Ruang Kosong Di Sekolah

Ruang Kosong Di Sekolah
42. Kedatangan Ferdian di Sekolah


__ADS_3

Sebuah mobil sedan warna hitam datang ke sekolah. Sosok pemuda tampan turun dari dalam. Anita dan Risma terperangah dengan senyum mengembang kala melihat pemuda tampan yang ternyata Ferdian itu.


"Kak Ferdian!" pekik Anita.


"Beuh, mulai dah pada ganjen! Lagian masih gantengan gue masih aja kegirangan kalau lihat si Ferdian," cibir Devon.


"Udah ngaca, Von?" tanya Anita menahan tawa.


"Kenapa emangnya?" Devon balik menantang.


"Kalau dibandingkan sama Kak Ferdian, dia tuh nilainya sepuluh, kamu cuma satu, hahaha." 


"Buset! Jauh amat gue levelnya!" Devon menarik kunciran rambut Anita dengan gemas.


"Hai, semuanya! Gimana persiapan punggungnya?" sapa Ferdian seraya membawakan dua kotak pizza berukuran besar.


"Bagus, kok. Semuanya hampir sempurna. Ngapain elu ke sini?" tanya Anan mulai ketus.


"Dalam beberapa hari ke depan, aku kan udah nggak ada di sekolah ini lagi. Suasana sekolah ini bakal aku kangenin. Apalagi sama cewek yang satu ini," ucap Ferdian seraya menepuk lembut kepala Dita.


"Eh, Kak Ferdian, bikin kaget aja," lirih Dita yang merasa risih.


Risma sama Anita langsung berjingkrak-jingkrak melihat sikap Ferdian yang tampak memanjakan Dita. Anan menggeser Dita dan berdiri di antara Ferdian dan gadis itu.


"Udah lihat, kan? Semuanya sudah dipersiapkan dengan baik. Sekarang elu pulang aja, gih!" usir Anan.


"Nanti lah, bari aja aku nyampe. Lagian kalau aku nginep juga kenapa? Aku bisa jagain Dita juga," sahut Ferdian yang seolah menantang Anan.


Ferdian dan Anan saling melayangkan tatapan tajam. Seolah ada kilatan cahaya yang saling beradu dari bola mata kedua pemuda itu. 


"Bro! Pizza nya enak, nih. Kita makan dulu aja, ya." Devon meraih dua kotak pizza dari tangan Ferdian.


Dita mengikuti Devon diikuti anak-anak lainnya. 


"Kak Ferdian, makan dulu, yuk!" Anita menepuk bahu pemuda itu dan mendorongnya menuju ke aula mengikuti Devon. 


"Elu nggak mau nenangin gue, Ta? Nih, tarik aja tangan gue!" Anan menoleh pada sosok gadis di belakangnya yang ternyata sudah menghilang. Padahal dia berharap Dita masih ada untuknya.


"Cih, si Dita kalau udah ketemu makanan gue ditinggal!" Anan langsung berlari kecil menghampiri. Paling tidak, dua harus menjauhkan Ferdian dari Dita. Hal yang membuatnya kesal setiap kali Ferdian mendekati Dita.

__ADS_1


...***...


Pukul dua dini hari, Anita terbangun karena kandung kemihnya penuh. Dia mengguncang bahu Dita untuk membangunkannya. Anita merasa takut jika harus pergi ke toilet sendirian sejak kejadian bertemu hantu tempo hari.


"Ya udah cepetan sana pipisnya, aku tunggu sini." Dita berdiri di luar pintu toilet. 


Tiba-tiba, Dita melihat sosok Ferdian melintas ke belakang gudang sekolah. Dita segera bersembunyi masuk ke dalam toilet. Dia mengintip lagi sosok pemuda itu yang sepertinya menyembunyikan sesuatu. 


Ferdian meletakkan sebuah kendi kemenyan yang masih mengeluarkan asap. Pemuda itu seperti sedang melakukan penyembahan. Kedua tangannya menangkup di depan dada. Mulutnya juga seolah merapal kata-kata yang tak terdengar. Ketika Ferdian menoleh ke kanan dan ke kiri, Dita segera bersembunyi lagi di balik tembok.


"Ta, ayo balik!" Anita datang mengejutkan Dita dengan menarik tangannya.


"I-iya." Dita mencoba mengintip kembali sosok Ferdian tetapi pemuda itu sudah menghilang.


Dita mengikuti tarikan tangan Anita sambil masih memikirkan sesuatu yang dilihatnya tadi. Bahkan Dita ingin menanyakan langsung pada Ferdian tentang yang dilakukannya barusan. Namun, niat itu dia urungkan.


...***...


Malam pesta perpisahan SMA Abadi Jaya.


Acara pensi mulai digelar malam itu. Anan, Devon, Shane, dan bersama Ferdian dan Dado yang tergabung dalam band musik bernama "Black Band" tampil untuk mengisi acara. Dita dan Anita sibuk menjaga stand makanan bagi para kakak kelas yang sedang menikmati malam promnya.


"Ta, ini kuah soto mampir ke muka nenek sihir itu cocok kali, ya," bisik Anita menahan kesal.


"Jangan, Nit, nggak boleh gitu. Pakai es buah aja, nih," balas Dita. 


"Heh, gue ajak kalian ngomong malah bisik-bisik!" tegur Jennifer. 


"Kakak ngomong sama kita?" Dita menunjuk dirinya sendiri. 


"Ya iyalah, masa sama setan!" 


"Ya kali, Kak, emang ngomong sama setan." 


Dita menoleh pada sosok kuntilanak merah yang sedang berjoget mengikuti alunan musik di atas pohon luar sekolah. Pohon itu berada di belakang dinding tempat Dita berasa. Sadar sedang diperhatikan oleh Dita, kuntilanak itu malu lalu menghilang.


"Nggak waras kalian!" Jennifer menuding Dita dan Anita lalu melenggang pergi menghampiri Anan yang baru turun panggung. Gadis itu berteriak memanggil Anan.


"Ih, kalau nggak ada kepala sekolah, udah aku lempar meja ini sama isinya ke nenek lampir itu," keluh Anita.

__ADS_1


"Sabar, Nit, orang sabar pantatnya lebar." Dita terkekeh. 


"Garing luh, Ta!" Anita memperhatikan bokongnya dan menekan-nekan agar tak menjadi lebar. 


Dita sampai tertawa karena kepolosan Anita barusan. Tiba-tiba, Dita melihat seorang siswi yang memakai seragam sekolah tetapi berlumuran darah di bagian kerahnya. Wajahnya pucat dan berjalan dengan melayang. Dita yakin kalau sosok itu adalah hantu. Rasa penasaran membuatnya mengikuti hantu perempuan itu.


"Nit, aku mau ke toilet dulu, ya. Panggil Risma aja buat bantu kamu di meja sini," ucap Dita.


"Oke." Anita melayangkan ibu jari.


Dita menaiki anak tangga menuju ke lantai empat. Pagar jeruji di lantai tersebut terbuka sebagian. Padahal, biasanya pagar itu terkunci. Dita harus mencari tahu siapa sebenarnya hantu perempuan di lantai empat yang kerap mengajak main itu. Suasana semakin gelap kala Dita sampai di lantai empat yang setengah jadi.


"Dita, kamu mau apa ke sini?" Suara Yono terdengar di dekat sebuah ruangan.


"Yono, itu kamu?" Dita mencoba mendekati.


Dita juga melihat Ratih dan beberapa murid yang dinyatakan hilang ada di dalam ruang kosong tersebut. Mereka tampak kebingungan dan tak dapat keluar dari ruangan tersebut. Ruangan itu terkunci. Dita berusaha membuka pintu tersebut. 


"Yono! Kenapa nggak keluar aja dari sini? Kalian bisa menembusnya, kan?" tanya Dita.


"Kami tak bisa keluar, Ta. Kami tertahan di sini," sahut Yono.


"Lalu, di mana jasad kalian?" tanya Dita lagi berusaha menarik gagang kunci itu untuk membukanya.


"Kami juga nggak tahu, Ta. Kami nggak tau apa yang terjadi dengan tubuh kami," sahut Yono.


Sekelebat bayangan bertudung hitam datang dan menarik rambut Dita sampai gadis itu terjatuh. Sosok itu semakin mendekat dan menatap Dita lekat seraya melayangkan senyum yang menyeringai.


"Siapa kamu? Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Dita mengarahkan senter di layar ponselnya ke arah hantu perempuan tersebut. 


"Kamu anak pandai rupanya. Hmmm, aroma tubuh ini lezat sekali," lirih bayangan itu melayang mengitari Dita.


"Apa yang kamu lakukan terhadap teman-teman di sini?!" pekik Dita.


Hantu perempuan yang Dita ikuti tadi muncul dan datang mendekat. Dia berdiri menatap Dita dengan datar.


"Bisakah dia jadi temanku di sini?" pinta hantu perempuan itu pada si iblis bertudung.


...*****...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2