
Dita masih memikirkan para murid yang hilang di sekolah. Hantu kuntilanak yang mengeluh tadi tetap berusaha menggeser Dita, tetapi akhirnya dia kalah juga. Sosok kuntilanak itu duduk meringkuk di lantai di samping meja yang ada di sudut tempat Anita dan Dita duduk.
"Ta, mau makan apa? Kamu kan nggak bawa bekal hari ini?" tanya Anita.
"Bakmi ayam aja, Nit, setengah. Terus minumnya air putih aja," jawab Dita.
"Ngapain, sih, pakai setengah setengah segala?" Anita sampai mengernyitkan dahi.
"Biar irit gitu, hehehe." Dita meringis menunjukkan deretan giginya yang putih menawan dan rapi.
"Kamu lupa, ya, temenan sama siapa?" Anita sampai bertolak pinggang.
"Sama siapa memangnya?" Dita balik bertanya.
"Dita! Kamu tuh temenan sama aku tau!" seru Anita.
"Lha, emang iya, kok. Kita emang temenan, kan?" Dita sempat merogoh saku kemejanya untuk mengambil uang, tetapi Anita langsung menolaknya.
"Justru karena kamu temenan sama aku tau! Udah sih aku aja yang bayar, kayak sama siapa aja. Kamu, kan, udah bantuin aku ngisi PR mtk tadi. Aku pesenin satu porsi mie ayam komplit pakai bakso dan pangsit udang," ucap Anita.
"Wah, makasih banyak kalau begitu. Alhamdulillah Allah kasih aku temen kayak kamu," ucap Dita penuh rasa syukur.
Anita tersenyum lalu bangkit menuju penjual mie ayam. Sementara itu, Dita melihat beberapa gadis tampak mengikuti Anan dan Devon memasuki area kantin.
"Hadeh, abis pada buat apa itu cowok-cowok prik," gumam Dita.
"Ladies … semuanya harap tenang, dong! Dengarkan wahai para ladies! Nanti gue akan kasih undangan buat kalian satu persatu, makanya kalian antre yang rapi!" seru Devon memberi perintah.
Anan yang berjalan dengan kerennya sempat melirik ke arah Dita dengan tatapan berjengit. Ternyata, Dita sedang menyuapi kuntilanak di samping mejanya dengan sukro cap angsa.
"Dasar cewek aneh," gumam Anan.
Devon menarik pemuda itu untuk duduk.
"Sini, Nan! Duduk di sini sambil kita bagi – bagi ini undangan ke cewek-cewek ini. Mereka udah menggila gara-gara elo," ucap Devon.
Tiba-tiba, Jennifer datang dari arah belakang dan memeluk Anan dari arah belakang dengan erat.
__ADS_1
"Baby! Happy birthday sayang aku yang paling tampan!" seru Jennifer.
Gadis bule itu memperingati para gadis yang lain agar jangan terlalu dekat dengan Anan. Dia juga berseru kalau Anan itu miliknya.
"Jangan panggil gue baby lagi! Gue muak tau! Lagian elu bukan siapa-siapa gue lagi!" seru Anan melepas tangan Jennifer dari lehernya.
Sontak saja para gadis yang mendengar penuturan Anan langsung bergunjing ria. Beberapa juga bersorak menertawai Jennifer. Ada senyum yang terlukis di wajah para gadis itu karena mereka merasa akan memiliki kesempatan untuk menjadi kekasih Anan selanjutnya.
"Nggak mungkin, Anan Sayang. Kita masih jadian belum putus," tukas Jennifer mencoba memohon pada Anan seraya melingkarkan lengan di tangan Anan.
"Gue nggak mau! Pokoknya kita putus!" Anan masih bersikeras dengan keputusannya.
"Tapi, tante kamu udah ngundang aku buat datang ke sweet seventeen kamu. Aku akan tetap datang pokoknya, dan aku pastikan kalau aku akan bawa kado spesial buat kamu," ucap Jennifer bersikukuh.
Gadis itu tiba-tiba memberi kecupan di pipi Anan. Bola mata Anan langsung melotot apalagi saat itu dia menangkap Dita sedang menatap ke arahnya. Anan mendorong tubuh Jennifer sampai jatuh duduk ke lantai. Pemuda itu juga langsung mengusap bekas kecupan Jennifer di pipinya kala itu.
"Von, cariin gue pasir buat bersuci!" pinta Anan.
"Hah? Pasir? Bersuci? Bersuci dari apa?" Devon sampai menggaruk-garuk kepalanya kebingungan.
"Bersuci dari dia!" Anan menunjuk Jennifer yang masih duduk di lantai seraya mengulurkan tangannya.
"Pergi dari hadapan gue! Atau gue siram air teh botol ini ke muka elu!" ancam Anan mulai tersulut emosi.
Jennifer lantas meminta Devon untuk membantunya berdiri.
"Oke, fine! Tapi, aku akan tetep pergi nanti malam ke pesta ulang tahun kamu. Awas ya kalian semuanya! Awas aja kalau kalian punya pikiran buat jadi pacar Anan, dia masih milik gue!" Jennifer menunjuk semua gadis yang ada di hadapan Anan penuh ancaman.
"Dih, nggak ngaca!"
"Huuuuu, nggak tau malu!"
Sontak saja semua gadis itu menyoraki Jenifer dengan kata "huuuuu" saat gadis itu pergi beranjak dari kantin.
"Awas ya kalian berani beraninya sama gue," ancam Jennifer.
"Hahaha, kocak banget ya, Mbak Kun," ucap Dita tertawa kecil bersama kuntilanak di sampingnya.
__ADS_1
"Ho oh, kocak banget itu. Nggak nyangka kalau si ganteng bisa putus juga sama itu nenek lampir," sahut si kuntilanak.
"Habisnya si nenek lampir itu selingkuh," sahut Dita seraya terkekeh.
"Ada apaan, sih, seru banget? Siapa nenek lampir yang kamu bilang selingkuh, Ta?" Anita meletakkan dua mangkuk mie ayam ke atas meja seraya duduk.
"Itu si Bos Kecil kayaknya mau bagi-bagi undangan ultah. Aku dengar kayaknya si Anan mau sweet seventeen, makanya pada antre buat nerima undangan," sahut Dita.
"Nenek lampir selingkuh tadi siapa?" tanya Anita sambil meniup mie ayam miliknya.
"Si Jennifer, dia kan selingkuh sama Shane terus diputusin Anan, deh," sahut Dita yang mulai lahan menyantap mie ayam miliknya.
"Oh, Jennifer selingkuh." Anita sempat berpikir lambat lalu menggebrak meja mengejutkan Dita.
Brak!
"Bangun bangun makan mie ayam!" pekik Dita
"Apa kamu bilang tadi? Kak Anan ulang tahun? Wah, ini nggak bisa dibiarin. Aku mau ikut antre buat minta undangan itu," ucap Anita lalu bergegas ikut bergabung bersama rombongan para gadis tersebut.
"Haduh, si Anita mah, bikin malu aja." Dita menepuk dahinya sendiri.
Dita tak bisa menahan Anita yang langsung berdiri dan bergegas ikut berbaris. Padahal Devon terlihat selektif dalam membagikan undangan ulang tahun Anan di tangannya. Dita yakin bisa saja Anita akan ditolak hadir ke acara ulang tahun Anan.
"Elu mau apa ke sini, Nit?" tanya Devon.
"Mau beli gado-gado! Ya, aku mau undangan ulang tahun Kak Anan, lah!" sahut Anita kesal.
"Eh, cewek cantik nggak boleh galak gitu. Gue bakal kasih elu undangan ultahnya Anan, asal …." Devon menahan undangan di tangannya agar tak tertarik oleh tangan Anita.
"Asal apa?" Anita berusaha menggapai undangan tersebut.
"Asal, elu pergi sama gue," kata Devon memberi tawaran.
"Oke, siapa takut. Tapi bagi dua, ya? Yang satu buat temen aku," ucap Anita seraya melirik ke arah Dita.
Devon akhirnya menyerahkan dua undangan ke tangan Anita. Gadis itu lalu pergi seraya melompat-lompat kecil menuju ke meja kantin tempat Dita duduk.
__ADS_1
...*****...
...Bersambung....