Rubah Ekor Sembilan

Rubah Ekor Sembilan
10.


__ADS_3

Pov Park Sodam


Belum pernah aku melihat Ji su begitu gelisah hanya karna seorang wanita .


Sedari awal aku memang ingin mengenalkan aeyong pada ji su , karna kemampuan aeyong yg cukup baik , aku berharap aeyog akan menjadi asisten yg tepat untuk ji su . Ji su terus mendesakku menceritakan semua hal tentang aeyong .


Aku menghela nafas panjang .


Sejujurnya aku sendiri pun tak banyak tahu tentang aeyong , kami berteman namun ada rongga jarak di antara kami .


Pertemuan pertama kami dimulai ketika penerimaan mahasiswa baru , aeyong langsung saja populer di anatara semua mahasiswa baru , dia pintar , cantik namun dia terlalu cuek dengan semua orang . Dibanding berkumpul dengan mahasiswa lain , aeyong akan menyendiri . Awalnya aku tak terlalu suka dengan aeyong , karna kufikir dia terlalu angkuh dan sombong .


Namun ternyata aeyong tak seburuk yg aku fikirkan.


......................


Flashback .


Tak seperti hari biasanya min ji masih belum berada dalam kelas , telfonku pun dia abaikan . Hingga pelajaran telah usai min ji masih belum muncul , aku mulai khawatir .


Aku menelusuri koridor namun belum ketemukan juga , aku mencoba menanyakannya pada mahasiswa lain namun tak ada satupun yg mengetahui dimana min ji , aku terus mencoba menghubungi min ji namun tetap tak ada jawaban .


Di perpustakaan aku hanya melihat aeyong nampak sibuk dengan buku yg dia baca , dan tentu saja sekumpulan pria yg tengah mendekati aeyong . Tanpa aku perdulikan aeyong aku terus mencari min ji , "mencari temanmu ?" sapanya , aku cukup terkejut , karna untuk pertama kalinya aeyong menyapaku . Aku hanya mengangguk meng-iyakan .


Aeyong berdiri kemudan berjalan menghampiriku . " Aku melihatnya bersama beberapa mahasiswi , sepertinya mereka menuju halaman belakang ," katanya sedikit berbisik . 'apa min ji membuat masalah ?' fikirku . " Ayo , kita pergi bersama ," ajaknya .


Aku hanya mengangguk pasrah , rasanya begini ya berjalan disamping gadis yg populer , semua mata tertuju pada kami .


Aku sedikit menunduk karna malu .


Sampai di pojok halaman belakang kampus , tempatnya memang agak tersembunyi , aku mendengar isakan tangis min ji , segera aku berlari ke arahnya . "Astaga min ji apa yg terjadi ?" teriakku histeris melihat penampilan min ji yg memprihatinakan . Bajunya sobek hingga sebagian tubuhnya terekspos . Aeyong tiba-tiba mendekati kami , dengan cepat ia melepas blazer mahalnya dan memakaikannya pada tubuh min ji ." ayo ku antar kalian pulang ," ajaknya .


Dengan memapah min ji , aku berjalan mengikuti aeyong . jujur aku takjub dengan kendaraan yg aeyong gunakan , sebuah mobil suv mewah berwarna abu-abu , sejujurnya sangat kontras dengan penampilan aeyong yg nampak feminim .


Di dalam mobil kami bertiga hanya diam , aku ingin memulai percakapan namun takut jika diabaikan aeyong mengingat dia yg nampak sombong dikalangan mahasiswa lain . " Sebaiknya kita mampir dulu ke klinik ," ujarnya memulai percakapan . Aku hendak meng - iya kan namun min ji memotong ucapanku ," tak usah aeyong , aku cukup kacau hari ini , aku tak ingin orang lain melihatku ," katanya sedikit terisak .

__ADS_1


" Lalu ? Apa kau ingin pulang dengan keadaan seperti ini ?" tanya aeyong lagi .


Min ji hanya terdiam , tidak mungkin dia pulang dengan keadaan seperti ini . Aku pun tak berani membawa min ji pulang karna orang tuaku pasti akan banyak bertanya sedangkan min ji pasti akan sangat malu .


Ahkirnya aeyong mengajak kami ke kediamannya .


Sekali lagi aku takjub dengan Aeyong , seberapa kaya dia hingga tinggal di kawasan Hannam-dong .


Mobil suv mewah itu masuk ke sebuah rumah , bukan itu bukan rumah tapi sebuah mansion .


Aeyong membawa kami ke kamar tamu , dia meminta min ji membersihkan diri , mansion ini cukup besar namun cukup sepi , hanya dua orang pelayan yg menyambut kami , ditambah lagi aku tak melihat satu pun foto keluaraga yg terpajang .


Aeyong membawa seorang dokter untuk memeriksa keadaan min ji .


Suasana kembali canggung ketika min ji tertidur dan aeyong masih memeriksa selang infus yg terpasang di tangan min ji ,tak ku sangka dia cukup trampil seperti ahli tenaga medis sungguhan padahal dia berasal dari fakultas matematika .


" Aeyong terimakasih untuk semuanya ," ucapku tulus .


"tak perlu seprti itu , kita satu kelas sudah seharusnya kita saling membantu , aku harusnya meminta maaf , karna jika aku mengikuti mereka tadi mungkin temanmu tak akan seprti ini ," kata aeyong , ada rasa menyesal dalam sorot matanya .


" Aku tak yakin tapi sepertinya merka berbeda fakultas dengan kita , " jawabnya .


......................


Semenjak kejadian itu kami ber tiga lebih dekat , walaupun aeyong sedikit cuek tapi dia masih perduli kepada kami .


Min ji pun menceritakan jika Han ji yong yg dan teman-temannya yg melakukannya , Han ji yong berfikir jika min ji telah menggoda kekasihnya , hingga min ji mendapatkan perlakuan seperti itu . Aku ingin mendatangi Ji yong namun min ji benar-benar tak ingin berurusan lagi dengan Ji young dan teman-temannya lagi .


"Min ji benar , sebaiknya kita jauh-jauh dari wabah itu ," cletuk aeyong , sungguh lucu dia mengganggap min ji adalah wabah .


Kami menikmati sore itu di kawasan gangnam , kami baru duduk sekitar 45 menit dan sudah ada delapan pria yg mendekati aeyong . Namun semuanya harus menggigit jari karna aeyong sama sekali tak merespon mereka .


" Aeyong apakah kau punya kekasih ?" entah keberanian dari mana min ji mulai menanyakan hal pribadi pada aeyong .


" Punya , tapi entah sekarang dia ada dimana ?" jawabnya , ada rona kesedihan di balik mata coklatnya itu , pasti dia pernah disakiti pria fikirku .

__ADS_1


" Lalu aeyong , apa rahasiamu terlihat cantik ?" tanyaku pada ahkirnya .


Aeyong hanya tertawa , " Ah seprtinya aku banyak melakukan oprasi plastik agar nampak sempurna ," katanya sembari tertwa . Tentu saja aku dan min ji ikut tertawa , aku tak yakin dia melakukan oprasi plastik , krana dokterpun akan sulit membuat wajah yg sesempurna itu .


Menjelang malam min ji pun berpamitan , tinggal aku dan aeyong yg masih asik bercerita . Sejujurnya selama berbicara dengan aeyong ,terkadang aku merasa aeyong bersal dari dimensi waktu yg berbeda . Aeyong cukup modis , apapun yg ia kenakan akan terlehat cantik , namun sebuah kalung dengan benang berwana hitam dengan liontin berbentuk bunga lotus tak pernah lepas dari leher jenjangnya . Selera musiknya pun cukup unik , dibandingkan mendengarkan musik kpop moderen , aeyong lebih senang mendengarkan musik clasik tahun 1800an .


sekitar pukul delapan malam , kami putuskan untuk pulang , sebenarnya aeyong memaksa untuk mengantarkanku pulang namun aku tak enak karna arah rumah kami yg berlawanan arah .


Ahkirnya aku berjalan ke pinggir jalan mencari taxi , saat hendak mengecek ponselku aku melihat mobil aeyong di sebrang jalan menuju arah Hannam-dong .


Aku masih sibuk dengan ponselku hingga kusadari sebuah sorot lampu yg menyilaukan mataku , aku menoleh ke sumber cahaya sebuah bus kota yg kehilangan kendali melaju cepat ke arahku , tubuhku kaku , jarak yg bengitu dekat membuatku berteriak dan hanya bisa memejamkan mata . Tepat sebelum bus itu benar-benar menabrakku , aeyong entah datang dari mana menarikku menghindar .


Kami jatuh berguling dintrotorar , bus itu masih melaju sebelum ahkirnya benar-benar berhenti setelah menabrak pohon oak di pinggir jalan . Aku ingin mamastikan keadaan aeyong , untuk pertama kalinya aku melihat pupil mata aeyong berwarna keemasan hampir mirip mata rubah menatap lurus ke aras bus na'as .


Otakku berfikir keras bukankan beberapa waktu yg lalu aeyong telah pergi , lalu bagaimana bisa dia bisa segera menolongku disini . " Apakah kau baik ? Ayo kerumah sakit ," ajaknya .


" Tak apa aeyong , aku hanya terkejut saja ," elakku dan sekali lagi aku melihat pupil matanya kembali berwarna coklat seperti sebelumnya , jika hanya menggunakan soflens bagaimana bisa berganti begitu cepat . "aeyong sebenarnya siapa kamu? Aku yakin kamu bukan manusia biasa sepertiku ."


Mulai saat itu , aku merasa berhutang nyawa pada aeyong , tak perduli siapapun aeyong , aku yakin dia tak akan pernah menyakitiku . Aku pun berjanji pada diriku sendiri tak akan menceritakan kejadian ini kepada siapapun bahkan pada min ji sekalipun .


Mungkin aeyong merasa aku mencurigainya , namun dia bersikap acuh seperti tak terjadi apa-apa .


Aku akan menunggu samapai aeyong menceritakan semuanya kepadaku suatu hari nanti .


......................


Aku menceritakan semuanya pada ji su tentu saja tidak dengan kejadian itu , aku hanya bercerita jika aeyong berada disampingku dan dia menarikku menghindari bus itu .


Ji su nampak antusias dengan ceritaku , dia memintaku mengajak aeyong keluar sore ini namun aku tak bisa berjanji , dengan sikap aeyong dia pasti akan marah padaku jika aku malakukannya .


Ahkirnya ji su pergi dengan wajah masam .


'Yah.. jika kau ingin mendapatkan aeyong kau harus berusaha lebih keras lagi , karna aeyong berbeda dari gadis-gadis lainnya .


walaupun aku membantu paman sekalipun , semua masih akan sulit .'

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2