aja belagu banget luh!" Wahyu menoyor kepala Anan.


"Waduh! Main toyor aja kepala gue." 


Anan lalu mencium aroma ketiaknya. Dia tak menyangka kalau wangi parfum Tom Ford itu masih dikatakan bau kencur oleh para preman di hadapannya yang jelas-jelas tak pernah mandi.


"Ngapain lu cium-cium ketek elu sendiri? Bau ketek, luh?" tuding Wahyu.


"Gini ya, Bang, perasaan saya nggak bau kencur, Bang. Wangi kok ketek saya. Nih, kalau nggak percaya cium aja!"


Anan mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan ketiaknya pada salah satu preman untuk dicium. Dengan bodohnya, preman itu malah menurut dan menghirup aroma ketek Anan.


"Wangi keteknya, Bos. Kaga bau kencur lagi," sahutnya.


"Buset dah! Ngapa gue punya anak buah samanya pada oon begini!" pekik Wahyu.


...*****...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2