
"Saya nggak nuduh, Pak. Tanya aja kebenarannya sama istri Bapak!" titah gadis itu.
"Bener, Sari, apa yang cewek ini bilang?" tanyanya.
"Bang, mana mungkin saya bunuh Aldi," sahut wanita itu.
Dita lalu meraih tangan pria tersebut dan menunjukkan sosok Aldi yang menggantung di kakinya.
"Bapak liat sendiri!" ucap Dita.
"Hah? Aldi?" tukasnya.
"Iya, Pak, itu Aldi. Dia gentayangan ngikutin temen saya ini. Dia minta kita ke sini karena mau ketemu sama mamanya. Mungkin dia mau bilang kalau mamanya yang udah taro dia di bagasi. Dia hanya ingin kebenaran tentang kematiannya terungkap," ucap Dita seraya terisak.
"Mama nggak salah, Aldi yang salah. Aldi udah buat mama susah," ucap anak itu dengan polosnya seraya menunjukkan senyum yang manis tetapi malah menyeramkan untuk dilihat.
"Benar, Sar? Beneran elu yang udah bunuh Aldi?" tanya Pak Badri.
"Aku nggak mau kamu ninggalin aku dan pergi dari aku, Bang!" pelik Sari seraya menangis dan berlutut di hadapan suaminya.
"Astagfirullah, Sari! Biar gue preman pasar, gue punya iman. Gue juga punya hati, Sari! Gue sayang sama Aldi. Gue sering ketemu anak ini di pasar kalau dia ngamen. Gue sering ngajak dia makan bareng. Kenapa elu nggak bilang kalau elu udah punya anak, apalagi anak elu ini si Aldi. Astaga, Sus, tega banget elu jadi emaknya!" Badri menuding sang istri penuh amarah.
"Ya ampun, Bang … aku takut kamu nggak mau nikahin aku karena aku udah punya anak, huhuhu. Aku tadinya nggak bermaksud buat bunuh Aldi. Aku cuma mau dia pergi ke luar kota dengan mobil itu. Aku nggak bermaksud buat bunuh Aldi, Bang!"
"Gue nggak ngerti sama jalan pemikiran elu, Sar. Pokoknya elu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan elu." Badri lalu menghubungi polisi setempat.
"Baiklah, Bang. Maafin saya, ya. Maafin Mama juga ya, Di," isak Sari.
Aldi memeluk ibunya. Hari itu, ibunya Aldi menyerahkan diri ke kantor polisi terkait kematian anaknya. Dita masih saja menangis dan tak habis pikir kalau ada seorang ibu yang tega menghabisi nyawa anaknya sendiri. Dita masih terisak memeluk Aldi.
"Mamanya juga nggak sengaja, Ta. Dia nggak bermaksud ngebunuh," ucap Anan.
"Tapi sama aja, Nan. Dia mau buang Aldi, huhuhu," tangis Dita.
"Kakak jangan nangis. Makasih ya udah tolong Aldi. Makasih juga akak galak yang udah jajanin Aldi," ucapnya seraya melirik ke arah Anan.
"Wah, songong nih bocah! Udah gue tolong malah ngatain gue galak," tukas Anan.
"Nah, itu terbukti. Kamu emang galak, Nan," ucap Dita yang masih terisak.
"Aldi pergi ya, Kak. Terus Aldi titip kakak cantik ini ke Akak galak, dadah semuanya." Hantu Aldi lalu menghilang dan pergi dengan tenang.
__ADS_1
Dita masih saja menangis meluapkan kesedihannya.
"Ta, udah apa jangan nangis terus! Tambah jelek tau liat muka elu itu," cibir Anan.
"Kamu jahat banget, sih! Punya mulut nggak diayak, huhuhu." Dita memukul dada Anan berkali-kali.
Anan perlahan meraih tangan Dita dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya kala itu.
"Udah udah udah jangan nangis lagi. Cup cup cup, jangan nangis lagi, ya. Udah jelek tambah jelek aja nanti."
"Anan!"
"Iya, iya, iya, maaf."
...***...
Sore itu mobil yang dikendarai Anan dan Dita mendadak berhenti ketika mereka melewati sebuah klinik yang sudah ditutup.
"Kok, mati mobilnya, Nan?" Dita menoleh dengan tatapan panik karena takut ada begal.
"Gue juga nggak tau, Ta."
Dita menunjuk ke arah anak perempuan kecil. Gadis berambut panjang itu tersenyum dengan wajah pucat. Dia melambaikan tangan tanda meminta Ratu untuk mengikutinya.
"Ta, jangan lah!"
"Kamu kalau masih takut duduk di sini aja!" titah Dita yang membuka seatbelt lalu turun dari mobil Anan.
"Justru kalau gue ditinggal sendirian tambah takut." Anan akhirnya mengikuti Dita untuk turun dari mobil.
Anan dan Dita masuk ke kawasan klinik dalam komplek. Sejenak gadis itu meraih tangan si hantu anak perempuan. Sebuah kisah memilukan tentang bayangan kematian gadis kecil itu melintas di pikiran Dita. Anak itu merupakan anak jalanan maupun korban penculikan. Organ dalam milik korban diambil paksa. Klinik itu digunakan sebagai tameng agar usaha perdagangan organ manusia ilegal itu dapat berjalan.
"Ta, mau ke mana?" tanya Anan.
"Aku mau ngintip, Nan."
Gadis yang tak takut pada makhluk astral itu terus menyusuri kebun belakang klinik. Anan sempat menghela napas panjang lalu mengembuskannya setelah meyakinkan diri untuk mengikuti Dita.
"Nan, mereka dikubur di dalam sumur buat menutup bukti," ucap Dita.
"Elu yakin, Ta, kalau para korban anak-anak itu dikubur semua di sini?" tanya Anan yang menoleh ke arah makhluk astral yang bentuknya sudah tak utuh lagi.
__ADS_1
"Iya, Kak. Tolong bantu kami. Pindahkan kami dari sana." Gadis berusia dua belas tahun dengan wajah hancur karena robek tertusuk besi di dalam sumur, menjawab dengan menangis. Dia mengusap air mata yang berwarna merah tersebut.
"Kita harus hubungi polisi, Nan!" pinta Dita.
"Ya udah, yuk, udahan! Kita lapor polisi aja sekarang," ucap Anan lalu menghubungi polisi setempat.
"Kita ambil foto dulu, Nan, soalnya aku penasaran banget sama sindikat ini. Gemes soalnya pengen congkel ginjal mereka kalau ketangkep nanti," kata Dita
"Tapi kan sebaiknya lapor polisi lebih baik." Anan bersikeras.
Pemuda itu segera menghubungi polisi setempat yang dia kenal. Polisi bernama Andrew itu merupakan sahabat dari Tante Dewi.
"Om Andrew, bisa ke Klinik Permata Wijaya di Komplek Indah. Saya menemukan korban anak jalanan yang organ tubuhnya dicuri," ucap Anan.
"Kamu yakin, Nan?" tanya polisi itu dari dalam ponsel.
"Saya yakin, Kapten!"
"Bilang ajak kalau kita ketemu sama hantu yang gentayangan korban penjualan organ tubuh ilegal. Terus mayat mereka dibuang ke dalam sumur," pinta Dita.
"Ngaco elu, Ta! Mana ada hal begitu dipercaya polisi," ucap Anan.
"Nan, share lokasinya aja! Saya dan anak buah saya akan langsung bergegas ke sana."
Anan lalu menutup sambungan teleponnya.
"Woi, pada ngapain, Tuh?!" Seorang pria berbadan kekar keluar dari pintu belakang klinik.
"Lagi pacaran, Bang!" Anan segera menarik tangan Dita dan mengajaknya berlari.
"Kok, pacaran sih, Nan?" tanya Dita.
"Dari pada dia curiga kalau kita lagi cari tau praktek ilegal mereka," sahut Anan dengan napas tersengal-sengal.
Mereka harus bersembunyi agar pria besar itu tidak menangkap mereka paling tidak sampai para polisi datang.
Tak lama kemudian, Kapten Andrew dan anak buahnya datang. Mereka mencari Anan dan Dita untuk memberi keterangan. Para petugas medis yang terlibat di klinik tersebut lalu ditangkap.
...*****...
...Bersambung....
__ADS_1