Ruang Kosong Di Sekolah

Ruang Kosong Di Sekolah
39. Hantu Dalam Cermin


__ADS_3

Part 39


Anita menghubungi Devon di hari sabtu itu.


"Tumben lo nelpon gue, Nit. Mau ngajak gue malam mingguan, ya?" goda Devon dari dalam ponsel Anita.


"Dih, pede banget luh! Eh, aku mau nanya nih, kamu dengar kabar nggak kalau Anan sama Dita ada di rumah sakit?" tanya Anita.


"Ah, masa sih? Coba gue hubungi Anan," sahut Devon.


"Eh, nanti kalau udah hubungi Anan dan dia bilang beneran di rumah sakit, kamu kasih tau aku, ya. Aku mau nengok juga," ucap Anita.


"Elu mau gue jemput kalau emang beneran Dita sama Anan di rumah sakit?" Devon memberi penawaran.


"Boleh, daripada nanti aku nyasar. Kabarin secepatnya, loh!" Anita memutuskan sambungan ponselnya dengan Devon.


Setelah Devon mendapatkan kepastian dari Anan, dia lalu menjemput Anita ke Rumah Sakit Keluarga.


***


Di rumah sakit, Anan sedang memberi keterangan yang dia ingat bersama Tante Dewi dan Kapten Andrew. Anan melaporkan kalau ada yang sedang mengincar Dita. Meskipun belum ada bukti akurat, tetapi Anan berharap Kapten Andrew mengirim seseorang untuk menjaga Dita.


"Tuh, Anan!" tunjuk Devon seraya menggandeng Anita.


"Nggak usah pegang-pegang!" ketus Anita.


"Truk aja gandengan, Nit. Masa kita nggak."


"Dih, pede banget!"


Devon tertawa seraya melihat Anita dengan gemas. Dia lalu berseru memanggil Anan.


"Kalian sampai juga ke sini? Bawa pizza buat gue, nggak?" tanya Anan.


"Lagi gue pesen, bentar lagi juga ke sini," sahut Devon.


"Gimana kabar Dita, Nan?" tanya Anita.


"Dita udah lebih baik, sih. Paling besok pulang." Anan mengambilkan dua botol berisi teh madu dari vending machine untuk Devon dan Anita. Sementara, Anan meraih botol pocari sweat untuknya.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam lift bersama. Anan sempat tersentak dan mengucap istigfar kala melihat sosok hantu pria tua tanpa lengan mendekat ke arah Anita. Tatapan hantu itu sangat mesum dan genit. Dia mengendus tengkuk Anita sampai membuat gadis itu merinding.


Awalnya, Anan takut dengan hantu tersebut. Namun, melihat sikap genit hantu itu Anan segera menarik Anita agar berada di dekat pintu lift. Sementara itu, Anan sengaja mendorong Devon sampai jatuh menindih si hantu.


"Sorry, Von, Gue mau pindah malah nabrak elu," ucap Anan berkilah seraya meringis.


"Sial, luh!" Devon bangkit dan membersihkan celananya dari debu di lantai.


"Perasaan gue kok kayak ngejatohin apa gitu, terus pada nyium bau amis, nggak?" tanya Devon kemudian.


Anita menggeleng, "Nggak."


"Perasaan elu aja kali, Von. Yuk!"


Pintu lift terbuka, ketiganya lantas menuju kamar perawatan Dita. Anita dan Devon langsung terkejut kala melihat sebuah piring melayang ke hadapan Dita.


"Ta-Ta, itu apa?" tanya Anita.


"Hai, Nit! Hai, Von!" sapa Dita.


Tante Key yang sebenarnya sedang membawa piring itu juga melambaikan tangan menyapa. Namun, hanya Anan yang dapat melihatnya.


"Oh, itu Tante Key lagi jagain aku di sini."


"Hah? Tante Key?" Anita dan Devon berseru bersamaan.


"Kalian harus terbiasa dengan Dita yang kayak gini," ucap Anan.


"Oh, iya, tukang pizza udah nyampe, gue suruh naik ke sini dulu," ucap Devon segera bergegas menghampiri si pengantar pizza.


Setelah itu, mereka semua berbincang dengan hangat. Anita bahkan mengamati Dita dan Anan sedari tadi dengan saksama. Gadis itu yakin kalau di antara keduanya tercipta hubungan spesial yang berbeda semenjak saat itu.


...***...


Dita sudah pulih dan kembali ke sekolah. Namun, seperti ada yang berbeda. Dita merasa selalu diawasi entah oleh siapa. Rasa cemas itu malah merasuk semakin menjadi-jadi.


"Ta, nanti nginep di rumahku, ya?" pinta Anita.


"Kenapa memangnya, Nit?"

__ADS_1


"Aku ditinggal ke rumah budeku yang di Thailand. Katanya aku disuruh di rumah aja soalnya mau ujian kenaikan kelas. Kan aku kesel banget dengernya. Mama aku juga udah bayar guru les privat ke rumah."


"Terus berapa hari nginepnya?" tanya Dita lagi.


"Dua apa tiga hari. Please... mau, ya?" rengek Anita.


"Ya udah, nanti aku bilang ibuku dulu."


Dita melihat sesuatu di lantai empat. Ada keinginan yang sangat untuk menuju ke sana. Terutama mengenai mimpinya tentang Yono dan Ratih yang ada di lantai empat itu. Akan tetapi, Anan sudah memintanya untuk tidak pergi ke sana. Paling tidak demi menjaga diri dari orang misterius yang mau menculiknya.


Sore itu setelah meminta izin pada ibunya, Dita diperbolehkan menginap di rumah Anita. Dita juga mengikuti les privat bersama dengan Kak Yunita. Wanita berusia dua puluh lima tahun itu ternyata kakak dari Ferdian, ketua OSIS di sekolah. Pantas saja, wajah cantiknya itu mengingatkan mereka pada wajah dan senyum Ferdian.


"Kalau murid saya semuanya kayak Dita, rasanya seneng banget nggak bikin stres waktu ngajarin," ucap Yunita.


Dit tersenyum menanggapi.


"Kalau ngajarin aku, bikin stres ya, Kak?" Anita menunjuk diri sendiri.


"Hahaha, ya nggak juga, sih. Cuma agak, tapi uang dari mama kamu, kan, nggak bikin aku stres, hehehe." Yunita tersenyum.


Setelah kegiatan belajar mengajar itu selesai, Yunita pamit.


Malam semakin larut, Dita sudah membersihkan diri dengan menyikat giginya dan memakai sabun pencuci muka. Sementara itu, Anita gantian memakai kamar mandi untuk buang air besar. Rasa mulas melilit perutnya selepas makan malam.


Dita mulai merebahkan diri di kasur empuk milik Anita. Dia membaca novel online sejenak melalui ponselnya seraya menunggu Anita. Dalam keheningan malam, Dita terkejut karena mendengar suara hujan deras dan petir mulai menggelegar.


Tak lama kemudian, Dita mendengar seperti ada seseorang mengetuk dari luar jendela kamar Anita yang ada di lantai dua. Dita tidak begitu penasaran dengan suara tersebut, karena mungkin saja itu hanya ranting pohon yang tertiup angin.


Dita kembali berusaha untuk fokus membaca. Sayangnya, suara ketukan itu Msih terus terdengar. Suara ketukan yang kian mengganggu itu mulai membuatnya kehilangan fokus. Akhirnya Dita memutuskan untuk bangkit. Dia akan membuka jendela dan menyingkirkan ranting yang mengenai jendela. 


Anehnya, saat Dita membuka jendela kamar, tak ada satupun ranting yang dia temukan. Hujan juga sudah tak lagi turun, bahkan ranting-ranting yang panjang tak ada yang sampai mengenai jendela kamar Anita.


"Hmmm... jangan-jangan ada hantu yang mau ngerjain aku," gumam Dita.


Setelah menutup jendela, Dita kembali merebahkan badan di tempat tidur dan menggunakan selimut untuk menutupi bagian kaki. Anita tak kunjung juga selesai dan keluar dari kamar mandi.


Saat Dita menghadap cermin yang menempel di lemari rias samping lemari pakaian milik Anita, Dita tersentak karena melihat sesuatu. Sosok wanita berwajah pucat tersenyum menyeringai di cermin rias milik Anita.


...*****...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2